Minggu, 11 Oktober 2015

Perfume


Perfume: The Story Of Murderer
karya: Petrick Suskind
422 hal : 12,5 x 19 cm
979-3972-05-X


Apa yang terpikir saat kita mendengar kata 'Parfume'? Pastilah menyangkut aroma yang mencitrakan pemiliknya. Sebuah parhum pastilah di buat dari minyak esensial dan senyawa aroma, fiksatif dan pelarut, kini di buat dari bahan yang berbeda.

Jean-Baptiste-Grenaouille, seorang bayi yang lahir tanpa aroma. Kelainan yang di deritanya membawanya pada kemalangan hidup yang luat biasa tapi justru ini membuatnya 'Berbeda'. Dia yang terlahir dengan kemalangan yang sempurna, ternyata menjadikannya kuat dan monster yang tak pernah di sadari oleh siapapun.

Jean menjalani hidupnya tanpa tangis dan meski raganya membusuk karena daraan kerasnya hidup, justru ini membuatnya menjadi seorang yang cerdas. Dengan perjuangan yang luar biasa akhirnya membuat hidupnya berubah, pertemuannya dengan sang maestro ahli parfum, membuatnya jadi ahli parfum. Tentu saja tidak semudah itu, banyak sekali rintangan yang harus dia jalanin sebelum menjadikannya ahli.

Hingga akhirnya dia mendapatkan ide untuk membuat parfum dengan aroma dengan aroma berbeda, tentu saja aroma yang tidak lazim. Aroma perawan...

Untuk membuat aroma ini. Jean menggunakan rambut dan kulit perawan. Aroma ini membuat pemakainya agresif tanpa mereka sadari.

Kejahatan yang dilakukan Jean sangat sempurna dan tak terlacak. Hingga akhirnya Jean menjadi anak angkat dan kembali melakukan aksinya.

Parfum yang dibuat Jean bisa merubah kekaguman menjadi hasrat yang meledak-ledak, keheranan menjadi kegembiraan yang luar biasa. Semua tertarik padanya, daya tarik yang kuat dan liar terpancar dari tubuhnya, hingga membuat orang-orang di sekitarnya. Membuat mereka liar dan berebut mendapatkan aroma tubuhnya, menjadikannya serpihan kecil yang teramat nikmat untuk diperebutkan.


Buku ini merupakan best Seller international dan masuk cetakan kedua april 2006

Rabu, 04 Maret 2015

Asal kau tahu

Agar kau Mengerti

Kata orang hidup kayak kopi, pahit tapi nikmat. Pahit saat kita mengahadapi masalah dan nikmat saat kita bisa mendapatkan kebagiaan dari kepahitan itu. Begitu juga dengan Abdul, meskipun sedah di tinggal istrinya selingkuh tapi dia tetap menganggap itu suatu kenikmatan karena dia beranggapan jodoh tak mungkin tertukar dan dia yakin Tuhan pasti sudah menyiapkan jodoh terbaik buatnya dan dia selalu berpikir dia akan mendapatkan ganti yang lebih baik dari yang dulu termasuk body dan juga wajahnya.

Seperti biasa dengan langkah tegap dia melangkahkan kakinya.
“Berangkat Kang?” sapa seorang perempuan muda yang kebetulan berpapasan dengan Abdul yang hendak ke sawahnya pagi itu.

Abdul yang merasa di sapa hanya melirik sekilas perempuan yang berdiri tak jauh darinya. Sudut matanya mengamati perempuan itu lekat-lekatnya. Tinggi perempuan itu sama seperti istrinya yang dulu, rambutnya juga sama dan juga bentuk tubuhnya juga sama. Dia hanya berdehem sejenak dan berlalu.

“Hmm..dia bukan jodohku. Dia sama seperti istriku yang dulu. Bukankah kata orang kalau Tuhan mengambil sesuatu pasti akan memberikan gantinya yang lebih baik lagi?” bathin Abdul
Dia pun segera berlalu tanpa membalas sapaan si gadis yang masih terpaku di tempatnya. Si gadis hanya memandangkepergiiannya dengan raut heran.


“Ih..orang aneh. Jelek aja sombong.Pantesan istrinya kabur. Kalaun dia seperti itu siapa yang mau sama dia, dah jelek, sombong lagi..Ih” si gadispun berlalu. Dalam hati dia berjani tak akan lagi mau nenyapa Abdul yang sombongnya minta ampun itu.

Minggu, 18 Januari 2015

Sawah Timur

Dunia ini terdiri atas dua alam, nyata dan maya. Jangan pernah kita sombong, merasa punya sedikit kelebihan dan mengganggu mereka hanya demi suatu pembuktian bahwa kita lebih hebat dari mereka. Karena siapapun itu tak akan pernah mau jika hidupnya di usik, begitu juga mereka.
Bahar mengangkat ranselnya, hari ini waktunya pergi dengan genknya ke Sawah timur . Sebenarnya ada ketakutan yang mulai melandanya tapi egonya begitu tinggi, dia menanggapi ajakan temannya sekaligus untuk pamer keberanian di depan Santi, gadis incarannya.
Ada  mitos yang mengatakan bahwa di tempat itu ada harta yang terpendam tapi siapapun yang datang ketempat itu  pasti tak akan pernah kembali dan tak satupun mayat yang ditemukan disana semuanya menghilang secara gaib. Bahar jadi merinding jika mengingat mitos ini. Tapi disingkirkan ketakutan itu saat dilihatnya senyum Santi yang begitu manis.
Malam itu mereka putuskan menginap di sebuah losmen. Losmen pertama yang mereka jumpai setelah mereka melewati hutan yang luas dan gelap.
" Kamu yakin mau tidur disini?" Sekilas Ayu tampak ragu, ditatapnya Dio yang sedari tadi sibuk menurunkan barang bawaan.
"Dari pada tidur di hutan?" jawab Dio santai.
Bahar membantu Santi menurukan barang, sesaat hidungnya mencium bau wangi yang begitu menyengat.
"Kamu wangi banget, San" kata Bahar sambil tersenyum.
Santi mencium bajunya kanan dan kiri, sejak tadi pagi dia belum menyentuh air. Badannya masih bau keringat, gimana dibilang wangi. Ah...pasti Bahar sedang merayunya, pikir Santi.
Losmen itu tidak begitu mewah, malah terkesan sederhana. Semua perabotnya malah terkesan kuno apalagi suasananya begitu redup. Tidak ada barang mewah yang dipajang di tempat itu.Seorang pemuda menyambut mereka dengan senyumnya yang ramah.
"Mari silahkan, mau pesan berapa kamar?"
"2 kamar mas, oya mas...disini memang sepi begini ya?" Dio mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Namanya juga pelosok, jarang ada yang kesini. Kampung terdekat juga jaraknya 3 kilo lebih" pemuda itu menjelaskan.
Dio manggut-manggut. Pelayan kamar mengantar mereka kekamar masing-masing.
Malam semakin larut, Bahar belum juga dapat memejamkan matanya. Ada sesuatu yang mengganggunya, dan hidungnya kembali mencium bau wangi yang begitu menyengat. Matanya mulai menelusuri setiap inci kamar itu. Dio tampak tertidur pulas disampingnya, Rizki juga terrtidur pulas di sofa. suasana kamar yang temaram membuat hati Bahar jadi merinding.
Sekilas terdengar suara berderit, pintu almari perlahan terbuka sedikit. Bahar merapatkan tubuhnya ketempat tidur. Sayup sayup dia mendengar suara seorang perempuan.
"Mas...tolong saya....tolong"
suara gadis itu begitu sendu seolah ada sesuatu yang membelenggunya.
"Siapa itu....!" Bahar mencoba memberanikan diri untuk membuka suaranya.
"Tolong saya.....tolong" suara itu terasa begitu dekat, bau wangi kini semakin tajam tercium. Bahar menarik selimutnya, suara derit pintu kembali terdengar. Dari balik selimutnya Bahar melihat bayangan hitam berambut panjang seolah dia hendak menggapai sesuatu. Belum hilang rasa takut dihatinya, kembali suara berderit itu muncul kembali dan kali ini agak panjang.
Bahar semakin merapatkan selimutnya saat dilihatnya sesosok tubuh perempuan berambut panjang tampak merangkak perlahan mendekati Rizki. Bahar menutup selimutnya rapat-rapat tapi rasa penasarannya medorongnya untuk sejenak megintip apa yang dilakukan makhuk itu dan dilihatnya makhuk itu tampak menggigit kaki Rizki tapi anehnya Rizki seolah tak terpengaruh dengan apa yang dilakukan makhuk itu, ia masih tetap lelap tertidur dan tiba-tiba saja makhuk itu menatap tajam kearahnya, baharpun menutup rapat selimutnya.
Pagi yang berkabut membuat tempat itu agak suram. Bahar masih mengingat jelas kejadian semalam. Teman-temannya sudah pada nongkrong di teras depan. Hari ini mereka sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke sawah timur.
"Kamu yakin mau melanjutkan perjalanan?" wajah Ayu terlihat cemas.
"Emang kenapa?, kamu kok aneh?" Dio memasukan barang-barang ke mobil.
Ayu memandang sekeliling seakan menyelidiki sesuatu, dia merapatkan tubuhnya pada Santi dan Nurul. Ketiga gadis ini saling pandang seakan mencari persetujuan dari mereka bertiga.
"Kenapa sich..kalian ini kok aneh..kayak habis liat hantu saja?" Dio memansang aneh pada Ayu.
"semalam ada yang mengganggu kami." Nurul menunduk ada ketakutan di wajahnya.
Bahar terkejut, dipandangnya tiga gadis yang tampak sedang gelisah itu. Ternyata malam tadi bukan hanya Bahar yang melihat tapi ketiga gadis itu juga mengalaminya.
"Ah...ngaco..kalian mimpi kali sudahlah kita berangkat sekarang keburu siang" Dio memasuki mobilnya dan diikuti yang lainnya. Mobil mereka bergerak berlahan baru beberapa meter mwreka berjalan Nurul tergerak hatinya untuk melihat kebelakang.
"Losmennya hilang!" teriak Nurul panik membuat teman-temannya ikut melihat kebelakang dan ternyata losmen itu sudah berubah menjadi komplek pemakaman tua yang sudah lapuk dan mulai banyak yang hancur. Dio segera mempercepat laju mobilnya.
Siang mulai menampakan cahayanya, jalan yang mereka ternyata sangat menyeramkan. Mereka melalui hutan yang luas dan juga sepi. Saat mereka sedang melaju tiba-tiba saja Dio menginjak rem membuat yang lainnya terbangun karena kaget
"Kenapa Di, kok ngerem mendadak?" Bahar yang sedari terkantuk-kantuk jadi kaget.
"Ada anak kecil melintas tadi" Dio melihat kesekelilingnya.
"Yakin lo...disini kan hutan, mana ada anak kecil keluyuran di sini" Bahar melihat sekeliling.
"Itu dia!" Bahar menunjuk kearah samping mobil mereka, semua meta tertuju ke arah tadi. Tak jauh dari tempat itu diantara rimbunya pohon dan semak belukar tampak seorang gadis kecil sedang berdiri membelakangi mereka sambil memeluk sesuatu dan merasa ada yang memperhatikan gadis itu menoleh kebelakang dan betapa terkejutnya mereka saat di lihatnya gadis itu tak berwajah dan tampa dikomando lagi Dio segera tancap gas meninggalkan hutan itu.
Sepanjang perjalanan mereka terus dicekam rasa takut, seolah-olah ada ribuan mata yang terus mengawasi dan mengintai mereka. Hingga akhirnya mereka sampai juga ketempat yang mereka tuju. Sebuah tempat yang sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tempat itu terlihat berantakan tak terawat karena memang sudah puluhan tahun tempat itu ditinggalkan penghuninya.
"Kita cari tempat yang layak buat tidur" Kata Dio.
"Aku ndak mau turun, kita pulang saja yo. Tempat ini membuatku merinding." Ayu melihat kesekelilingnya.
"Besok pagi kita tinggalkan tempat ini." Dio mencoba menenangkan hati kekasihnya itu. Dalam hati dia mulai menyesalkan keputusannya datang ketempat ini hanya karena tergiur hembusan berita tentang harta terpendam itu.
Perlahan mereka keluar dari mobil dan mulai berjalan menyusuri tempat itu. Mereka bwrjalan berdempetan sambil melihat melihat ke sekeliling. Sinar bulan yang muncul malam itu membantu mereka menyisuri jalanan gelap itu. Mereka mengarahkan lampu senter mereka ke segala penjuru hingga tampa sengaja senter Dio menangkap bayangan putih berambut panjang sedang berdiri di depan mereka. Kontan saja mereka kaget dan lari pontang-panting menyelamatkan diri.
Bahar terengah-engah, disampingnya Santi dan Nurul juga terlihat kecapean.
"Mana yang lainnya?" Bahar baru menyadari kalau ternyata mereka cuma bertiga.
Dio, Ayu dan Rizki entah kemana. Saat mereka sedang mengatur perasaan mereka  tiba-tiba terdengar jeritan seseorang.
"Dio!" serentak mereka mengenali suara itu.
mereka bertiga kembali ketempat semula dan dilihatnya dia terbelit sebuah akar yang menariknya keatas pohon. Tak jauh dari tempat itu mereka melihat beberapa makhuk tampak mengoyak-ngoyak Rizki. Ayu pun tak kalah mengenaskan dia meninggal dengan kepala berputar kebelakang.
Nurul dan Santi menjadi histeris melihat pemandangan itu.
"Kita pergi dari sini, cepat...!!" Bahar menarik Santi dan Nurul.
Belum sempat mereka beranjak pergi, tiba-tiba saja mereka merakan kaki mereka berat melangkah seperti ada yang memegangi kaki mereka. Sekuat tenaga mereka mencoba melepaskan diri tapi tetap saja tak berhasil. Bahar merasakan dadanya basah dan perih saat dilihatnya dadanya tertembus sebuah akar dan kemudian menghempaskanya kesebuah pohon hingga membuatnya jatuh terduduk tak berdaya, pandangannya mulai kabur, sempat dilihatnya Santi yang terlilit akar dan terseret kedalam tanah sedangkan Nurul dibawa makhuk itu entah kemana. Pandangan mata Bahar semakin kabur hingga akhirnya panda akhirnya dunia terasa gelap baginya.
Kabar tentang sawah timur pun terus berhembus tampa ada yang mengetahui asal usul berita itu dan pagi itu tampak serombongan pemuda tampak menuju sawah timur.

Cinta sang Penjaga

Suasana di sekitar tempat itu begitu sepi, rumah itu lebih mirip sebuah gudang yang sudah tak terpakai, dinding rumahnya terbuat dari kayu kini mulai usang, beberapa jendela  yang tidak begitu tinggi kini mulai buram kacanya.

Pintunya pun juga terbuat dari kayu yang kini mulai usang, halaman yang tidak begitu luas kini dipenuhi dengan sampah dan beberapa tong tampak berjajar di sekitar tempat itu.

"Kamu yakin mau masuk kesana,Vel?" ujar Sapto setengah berbisik. Matanya memandang gadis itu.
Jujur saja dia sedikit ngeri membayangkan kenekatan vely masuk ketempat itu apalagi mereka tau itu sangat berbahaya
.
Meski dari luar rumah terlihat tenang tapi siapa tau di dalam tempat itu sudah menunggu malaikat maut yang siap bekerja kapan saja.
Vely menggangguk yakin, tekadnya sudah bulat untuk menyelamatkan Deno, Lelaki yang di cintainya dan juga saaudara angkatnya.
.
"Apa kita tidak tunggu bantuan saja,Vel. Siapa tau sebentar lagi mereka datang?" lanjut Sapto.

"Tidak, Sap. Sudah tidak ada waktu lagi. Kalau kelamaan aku takut dia nanti kenapa-kenapa?" ujar Vely pelan.
Terlihat jelas kecemasan di matanya, wajahnya tanpak serius memandang ke sekelilingnya. Sapto mendesah pelan, ada kecemasan yang mendalam saat dia menatap Vely meski matanya terus mengamati pergerakan di rumah itu.

Mereka menunduk, merapatkan diri pada sebuah pohon yang cukup besar ketika dilihatnya dua orang keluar dari rumah itu sambil berbincang. Mereka menajamkan pendengaran mereka mencoba mendengarkan pembicaraan meeka.
Sejenak Vely mengamati kedua orang itu, badan mereka tidak terlalu besar, matanya yang jely sepertinya sedang memikirkan sesuatu dan dari hasil pengamatannya vely yakin kedua orang itu tidak begitu pandai bela diri,terlihat dari gerakan mereka yang lambat. Mereka sepertinya terlalu fokus dengan obrolan mereka hingga tak meyadari ada bahaya yang mengintai saat ini.

Dengan hati-hati, dia mendekati salah seorang lelaki yang tampak asyik merokok di sudut rumah bagian belakang.
Lelaki itu asyik menikmati rokoknya hingga tak sadar jika saat ini ada yang sedang mengendap-endap mendekatinya. Dan..Buukk...hantaman keras mengenai punggung lelaki itu, hingga membuatnya terjungkal dan jatuh.

Lelaki itu tampak terkejut mendapat serangan tiba-tiba, dia langsung bangkit dan melihat ke sekelilingnya dengan sigap diarahkannya senjatanya pada musuhnya, Matanya menatap tajam ke arah Vely yang sudah bersiap.
Bibirnya menyungging senyuman mengejek kearah Vely.
"Bocah tengik, mau apa lo..?, mau jadi jagoan ya?." diapun maju dan siap melayangkan pukulannya ke arah vely, tapi dengan sigap vely berhasil menghindar dan melayangkan pukulan telak di perut lelaki itu hingga membuatnya terjukal dan menabrak deretan tong yang ada di pojok rumah itu hingga menimbulkan suara gaduh.

"Ton...kenapa lu?!" Teriak sebuah suara muncul dari arah samping, Vely segera salto beberapa kali hingga mendekati tubuh lelaki yang dihajarnya pertama kali.

Lelaki itu tampak terkejut ketika menyadari vely sudah ada dihadapannya dengan mata tajam tanpa expresi,gerakan tubuhnya begitu gesit terlambat baginya untuk menyadari bahwa Vely bukan cewek sembarangan.

Vely memutar tubuhnya dan kini dia sudah ada di belakang lelaki tadi.
Di tariknya lelaki tadi hingga berdiri sejajar dengannya, tangan kirinya sudah mencekal leher lelaki itu dan tangan kanannya sudah menodongkan pistol di kepala lelaki itu, Tubuh lelaki yang bernama tono itu tampak gemetar, tak menyangka jika gadis itu ternyata menjadikannya sandra secepat ini.
Seorang lelaki agak gendut muncul dengan senjata di tangganya wajahya tanpak terkejut ketika melihat tono yang tampak gemetar dengan sudut bibir berdarah dan kepala yang ditodong pistol oleh seorang gadis.
"Lepaskan temanku,!" Bentak laki-laki itu.
Vely menatap lelaki itu sejenak, tak ada waktu untuk melayani kedua orang itu, targetnya adala Deno.
Dia mendorong tono maju, tono yang sudah lepas dari cekalan gadis itu tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, dia berbalik menyerang gadis itu, tangannya mengarah ke perut Vely, Vely pun beringsut mundur dan memutar badannya hingga dan melayankan tendanganya telak ke dada Tono membuat lelaki itu terjungkal mundur kebelakang.
Lelaki yang muncul tadi pun tidak menyikanan kesempatan, dia menghujami Vely dengan tembakan membabi buta.
Vely pun rol kedepan hingga dia berada di dekat tono, peluru yang serampangan datangnya itu sukses mengenai tubuh tono hingga membuat lekaki itu limbung dengan tubuh tertembus peluru, Vely melemparkan sebuah pisau yang dia sembunyikan di balik bajunya dan tepat mengenai dada orang itu.
Suara tembakan itu ternyata memancing reaksi orang di dalam rumah, bergegas dia bersembunyi di balik deretan tong.
Vely mendesah pelan...dia terlatih menghadapi orang..tapi dia belum terlatih untuk menghadapi berondongan peluru seperti tadi.
"Cari sampai ketemu..aku akan bereskan yang dalam. Sebelum bos datang!" seru sebuah suara. Vely mengintip dari balik celah tong.
Dia melihat 3 orang lelaki keluar dari rumah itu, dalam hati dia berdoa semoga cuma tinggal 3 orang ini saja yang tersisa.
Sibos...ternyata masih ada lagi..Siapa dia dan apa maksudnya semua ini. Seribu pertanyaan muncul di benaknya tapi di redamnya saat ini karena target utamanya adalad Deno.
Veli menundukan badannya sambil berlari mendekati rumah, perlahan dia menatap ke jendela, ditengoknya kanan dan kiri..setelah aman dia melongok ke dalam melalui jendela, dari balik jendela dilihatnya Deno terikat di sebuah tiang. tangan dan kakinya di ikat. dari mulut dan lututnya keluar darah.. sepertinya pemuda itu juga mengalami siksaan.
Deno tampak tertunduk, rambut dan bajunya basah entah karena apa.
Darah vely seakan mendidih melihat pemandangan itu, dia medekati pintu dan mendobrak masuk.
" Siapa kau?" Teriak seorang laki-laki.
Vely hanya diam dan melangkah maju. Diambilnya sepotong kayu yang tergeltak di tanah, sepertinya kayu itu tadi yang di gunakan orang-orang itu untuk memukuli Deno.
"Akan kubuat kalian membayar setiap tetes darah yang keluar dari tubuh laki-laki ini" Vely mendekati lelaki itu dengan tatapan penuh amarah, pria itu menghujami nya dengan peluru.
Dengan sigap Vely menghindar dan  melemparkan kayu tersebut tepat mengenai laki-laki tersebut hingga membuat senjatanya terlepas jatuh dan sebelum dia sempat mengabilnya Vely sudah menendangnya hingga membuatnya jatuh tersungkur ke belakang, tak hanya sampai di situ, Vely terus mendesak laki-laki itu dengan pukulan dan hantaman bertubi-tubi hingga membuat laki-laki itu jatuh terkulai lemas dengan tubuh penuh luka dan berdarah.
Vely membalikan badannya, bergegas menghampiri Deno yang tetunduk lemah dalam ikatan.
Badan pemuda itu penuh luka lebam, entah apa kesalahannya kali ini hingga membuatnya mengalami siksaan seperti ini.. Hatinya merasa nyeri seakan ada sembilu yang menggoresnya perlahan.
Tanggannya tampak gemetar ketika melepas kain penutup mulut Deno, kain itu sudah basah oleh darah.
"Deno...." Vely memanggil pemuda itu pelan, Deno masih diam tak bereaksi. mungkin dia pingsan. Vely segera melepas ikatan pemuda itu, begitu terbebas dari ikatan, pemuda itu langsung jatuh limbung, dengan sigap Vely menangkap tubuh pemuda itu dan mereka berdua jatuh terduduk di lantai.
"Deno.., bukalah matamu..."  bisik Vely pelan, dibelainya lembut wajah lelaki di hadapnnya itu, perlahan mata yang sedari tadi tertutup itu mulai terbuka.
"Deno..bangunlah..kita harus keluar dari sini, kamu harus bertahan.." lanjut Vely.
"Kenapa kamu menolongku...?" suara Deno terdengar pelan dan lemah.
"Karena...sudahlah, kita harus cepat. Kita bahas semuanya nanti.." Vely membantu Deno bangkit, tapi bari saja dia dan Deno bangkit, terdengar letusan senjata api, seketika itu juga Vely merasakan sesuatu yang panas menerjang tubuhnya.
"Vely.....!!" suara Sapto masih sempat di dengarnya.
Vely jatuh ketanah, tubuh Deno yang semula disangganya pun ikut jatuh hingga menimpanya, rasa panas itu makin menjalar di dalam tubuhnya seakan ingin membakar tubuh Vely dari dalam dan  meninggalkan rasa nyeri yang tak tertahan.
semua terlihat samar baginya sekarang hanya tatapan Deno yang diingatnya terakhir kali, tatapan penuh kegelisahan dan ketakutan, Vely tersenyum samar sebelum semuanya terasa gelap baginya.
Hembusan angin yang bertiup membawa kesejukan di tubuh Vely. Pandangannya masih kokoh lurus ke depan, mengamati sebuah rumah yang kini mulai roboh di bagian sisi sampingnya.
Bayangan itu kembali melintas di benaknya, masih terekam jelas di ingatannya saat terakhir dia menutup mata.
Pandangan mata Deno, sorot mata yang begitu cemas dan khawatir itu yang masih terekam jelas diingatannya. Ya..Deno selalu mencemaskannya meski itu tidak pernah ia perlihatkan.
Sudah sekian lama peristiwa itu berlalu, peristiwa yang membuatnya terluka parah hingga akhirnya cedera serius di lengan kanannya.
Entahlah saat ini apakah dia harus berterima kasih kepada Paman Jonas atau malah membenci laki-laki itu karena telah merubah hidupnya meski Paman Jo sudah mengorbankan banyak hal demi Vely termasuk memberinya semangat saat tau tangan kanannya cidera serius dan Paman Jo juga yang melatihnya agar bisa menggunakan tangan kirinya dengan maksimal, meski sulit akhirnya Vely berhasil memaksimalkan kerja tangan kirinya.
Paman Jonas menculikya saat ambulans dalam perjalanan membawanya ke rumah sakit. Dia menyembunyikan Vely di sebuah tempat yang terpencil, mengobati lukanya dan juga mendidiknya menjadi seorang mesin pembunuh yang lebih tangguh dari sebelumnya.
Entah apa motifnya, setiap kali dia bertanya, Paman Jo cuma mengatakan dia kasihan pada Vely yang selama ini mengorbankan diri untuk lelaki yang sama sekali tidak pernah melihat kearahnya ataupun berterima kasih padanya dan selama di tempat itu Vely jarang bertemu dengan Paman Jo.
Vely mendesah pelan kini dadanya terasa sesak, setelah sekian lama dia menghilang dan kembali ketempat itu semua masih sama.
Kini tekadnya sudah bulat untuk mencari Deno, karena dia ingin tahu, seperti apa Deno sekarang.
Kabar terakhir yang diterimanya Deno di sembunyikan orang tuanya untuk menyembuhkannya dari trauma yang di derita Deno karena kasus penculikan dan penyiksaan yang dialaminya.
Siapapun orangnya pasti akan mengalami trauma berat jika mengalami hal itu, apalagi Deno, yang melihat seorang gadis mati dihadapannya dan itu karena menyelamatkannya.
Rumah besar itu tetap kokoh berdiri kokoh, tak pernah berubah semenjak dia kecil. Vely merapatkan tubuhnya, bersandar pada sebuah pohon ketika dilihatnya sebuah mobil mendekati pintu pagar.
Tanpa berkedip Vely memperhatikan mobil itu, matanya terbelalak lebar ketika dilihatnya seorang lelaki muda dibawa turun dari mobil itu, badannya kurus, matanya kosong dan wajahnya pucat, dingin tanpa expresi. Dia di dorong dengan kursi roda.
Hampir saja Vely berteriak memanggil pemuda itu, tapi niatnya diurungkan. dengan seksama dia memperhatikan semua yang terjadi di hadapannya, matanya makin terbelalak ketika dilihatnya sosok yang turun terakhir dari dalam mobil..Paman Jonas.
Lelaki itu tampak elegan dan menawan meski kini umurnya sudah menginjak kepala 3, pikirannya kembali dipenuhi sejuta pertanyaan tentang Paman jonas dan Deno.
Dalam hati dia hanya bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi, hubungan kedua orang itu. Dan ternyata berita tentang Deno salah besar, dia masih disini.dan kini makin terpuruk seperti mayat hidup yang tinggal menunggu waktu.
"Aku akan membawamu pergi,Den. Membuatmu kembali menatap dunia, karena kau pantas mendapatkannya." katanya lirih dan berlalu dari tempat itu.
Vely menatap cetakan hitam rumah Deno, dia mendesah pelan. Mengamati setiap sudut rumah itu tanpa terlewati dan kini dia sadar siapa musuh utamanya meski dia belum tau pasti apa motif di balik itu semua.
Vely menatap sebuah ruangan, disalah Deno berada. Barisan peristiwa itu muncul kembali.
Seperti disayat sembilu saat dia tau Deno di perlakukan seperti itu, apa salah pemuda itu. Belum cukupkah penderitaannya akibat penculikan itu dan kini dia harus menderita lagi.
Vely mengambil ranselnya dan berjalan cepat meninggalkan tempat persembunyiannya.
Dari tempatnya berada Vely bisa menatap Deno sepuas hatinya. memperhatikan setiap gerak yang di buat pemuda itu, meski dia tetap menjadi mayat hidup hingga saat ini tapi Vely yakin pemuda itu masih bisa diselamatkan.
"Kau yakin ini kejadian sebenarnya?" tanya Vely.
Sapto mengangguk pelam, selama ini hanya saptolah yang bisa dipercaya.
Bahkan saat dia ada di persembunyian, saptolah yang membantunya keluar dari tempat itu.
Diraihnya minumannya dan ditenggaknya sampai habis. Matanya menerawang, kini benang kusut itu sedikit terurai.
Vely melihat ke sekitar, dengan sigap di panjatnya pohon besar di dekat kamar Deno, dulu dia sering lewat situ jika ingin melihat Deno yang lagi bertapa di kamarnya, sesaat diamatinya kamar itu.
Sepi...jam segini biasanya saat terakhir memberi obat kepada Deno dan setelah itu mereka membiarkan deno sendirian sampai pagi.
Vely membuka kaca jendela kamar Deno. Kamar itu masih seperti dulu yang berbeda adalah penghuninya. Tidak ada lagi tawa di sana, yang ada cuma kesedihan dan penyesalan.
perlahan Vely mendekati sosok yang duduk terdiam di sudut ruangan...saat jarak mereka begitu dekat Vely jatuh terduduk di hadapan pria itu.
" Apa kabar, De. Kita ketemu lagi..."  ucap Vely pelan.
Pemuda itu diam tanpa kata seakan tak mendengar ucapan Vely. Ingin rasanya dia memeluk laki-laki itu tapi serasa ada sebuah tembok yang menghalanginya.
Kini tujuannya yang utama adalah menghilang bersama laki-laki itu hingga tiba saatnya hari pembalasan itu tiba.

Minggu, 16 November 2014

Lorong waktu

Ada yang aneh dengan tempat ini atau mungkin akulah yang aneh sekarang. Rumah-rumah disekitarku terbuat dari anyaman bambu dengan atap ilalang.
Tempat itu di tumbuhi dengan banyak tanaman bambu dan tanaman perdu. 

Seorang pemuda gembul menghampiriku, langkahnya begitu santai dan matanya terus mengawasiku. Senyumnya terasa menjijikan buatku, ingin rasanya aku meninju giginya yang amburadul letaknya itu. Seringai kerakusan tergambar jelas di matanya. 

Gayanya yang sok bikin tanganku gatal ingin menonjoknya.
Pemuda itu tidak sendiri, ada beberapa pemuda yang juga bersamanya. Mereka seperti berbisik sambil melirik kearahku dan memandangku dengan tatapan aneh, ya..buat mereka, aku memang aneh.

Aku pake rok panjang dan juga atasan berlengan panjang dengan wajah bingung menatap sekeliling, di jaman mereka baju seperti ini tidak ada, sama juga saat aku melihat mereka yang menurutku mereka...Kuno.
"Kenapa bingung seperti itu cah ayu..kamu kabur dari rumah to?, kalau begitu..tinggalah di rumahku gratis...asal..." pemuda itu menatap teman-temannya seakan memberi isyarat.
"Apa...?" Aku menatap mereka satu persatu. Kurasa mereka masih berumur belasan, terlihat wajah mereka yang masih kekanak-kanakan.
"Kau harus memuaskan kami..." dia terkekeh.
Teman-temannya mencibir dan tersenyum mengejek, si gembul mendekatiku dan mencoel dagu ku, aseem belum pernah di tabrak gerobak ni orang..benar-benar ndak sopan. Berani sekali dia menyentuh ku. Belum tau apa aku ini barang keramat, tidak ada duanya di jaman mereka. Jalaslah lha yang kesasar cuma aku.
"Apa ?, apa tadi kamu bilang...heloooo..mas-mas yang aneh..sory ya...aku bukan wanita murahan.ngomong saja sama tembok..." Aku pun melangkah pergi, aseeem..enak saja mereka menyamakan aku dengan wanita murahan.
Pemuda itu rupanya tak membiarkan aku pergi dengan mudahnya, mereka mencekalku tapi untungnya aku pernah belajar karate jadi sedikit banyak ini membantu sekarang dan ternyata itu semakin membuat mereka kalap menyerangku dan ingin menangkapku. Eits...jangan harap....
"Curang lo...mainnya keroyokan. Sekarang pake senjata lagi aseem" runtuku.
Malah jadi emosi aku. Tiba -tiba saja muncul seorang lelaki tegap berpakaian seba hitam. Kulitnya bersih dan dia memakai caping yang menutupi sebagian wajahnya. Matanya tanpak mengamati beberapa lelaki yang mengelilingiku.
"Diajeng tidak apa-apa?" Suara itu begitu tenang dan menyejukan, berwibawa dan juga santun.
Sepertinya dia bukan dari kalangan rakyat biasa...Aku tak tau harus menjawab apa, jantungku betdesir karenanya, terlihat sekali sikapnya yang ingin melindungi.
Pemuda itu begitu tangguh gerakannya cepat dan terarah sepertinya kemampuannya jauh diatas para berandal kampung itu hingga tak butuh waktu lama untuk membuat para berandal itu kabur meninggalkan tenpat itu.
"Kamu siapa?" Aku menatapnya sekilas sambil merapikan pakaianku. Sejenak dia memperhatikanku dan kembali menunduk. Pemuda aneh.
"Siapa saya itu ndak penting diajeng yang terpenting adalah sekarang diajeng ikut saya supaya aman, saya rasa diajeng bukan orang sini atau diajeng mau disini sendirian." sekilas pemuda itu tersenyum dan melangkah pelan.
Gaya mengancam yang klasik. Mau tak mau aku mengikuti pemuda ini daripada namaku masuk dalam daftar orang gila pertama di jaman sejarah ini.
Dari langkahnya kelihatan dia orang yang berwibawa, berasa masuk negeri dongeng dan kini aku bertemu dengan pangerannya. Oh tidak...apalagi ini.
****
Tempat penginapan ini begitu sederhana, cahaya temaran dari lampu minyak yang di pasang di sudut ruangan membuat tempat ini terasa suram.hanya suara binatang malam begitu jelas terdengar.Ah...sekarang tahun berapa ya dan ini dimana, duniaku sekarang seperti apa ya? Apa yang terjadi disana?.
"Diajeng, sudah malam kenapa belum tidur...?" suara itu begitu menyejukan, pemuda itu berdiri di belakangku.
Sekilas dia memandangku dan menunduk , senang sekali dia menunduk memandangi ubin seakan ubin itu lebih menarik dari pada aku.
Aku jadi cemburu pada ubin yang sering ditatapnya.
"Maaf...sebenarnya ini ada apa?, kenapa aku tiba-tiba bisa ada disini?, aku rasa aku ada di tempat yang salah." aku tak bisa menahan rasa penasaran ini. Dan aku rasa dia punya jawabannya.
"Maaf sebelumnya diajeng, mungkin ini salah saya juga.." Pemuda itu duduk dihadapan ku bersila dengan tenang , sikapnya begitu teratur.
"Maksudnya..?, dan kamu siapa, saya rasa kamu bukan dari kalangan rakyat biasa, setidaknya pasti anak penjabat." Aku menatap sekilas pemuda dihadapanku, tatapan matanya begitu tajam tapi ada keteduhan di senyumnya.
Senyuman yang mahal tapi memabukan kayak candu yang mulai meracuniku.
"Perkenalkan saya Panji Kusuma putra dari sinuwun Pramban sembada, diajeng sekarang ada di wilayah Menak sembadra...mungkin yang terjadi ini sebagai balasan atas mukti tresna saya beberapa waktu di lembah Taru Mendara..dan mungkin ini yang membawa diajeng masuk kemari..." pandangannya begitu teduh.
Dia menunduk kembali.
"Mukti tresno?, apa itu?"
"Itu seperti ilmu untuk mendapatkan seorang wanita yang diinginkan"katanya sambil tersipu.
"Maaf, boleh aku panggil Raden...?" pemuda itu hanya menggangguk dan tersenyum.
" Lalu bagaimana caranya agar aku bisa kembali kesana Raden, maaf tapi disini bukan duniaku Raden, kalau aku terlalu lama disini aku akan merusak sejarah yang ada, Raden. Setiap apa yang ada di dunia ini memiliki takdir sendiri-sendiri dan aku rasa takdirku bukan disini, saya harap Raden mengerti, saya dan Raden tidak boleh merusak sejarah yang ada, karena apa yang ada saat ini akan menjadi bahan cerita untuk anak cucu kita kelak Raden." Ujarku pelan.
Dia hanya diam saja . Sibuk dengan pikiran dan perasaannya saat ini.
"Jujur..saya menyukai diajeng. Diajeng beda dengan gadis-gadis yang ada di kadipaten ini, suatu saat saya akan mengantar diajeng kembali ke tempat asal diajeng..." kata pemuda itu. Ya iyalah aku beda. Beda jaman..
"Kapan?" Aku rasa sudah tak sabar menanti saat itu.
"Saya belum tahu pasti. Pasti saat itu akan ada tandanya diajeng...sebelum saat itu tiba ijinkan saya untuk menebus kesalahan saya karena sudah menyeret diajeng masuk ke alam saya.." dia menatapku sekilas kemudian menunduk lagi.
Jujur aku suka sekali gayanya yang mirip dengan cerita dongeng pewayangan itu.
"Raden ini lucu..apalagi kalau wajahnya jadi merah seperti itu, tambah ganteng. Jangan menunduk terus, orang tidak akan tau kalau Raden ini cakep." aku tak bisa menahan tawa saat melihat reaksinya.
Sungguh berbeda dengan jamanku..anak mudanya hura-hura semaunya..kadang nenetang orang tua..tanpa ada tatanan nyata dan di sini semua dididik dengan tata krama yang ketat, unggah-ungguhnya sangat tinggi, bahasa mereka halus wah..padahal kemampuanku berbahasa sangat minim. Maklum, beda jaman.
"Diajeng ini.." dia tersenyum sekilas. Sungguh..pribadi yang luar biasa.
Jujur aku jatuh cinta pada pemuda beda dunia ini.dibalik tubuhnya yang kekar tersimpan magnet yang sungguh luar biasa. Dan magnet itu berhasil menariku.
Sikapnya yang begitu tenang dan berwibawa cerminan dari seorang pemimpin.
Malam semakin larut dan kami hanya terdiam di teras depan penginapan tanpa kata meski kadang sering mencuri pandang.
Pagi merebak menebarkan aroma air yang menyelimuti tempat itu membawa dingin yang menusuk kulit.
Suara ayam jago mulai riuh terdengar.
tok...tok..tok..
Suara ketukan pintu mengagetkanku, membuatku terhenyak dati tidurku.
"Diajeng...." Raden Panji membangunkanku. Perlahan aku bangkit dan mencoba menggapai pintu dengan bantuan cahaya yang temaram.
Aku membuka pintu kamarku dan ku dapati sosok itu berdiri di depan pintu kamarku.
"Sudah pagi diajeng..kita harus lanjutkan perjalanan..." dia sekilas menatapku dan menunduk kembali.
Aku mengikuti langkahnya keluar dari penginapan ..jalanan masih sepi. Masih jarang ada orang yang melintas di tempat itu, kabut tipis menyelimuti daerah itu, membuatku merinding.
Sungguh tak ada transportasi di masa ini, heran aku. Mereka tahan berjalan bermil jauhnya tanpa kendaraan.
Oh..kakiku, malangnya nasibmu, siap-siap bengkak nanti malam.
"Diajeng makin cantik kalau seperti ini, alami..." dia menatap sekilas kearahku..bagaimana di bilang cantik, mandi saja belum. Aku hanya mencibir saja.
Dasar..kemajuan ya sekarang..gombalnya keluar..brrr dingin banget ya apa dia tidak kedinginan.sikapnya biasa saja, seakan kulitnya sudah ada mantelnya.
"Udaranya dingin sekali...apa kita masih jauh...?" aku menyilankan tangan ku di dada..dinginnya menusuk ke pori-pori...bbbrrrr...
"sebelum siang kita akan segera sampai diajeng..disana nanti diajeng bisa istirahat lagi.." jawabnya.
"Kita mau kemana?"
"Kerumah saya diajeng..." lanjutnya..
Dia berjalan di depanku meski sesekali ku lihat dia melirik ke arahku..gemes aku pada pemuda satu ini..kalau tiba-tiba ku gandeng tangannya apa reaksinya ya dan tanpa di komando lagi aku mendekat padanya dan menggemgam tangannya.
"Dinginn" kataku perlahan.
Tak kuhiraukan wajahnya yang tanpak terkejut, meski pada akhirnya dia diam saja, salah sendiri mengajaku jalan sepagi ini.
*****
"Aku dengar kangmas membawa wanita asing ke kadipaten?" Seorang perempuan memakai pakean kebangsawanan bewarna hijau keemasan dan tampak begitu anggun, dibelakangnya tampak beberapa perempuan yang mengiringinya mereka memakai kain sebatas dada , kepala mereka selalu menunduk.
"Diajeng Laras..., benar diajeng dia teman Kangmas.." Jawab Raden Panji.
"Teman...? , sejak kapan kangmas mempunyai teman seorang perempuan yang tidak jelas asal-usulnya seperti itu...?" lanjutnya. Nada kecemburuan terdengar jelas. Wajahnya terlihat masam.
"Sekarang dimana dia,saya ingin kenalan Kangmas?" lanjutnya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Sebentar diajeng...duduklah..emban sedang membantunya ganti busana..." jawab Raden panji tenang tanpa beringsut dari tempat duduknya.
"Duduklah dulu ngger, sebentar lagi dayang akan mengantarnya kesini.." Sinuwun Pramban sembada mempersilahkan laras untuk duduk. Tapi gadis itu masih berdiri dengan angkuhnya.
"Nah ...itu mereka datang..." Kanjeng Ibu melihat kearah kami sontak membuat yang lain ikut melihat kearah kami. Raden panji yang semula duduk kini sudah berdiri menyambut kami.
Haaa...kain ini membuatku sulit bergerak...ah...kenapa jadi seribet ini..kepala ku malah jadi pusing gara-gara kondenya terlalu berat dan banyak pernak-perniknya, rasanya pingin lompat gaya fampir aku biar cepat sampai di sana..ya ampun..apa tampangku aneh hingga membuat mereka jadi bengong gitu, hanya ibu ratu yang tampak tersenyum penuh arti.
"Salam sinuwun...sembah pangabekti hamba...." fuih....badanku jadi panas dingin mengucapkan kalimat keramat itu. Tidak sia-sia aku ngapalin semuanya semalaman.
"Duduklah cah Ayu...ayo sini dekat ibu..."kata sinuwun Ratu sambil menunjukan kursi kosong disampingnya.
"Tunggu...Kanjeng Ibu...perempuan ini tidak pantas duduk di dekat Kanjeng Ibu. Kita belum tau siapa dia sebenarnya, siapa tau dia mata-mata." Laras tampak berapi-api.
Ah, ni cewek. Jadi pingin lakban tu mulut. Heran aku, kok bisa orang kayak gitu jadi putri. Pantas Raden Panji sampai Tapa mukti segala. Eror ternyata calon bininya..
Aku hanya tersenyum saja. sementara Kanjeng sinuwun hanya manggut-manggut.
"Laras, tak baik mencurigai orang seperti itu. Ibu yakin gadis ini tak sejahat itu." terang Ibu Ratu tenang, sungguh sikap yang begitu mengayomi. Ibu panutan.
"Maaf Kanjeng sinuwun, perkenankan hamba duduk disini saja..disini masih banyak kursi yang kosong.." Aku berusaha bangkit.
Baju ini bikin aku kesulitan berdiri..sepasang tangan kokoh terulur kearahku..saat aku mendongak ternyata Kangmas Panji , dia meraih tanganku dan membantuku berdiri. Aku menyambut tangannya yang kokoh.
Serasa ada sengatan listrik yang mengalir di tubuhku sekarang ini. Apalagi pandangan matanya yang teduh membuatku mulai merindukannya. Eitss...rindu..wah ikutan soak ni kayaknya aku.
"Lihat...bahkan berdiri saja dia tak bisa..memalukan..." Laras mencibir kearahku.
Mana sendal..mana sendal..huu..untung aku ndak pake sendal kalau pake..pasti dah melayang dari tadi.
"Trimakasih Raden..maaf merepotkan Raden.." kataku pelan sambil bersandar di tubuhnya mencoba untuk menyesuaikan diri dengan pakaian yang aku kenakan ini.
"Tidak apa-apa Diajeng..." Senyumnya bikin aku klepek-klepek kekurangan oksigen, suaranya mendesah.
"Hh manis banget mulutnya..sepertinya kamu pandai merayu..." Laras mencibir lagi.
"Laras jaga sikapmu..tidak baik jika seorang putri bersikap seperti itu..." Hardik kanjeng ibu.
"Laras tidak suka perempuan itu Ibu, Laras akan minta ayahanda untuk mempercepat pernikahan kami." dia bangkit, raut mukanya memerah menahan marah.
Beberapa dayang yang sedari tadi diam pun telah sigap di belakangnya tanpa memberi hormat dia melangkah meningalkan ruangan tapi baru beberapa langkah dia menginjak selendangnya.
Mungkin karena terburu-buru dan emosi hingga membuat nya tak memperhatikan langkahnya dan terjatuh, beberapa dayang bergerak sigap hendak membantunya berdiri tapi dia menepis bantuan mereka dengan kasarnya.
"Kangmas tidak membantuku?" dia memandang Raden Panji yang sedari tadi diam disampingku.
"Maaf diajeng tapi apa boleh buat tanganku di ikat oleh Diajeng Ayu." katanya sambil tersenyum.
Aku baru tersadar jika sedari tadi aku masih mengapit lengan Raden Panji, segera aku melepaskannya dan mengambil jarak agar tidak terlalu dekat dengan Raden panji.
Raden Panji hanya tertawa melihatku jadi salah tingkah. Laras yang melihat itu bergegas bangkit dan meninggalkan kami, tampaknya sekarang aku menghancurkan sejarah cinta Raden Panji kali ini.
***
Udara berhembus sepoy-sepoy begitu segar, membuatku jadi mengantuk. Di hadapanku terbentang hamparan padang rumput yang begitu subur. Beberapa anak gembala tanpak asyik bermain, senyum mereka lepas tanpa beban, harusnya moment ini bisa aku abadikan untuk kenang-kenangan bila kelak aku meninggalkan tempat ini tapi sayang  aku tak punya handphone saat ini.
"Jangan melamun seperti itu, Diajeng. Cepet tua lho." Suara yang khas membuyarkan lamumanku. Kutatap sosok tubuh yang sekarang duduk disampingku.
"Sedang apa Raden disini?, nanti dicari Diajeng laras lho." Ujarku sambil menatap lurus kedepan.
"Diajeng cemburu?" Ucapnya langsung mengena di hati. Ya elah....kenapa juga tanya kayak gitu.
"What.. ya tidak lah, pernikahan itu memang seharusnya ada to. Kenapa aku harus cemburu?" Elaku, tapi dia malah tersenyum .
"Jujur saja, Diajeng"
Duh kok jadi aku yang bully sekarang.
"Ndak lah, ada-ada saja" wah rasanya mau kabur aja daripada di tanya kayak gini terus.
"Orang itu harus jujur, Diajeng. Tidak boleh bohong. Dosa" pemuda itu makin tersenyum
"Ndak...!." Aku mendorong tubuhnya begitu kuat hingga membuatnya jatuh bergulingan di padang rumput.
"Ops...sorry, tidak sengaja. " aku membantunya bangkit.
"Apa itu sorry?" Dia memandangku.
"Itu bahasa inggris yang artinya,Maaf" ujarku
"Apa itu bahasa inggris?" Lanjutnya.
Aku menepuk jidatku..ya ampun..primitif, gimana jelasinnya, bisa-bisa jadi panjang kali lebar.
***
Suasana pendopo tampak begitu riuh, suara gamelan yang sering terdengar kini terasa menyiksa di telingaku. Pendopo itu kini mulai di padati oleh penduduk yang ingin menyaksikan tontotan masyarakat itu.
Hari ini acara pertemuan dua keluarga.
Di sana ada Kanjeng sinuwun dan Raden panji, juga keluarga besan serta putri laras yang tampak anggun dengan busana kebangsawanannya wajahnya tampak sumringah, sedangkan Raden Panji  terlihat tampan dan berwibawa dengan busana kebangsawan, tapi dia tampak duduk dengan gelisah, sesekali ia tampak mengedarkan pandangan mencari seseorang dan saat mata kami bertemu dia melemparkan senyum padaku.
Aku mengangguk sekilas, tapi senyum itu menghilang saat aku melihat Laras memandang tajam kearahku.
Jujur aku merasa tidak nyaman dan salah satu cara menenangkan diri adalah pergi dari sana dan tempat yang tepat adalah arena ketangkasan, setidaknya di sana aku bisa melampiaskan kekesalan
Toch semua orang sedang  menikmati hiburan di pendopo utama termasuk para murid calon prajurit.
"Ndoro putri, sedang apa disini?" Suara Ki Suro mengagetkanku. Selama tinggal disini Ki Suro adalah guruku juga orang tua angkatku.
"Ki,..Aki tidak ke Pendopo?"
"Aki tahu apa yang kamu rasakan ngger, sebaiknya masalah ini. Kamu bicarakan baik-baik dengan Raden Panji. Raden pasti punya solusi yang tepat, Ngger" Ki Suro duduk di sampingku.
"Solusinya cuma satu,Ki. Saya pergi dari sini. Kembali ke asal saya." Ujarku pelan.
Jujur sebenarnya aku tidak iklas kalau harus meninggalkan tempat ini.
Disini aku mendapatkan cinta yang berlebihan dan juga perlindungan tapi ini bukan duniaku dan juga hak ku untuk menikamati semua kenyamanan ini.
"Apa kamu sudah membicarakan dengan Raden Panji?, apa dia setuju?" Lanjut Ki Suro.
"Harus,Ki. Harus.."
"Ya sudah, Ndoro istirahat saja. Saya mau ke pendopo." Ki Suro pamit ke pendopo, aku hanya mengangguk saja dan kembali menatap hampa lapangan kecil yang biasa digunakan untuk olah kanuragan itu.
Ku langkahkan kakiku menuju tengah lapangan. Rasa galau ini begitu menyiksaku, membayangkan Raden Panji menikmati semua tontonan itu dengan hati sumringah bersama calon istrinya.
Harusnya aku tidak marah dan cemburu. Oh tidak... Seharusnya inilah yang terjadi. Pernikahan ini memang harusnya ada.
Aku mengambil sebuah tombak panjang dan mulai menaikannya, Ki Suro pernah mengajariku beberapa gerakan dan saat ini aku ingin mencobanya. Dan ketika aku mulai konsentrasi tiba-tiba saja muncul beberapa orang berpakaian prajurit dengan wajah yang ditutupi kain.
Ah apa lagi ini, apa mereka tidak bisa membiarkan aku tenang sebentar saja.
Tanpa bicara mereka langsung menyerangku. Sebenarnya kemampuan mereka dibawahku, cuma seorang saja yang tampaknya terlatih dalam hal bela diri.
"Aaaa...." sial mereka berhasil melukai bahuku.
Aku harus lebih hati-hati, aku tidak mau mati konyol disini.
Mereka tampaknya tidak main-main begitu melihatku terluka mereka malah semangat menyerangku. Saat aku terdesak tiba-tiba saja Raden Panji sudah ada di sampingku.
"Harusnya aku tidak meninggalka diajeng kalau tahu diajeng bakal mendapatkan kunjungan seperti ini." Ucapnya lirih.
Kehadiran raden panji ternyata berdampak pada mereka, mereka berhenti menyerangku seakan ragu untuk maju.
Sesaat mereka saling pandang sampai akhirnya mereka maju bersamaan menyerang kami.
"Awas, diajeng!!". Sial, apa yang sedang aku pikirkan. Kenapa aku sama sekali tidak foku hingga lenganku terkena lagi. Meski tidak dalam tapi darah yang kekuar lumayan banyak. Membuatku terasa lemas.
Beberapa prajurit pun mulai bermunculan dan mengepung tempat itu.
"Ki..bawa Diajeng keluar, saya akan bereskan mereka" perintah Raden panji yang dijawab dengan anggukan kepala.
Ki Sura juga sudah muncul di arena menariku ke pinggir, karena lemas aku jatuh tersungkur di pinggir.
Ki Sura menopang tubuhku, beberapa dayang datang menghapiriku.
"Panggil Ki Mayura, cepat!" Ki Sura memberi perintah, dan seorang dayang undur diri dan berlari meninggalkan tempat itu. Sementara itu, para penyerang itu berhasil dilumpuhkan.
"Bagaimana Ki, kenapa diajeng semakin pucat?" Raden Panji terlihat panik.
"Maaf,Raden. Sepertinya salah satu senjata mereka di bubuhi racun yang cukup ganas, Saya sudah memanggil Ki Mayura kesini Raden" Lanjut Ki Sura.
Seorang lelaki tua berjenggot panjang datang dengan tergopoh-gopoh, di belakangnya seorang pemuda tampak membawa sebuah kotak dan dengan setia mengkuti aki itu.
"Ki, kenapa ini" Raden panji mulai tegang.
"Bawa kedalam, Ngger." Raden Panji mengangkat tubuhku dan membawa masuk kedalam rumah Ki Sura. Setelah merebahkan tubuhku di ranjang, Raden Panji keluar kamar. Setelah itu aku merasa pandanganku kabur.
Saat ku terbangun aku merasa ada di tempat yang berbeda. Kamar ini lebih luas dan lebih bagus. Luka di lengan dan bahuku masih terasa nyeri. Aku beringsut mundur ketika tanganku menyentuh seseorang.
"Raden..?" Suaraku tercekat ketika menyadari sosok yang tidur di sebelahku adalah Raden Panji. Wajah tampannya terlihat begitu lelah. Dia bertelanjang dada. Sial, apa yang sudah terjadi di sini, kenapa aku tak ingat apa-apa, berapa lama aku tertidur.
"Diajeng....diajeng sudah sadar?" Raden Panji bangkit, dia mengenakan bajunya.

Rabu, 29 Oktober 2014

Seikat cinta Hanum

Saat rindu ini beradu....
Aq hanya mampu panggil namamu...
Dalam setiap rintihan doa ku..
Kenapa jurang ini terbentang begitu dalam..
Meninggalkan luka yang masih menganga...
Ah....kasih.....
Sesulit inikah untuk bisa menemuimu...
Dalam garis takdir Ilahi...
Mobil ini berhenti di sebuah pekarangan rumah mewah. MangbUjang lari tergopoh-gopoh kearahku...
"Kemana saja kamu....,? Aga mencarimu..."
"Belanja bulanan ....tumben si bos nyari...ada barang yang hilang...?"  Sekilas ku tatap Mang Ujang yang membantuku menurunkan bawaanku.
"Udahlah...cepatlah naik...biar aku yang bereskan ini..."  dibawanya semua bawaanku masuk...
Kamar itu masih rapi...tak kulihat Aga disana...mungkin dia diruang kerja...
"Dari mana saja kamu...." Suaranya ketus amat ya...kebiasaan kalau udah gini...mesti diem aku..biar ndak tambah panas..
" Dari supermaket...ada apa?" sekilas aku memandangnya
"Siapkan keperluanku...siang nanti aku ke singapure..." Aga masih sibuk dengan tumpukan map didepannya tampa menoleh sedikit pun kearah ku.
"Sudah semua...tiket juga sudah kumasukan di saku jas mu..."ku jawabku pelan.. Ah...tak bisakah dia melihatku sekilas saja sebelum pergi..kali ini aku sangat berharap dia melakukannya...
"Kau yakin tak ada yang ketinggalan...?"  dia masih asyik dengan kesibukannya..Aku membuka tas kecilku dan mengeluarkan agendaku lagi...kuperiksa catatan ku...semua sudah siap...sepertinya tak ada yang kurang...
Diamelangkah keluar...sepertinya terburu-buru.... baguslah...dia pergi tampa ucapan apapun...juga tampa ciuman dan pelukan...bagus dech...pergi aja sana...tampa sadar aku sepwrti ekor baginya..mengikutinya kemanapun dia pergi.
Aku mengantarnya sampai di teras depan rumahku...berharap di saat terakhir aku masih mendapatkan ciuman darinya..tapi...hangus....tak ada apa-apa...dan yang beruntung kali ini Devi.. cewek cntik perkulit putih dengan rambut sebahu dan juga selalu tampil modis itu pacar Aga...cewek itu sudah berdiri disamping mobilnya...dan tampa perlu perjuangan..dia mendapatkan pelukan dan kecupan...ah...nerakaku..buat aga aku tak lebih dari komputer berjalan...mesin rumah tangganya dan istri rahasiannya...tak lebih...
Taman belakang rumah ini begitu indah...entah kenapa baru sekarang aku memperhatikannya...atau aku terlalu sibuk selama ini hingga melewatkan pemandangan sebagus ini dihadapanku.
"Jangan melamun Han...nanti cepet tua lo..." mang ujang muncul dari belakangku sambil membawa peralatan berkebunnya..aku mendesah perlahan searasa beban dipundaku kini tak mampu kusangga lagi...
"Dah dapat pesenku,Mang?" Tanyaku...
"Dah....mungkin lusa dah datang...lumayanlah mereka pernah kerja kok sebelumnya.." JawabMang Ujang sambil merapikan rumput di taman belakang..
Mang ujang bukan hanya sebagai tukang kebun dan sopir di sini..tapi dia juga yang merawat Aga dari aga kecil hingga sekarang...buat ku dia sudah seperti ayah..Aga sangat menghormati Mang Ujang..dia orang kepercayaan Aga...
"Baguslah Mang...Tapi jangan bilang apa-apa soal aku pada mereka yang Mang...biar saja menganggap aku sama dengan mereka ..biar akrab nanti...syukur-syukur kalau mereka betah...jadi aku ada temennya.." aku mengamati Mang Ujang yang tampak cekatan merawat taman..
"Beres itu..tenang saja Han...aku akan awasi mereka baik-baik..." Mang Ujang tersenyum kearahku..
Aku melangkahkan kakiku kembaki ke kamarku, sudah 2 hari ini Aga ke ke Singapore dan dia jarang memberi kabar kecuali aku yang tlp atau sms..itupun juga sering diabaikannya...ah...nerakaku...sampai kapan akan berubah menjadi surga..atau selamanya akan tetap menjadi neraka...
Suara derit pintu mengejutkanku...Aga masuk dengan tergesa.. aku masih setengah sadar ketika dia menariku..tanganku terasa sakit , gemgamannya terlalu kuat..
"Kenapa tak pernah balas smsku, telephonmu juga ndak pernah aktiv.." aku menatap bingung kearahnya...nah..bukannya kebaik...
"Nah...bukannya kebalik..kamu yang melarangku untuk menghubungimu selama kamu disana karena kamu takmau  diganggu..." Aku malah jadi emosi..
"Jangan ngaco kamu..." Tatapannya begitu dingin seakan siap menelanku...
"Aku tak pernah bohong padamu...dan kau tau itu Tuan Aga Ardana " Aku sudah habis kesabaranku..teganya dia meragukanku. Aku mengibaskan tangan ku bagaimanapun juga aku juga pernah belajar ilmu bela diri..dia menghalangi jalanku..
"Sudah cukup..." Aku menunjuk karahnya..nafasku sudah naik turun menahan gemuruh di dadaku..harusnya aku mendapatkan ciuman atau pelukan rindu darinya bukannya bertengkar seperti ini...apa dia tidak merindukan ku...
"Sudah cukup semua ini...bagimu aku cuma komputer berjalanmu kan...tak lebih dari itu...aku muak dengan semua ini...aku lelah...sebaiknya kita berpisah..." Aku berlari meninggalkannya...ah...benarkah yang aku ucapkan tadi...berpisah...apa aku bisa...teganya mulutku bilang seperti itu.....
Kasih...tak bisakah kau melihatku meski hanya sesaat...
Apa adanya diriku saat ini...
Aku bukan bidadari...
Yang selalu kemilau dan mempesona dihadanmu..
Aku hanyalah wanita biasa..
Yang mengabdikan diriku hingga nafas terakhirku
Dalam dekapan cintamu...
Karena inilah aku..
Dengan sekeping hati yang menunggu untuk dicintai..
Bukan dihancurkan...
Aku manusia...bukan benda mati
Yang kau pajang dan kau biarkan...
Tak bisakah semenit saja...
Kau belajar untuk mencintaiku...
Semenit saja....dan itu cukup bagiku...
Untuk tetap mencintaimu seumur hidupku..
Seneng hari ini akhirnya aku bisa mendapatkan teman baru...akhirnya aku tak sendiri lagi mengurus rumah ini...ada teman untuk bicara dan cerita...akhirnya...
" Oya...khusus hari minggu kalian tidah boleh masuk di rumah utama..karena hari minggu teman Pak Aga datang...jadi kalian boleh jalan-jalan atau tinggal diam di rumah belakang..ingat ya..jangan di langgar.."  kataku pada mereka
"Ya mbak.." Murni dan indah menjawab bersamaan...
"Kalau masih ada yang mau ditanyakan bisa tanya mang Ujang langsung atau sama aku..."  Murni dan indah kembali mengangguk..
"Ada anggota baru ya?" Suara khas itu mengagetkanku.senyumnya mengembang tampa beban..Marni dan Indah saling pandang..mereka jadi salah tingkah..jelaslah...ada cowok sekeren ini gimana mereka ndak salting...ah...dasar cewek..ndak bisa diem liat barang bagus...aku tersenyum melihat tingkah mereka..
"Oya...Marni, indah...ini Pak Aga..beliau pemilik rumah ini..."  Aku berusaha menetralkan suasana...
Aga tersenyum tipis kearah mereka...senyum maut...dia aja jarang senyum kearahku tapi gampang banget umbar senyum ke orang...ndak adiilll....
"Hai...aku Aga dan ini istrku yang paling cantik...istri sekaligus komputer ku..." Dia memegang pundaku dan tersenyum simpul padaku...aseeem...kenapa pula dengannya...pake bilang istri komputer lagi..apa ngeh marni dan indah istilah kayak gitu.
Bukan cuma aku yang terkejut..tapi juga marni dan indah..suasana yang santai kini menjadi canggung..Aga pun berlalu dengan senyum kemenangannya dan aku mengikutinya dari belakang..seperti seekor anjing...
" Kenapa kau bilang pada mereka...Aku sudah wanti-wanti pada MangbUjang untuk tidak bilang apa-apa pada mereka tapi malah kamu yang cerita pada mereka..." dengusku kesal...dia menghentikan langkahnya saat kami sampai di ruang kerjanya.
"Sudahlah..ndak usah dibahas...aku sibuk.." dia masuk keruang kerjanya..
ih..pingin banget rasanya aku membantinya sekarang juga....agarnya cueknya itu berkurang..
"Yakin kamu mau membantinhku...boleh...tapi di kasur ya..." Aga muncul dari balik pintu..dengan senyum mautnya.aseeem...kenapa dia bisa tau pikiranku... Aku segera membalikan badanku meningalkannya..sebelum semakin salah tingkah di hadapan lelaki ini tapi belum sempat jauh dia sudah menariku...
"Siapa yang menyuruhhmu pergi...masuk..."  dia menariku ke ruang kerjanya...dan membenamkanku seharian  di sana...
Ahhh....capeknya.....akhirnya kelar juga... ndak adil...bener-bener ndak adil...Aga tidur dengan nyenyak setelah membuatku habis tenaga...sementara aku masih berkubang dengan setumpuk kerjaan ini...ahhh...awas kau Aga tapi senang juga bisa melihatnya tertidur lelap seperti ini, memandang wajahnya yang tampan begitu damai...tiba-tiba .kepalaku jadi pusing...mungkin terlalu lama duduk dan terlalu lama di depan komputer...enak banget sekretarisnya di kantor...karena kerjaannya aku yang selesaikan...ndak adil....
Aku mengenal Aga 5th yang lalu...saat orang tuanya datang ke panti... Sebagai penyumbang dana terbesar mereka tentu disambut baik oleh ibu yayasan... dan hari itu mereka berniat mencarikan teman buat aga...dan akhirnya pilihannya jatuh padaku...entahlah...apa yang membuat mereka memilihku tapi yang pasti kehidupanku berubah setelah itu...yang aku tau Aga memperlakukannku bukan sebagai adiknya ..tapi saat itu aku malah sebagai asistan nya..slalu mengekor kemanapun dia pergi..belajar banyak hal yang asing buatku...untung saja...otaku tak ruwet-ruwet amat...jadi bisa menerima semua yang diajarkan dengan cepet..meski kadang kami sering berdebat..hingga pada akhirnya kami merasa cocok. Tak disangka justru ini yang memicu Orang tua Aga untuk menikahkan kami..keputusan yang mendadak..aku dan Aga tak bisa menolak meski saat itu aga sudah punya seorang kekasih.dan akhirnya kami membuatbkesepakatan untuk tidak saling menyentuh hingga cinta itu muncul..seminggu kenudian orang tua Aga meninggal karena kecelakaan..sungguh aku merasa kehilangan figur orangvtua yang sangat luar biasa..
rumah tanggaku tak seindah yang dibayangka orang.menikah dengan orang kaya dan tampan justru menjadi neraka buatku..karena pada kenyataannya..aku dan Aga belum bisa menerima semua ini sepenuhnya...Aga masih berhubungan dengan kekasihnya dan aku masih tetap jadi asistandnya.yang hanya bisa mengabdi padanya sebagai bagian dari pengabdianku meski pada kenyataannya dia tak pernah melihat kearahku...dan selama itu pula kami tidur twrpisah..
Jam menunjukan pukul 04.00 pagi..masih gelap..dan aku baru menyelesaikan tugas terakhirku.. pusing banget... makanan yang dibawakan Aga juga belum sempatbku sentuh...kepalaku terasa pusing..mungkin saja karena aku belum makan...dan kecapean.. aku bangkit dari duduk ku. Aga masih terlelap di sofa..Aku ngantuk baget.. Baru sesaat aku bangkit aku sudah jatuh dan dunia terasa gelap buatku..
Ketika ku sadar aku ada di kamar Aga..badanku nyeri..mungkin sewaktu jatuh badanku membentur lantai cukup keras hingga membuat tubuhku nyeri sekali...
"Udah bangun....kamu tidur lama banget..." Aga muncul sambil membawa mampan makanan.
"Jam berapa sekarang..." kenapa tubuhku ngilu sekali..
"Jam 10. pagi.., semalam kamu tak makan makannya pingsan.." dia memberiku teh hangat..
"Tumben kau baik padaku...kau kerasukan ya.."  Ada sedikit kecurigaan di hatiku saat ini melihat sikapnya yang berubah dratis seperti ini..mungkin kemarin di kejatuhan sofa hingga membuatnya amnesia, lupa dengan sikapnya yang cuek itu..
"Aku cuma ingin menjaga istriku saja mulai dari sekarang apa tak boleh...?" Senyum nya terasa aneh buatku...jangan-jangan...
"Apa yang kau lakukan padaku saat aku tak sadar..." Aku meatapnya..mencoba mencari kebenaran tentang apa yang aku pikirkan saat ini...
"Tidak ada...aku cuma memeluk istriku yang sedang tertidur lelap aja...dan..." pandangannya terasa aneh buatku..
"Jangan bilang kalau kamu..." kalimatku terhenti tak sanggup tuk melanjutkan...
"Iya...dan kau tau...aku tak bisa menahannya.dan baru kusadari kalau selama ini aku melewatkan hal yang begitu indah..." seringainya terasa mengejek...dia mendekatiku..
"Kau..." aku kehilangan kata-kata sekarang dan ku rasa bukan cuma itu. saja.. aku kehilangan mahkotaku di sat yang tidak aku inginkan... Aku menutup wajahku dengan selimut..teganya dia memperkosaku di saat aku tak sadarkan diri.. lelaki macam apa dia...tegaaa...
"Tenang saja Hanum sayang....kita akan mengulanginya sekarang..dan aku akan membuatmu mengingatnya...setiap saat..." diamenarik selimutku.
"Jangan mendekat...." aku beringsut dari tempat tidur.. tak ku hiraukan kalau saat ini penampilanku sudah awut-awuta karna ulah Aga semalam. Dengan sigap dia sudah menangkapku hingga kami berdua jatuh di karpet empuk di dalam kamar Aga..
"Kau tau...kau sangat cantik kalau ketakutan seperti ini... kenapa mesti lari..aku suamimu Hanum sayang..." Wajah kami begitu dekat..aku bisa merasakan hembusan nafasnya saat ini..dan aku tak bisa berbuat apa-apa sekarang..tenaganya lebih kuat dariku..dan aku merasa butiran air mata kini mulai membasahi wajah ku..entah kenapa aku menangis..antara sedih,senang dan terluka...ya mungkin aku terluka karna bukan cara seperti ini yang kumau..benarkah dia sudah berubah.tapi.karna apa..? cinta...atau nafsunya...tak mungkin karena cinta, terlaku cepat jika itu memang karena cinta..mungkin nafsu ingin memiliki dan dipuaskan..
Matahari masih enggan mengintip..suara kokok ayam jantan pun mulai terdengar.. Aga masih terlelap di sampingku...wajahnya tampak begitu damai nafasnya teratur..ada kepuasan terpancar disana...bergegas aku ke kamar mandi. Dinginnya air yang membasahi tubuhku membuatku tersadar banyak hal yang terlewati kali ini...harusnya...bukan seperti ini...ya..harusnya....
"Bu....eh..mbak..." Marni tampak gugup ketika melihatku turunbmenghampirinya..
"hehehe....udah..jangan canggung gitu..panggil mbak aja..kan umur kita ndak beda jauh..." aku menatap sekilas ke arah mereka sebelum mengeluarkan isi kulkas...
"Mbak mau apa...biar kami yang siapin.." Marni mendekat padaku..
"heheh..ndak usah...biar aku yang masak..kamu teruskan saja kernjaaanmu..setelah itu cepat ajak Indah kerumah belakang...aku akan mengantar makanan kalian kesana.." aku harus bergerak cepat..ini hari minggu..genk Aga pasti akan segera datang.  Marni bergegas meninggalkan dapur..
Wuih...selesai juga...semua dah beres...aq harus segera berlalu sebelum genk gila itu datang...membuat keributan dengan pwsta gila mereka..
"Mang..antar ini ke belakang...." Aku menyerahkan rantang makanan ke mang Ujang...
"Cepatlah naik Han...sepertinya mereka sudah datang..." Mang ujang segera berlalu setelah menerima rantang itu...
Aku segera berlalu dari dapur..ketika suara seorang  lelaki mengagetkanku...
"Hy cantik...lama tidak bertemu...makin segar aja sekarang..." suara rudi yang ramah tapi sarat dengan rayuan cendol bikin aku neg....
"Maaf..aku mau ke atas...Kalau mau makan...sudah aku siapkan..." Aku beringsut menjauh..tapi Rudi menghalangi jalanku...matanya jalang menatapku membuat aku risih..
"Ehem..." Suara dehem dari arah tangga mengejutkan kami spontan kami menoleh keatas....
"Hy brow...baru bangun kau....lecek banget kau...habis perang ya? tenang aku cuma menyapanya kok.." Rudi terkekeh...
" Hy sayang....kenapa samalam tak menelpon ku...aku kangen...." Suara cewek yangvpaling aku benci di seluruh dunia itu kini sudah ada di hadapanku...dengan riangnya di melangkah menaiki anak tangga dan mendekati Aga yang dingin tampa expresi..dan. takbpeduli dengan keberadaanku disana..cup..ciumannya mendarat di pipi Agadisana tangannya pun sudah memeluk tubuh aga sekarang.....darahku mendidih sekarang...apa artinya ini..tak bisakah mereka menghargaiku..bergegas aku menaiki anak tangga dan masuk ke kamarku..menumpahkan kekesalanku dengan membanting pintu kamarku.keras-keras..persetan mereka dengar atau tidak...teganya dia padaku...setelah apa yang kami lakukan semalam kini dia dengan santainya memeluk gadis lainkeras-keras dan semua ternyata tak ada artinya...ya...semalam memang bukan yang pertama aku melakukan nya dengan Aga...sebulan yang lalu dia juga melakukannya dengan keadaan mabuk.. tak sadarkah dia saat itu..jika sedang bersamaku..aku tak ubahnya seperti pelacurbsaja..diingat saat butuh setelah itu ditinggalkan begitu saja seolah tak terjadi apa-apa. kenapa suatu hubungan harus dimulai dengan suatu yang salah...kenapa?..tak bisakah aku menjalani ini dengan normal sama seperti yang lainnya.
Kemarahan ini membakarku sayang...seperti api yang tak terkendali..
tak tahukah kamu...
dengan mudahnya kau menamam benih penderitaan padaku..
menyemainya dengan rasa sakit yangbtak bertepi..
tanpa memupukbya dengan cinta..
hasil apa yang kau harapkan sayangku...
cinta...atau kehancuran....
Seharian aku mengurung diriku di kamar....tampa ada keinginan untuk keluar..dari kamarku.rasa kecewa ini sudah menglahkankamarku rasa lapar di perutku..
"Han...buka pintunya...makan dulu...kamu seharian belum makan...." Suara Aga dari balik pintu...sejak kapan dia peduli padaku...selama ini toch dia cuek padaku...jika teman-temannya datang ia akan menghabiskan waktunya dengan mereka seharian bahkan sering pergi dengan mereka hingga larut...dan sekarang dia pura-pura peduli padaku. setelah dia bermesraan dengan gadis itu...jangan harap aku akan memafkannya kali ini...
"Han....buka pintunya atau aku akan memaksa masuk ke kamarmu...cepat buka.." Suara aga kini semakin terdengar lantang..
"Han.....cepat buka sayang.....jangan paksa aku bertindak kasar..."..
Kasar...??? bukankah selama ini dia selalu kasar denganku...masih belum cukupkah...mataku sudah terasa perih dan bengkak karena seharian ini aku menangisimu...tapi apa kamu tau itu...kurasa tidak...karena wanitabitu berhasil mengalahkan duniamu..
Pintu itu terbuka..aku meraih tanto dan meletakan di keherku...
"Jangan mendekat....!" aku menatap garang Aga dan Mang Ujang dengan sisa tenaga yang aku miliki...
Aga terbelalak kaget...dia sema sekali tak menyangka aku menyimpan benda kecil itu...
"Keluar..dari kamarku atau aku mati dihadapan kalian...." teriaku..aku menekan tanto itu makin rapat di leherku hinggabkurasakan perih...mungkin saat ini leherku tergores...
"Han....oke...aku keluar....kau gila han...kau membahayakan dirimu sendiri....buang pisau itu Han...buang...kita bicarakan semuanya baik-baik..." Aga perlahan melangkah maju...
" Keluar........!!" Aku tak bisa lagi membendung amarahku...leherku semakin perih dan aku mulai mencium bau anyir..Mang Ujang menarik Aga keluar kamar...tinggalah kini aku dalam tangisan tak bertepi...teganya kau hancurkan aku lebih dalam dengan perhatianmu yang palsu...tak cukupkah semua ini....aku capek....bahkan kaubtak tau kini aku mengandung anakmu..belum puaskah kau menyakiti kami berdua...
Entah berapa lama aku mebiarkan air mataku terkuras habis lagi malam ini...hingga akhirnya aku lelah dan tertidur...
Saat ku bangun aku merasakan dekapan hangat seseorang...leherku terasa nyeri...tubuhku capek sekali..ku edarkan pandanganbke sekelilingku..ini bukan kamarku...ya...ini kamar Aga.....
"Sudah bangun...kau harus makan...dari kemarin kau tak makan...aku akan panaskan makannya dulu...kau pasti lapar..." kalimatnya begitu ringan seolah tak terjadi apa-apa diantara kami...saat ini aku hanya mampu diam..tenagaku seperti tersedot habis tampa sisa...
Seharian dia bersamaku..merawatku dengan sabar...dan tak bergeming dari sisiku..dan aku masih enggan untuk membuka suaraku padanya..jujur saja saat ini aku merasa berada seperti di surga...meski kadang rasa sakitvitu muncul lagi saat aku ingat Devi..ah..sampai kapan suamiku menyimpan wanita itu di hatinya
"Marni..tolong ambilkan pulpen dunk..."  aku memeriksa barang persediaan ku..sudah waktunya untuk belanja bulanan..sebuah pulpen terjulur padaku tapi hidungku menangkap bau harum yang sangat tak asing buatku...
" Perlu bantuan cantik...?" sapanya pelan..aku hanya menggeleng saja...entahlah..saat ini aku hanya ingin diam..dan senyum manisnya itu yang biasanya selalu ku puja kini tak bisa lagi kurasakan ke indahannya..
"Han...ini rujaknya..ku taruh di meja ya...?" mang ujang datang dengan membawa sepiring rujak buah.. nafsu makanku langsung bangkit..
"Makasih mang..." aku mendekati meja makan dan langsung mencomot rujaknya...mantap...rasanya perutku sekarang sudah tak mual lagi..
"Sejak kapan kamu suka rujak han?" Aga menatapku aneh..Aku hanya angkat bahu saja..tak ku pedulikan apa yang dipikirkannya saat ini...
"Aku akan ganti baju dulu setelah itu aku akan menemanimu makan rujak..jangan di habiskan sendiri..sisakan untuku.." Dia bergegas keatas... lama dia tidak turun-turun apa dia lupa apa yang dikatakannya tadi..huft..dasar...tak bisa di pegang omongannya..ku ambil kunci mobilku dan bergegas pergi...
Senja mulai menjelang saat aku tiba di pekarangan rumah ku..dan kini ada mobil jazz yangvterpakir disana...mobil devi...ah..teganya suamiku mengundang pwrempuan itu kemari..terlalu...aku berlahan melangkahkan kakiku menuju lantai atas...lankahku terhenti ketika ku mendengar desahan dari dalam kamar Aga..Dan saat itu juga aku seperti di hantam sepuahbpalu yang begitu besar hingga hancur berantakan tampa sisa...Aga yang sedang bercumbu dengan Devi pun terlonjak kaget...dia buru-buru bangkit dari ranjangnya..
"Aku berlari sebisa mungkin menjauh dari aga..dan juga rumah terkutuk itu...aku tak akan pernah mau menginjakan kaki dirumah itu..semua berakhir sekarang...hancur tampa sisa....tak ada lagi yangbharus di pertahankan...
Hari-hari ku kini terasa sunyi...rumah mungil ini pun terasa sunyi... rumah peninggalan orang tua Aga yang di wariskan untuk ku...rumah mungil yang terletak di pinggiran kota..Mama bilang akan memberikan kepada Aga saat bayi kami lahir nanti..sebagai hadiah kejutan..tapi belum sempat bayi ini lahir mama sudah pergi...dan aku rasa Aga tak tau tentang hadiah mama ini... dan aku beruntung punya tempat berteduh sekarang...meski jujur...disaat hamil seperti ini aku ingin ada Aga disini memanjakanku dan menjagaku...tapi cintanya pada Devi ternyata lebih besar dari pada cintanya padaku.. ku elus perutku yang kini mulai membesar...
"Sabar ya sayang....mama akan membuatkan makanan...kamu pasti udah lapar ya..."  aku tersenyum merasakan bocahku bergerak di dalam perutku...ah Aga...andai saja kamu tau danada di dekatku saat ini pasti kamu bisa merasakan bayi kita sedang bergerak di dalam sana...
Capek rasanya seharian kerja...ah.....aku memejamkan mataku udara malam ini begitu dingin..dan entahlah.hidungku seperti menabrak sesuatu...harum parfum ini... milik Aga...ah...pasti aku bermimpi sekarang...Aga tidak mungkin ke sini..aku memejamkan mataku...menikamati hembusan angin yang menyejukan badanku..aku tak ingin bangun...aku takut...jika aku bangun...bau ini akan hilang...aku tak mau...anak ku dan aku sangat merindukan bau ini...sangat...meski cuma dala mimpi aku ingin menikmatinya...
Saat aku terbangun aku merasa tak asing dengan kamar ini...apa aku mimpi..ini kamar Aga... benar....ini kamar aga...aku tak mau disini...aku tak mau....aku bangkit dan berlari ke luar kamar...tapi belum sempat aku mencapai pintu sebuah tangan kokoh menariku...
"Lepaskan aku...aku mohon...aku tak mau disini Aga....aku tak mau....lepaskan....aku tak mau...." air mataku tak bisa ku bendungblagi...susah payah selama ini aku membuang bayangan itu dan dia dengan seenaknya membawaku kembali kesini..
"Ini rumah kita Han...dan aku tak akan membiarkan kamu pergi lagi..." dia membawaku kembali ke kamar...
"Bunuh saja aku Ga...kumohon....jangan siksa aku lagi...aku tak sanggup lagi.... biarkan aku pergi...aku tak mau disini...aku benci kamar ini... lepaskan aku....bunuh saja kami Ga...jangan siksa kami lagi...."  Aku terus meronta...aku tak mau ada di kamar ini...saat ini kurasakan sakit di sekuruh tubuh dan hatiku...
"Hanum...aku tak akan membiarkanmu mati..apalagi sekarang ada anak kita Han...han...maafkan aku...beri aku kesempatan untuk menebusnya..jangan seperti ini sayang.." Aga mendekapku erat, aku berusaha meronta dari pelukannya...tubuh ini tak lagi senyaman dulu...tak lagi sehangat dulu...aku mendorong tubuhnya dan berusaha bangkit..tapi rasa nyeri teramat sangat menyerang perutku...
" Han....sabar sayang...kita kerumahbsakit sekarang...Mang...!!!!...siapkan mobil sekarang...cepat...!" Aga membopongku membawaku turun...saat ini kurasakan tenagku seperti tersedot...
"Biarkan aku mati...ku mohon...aku sudah lelah ga...capek...biarkan aku pergi bersama anak kita...biar kamu puas bersam devi..." kurasakan bajuku kini mulai basah..
"Bertahanlah sayang.....ku mohon...beri aku kesempatan menebusnya...cuma kamu dan anak kita yang aku punya saat ini...jangan hukum aku seperti ini..." aga memeluku erat...
"Aku tak sanggup lagi ga...biarkan aku pergi...." kurasakan tubuhku terasa ringan...aku tak ingat apa-apa lagi selain rasa tenang dan damai...tak ku dengar lagi suara berisik aga ...
Tanah pemakaman itu begitu sunyi...aga bersimpuh di sebuah makam..tangannya tampak menggemgam seikat bunga...wajahnya terlihat begitu sendu...
" Maaf baru datang sekarang...aku sibuk sekali...seharusnya aku rajin kesini..." Aga mengusap batu nisan di depannya..air matanya menetes perlahan...
" Aku memang bukan orang baik kan...melupakan kalian sekian lama...maafkan baru sempat kemari... oya....dapat salam dari menantu dan cucumu...ma...pa...Hanum tak bisabikut karna hari ini hari pertama Ken masuk sekolah...dia sudah tumbuh jadi pemuda kecil yang lucu ma...suatu saat aku akan membawanya kesini...dan Hanum...terimakasih sudah memberiku wanita yang begitu sempurna...Ma..mama tau dia gadi paling nekad yangbpernah ku kenal...aku janji pa, ma...akan menjaga mereka dengan nyawaku...karna mereka sangat untuku.."  sepoi angin yang berhembus pagi itu mengiringi lankah Aga meninggalkan komplek pemakaman orang tuanya.