Malam sudah larut tapi muna belum juga bisa tidur. Seharian ini dia sibuk memikirkan apa saja yang akan dia lakukan esok hari. Tak sengaja tadi dia melihat padang rumput yang hijau di lereng gunung.
"Pasti menyenangkan jika bisa kesana, Ibu tak akan marah kalau aku pergi sebentar kesana."pikir Muna
Pagi menjelang, suara ayam jago mulai bersautan. Muna tampak riang, dia meloncat kesana kemari.
"Muna...tumben kamu riang sekali hari ini?" Tanya Ibu.
"Aku sudah tidak sabar,Bu. Aku pingin ke padang rumput hari ini." Kata Muna dengan penuh semangat.
"Tapi bukankah tiap hari kamu juga sudah pergi kesana?" Ibu tampak heran melihat Muna hari ini.
"Aku akan ke padang rumput di sebelah bukit bu...disana rumputnya hijau dan subur."
Ibu terkejut mendengarnya, setahu ibu padang rumput di sana dihuni oleh seekor harimau yang bernama Tagor. Raja hutan yang terkenal gesit dan kejam. Dia tak segan memakan siapa saja yang masuk ke wilayahnya, itulah sebabnya kenapa rumput disana subur karena tak ada yang merumput di sana.
"Jangan kesana,Muna. Disana berbahaya ada Harimau yang ganas yang tinggal di sana" Ibu mencoba menyakinkan Muna.
"Tenang saja,Bu. Aku bisa jaga diri kok" Kata Muna penuh percaya diri. Ibu hanya menggeleng kepala saja.
Sang Petani membawa Muna dan Ibunya ke padang rumput tempat biasa mereka merumput. Disana sudah ada beberapa teman Muna dan juga beberapa kambing dan sapi punya tetangga sebelah.
"Aku akan kesana" Kata Muna sambil menunjuk padang rumput di lereng bukit. Teman-teman Muna hanya menggeleng saja. Mereka tau itu tempat yang berbahaya.
"Kamu serius ingin kesana?" Tanya Sadi kepada Muna. Sadi si kambing kecil tampak tak percaya dengan keinginan Muna.
"Tentu saja" Kata Muna dengan penuh keyakinan.
"Tapi disana berbahaya!" Sadi mencoba mengingatkan.
"Ah..tenang saja, aku bisa jaga diri lagi pula kata siapa disana berbahaya. Disana sepi kok, aku tak pernah melihat harimau melintas disana." kata Muna.
"Sebaiknya kamu tidak kesana, disini juga masih banyak rumput buat kita semua" Kata sadi. Hari itu Muna mengurungkan niatnya untuk pergi ke lereng bukit tapi suatu hari pasti dia akan pergi kesana.
Berhari-hari Muna mengamati padang rumput itu tapo tetap saja dia tidak menemukan sesosok harimau yang sering dilihatnya. Padang rumput itu tetap tenang tak ada suara auman harimau.
"Ah...pasti mereka bohong padaku. Aku tak melihat apapun disana selain hamparan rumput hijau membentang." pikir Muna.
Pagi itu udara cerah Muna, Sadi dan beberapa anak kambing dan sapi tampak asyik merumput. Muna sudah tisak bisa lagi menahan hasratnya untuk pergi ke lereng bukit. Diam-diam dia menyelinap pergi saat temannya asyik bermain dan bercanda. Muna berlari ke arah lereng, aangin sepoi menyambutnya. Hatinya begitu riang saat tiba di lereng, rumputnya begitu subur dan hijau. Dengan rakus dia melahap rumput-rumput hingga tak menyadari ada sepasang mata yang tampak tajam memperhatikan tingkahnya. dialah si Tagor, Raja hutan yang terkenal ganas dan buas.
"Beraninya kau datang kesini!" Suara Tagor begitu menggelegar hingga membuat Muna terkejut. Sapi kecil itu menghentikan makannya, tubuhnya gemetar melihat didepannya berdiri seekor harimau. Tubuhnya lebih besar daripada tubuh Muna, matanya begitu tajam. Tubuhnya kekar dan kuku nya terlihat begitu tajam.
"Maafkan aku Tagor tapi rumputmu begitu hijau dan subur" Suara Muna tampak gemetar.
"Bukankah kamu punya tempat sendiri sapi keci!" Tagor tampak geram
"Maafkan aku Tagor" Muna begitu ketakutan.
"Terlambat sapi kecil...aku tak akan melepaskanmu, Esok kamu akan menjadi santapan pagiku" Tagor pun menerkam Muna. Muna mengelak mereka berkejar kejaran. Muna berteriak minta tolong, Dia terus berlari dan berteriak, dalam hati dia menyesali kebodohannya karna tidak mendengarkan peringatan Ibu dan teman-temannya. Muna tak berdaya ketika Tagor berhasil menggigit kakinya dan menyeretnya ke sarang Tagor.
Suara teriakan Muna ternyata terdengar sampai ke tempat Ibunya, menyadari Muna dalam bahaya Ibu sapi segera berteriak dan disambut dengan teriakan binatang yang lain hingga menimbulkan kegaduhan di tempat itu. Pak Tani yang mendengar kegaduhan di padang rumput segera berlari ke tempat itu. Dia membunyikan kentongan dan disambut dengan bunyi kentongan yang lain. Suasana yang semula tenang mendadak menjadi gaduh. Penduduk segera menuju ke padang rumput. Mwreka membawa senjata apa saja yang mereka punya, ada yang membawa senapan,panah dan juga parang.
Penduduk tampaknya mulai gusar karena ternak mereka sudah banyak yang mati karena di makan harimau bahkan harimau kadang juga muncul di pemukiman mareka. Hari ini mereka bertekad untuk membunuh harimau itu agar tidak ada lagi keresahan dan ketakutan di desa itu akibat ulah harimau itu. Suara penduduk begitu gaduh terdengar. Ternak-ternak pun tampak gelisah apalagi Ibu Muna, Sapi betina itu terus saja memanggil Muna.
Penduduk desa menuju lereng. Mereka berkelompok dan saling mengawasi sekitar mereka. Hariamu yang merasa diburu keberadaannya tidak tinggal diam. Dia mengaum, aumannya terdengar nyaring dan menakutkan. Penduduk semakin siaga, mereka semakin berhati-hati melangkah hingga akhirnya mereka melihat harimau itu. Penduduk pun tak melepaskan kesempatan untuk menangkap harimau itu. Mereka meleparkan senjata mereka begitu harimau itu mendekatinya. Harimau pun berusaha mengelak tapi dia kalah jumlah di bandingkan dengan penduduk desa yang membawa senjata lengkap. Hingga akhirnya dia jatuh tak berdaya setelah terkena peluru dan panah penduduk
Penduduk mengikat harimau itu dan membawanya ke desa. Muna yang terluka kakinya karena gigitan harimau juga di gendong penduduk. Dalam hati muna bersyukur karena tidak jadi santapan harimau esok hari. Dalam hati dia menyesal telah melalaikan nasihat orang tuanya dan dia berjanji tidak akan lagi melanggar nasihat Ibunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar