Rabu, 29 Oktober 2014

Seikat cinta Hanum

Saat rindu ini beradu....
Aq hanya mampu panggil namamu...
Dalam setiap rintihan doa ku..
Kenapa jurang ini terbentang begitu dalam..
Meninggalkan luka yang masih menganga...
Ah....kasih.....
Sesulit inikah untuk bisa menemuimu...
Dalam garis takdir Ilahi...
Mobil ini berhenti di sebuah pekarangan rumah mewah. MangbUjang lari tergopoh-gopoh kearahku...
"Kemana saja kamu....,? Aga mencarimu..."
"Belanja bulanan ....tumben si bos nyari...ada barang yang hilang...?"  Sekilas ku tatap Mang Ujang yang membantuku menurunkan bawaanku.
"Udahlah...cepatlah naik...biar aku yang bereskan ini..."  dibawanya semua bawaanku masuk...
Kamar itu masih rapi...tak kulihat Aga disana...mungkin dia diruang kerja...
"Dari mana saja kamu...." Suaranya ketus amat ya...kebiasaan kalau udah gini...mesti diem aku..biar ndak tambah panas..
" Dari supermaket...ada apa?" sekilas aku memandangnya
"Siapkan keperluanku...siang nanti aku ke singapure..." Aga masih sibuk dengan tumpukan map didepannya tampa menoleh sedikit pun kearah ku.
"Sudah semua...tiket juga sudah kumasukan di saku jas mu..."ku jawabku pelan.. Ah...tak bisakah dia melihatku sekilas saja sebelum pergi..kali ini aku sangat berharap dia melakukannya...
"Kau yakin tak ada yang ketinggalan...?"  dia masih asyik dengan kesibukannya..Aku membuka tas kecilku dan mengeluarkan agendaku lagi...kuperiksa catatan ku...semua sudah siap...sepertinya tak ada yang kurang...
Diamelangkah keluar...sepertinya terburu-buru.... baguslah...dia pergi tampa ucapan apapun...juga tampa ciuman dan pelukan...bagus dech...pergi aja sana...tampa sadar aku sepwrti ekor baginya..mengikutinya kemanapun dia pergi.
Aku mengantarnya sampai di teras depan rumahku...berharap di saat terakhir aku masih mendapatkan ciuman darinya..tapi...hangus....tak ada apa-apa...dan yang beruntung kali ini Devi.. cewek cntik perkulit putih dengan rambut sebahu dan juga selalu tampil modis itu pacar Aga...cewek itu sudah berdiri disamping mobilnya...dan tampa perlu perjuangan..dia mendapatkan pelukan dan kecupan...ah...nerakaku..buat aga aku tak lebih dari komputer berjalan...mesin rumah tangganya dan istri rahasiannya...tak lebih...
Taman belakang rumah ini begitu indah...entah kenapa baru sekarang aku memperhatikannya...atau aku terlalu sibuk selama ini hingga melewatkan pemandangan sebagus ini dihadapanku.
"Jangan melamun Han...nanti cepet tua lo..." mang ujang muncul dari belakangku sambil membawa peralatan berkebunnya..aku mendesah perlahan searasa beban dipundaku kini tak mampu kusangga lagi...
"Dah dapat pesenku,Mang?" Tanyaku...
"Dah....mungkin lusa dah datang...lumayanlah mereka pernah kerja kok sebelumnya.." JawabMang Ujang sambil merapikan rumput di taman belakang..
Mang ujang bukan hanya sebagai tukang kebun dan sopir di sini..tapi dia juga yang merawat Aga dari aga kecil hingga sekarang...buat ku dia sudah seperti ayah..Aga sangat menghormati Mang Ujang..dia orang kepercayaan Aga...
"Baguslah Mang...Tapi jangan bilang apa-apa soal aku pada mereka yang Mang...biar saja menganggap aku sama dengan mereka ..biar akrab nanti...syukur-syukur kalau mereka betah...jadi aku ada temennya.." aku mengamati Mang Ujang yang tampak cekatan merawat taman..
"Beres itu..tenang saja Han...aku akan awasi mereka baik-baik..." Mang Ujang tersenyum kearahku..
Aku melangkahkan kakiku kembaki ke kamarku, sudah 2 hari ini Aga ke ke Singapore dan dia jarang memberi kabar kecuali aku yang tlp atau sms..itupun juga sering diabaikannya...ah...nerakaku...sampai kapan akan berubah menjadi surga..atau selamanya akan tetap menjadi neraka...
Suara derit pintu mengejutkanku...Aga masuk dengan tergesa.. aku masih setengah sadar ketika dia menariku..tanganku terasa sakit , gemgamannya terlalu kuat..
"Kenapa tak pernah balas smsku, telephonmu juga ndak pernah aktiv.." aku menatap bingung kearahnya...nah..bukannya kebaik...
"Nah...bukannya kebalik..kamu yang melarangku untuk menghubungimu selama kamu disana karena kamu takmau  diganggu..." Aku malah jadi emosi..
"Jangan ngaco kamu..." Tatapannya begitu dingin seakan siap menelanku...
"Aku tak pernah bohong padamu...dan kau tau itu Tuan Aga Ardana " Aku sudah habis kesabaranku..teganya dia meragukanku. Aku mengibaskan tangan ku bagaimanapun juga aku juga pernah belajar ilmu bela diri..dia menghalangi jalanku..
"Sudah cukup..." Aku menunjuk karahnya..nafasku sudah naik turun menahan gemuruh di dadaku..harusnya aku mendapatkan ciuman atau pelukan rindu darinya bukannya bertengkar seperti ini...apa dia tidak merindukan ku...
"Sudah cukup semua ini...bagimu aku cuma komputer berjalanmu kan...tak lebih dari itu...aku muak dengan semua ini...aku lelah...sebaiknya kita berpisah..." Aku berlari meninggalkannya...ah...benarkah yang aku ucapkan tadi...berpisah...apa aku bisa...teganya mulutku bilang seperti itu.....
Kasih...tak bisakah kau melihatku meski hanya sesaat...
Apa adanya diriku saat ini...
Aku bukan bidadari...
Yang selalu kemilau dan mempesona dihadanmu..
Aku hanyalah wanita biasa..
Yang mengabdikan diriku hingga nafas terakhirku
Dalam dekapan cintamu...
Karena inilah aku..
Dengan sekeping hati yang menunggu untuk dicintai..
Bukan dihancurkan...
Aku manusia...bukan benda mati
Yang kau pajang dan kau biarkan...
Tak bisakah semenit saja...
Kau belajar untuk mencintaiku...
Semenit saja....dan itu cukup bagiku...
Untuk tetap mencintaimu seumur hidupku..
Seneng hari ini akhirnya aku bisa mendapatkan teman baru...akhirnya aku tak sendiri lagi mengurus rumah ini...ada teman untuk bicara dan cerita...akhirnya...
" Oya...khusus hari minggu kalian tidah boleh masuk di rumah utama..karena hari minggu teman Pak Aga datang...jadi kalian boleh jalan-jalan atau tinggal diam di rumah belakang..ingat ya..jangan di langgar.."  kataku pada mereka
"Ya mbak.." Murni dan indah menjawab bersamaan...
"Kalau masih ada yang mau ditanyakan bisa tanya mang Ujang langsung atau sama aku..."  Murni dan indah kembali mengangguk..
"Ada anggota baru ya?" Suara khas itu mengagetkanku.senyumnya mengembang tampa beban..Marni dan Indah saling pandang..mereka jadi salah tingkah..jelaslah...ada cowok sekeren ini gimana mereka ndak salting...ah...dasar cewek..ndak bisa diem liat barang bagus...aku tersenyum melihat tingkah mereka..
"Oya...Marni, indah...ini Pak Aga..beliau pemilik rumah ini..."  Aku berusaha menetralkan suasana...
Aga tersenyum tipis kearah mereka...senyum maut...dia aja jarang senyum kearahku tapi gampang banget umbar senyum ke orang...ndak adiilll....
"Hai...aku Aga dan ini istrku yang paling cantik...istri sekaligus komputer ku..." Dia memegang pundaku dan tersenyum simpul padaku...aseeem...kenapa pula dengannya...pake bilang istri komputer lagi..apa ngeh marni dan indah istilah kayak gitu.
Bukan cuma aku yang terkejut..tapi juga marni dan indah..suasana yang santai kini menjadi canggung..Aga pun berlalu dengan senyum kemenangannya dan aku mengikutinya dari belakang..seperti seekor anjing...
" Kenapa kau bilang pada mereka...Aku sudah wanti-wanti pada MangbUjang untuk tidak bilang apa-apa pada mereka tapi malah kamu yang cerita pada mereka..." dengusku kesal...dia menghentikan langkahnya saat kami sampai di ruang kerjanya.
"Sudahlah..ndak usah dibahas...aku sibuk.." dia masuk keruang kerjanya..
ih..pingin banget rasanya aku membantinya sekarang juga....agarnya cueknya itu berkurang..
"Yakin kamu mau membantinhku...boleh...tapi di kasur ya..." Aga muncul dari balik pintu..dengan senyum mautnya.aseeem...kenapa dia bisa tau pikiranku... Aku segera membalikan badanku meningalkannya..sebelum semakin salah tingkah di hadapan lelaki ini tapi belum sempat jauh dia sudah menariku...
"Siapa yang menyuruhhmu pergi...masuk..."  dia menariku ke ruang kerjanya...dan membenamkanku seharian  di sana...
Ahhh....capeknya.....akhirnya kelar juga... ndak adil...bener-bener ndak adil...Aga tidur dengan nyenyak setelah membuatku habis tenaga...sementara aku masih berkubang dengan setumpuk kerjaan ini...ahhh...awas kau Aga tapi senang juga bisa melihatnya tertidur lelap seperti ini, memandang wajahnya yang tampan begitu damai...tiba-tiba .kepalaku jadi pusing...mungkin terlalu lama duduk dan terlalu lama di depan komputer...enak banget sekretarisnya di kantor...karena kerjaannya aku yang selesaikan...ndak adil....
Aku mengenal Aga 5th yang lalu...saat orang tuanya datang ke panti... Sebagai penyumbang dana terbesar mereka tentu disambut baik oleh ibu yayasan... dan hari itu mereka berniat mencarikan teman buat aga...dan akhirnya pilihannya jatuh padaku...entahlah...apa yang membuat mereka memilihku tapi yang pasti kehidupanku berubah setelah itu...yang aku tau Aga memperlakukannku bukan sebagai adiknya ..tapi saat itu aku malah sebagai asistan nya..slalu mengekor kemanapun dia pergi..belajar banyak hal yang asing buatku...untung saja...otaku tak ruwet-ruwet amat...jadi bisa menerima semua yang diajarkan dengan cepet..meski kadang kami sering berdebat..hingga pada akhirnya kami merasa cocok. Tak disangka justru ini yang memicu Orang tua Aga untuk menikahkan kami..keputusan yang mendadak..aku dan Aga tak bisa menolak meski saat itu aga sudah punya seorang kekasih.dan akhirnya kami membuatbkesepakatan untuk tidak saling menyentuh hingga cinta itu muncul..seminggu kenudian orang tua Aga meninggal karena kecelakaan..sungguh aku merasa kehilangan figur orangvtua yang sangat luar biasa..
rumah tanggaku tak seindah yang dibayangka orang.menikah dengan orang kaya dan tampan justru menjadi neraka buatku..karena pada kenyataannya..aku dan Aga belum bisa menerima semua ini sepenuhnya...Aga masih berhubungan dengan kekasihnya dan aku masih tetap jadi asistandnya.yang hanya bisa mengabdi padanya sebagai bagian dari pengabdianku meski pada kenyataannya dia tak pernah melihat kearahku...dan selama itu pula kami tidur twrpisah..
Jam menunjukan pukul 04.00 pagi..masih gelap..dan aku baru menyelesaikan tugas terakhirku.. pusing banget... makanan yang dibawakan Aga juga belum sempatbku sentuh...kepalaku terasa pusing..mungkin saja karena aku belum makan...dan kecapean.. aku bangkit dari duduk ku. Aga masih terlelap di sofa..Aku ngantuk baget.. Baru sesaat aku bangkit aku sudah jatuh dan dunia terasa gelap buatku..
Ketika ku sadar aku ada di kamar Aga..badanku nyeri..mungkin sewaktu jatuh badanku membentur lantai cukup keras hingga membuat tubuhku nyeri sekali...
"Udah bangun....kamu tidur lama banget..." Aga muncul sambil membawa mampan makanan.
"Jam berapa sekarang..." kenapa tubuhku ngilu sekali..
"Jam 10. pagi.., semalam kamu tak makan makannya pingsan.." dia memberiku teh hangat..
"Tumben kau baik padaku...kau kerasukan ya.."  Ada sedikit kecurigaan di hatiku saat ini melihat sikapnya yang berubah dratis seperti ini..mungkin kemarin di kejatuhan sofa hingga membuatnya amnesia, lupa dengan sikapnya yang cuek itu..
"Aku cuma ingin menjaga istriku saja mulai dari sekarang apa tak boleh...?" Senyum nya terasa aneh buatku...jangan-jangan...
"Apa yang kau lakukan padaku saat aku tak sadar..." Aku meatapnya..mencoba mencari kebenaran tentang apa yang aku pikirkan saat ini...
"Tidak ada...aku cuma memeluk istriku yang sedang tertidur lelap aja...dan..." pandangannya terasa aneh buatku..
"Jangan bilang kalau kamu..." kalimatku terhenti tak sanggup tuk melanjutkan...
"Iya...dan kau tau...aku tak bisa menahannya.dan baru kusadari kalau selama ini aku melewatkan hal yang begitu indah..." seringainya terasa mengejek...dia mendekatiku..
"Kau..." aku kehilangan kata-kata sekarang dan ku rasa bukan cuma itu. saja.. aku kehilangan mahkotaku di sat yang tidak aku inginkan... Aku menutup wajahku dengan selimut..teganya dia memperkosaku di saat aku tak sadarkan diri.. lelaki macam apa dia...tegaaa...
"Tenang saja Hanum sayang....kita akan mengulanginya sekarang..dan aku akan membuatmu mengingatnya...setiap saat..." diamenarik selimutku.
"Jangan mendekat...." aku beringsut dari tempat tidur.. tak ku hiraukan kalau saat ini penampilanku sudah awut-awuta karna ulah Aga semalam. Dengan sigap dia sudah menangkapku hingga kami berdua jatuh di karpet empuk di dalam kamar Aga..
"Kau tau...kau sangat cantik kalau ketakutan seperti ini... kenapa mesti lari..aku suamimu Hanum sayang..." Wajah kami begitu dekat..aku bisa merasakan hembusan nafasnya saat ini..dan aku tak bisa berbuat apa-apa sekarang..tenaganya lebih kuat dariku..dan aku merasa butiran air mata kini mulai membasahi wajah ku..entah kenapa aku menangis..antara sedih,senang dan terluka...ya mungkin aku terluka karna bukan cara seperti ini yang kumau..benarkah dia sudah berubah.tapi.karna apa..? cinta...atau nafsunya...tak mungkin karena cinta, terlaku cepat jika itu memang karena cinta..mungkin nafsu ingin memiliki dan dipuaskan..
Matahari masih enggan mengintip..suara kokok ayam jantan pun mulai terdengar.. Aga masih terlelap di sampingku...wajahnya tampak begitu damai nafasnya teratur..ada kepuasan terpancar disana...bergegas aku ke kamar mandi. Dinginnya air yang membasahi tubuhku membuatku tersadar banyak hal yang terlewati kali ini...harusnya...bukan seperti ini...ya..harusnya....
"Bu....eh..mbak..." Marni tampak gugup ketika melihatku turunbmenghampirinya..
"hehehe....udah..jangan canggung gitu..panggil mbak aja..kan umur kita ndak beda jauh..." aku menatap sekilas ke arah mereka sebelum mengeluarkan isi kulkas...
"Mbak mau apa...biar kami yang siapin.." Marni mendekat padaku..
"heheh..ndak usah...biar aku yang masak..kamu teruskan saja kernjaaanmu..setelah itu cepat ajak Indah kerumah belakang...aku akan mengantar makanan kalian kesana.." aku harus bergerak cepat..ini hari minggu..genk Aga pasti akan segera datang.  Marni bergegas meninggalkan dapur..
Wuih...selesai juga...semua dah beres...aq harus segera berlalu sebelum genk gila itu datang...membuat keributan dengan pwsta gila mereka..
"Mang..antar ini ke belakang...." Aku menyerahkan rantang makanan ke mang Ujang...
"Cepatlah naik Han...sepertinya mereka sudah datang..." Mang ujang segera berlalu setelah menerima rantang itu...
Aku segera berlalu dari dapur..ketika suara seorang  lelaki mengagetkanku...
"Hy cantik...lama tidak bertemu...makin segar aja sekarang..." suara rudi yang ramah tapi sarat dengan rayuan cendol bikin aku neg....
"Maaf..aku mau ke atas...Kalau mau makan...sudah aku siapkan..." Aku beringsut menjauh..tapi Rudi menghalangi jalanku...matanya jalang menatapku membuat aku risih..
"Ehem..." Suara dehem dari arah tangga mengejutkan kami spontan kami menoleh keatas....
"Hy brow...baru bangun kau....lecek banget kau...habis perang ya? tenang aku cuma menyapanya kok.." Rudi terkekeh...
" Hy sayang....kenapa samalam tak menelpon ku...aku kangen...." Suara cewek yangvpaling aku benci di seluruh dunia itu kini sudah ada di hadapanku...dengan riangnya di melangkah menaiki anak tangga dan mendekati Aga yang dingin tampa expresi..dan. takbpeduli dengan keberadaanku disana..cup..ciumannya mendarat di pipi Agadisana tangannya pun sudah memeluk tubuh aga sekarang.....darahku mendidih sekarang...apa artinya ini..tak bisakah mereka menghargaiku..bergegas aku menaiki anak tangga dan masuk ke kamarku..menumpahkan kekesalanku dengan membanting pintu kamarku.keras-keras..persetan mereka dengar atau tidak...teganya dia padaku...setelah apa yang kami lakukan semalam kini dia dengan santainya memeluk gadis lainkeras-keras dan semua ternyata tak ada artinya...ya...semalam memang bukan yang pertama aku melakukan nya dengan Aga...sebulan yang lalu dia juga melakukannya dengan keadaan mabuk.. tak sadarkah dia saat itu..jika sedang bersamaku..aku tak ubahnya seperti pelacurbsaja..diingat saat butuh setelah itu ditinggalkan begitu saja seolah tak terjadi apa-apa. kenapa suatu hubungan harus dimulai dengan suatu yang salah...kenapa?..tak bisakah aku menjalani ini dengan normal sama seperti yang lainnya.
Kemarahan ini membakarku sayang...seperti api yang tak terkendali..
tak tahukah kamu...
dengan mudahnya kau menamam benih penderitaan padaku..
menyemainya dengan rasa sakit yangbtak bertepi..
tanpa memupukbya dengan cinta..
hasil apa yang kau harapkan sayangku...
cinta...atau kehancuran....
Seharian aku mengurung diriku di kamar....tampa ada keinginan untuk keluar..dari kamarku.rasa kecewa ini sudah menglahkankamarku rasa lapar di perutku..
"Han...buka pintunya...makan dulu...kamu seharian belum makan...." Suara Aga dari balik pintu...sejak kapan dia peduli padaku...selama ini toch dia cuek padaku...jika teman-temannya datang ia akan menghabiskan waktunya dengan mereka seharian bahkan sering pergi dengan mereka hingga larut...dan sekarang dia pura-pura peduli padaku. setelah dia bermesraan dengan gadis itu...jangan harap aku akan memafkannya kali ini...
"Han....buka pintunya atau aku akan memaksa masuk ke kamarmu...cepat buka.." Suara aga kini semakin terdengar lantang..
"Han.....cepat buka sayang.....jangan paksa aku bertindak kasar..."..
Kasar...??? bukankah selama ini dia selalu kasar denganku...masih belum cukupkah...mataku sudah terasa perih dan bengkak karena seharian ini aku menangisimu...tapi apa kamu tau itu...kurasa tidak...karena wanitabitu berhasil mengalahkan duniamu..
Pintu itu terbuka..aku meraih tanto dan meletakan di keherku...
"Jangan mendekat....!" aku menatap garang Aga dan Mang Ujang dengan sisa tenaga yang aku miliki...
Aga terbelalak kaget...dia sema sekali tak menyangka aku menyimpan benda kecil itu...
"Keluar..dari kamarku atau aku mati dihadapan kalian...." teriaku..aku menekan tanto itu makin rapat di leherku hinggabkurasakan perih...mungkin saat ini leherku tergores...
"Han....oke...aku keluar....kau gila han...kau membahayakan dirimu sendiri....buang pisau itu Han...buang...kita bicarakan semuanya baik-baik..." Aga perlahan melangkah maju...
" Keluar........!!" Aku tak bisa lagi membendung amarahku...leherku semakin perih dan aku mulai mencium bau anyir..Mang Ujang menarik Aga keluar kamar...tinggalah kini aku dalam tangisan tak bertepi...teganya kau hancurkan aku lebih dalam dengan perhatianmu yang palsu...tak cukupkah semua ini....aku capek....bahkan kaubtak tau kini aku mengandung anakmu..belum puaskah kau menyakiti kami berdua...
Entah berapa lama aku mebiarkan air mataku terkuras habis lagi malam ini...hingga akhirnya aku lelah dan tertidur...
Saat ku bangun aku merasakan dekapan hangat seseorang...leherku terasa nyeri...tubuhku capek sekali..ku edarkan pandanganbke sekelilingku..ini bukan kamarku...ya...ini kamar Aga.....
"Sudah bangun...kau harus makan...dari kemarin kau tak makan...aku akan panaskan makannya dulu...kau pasti lapar..." kalimatnya begitu ringan seolah tak terjadi apa-apa diantara kami...saat ini aku hanya mampu diam..tenagaku seperti tersedot habis tampa sisa...
Seharian dia bersamaku..merawatku dengan sabar...dan tak bergeming dari sisiku..dan aku masih enggan untuk membuka suaraku padanya..jujur saja saat ini aku merasa berada seperti di surga...meski kadang rasa sakitvitu muncul lagi saat aku ingat Devi..ah..sampai kapan suamiku menyimpan wanita itu di hatinya
"Marni..tolong ambilkan pulpen dunk..."  aku memeriksa barang persediaan ku..sudah waktunya untuk belanja bulanan..sebuah pulpen terjulur padaku tapi hidungku menangkap bau harum yang sangat tak asing buatku...
" Perlu bantuan cantik...?" sapanya pelan..aku hanya menggeleng saja...entahlah..saat ini aku hanya ingin diam..dan senyum manisnya itu yang biasanya selalu ku puja kini tak bisa lagi kurasakan ke indahannya..
"Han...ini rujaknya..ku taruh di meja ya...?" mang ujang datang dengan membawa sepiring rujak buah.. nafsu makanku langsung bangkit..
"Makasih mang..." aku mendekati meja makan dan langsung mencomot rujaknya...mantap...rasanya perutku sekarang sudah tak mual lagi..
"Sejak kapan kamu suka rujak han?" Aga menatapku aneh..Aku hanya angkat bahu saja..tak ku pedulikan apa yang dipikirkannya saat ini...
"Aku akan ganti baju dulu setelah itu aku akan menemanimu makan rujak..jangan di habiskan sendiri..sisakan untuku.." Dia bergegas keatas... lama dia tidak turun-turun apa dia lupa apa yang dikatakannya tadi..huft..dasar...tak bisa di pegang omongannya..ku ambil kunci mobilku dan bergegas pergi...
Senja mulai menjelang saat aku tiba di pekarangan rumah ku..dan kini ada mobil jazz yangvterpakir disana...mobil devi...ah..teganya suamiku mengundang pwrempuan itu kemari..terlalu...aku berlahan melangkahkan kakiku menuju lantai atas...lankahku terhenti ketika ku mendengar desahan dari dalam kamar Aga..Dan saat itu juga aku seperti di hantam sepuahbpalu yang begitu besar hingga hancur berantakan tampa sisa...Aga yang sedang bercumbu dengan Devi pun terlonjak kaget...dia buru-buru bangkit dari ranjangnya..
"Aku berlari sebisa mungkin menjauh dari aga..dan juga rumah terkutuk itu...aku tak akan pernah mau menginjakan kaki dirumah itu..semua berakhir sekarang...hancur tampa sisa....tak ada lagi yangbharus di pertahankan...
Hari-hari ku kini terasa sunyi...rumah mungil ini pun terasa sunyi... rumah peninggalan orang tua Aga yang di wariskan untuk ku...rumah mungil yang terletak di pinggiran kota..Mama bilang akan memberikan kepada Aga saat bayi kami lahir nanti..sebagai hadiah kejutan..tapi belum sempat bayi ini lahir mama sudah pergi...dan aku rasa Aga tak tau tentang hadiah mama ini... dan aku beruntung punya tempat berteduh sekarang...meski jujur...disaat hamil seperti ini aku ingin ada Aga disini memanjakanku dan menjagaku...tapi cintanya pada Devi ternyata lebih besar dari pada cintanya padaku.. ku elus perutku yang kini mulai membesar...
"Sabar ya sayang....mama akan membuatkan makanan...kamu pasti udah lapar ya..."  aku tersenyum merasakan bocahku bergerak di dalam perutku...ah Aga...andai saja kamu tau danada di dekatku saat ini pasti kamu bisa merasakan bayi kita sedang bergerak di dalam sana...
Capek rasanya seharian kerja...ah.....aku memejamkan mataku udara malam ini begitu dingin..dan entahlah.hidungku seperti menabrak sesuatu...harum parfum ini... milik Aga...ah...pasti aku bermimpi sekarang...Aga tidak mungkin ke sini..aku memejamkan mataku...menikamati hembusan angin yang menyejukan badanku..aku tak ingin bangun...aku takut...jika aku bangun...bau ini akan hilang...aku tak mau...anak ku dan aku sangat merindukan bau ini...sangat...meski cuma dala mimpi aku ingin menikmatinya...
Saat aku terbangun aku merasa tak asing dengan kamar ini...apa aku mimpi..ini kamar Aga... benar....ini kamar aga...aku tak mau disini...aku tak mau....aku bangkit dan berlari ke luar kamar...tapi belum sempat aku mencapai pintu sebuah tangan kokoh menariku...
"Lepaskan aku...aku mohon...aku tak mau disini Aga....aku tak mau....lepaskan....aku tak mau...." air mataku tak bisa ku bendungblagi...susah payah selama ini aku membuang bayangan itu dan dia dengan seenaknya membawaku kembali kesini..
"Ini rumah kita Han...dan aku tak akan membiarkan kamu pergi lagi..." dia membawaku kembali ke kamar...
"Bunuh saja aku Ga...kumohon....jangan siksa aku lagi...aku tak sanggup lagi.... biarkan aku pergi...aku tak mau disini...aku benci kamar ini... lepaskan aku....bunuh saja kami Ga...jangan siksa kami lagi...."  Aku terus meronta...aku tak mau ada di kamar ini...saat ini kurasakan sakit di sekuruh tubuh dan hatiku...
"Hanum...aku tak akan membiarkanmu mati..apalagi sekarang ada anak kita Han...han...maafkan aku...beri aku kesempatan untuk menebusnya..jangan seperti ini sayang.." Aga mendekapku erat, aku berusaha meronta dari pelukannya...tubuh ini tak lagi senyaman dulu...tak lagi sehangat dulu...aku mendorong tubuhnya dan berusaha bangkit..tapi rasa nyeri teramat sangat menyerang perutku...
" Han....sabar sayang...kita kerumahbsakit sekarang...Mang...!!!!...siapkan mobil sekarang...cepat...!" Aga membopongku membawaku turun...saat ini kurasakan tenagku seperti tersedot...
"Biarkan aku mati...ku mohon...aku sudah lelah ga...capek...biarkan aku pergi bersama anak kita...biar kamu puas bersam devi..." kurasakan bajuku kini mulai basah..
"Bertahanlah sayang.....ku mohon...beri aku kesempatan menebusnya...cuma kamu dan anak kita yang aku punya saat ini...jangan hukum aku seperti ini..." aga memeluku erat...
"Aku tak sanggup lagi ga...biarkan aku pergi...." kurasakan tubuhku terasa ringan...aku tak ingat apa-apa lagi selain rasa tenang dan damai...tak ku dengar lagi suara berisik aga ...
Tanah pemakaman itu begitu sunyi...aga bersimpuh di sebuah makam..tangannya tampak menggemgam seikat bunga...wajahnya terlihat begitu sendu...
" Maaf baru datang sekarang...aku sibuk sekali...seharusnya aku rajin kesini..." Aga mengusap batu nisan di depannya..air matanya menetes perlahan...
" Aku memang bukan orang baik kan...melupakan kalian sekian lama...maafkan baru sempat kemari... oya....dapat salam dari menantu dan cucumu...ma...pa...Hanum tak bisabikut karna hari ini hari pertama Ken masuk sekolah...dia sudah tumbuh jadi pemuda kecil yang lucu ma...suatu saat aku akan membawanya kesini...dan Hanum...terimakasih sudah memberiku wanita yang begitu sempurna...Ma..mama tau dia gadi paling nekad yangbpernah ku kenal...aku janji pa, ma...akan menjaga mereka dengan nyawaku...karna mereka sangat untuku.."  sepoi angin yang berhembus pagi itu mengiringi lankah Aga meninggalkan komplek pemakaman orang tuanya.

Rabu, 22 Oktober 2014

Cinta diujung asa




Di rumah Kak Dodi punya usaha distro. Dia begitu semangat mengurus distronya itu meski Ibu sebenarnya tidak begitu suka. Dia lebih suka bikin warung makan. hehehe...jelaslah ibu kan cewek...lebih suka masak daripada memandang kaos yang menurut ibu aneh.

"Gara-gara kau Dik usaha kakak hampir ilang..." kata kak Dodi sambil menghitung jumlah kaos yang baru datang. Aku menatapnya, memperhatikan keasyikannya mengecek kirimannya. Aku tak tahu meski ngomong apa sekarang.

"Kok bisa kak Dod. Emang kenapa?" Aku melihat kak Dodi yang mondar-mandir terus dari tadi.

"Sejak ada kau...ibu jadi terobsesi mau bikin warung makan. Kenapa sich kau pinter masak?" Kak Dodi meliriku ku sekilas sambil melanjutkan pekerjaannya. Apa salahnya jika aku bisa masak, toch yang ngajari juga Ibu kan kok dia yang sewot.

"Kan yang ngajari ibu, Kak. Jadi bukan aku yang pinter masak" aku tersenyum melihat kak dodi yang tampak gusar...lucu..jadi kayak anak kecil..Wajahnya yang tampan dengan rahang yang kuat dan kulitnya yang putih tampak menawan..apalagi postur tubuhnya yang tinggi besar semakin membuatnya terlihat mempesona. Dan yang membuatku jatuh hati adalah kesederhanaan sikapnya dan juga sikapnya yang bersahabat dengan siapa saja. Termasuk dengan asistan rumah tangganya.

"Ya nanti coba tak bicara sama Ibu," Aku melihat seulas senyum di ujung bibirnya. Senang rasanya bisa melihat yang mahal itu.

"Cakep bener kau dik..bisa ancur Kakak nanti kalau sampai distronya di gusur"
Aku tersenyum melihat rona wajahnya yang kembali, ada kelegaan disana.
*****


Panas banget ya hari ini, rasanya pingin nyemplung di kolam ajalah daripada keluar tapi aku harus selesaikan kerjaaan ku dulu sebelum ketempat ibu untuk mengantar uang kos yang dititipkan ke aku.

Ting...tong...suara bel dari setasiun dekat tempat kos ku sekarang terasa begitu akrab  dan tak lama kemudian sudah tampak ramai lalu-lalang orang yang keluar masuk di sana...aku mengunci pagar sebelum keluar. dan berjalan menuju tempat ibu.

"Kenapa kau nunduk terus Dik..cari recehan kau" Kak Dodi sudah ada disampingku, aku hanya tersenyum saja dan memperlambat langkahku agar tidak sejajar dengannya..sempat ku lihat pandangan aneh orang-orang yang berpapasan denganku tapi aku tak peduli. Sebenarnya tujuan kami sama tapi aku lebih suka berjalan di belakangnya daripada di sampingnya. Jantungku belakangan ini berdetak tak normal setiap berdekatan dengannya.

"Ah...keong kau May..." Kak Dodi melangkah cepat meninggalkan aku karena tak sabar menjejeri langkahku yang senagaja ku buat santai.
Dari belakang aku bisa melihat punggungnya yang menjauh, ingin sekali aku memeluknya dan menikmati aroma tubuhnya yang maskulin.

"Kak..jalannya tegap dunk..jangan bungkuk gitu...jelek tau..." tanpa sengaja kalimat itu terlontar begitu saja saat aku melihat jalannya agak membungkuk.

"Minta di tampar kau, Dik" Katanya sambil lalu. Aku hanya tertawa saja..aku yakin dia hanya bercanda saja, tak mungkin kak Dodi akan menamparku...dia sayang sama semua pegawainya. Aku terus memperhatikannya hingga akhirnya dia menghilang di balik pintu.

Di rumah tampak sepi, Kak dodi sudah masuk ke dalam kamarnya. Yati lagi asyik di dalam kamar dan Ibu ada di kamarnya.
"May...kalau ada yang cewek yang telepon bilang saja kakak ndak ada ya..mana Yati?" Kak dodi tampak gusar. dengan bertelanjang dada dia keluar dari kamar.

"Di kamarnya Kak..."

Kak dodi melangkah ke belakang dia tampak bicara ma yati. Aku mengetuk kamar ibu, setelah ada jawaban baru aku berani masuk.Ibu sedang duduk di depan mejanya sambil mengamati pembukuan.

"May...kenapa semalam tak ikut makan disini...?" Ibu bangkit perlahan dari kursinya.

"Kosan sepi Bu...banyak yang balik....mau ujian...jadinya banyak yang pulang ke rumah..." Aku menyerahkan uang titipan dari mbak-mbak yang bayar kos.

Saat aku keluar kamar telephon rumah berdering...yati dengan sigap menganggkatnya, setelah dia berbincang sebentar dia langsung berteriak.
"Bang Dodi...ada telepon...!" Yati teriak kenceng, Bataknya keluar kali ini...ya ampun tu anak..suaranya...kenceng abis.. bukannya tadi udah di peseni ya...Kak Dodi terlihat gusar.

"Gimana sich Yat..udah di bilangin juga..." Kak Dodi jadi sewot. Wajar kalau dia marah..lha emang Yati salah....Kak Dodi masih berdiri di depan kamarnya..Dasar Yati antenanya emang lemot, yang lain sudah Fm dia masih aja am. Ada yang salah tu kayaknya ma sarafnya.

"Angkat aja Kak..dah terlanjur juga...kasihan dia dah nunggu tu..." kataku sambil berlalu ke dapur. Dengan gontai kak dodi menuju meja telepon. Mukanya sudah lecek dan bibirnya manyun.

"Halo...maaf ya...aku lagi repot sekarang..." dia segera menutup teleponnya.
Wuih, singkat amat ya ngobrolnya, niat banget ya ndak mau terima telepon...kenapa Kak Dodi nich...dia emang dari dulu ndak mau deket ma cewek ndak tau juga aku seleranya dia seperti apa. Kalau masalah cewek dia tidak mau bilang termasuk pada ibu...dia lebih suka fokus ma distronya.

"May....masih hidup kau!" teriak Kak Dodi dari ruang tengah.
.
"Setengah Kak Dod..." sahutku dari dapur tanpa menampakan wajahku.

"Apa kau senyum-senyum..tak punya kuping kau...sudah Kakak bilang tadi masih juga kau langgar..." Kak Dodi kayaknya marah banget ma Yati. Heheh...batak di lawan.Suaranya bikin telinga jadi panas, bener-bener kenceng suaranya.

Yati masih dengan wajah tak bersalahnya memasang senyum di hadapan kak Dodi. Semenatara itu kak Dodi sudah menghilang di balik pintu kamarnya. Dengan tanpa penyesalan Yati kembali ke kamarnya. Capek dech ngadepin tu anak, udah smp tapi kelakuannya bener-bener parah ngalahin anak sd saja.

Perutku mendadak lapar mendengar pertengkaran mareka, segera kuambil makanan dan duduk di belakang. Aku menyantap makananku perlahan dan mulai menikmati keheningan tempat itu.

"Kenapa makannya disini,May?" suara itu mengejutkanku. Sosoknya sudah berdiri di sampingku tanpa kusadari sambil menenteng ranselnya.

Dengan santainya dia duduk disampingku dan menyuap makanan ku, Aku jadi bengong dan melotot melihatnya.

"Kenapa May, kau dak kena penyakit rabies kan. Kenapa melotot gitu?" dengan santainya dia mengunyah makannya tanpa beban.

"Kakak lapar? kalau lapar aku ambilkan makan."

"Ndak usah,May. Kakak buru-buru. Suapin May, Kakak mo pake sepatu biar cepet."

Hah...hilang dech selera makanku saat ini. Sungguh ini tak pernah ada dalam kamusku selama ini. bagaimana mungkin Kak Dodi bisa seperti ini. Ini tidak benar.... mau tak mau pun aku menyuapinya sambil memperhatikannya memakai sepatu. Jantungku jadi aneh sekarang.

"Selesai...dah kenyang sekarang, kau ambil makan sana gih, jatahmu dah berkurang. Kakak berangkat dulu." Ucapnya santai sambil ngeloyor pergi dan meninggalkan aku yang masih terbengong-bengong karenanya. Kalau sudah begini aku jadi tak nafsu makan sekarang.

*******


Malam minggu terasa sunyi..sendiri di tempat kos..semua penghuni kosan pada pulang, hanya aku sendiri di sini di diruang tv kosan. Aku masih asyik memandang saluran kesukaan ku..film action...ketika sesosok tubuh muncul di depanku.

"Ndak kerumah, Dik?" kak Dodi muncul sambil membawa bungkusan. Aku mengalihkan pandanganku sejenak. menatap wajahnya yang sedikit berpeluh, Sepertinya malam ini dia habis pergi kesuatu tempat,

"Ndak kak...kos-kosan sepi...heheh...maklum malam minggu..dari mana?"  aku meletakan majalah yang ku pinjam dari mbak kos sore tadi dan mengalihkan pandanganku menatap sosok yamg ada di hadapanku sekarang.

"Dari rumah...nich kakak disuruh Mama nganter makanan..."
Kak dodi menyerahkan makanan itu, Expresi wajahnya datar, tumben Ibu nganter makanan kesini, Aku menerima bungkusan itu dan mengamatinya sejenak dan aku yakin ini bukan dari rumah. Sebelum sempat aku bertanya lagi Kak dodi membalikan badan dan berlalu,mau tak mau aku mengikutinya dari belakang, mengantarnya sampai ke pintu depan.

"Makasih Kak, makanannya...ndak apel Kak?" aku memandang dari belakang punggung yang yang kokoh itu. Rasanya ingin memeluknya. Tapi pikiran bodoh itu segera ku tepis. makhuk satu ini tak akan mampu kusentuh. Apalagi menjadikannya sebagai obyek fantasiku, Aku tak sanggup melakukan itu.

"Dah...barusan..." Dia tak menoleh sedikitpun kearah ku. Jawaban yang singkat dan penuh misteri buatku.

 Sejak kapan Kak Dodi berani apel ke tempat cewek... kemajuan berarti. Setelah kepergian Kak Dodi aku kembali ke tempat semula dan membuka bungkusan itu..ya ampun..aku yakin ini bukan Ibu yang buat..aku yakin Kak Dodi membeli di luar tadi..ya ampun  berhentilah...cukup sampai disini saja. Aku menatap makanan itu. Tanpa ada hasrat untuk menyentuhnya apalagi memakannya.

Tit....tit...tit....handpone ku berbunyi, sebuah sms masuk'
"Makanlah,Dik. Kakak sengaja beliin kamu tadi. Kakak tahu kamu belum makan"

Aku mendesah pelan, ternyata benar, Kak Dodi membelinya untuk ku.
"May berharap ini yang terkhir,Kak. Berhentilah...Jangan buat semuanya menjadi rumit sekarang."
aku menekan tombol send. Mataku melirik makanan itu. Perutku mulai keroncongan karena dari siang belum terisi dan makanan itu begitu menggoda.

"Kakak tak bisa,May. Kau tahu pasti perasaan Kakak,May" balasnya.

"Kalau gitu, May yang akan buat Kakak menghentikan semuanya. Soal makanannya, May akan kasih Yati saja. May udah kenyang ndenger jawaban Kakak.." balasku lagi.

Aku nendesah pelan, apa yang harus aku lakukan sekarang. Ini salah...Kak Dodi tak seharusnya punya perasaan ini. Selama ini aku sudah mati-matian berusaha menghindar darinya. Berharap aku tak bertemu dengannya tapi malah dia yang menghampiriku dengan mudahnya.

"Kak May....." suara cempreng Yati membuatku tersadar dari lamunanku. Setan cilik itu muncul dihadapanku dengan senyumnya yang terasa aneh buatku

"Kak May kenapa tak kerumah, Dicariin Uwak tu.." ucapnya.

"Kosan sepi,Yat. Jaga kosan aku.." jawabku asal sambil membuka kembali wajalahku.

"Apa ini, Kak?' tanya Yati lagi.

"Dari anak kost tadi" jawabku asal.

"Bagi dunk, Kak. Yati juga mau."  tanpa permisi dia langsung menyambar makanan itu dan melahapnya tanpa ampun. Aku hanya melongo saja melihat makanan itu kini tinggal kenangan. Aku sungguh menyesal tadi saat bilang aku akan memberikannya pada Yati dan ternyata Tuhan mengabulkannya dengan cepat.

Ah...makananku...itu kan dari Kak Dodi. Pingin rasanya aku menggantung Yati karena sudah menghabiskan makanan itu tanpa rasa bersalah. Ingin rasanya aku nangis sekarang.

"Ah Kak May, kenyang Yati sekarang." ucapnya sambil bangkit dan membuang bungkus makanan itu ketempat sampah, aku hanya bisa meliahatnya dengan ekor mataku saja. Kejam kau Yati.....

"Kak May..Yati balik dulu ya. Makasih makanannya, Yati sebenarnya tadi kesini cuma mau bilang, Kak May besok pagi disuruh Wak kerumah, katanya mau diajak kepasar. Daa Kak May.." ucapnya tanpa rasa bersalah dan pergi berlalu begitu saja, meninggalkan aku yang sudah kehilangan kata sambil melirik bungkus makanan yang kini ada di tong sampah. Bodat kau Yati...tunggu pembalasanku. Ingat...pembalasan itu lebih kejam...teriaku dalam hati.
******


Sebenarnya aku malas bila ke tempat Ibu saat ini apalagi ini hari sabtu, Kak Dodi pasti ada di rumah saat ini. Dengan perlahan aku membuka pintu garasi. Kebiasaanku kalau ketempat Ibu, aku pasti lewat pintu garasi yang langsung mengarah ke dapur.

 Ingin rasanya aku berjalan mundur lagi, agar bisa mengulur waktu untuk bisa menghindar dari situasi ini meski pada kenyataannya aku tak akan pernah bisa menghindar dari situasi yang membelitku saat ini. Entah bagaimana semua ini berawal tapi yang pasti aku dan Kak Dodi sama-sama tak bisa berkutik sekarang, sebisa mungkin harus menekan rasa ini meski pada kenyataannya kami sama-sama sakit sekarang.

"May...sini kau. Ayo sarapan dulu..." suara Ibu langsung menggema saat aku mucul di dapur. Aku hanya tersenyum saja, sambutan kekeluargaan yang selalu terdengar indah ditelingaku. Aku berjalan pelan mendekati Ibu yang tampak sibuk dengan kertas dan polpen di tangannya.

Di meja makan aku melihat Kak Dodi sedang melahap sarapannya, disampingnya duduk seorang gadis cantik, gadis yang sama yang ku lihat tadi malam di depan kosan.
gadis itu tanpak berbicara berbisik pada Kak Dodi sambil sesekali tersenyum, tangannya kadang memegang tangan Kak Dodi, bahkan tanpa ragu dia juga sering menyentuh bibir Kak Dodi yang belepotan karena makanannya, mereka tampak asyik hingga tak memperdulikan kehadiran orang lain disana.

Bleeh...mereka ingin pamer kemesraan rupanya. Aku hanya tersenyum miring melihat adegan ini meski hatikku terbakar saat ini.
Aku melangkah meninggalkan mereka dan memilih duduk bersama Ibu yang lagi sibuk mencatat daftar belanjaan.


Hari ini tumben banget Kak Dodi mau diajak Ibu ke pasar mungkin karena gadisnya juga ikut makanya dia semangat, biasanya Mas Ma'i yang bertugas  mengantar ke pasar. Hari ini mas Ma'i ada kepentingan jadinya yang nganter  Kak Dodi. Sepanjang perjalanan kami mengobrol ringan, dari sana aku tahu nama gadis itu Aning. Aku lebih banyak diem dan memalingkan wajahku menatap keluar jendela. Menatap pada jalanan dan lalu lalang orang. Muak aku melihat gaya bicaranya yang sok manja itu apalgi ditambah hobinya yang suka menggerayangi Kak Dodi.

Hampir beberapa jam muter-muter di pasar akhirnya mendapatkan juga apa yang di ingini.Kini aku mirip kuli panggul, membawa belanjaan yang sudah menebihi tangankku untuk ku gemgam, linu dan perih, Aning dengan santainya berjalan lagaknya bos saja. Belum juga jadi istri bos tapi lagaknya dah kayak bos saja.

"Mbak..bawain ini ya, aku mau kesana dulu. Ribet kalau mesti bawa belanjaan." ucapnya sambil berlalu dan meninggalkan belanjaannya begitu saja.

"Ibu duduk sini aja ya..May mau naruh ini dulu di mobil. Nanti May kesini lagi." Ibu hanya mengangguk saja, sepertinya ibu mulai kecapean. Kasian juga, bisa-bisa asam uratnya kambuh lagi nanti. Aku bergegas ke mobil dengan belanjaan yang menggila,

. Akhirnya tanganku sudah mulai pegel dengan kantong belanjaan yang seabrek itu. Aku  memutuskan ke mobil duluan untuk menaruh belanjaan itu. Kak Dodi yang melihatku membawa belanjaan yang seabrek itu, bergegas membuka bagasinya. aku menaruh belanjaan itu dan sesekali mengibaskan tanganku karena capek. Kak dodi menutup bagasinya tanpa berkatanya apa-apa. Wajahnya masih terlihat datar. Ngilu  rasanya tanganku. Aku mengibaskan lagi tanganku untuk mengurangi nyerinya. Biasanya Mas Ma'i yang membantu membawakan belanjaanku tapi hari ini aku yang harus melakukannya sendiri.

"Tumben Kak Dodi mau ikut kepasar?" ucapku membuka obrolan.

"Iya...semua karena Ibu, jadi jangan Gr kau.." ucapnya sinis tanpa expresi.

"Sejak kapan aku Gr karena perhatian Kakak, ndak salah tu ngomongnya ?" balasku. Aku beranjak hendak berlalu tapi dia menarik tanganku.

"Kakak tak akan pernah lepasin kamu...inget itu"

Aku menarik tanganku dan bergegas meninggalkannya, pikiranku benar-benar ruwet kali ini. Apa dia masih ingin menyiksaku lagi setelah ini.

Sepanjang perjalanan aku kembali terdiam, menatap jalanan yang lebih menarik daripada menatap kemesraan mereka, mataku terasa panas sekarang. Sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak kalah sekarang.


********


Dari pagi semua sudah sibuk memberesksn rumah, untuk hari ini aku meninggalkan kosan dulu. banyak hal yang harus aku lakukan di rumah Ibu karena bagianku memang lumayan berat, menyiapkan makanan untuk tamu.

Rencananya Kak Dodi akan membawa keluarga gadisnya berkunjung. Meski aku menguasai beberapa resep makanan tapi tetap saja aku butuh ibu sebagai penasihat rasa agar semua terlihat sempurna malam nanti.

Aku sudah memakai apron ku dan mulai berkutat dengan segala macam rempah dan bahan lainnya. Sedari datang aku tak melihat Kak Dodi, mungkin saja dia belum bangun pagi ini,apalagi kata Yati dia pulang larut semalam. Sejak kemarin hpku memang kumatikan. Aku tak ingin ada hal yang akan menggoyahkan usahaku selama ini.

Ibu duduk sambil mengawasi ku yang asyik mengacak-acak dapur. Asam urat yang menyerang lututnya membuat Beliau hanya mampu duduk saja saat ini. bagiku ini sudah lebih dari cukup.
Yati masih sibuk membersihkan ruang tamu sambil bernyanyi lagu batak. Entah apa artinya syairnya itu karena aku memang tak paham  bahasa batak selain Bodat.

"Hy Mbak Mey..." tepukan halus di pundak ku membuatku terlonjak kaget. Kak Ri tak kalah terkejutnya melihat ku terlonjat seperti itu.

"Busyet...kenapa Mbak Mey, jangan tegang gitu, tangan ma pikiran kok ndak singkron gitu." ucap kak Ri yang ternyata sudah berdiri di sampingku. kupasang wajah bayi dang mengerjap gaje pada Kak Riri.

Kak Ri hanya mendesah saja, sejenak dia diam..sepertinya saat ini ada yang sedang di pikirkannya.
ada sesuatu yang ingin dikatankannya tapi di tahannya.

"Lanjutkan perjuangan mu, Mbak Mey" kata Kak Ri pelan, Buatku itu bukan sekedar kata guyonan atau pemberi semangat semata. Tapi kata perjuangan itu buat ku lebih dari sekedar itu. Aku hanya tersenyum saja sambil terus melanjutkan pekerjaanku. Menjelang magrib semua pekerjaan selesai, Semua makanan terhidang di meja dengan rapi.

 Aku pamit balik ke kosan untuk mandi dan ganti baju. Rasanya kakiku mau putus sekarang, capeknya bukan main apalagi ini baru setengahnya, acara  intinya malam ini. Seharian aku tak menghiraukan ocehan Kak Dodi yang panik ini dan itu. bahkan aku sama sekali tak tertarik untuk ikutan ngobrol dengannya.

Jujur saja rasanya aku sudah tak ingin kembali ke sana saat ini, Selain capek hati, badanku juga capek sekali. Tapi tak enak juga membiarkan Yati dan anak baru itu kerepotan mengurus semua. Setidaknya aku harus ada disana sekarang meski nanti akan membuatku lebih hancur lagi.

Halaman rumah kini tampak penuh dengan beberapa kendaraan. Sebenarnya berapa orang sich yang diundang Kak Dodi. Kenapa ramai begini. Suara anak kecilpun mulai riuh terdengar. Saat aku memasuki pintu samping, Tempat itu juga banyak pemuda dan pemudinya. Ada yang memandangku aneh saat aku melintasi mereka..biarin ajalah, terserah mereka mau berpikir apa.

"Kak May....!" suara cempreng itu membuatku tersenyum miring. Dasar toa, teriak mulu kerjaannya. Nggak liat apa banyak tamu.

"Jangan teriak ngapaw, Dik. Malu banyak orang." Yati menariku ke dapur. Saat itu pula Kak Dodi mucul di dapur.

"May..." hanya itu yang terdengar darinya selebihnya dia hanya terpaku saja. Dia terlihat tampan malam ini, Dia memang tampan. Tapi malam ini lebih.
"Kak Dod butuh apa, bilang saja, ntar aku ambilin." ucap ku.

"Say, ngambil apa?, eh mbak itu kuah sotonya habis. Masih ada lagi ndak ya?" gadis itu  bergelayut di lengan Kak Dodi, seakan ingin menegaskan kalau Kak Dodi miliknya.

"Sebentar saya panasin dulu, Silahkan duduk aja. Nanti saya antar." aku berlalu dari hadapan Kak Dodi. Ingin  rasanya aku mengambil semua kekuatan manusia di dunia ini untuk membuatku berdiri tegag sekarang, I.ngin rasanya aku mengambil semua oksigen di dunia ini agar aku tak sesak nafas seperti sekarang. Tanganku rasanya gemetar saat memutar knop kompor. Rasanya aku benar-benar tak sanggup sekarang. Aku harus secepatnya pergi dari sini atau aku akan mengacaukan semuanya.

"Kak May....pucet banget kayak mayat lo Kak, Kakak sakit?" tanya Yati.
aku hanya menggeleng. Tanganku gemetar lebih parah ternyata..

"Yati aja dech yang lanjutin, Kak May istirahat aja. Pucet gitu." Yati pun segera menggeseran  tubuhku, mengambil alih tugasku. Aku memilih menyingkir dari dapur.

"Eh Mbak, itu di ruang depan ada banyak piring kotor, singkirin dulu gih. Banyak anak kecil soale." ujar seorang perempuan paruh baya, entah siapa. kurasa aku baru melihatnya.
Perlahan aku bangkit dari tempat dudukku. berjalan mengikuti wanita itu. Aku melihat Kak Dodi sedang bercanda dengan gadis itu dan beberapa kerabatnya. Entahlah, melihat senyumnya kali imi hatiku terasa sangat sakit.

"Kak May, lagi ngapain...?" suara Ipah mengejutkanku.

"Kau itu bikin kaget aja, Dik. Mau ambil piring kotor di depan." jawabku sambil mengambil mengambil mampan.

"Ayo, Ipah bantu.."
Aku hanya trsenyum saja dan mengangguk, di ruang depan memang banyak sekali berserakan piring  kotor dan gelas. Akan sangat berbahaya jika sampai tertabrak anak kecil. Aku mengumpulkan semua gelas yang telah kosong dan Ipah yang menaruhnya di mampan kemudian membawanya ke dapur.
Aku mengangkat tumpukan piring kotor tapi belum sempat melangkah sepasang lengan kokoh sudah mengambil alih tugasku.

"Biar aku bantu, Kau

"May...kau sudah enger  may.." ibu langsung bertanya padaku saat aku muncul dari pintu dapur..

"Apa bu?"gibaskan tanganku
" Si Ma'i, minggu depan nikah may. Gila tu anak...baru kena l tu cewek bobrol ringang hari langsung mau nikah..." ibu tampak berapi-api.
"Jodoh kali bu..." Aku melempar senyum..
"Jodoh apanya..itu kenal di pinggir jalan..belum kenal dalamnya baru kenal kulitnya main sosor aja..." Kelihatannya ibu tidak suka dengan kepu
tusan mas ma'i nikah buru-buru
" Ya kita liat saja seberapa lama mas Ma'i bisa bertahan...." Aku buru-buru menutup mulutku dengan tanganku...kacau dech..
"Hancur dech...balas mbak mey..." Kak ri masih asyik menyuap sup krim nya.
" May...bawa kemari cwokmu...suruh dia melamar ke ibu may..." kata ibu tiba-tiba.
Kak dodi masih terlihat tenang menyelesaikan makannya dan akhirnya dia kembali ke kamarnya

Tak terasa waktu cepat berlalu...aku makin tak nyaman dengan semua ini..rasa sakit ini makin tak tertahankan..kadang kak dodi begitu cuek..tapi kadang dia begitu perhatian. Sudah cukup kak dod.....sudah cukup....akhiri semuanya atau kita akan hancur. Aku tau kakak yang sering menelphon ku tampa suara selama ini karna jika kakak bersuara aku akan tau kalau itu kakak. Berhentilah..jangan menyiksa diri lagi...
"Mau kemana dod....?" tanya ibu ketika melihat kak dodi sudah rapi
"Ada perlu ma temen ma..., Dodi berangkat dulu ma..." Kak dodi pamitam ma ibu dan juga kak Riri...setelah itu melangkah keluar melewati meja kami ..
"Abang berangkat dulu ya dik..." kak Dodi tak menoleh kearah kami..langkahnya cepat..sepertinya dia buru-buru...
"May...tolong bukain pintunya dik..." teriaknya dari luar..Aku berlari ke garasi dan membuka pintunya..
" cakep kau dik..." kak dodi segera memacu mobilnya perlahan...
Aku hanya tersenyum samar saja...ah kak...berhentilah...atau aku yang akan menghentikannya untuk selamanya...


Hari ini rumah sibuk..kak dodi mau lamaran...akhirnya dia menemukannya..tapi sama sekali tidak ada senyum di wajahnya...harusnya dia sumringah...kenapa dia diam saja..
"May...bantu sini dulu dik..."  Kak dodi memanggilku dari dalam kamar...
" Wah...cakepnya...bantu apa kak.."Spontan aku memujinya..melihat ketmpanan dan kegagahannya saat mengenakan baju batik itu...seperti arjuna...
"Foto in kakak, Dik...?" dia membetulkan bajunya yang sudah rapi itu..kenapa dia jadi gugup gini ya..
"Sejak kapan kakak suka narsis...hehehe...mana kameranya..." aku mencari kamera di mejanya.
"Pake hp mu lah...ngapain punya kakak?" Nah kan...aku jadi tambah bengong...
Aku segera memotretnya beberapa kali... setelah merasabhasilnya bagus aku menunjukannya ke kak dodi..
"Pinter kau dik moto orang..., itu buat kau...simpan ya... " katanya pelan..
"Kak...cukup sampai disini...jangan di teruskan lagi...kita tak akan pernah bisa..cukup kak..mulai detik ini kita kembali ke posisi semula..."  aku menatapnya, dia tampak termenung..
"Andai kakak bisa may...." dia tampak tertunduk...
"Kita sama-sama tau kak..keputusan kakak untuk melamar gadis itu adalah keputusan yang paling benar demi keluarga ini dan juga kakak, semua ini harus tetap dilaksanakan..." Aku tak bisa menahan perasaanku..
"Lalu bagaimana dengan kakak may...saat pertama kali kamu datang, kakak hanya melihatmu sebagai gadis manis yang lugu yang belum bisa apa-apa..tapi kemudian kau berubah..dan kau merubah semuanya..Kau merubah ibu, yang dulunya setiap hari sewot gara-gara ulah yati menjadi ibu yang penuh semangat dan meikirkan banyak hal termasuk menggusur distroku untuk di bikin warung..kau bisa melakukan semuanya yang tak bisa dilakukan pegawai yang terdahulu..termasuk ikutan ngecet tempat kos..kau merubahku dengan kepolosanmu, sikapmu yang apa adanya, kelucuanmu dan juga gayamu yang tenang dan kadang diam tampa bisa kumengerti, kau tak pernah membantah..haruskah aku melapaskan semua itu may.?" kak dodi tampak putus asa sekarang..
"karna aku disini cuma pembantu kak dod..sudah sewajarnya kalau aku sendiko dawuh dengan semua yang diperintahkan ibu... itu wajar" kataku tenang...
"Tapi perasaan ini tak bisa kuhindari may..." dia masih tertunduk.
"Kalau begitu aku akan membuat kak dodi merasa yakin bahwa menikahi gadis itu adalah keputusan yang tepat, kita semua harus kembali kepada posisi kita semula kak agar tidak ada lagi yang sakit hati..jadikan aku adikmu..bukan simpananmu..semoga kakak bahagia..." Aku berlaku dari kamarnya...di luar semua tampak sibuk dengan kerjaan masing-masing..semua kerabat sudah berkumpul dan juga sudah siap untuk berangkat..aku membantu memasukan bingkisan ke mobil.
"Mbak may ndak ikut...?" kak ri melihatku sekilas...
" Ndak kak ri...kosan sepi soalnya...suskses aja dech kak ri.." kataku sambil menutup pintu bagasi.
" Ok Mbak May...dunia ini luas Mbak may...suatu saat pasti akan bertemu arjunanya sendiri..." Kak ri tersenyumpenuh arti
"Betul...betul...betul....hahahah...pasti ketemu lah kak Ri..." kataku mantab..
Kak Dodi sudah keluar dari pintu diikuti yang lainnya..tampak jelas kegugupan di wajahnya. Semangatlah sayang...kamu harus kuat...langkahkan kakimu..jangan berhenti disini..karena jodohmu ada disana..bukan disini...pergilah...kutunggu kabar bahagia darimu. Aku beringsut mundur...dia harus tau..aku tak terpengaruh dengan semua ini...meski saat ini batinku lebih remuk.

Malam semakin larut...dari tempatku berada aku dapat mendengar suara pintu gerbang di buka...mereka sudah datang...ku harap mereka membawa berita bagus..
Semalam akubtak bisa memejamkan mataku teringat kembali kegalauan yang melanda kak Dodi sebelum berangkat tadi. Ah..tampaknya aku mesti segera bertindak atau pernikahan itu akan gagal..aku rasa kak ri sudah tau...akan lebih rumit jika sampai yangblain tau juga.
"Kau yakin may....?" ibu tampak terkejut ketika mendengar keputusanku.
"iya bu...saya mau istirahat dulu..kemarin sudah cek lab..hasilnya positif tipus..jadi saya mau pulang saja siang ini..." kataku mantab...
"Ya sudah lah...apa boleh buat...kamu memang jarus istirahat..apalagi belakangan ini kamu kelihatannya capek banget..apa tidak bisa besok saja may...kamu kelihatane kok pucat banget..." ibu agak cemas.
"Ndak bu..maaf..saya mau pulang sekarang...saya minta maaf sama ibu..selama di sini saya banyak salah." aku mencium tangan ibu karena esok aku tak akan bisa ketemu ibu lagi..ini kesempatanku..mumpung kak dodi dan kak ri ndak ada...
Ibu memeluku, ada rasa haru terselip di matanya. Sudah lama aku disini dan banyak hal yang sudah terjadi disini...termasuk soal kak dodi.
Bis yang kutumpangi mulai menjauh dari jakarta..ini adalah pilihan terakhirku..slamat tinggal kak dod...setelah ini aku yakin kamu akan baik-baik saja..trimakasih untuk cintamu yang begitu indah untuk caramu mencintai yang selalu indah dan juga caramu yang yang unik mencintaiku...tempatmu tak akan pernah digantikan dengan siapapun dan sampai kapanpun...slamat tinggal my love....

Senin, 20 Oktober 2014

Doa Dena

Hari yang sibuk, apalagi ini hari senin pasti banyak yang terburu-buru tak terkecuali Dena
"Nyak....berangkat...!!" kata Dena sambil lari ke luar rumah...mesti cepet kalau kagak bisa-bisa nanti jadi jemuran di lapangan sekolah.
" De.....sepatu nya...." Kata nyak sambil nenteng sepatu sekolah Dena
"Ya ampun...." Dena menepuk jidatnya...kenapa ampe lupa pake...Dena segera menyambar sepatu dan lari lagi...pake diangkot atau halte aja dech..biar cepet..masa bodo orang mau liatin gimana atau koment apa..yang penting jangan sampai telat.
"De....!" suara gadis cempreng itu mengagetkan Dena. Siska melambaikan tangannya dari dalam mobil.
"Cepetan naik..."  Dia menggeser duduknya. Dena segera berlari menghampirinya.
"Makasih ya Sis sudah mau ngasih tumpangan" Dena menutup pintu mobil dan segera memakai sepatunya
"Ya ampun , De. Belum juga pake sepatu?" Siska menggelengkan kepalanya
"heheheh" Dena hanya senyum saja sambil terus membetulkan sepatunya

Upacaranya lama banget ya...ya ampun..kenapa ya mesti ada acara pidato segala. Gerutu Dena,perutnya sudah keroncongan banget. "Apa aku pura-pura pingsan aja ya biar bisa keluar duluan dari lapangan. Tapi kan malu ntar malah jadi tontonan apalagi pas jatuh tau-tau dah selesai upacaranya trus pada buyar, lha aku sapa yang nolongin. Aduh..cepetan dech kelarnya..." Dera pun ngedumel dalam hati.
Ting-tong....Bel pun berbunyi...asyik....kelar dech...aku segera lari secepat mungkin ke kelas...mau nyomot kue dulu dikit sebelum gurunya datang..udah ndak bisa nahan...

Mata dena tertuju pada sebuah toko buku yang tampak ramai meskitoko buku itu kecil. Tampa terasa kakinya melangkah menuju ke arah toko buku itu. Diedarkannya pandangan ke sekeliling toko buku itu.Tak ada yang special disini,pikirnya. Dena malah melihat gadis-gadis yang tengah berbisik sambil memegang sebuah buku, bahkan mereka tidak sadar juka buku yang mereka pegang terbalik. Dena mengedaran pandangan mencari sosok yang membuat tempat ini hidup dan pandangannya tertuju pada seorang cwok yang berdiri di meja kasir, cowok tampan berkulit bersih,berpenampilan maskulin dan juga tampak seulas senyum di bibirnya. Dena jadi salah tingkah ketika pandangan mereka beradu.Sekilas Dena melempar senyum ke pemuda itu sebelum dia semakin salah tingkah dibuatnya.
"Ya tuhan...aku rela kok menderita asal tiap saat bisa melihatnya." Doa Dena dalam hati.

"De...kakak mau kenalin kamu ke cowok kakak...." Senyum melina, kakak Dena mengembang.
"Orang mana kak?" Dena mengambil duduk du depan kakaknya
"Jawa...satu kerjaan juga sama kakak...tapi dia juga punya usaha sendiri kok " Senyum kak Melani terlihat sumringah...ah.kakak ini sedang kasmaran ternyata..pikir Dena.
"Trus..kapan kemari?" Dena mengalihkan pandangannya pada hamparan rumput hijau di taman belakang rumahnya. Dia jadi teringat kembali pada cwok cakep yang di temuinya di toko buku kemarin,.Ah...andai saja cwok itu jadi miliknya dia pasti juga akan sangat bahagia, pikir Dena.
"Minggu depan,De. sekarang dia lagi ada kerjaan"  katanya pelan.
"ooo" Dena cuma mengangguk pelan.
Ah...akhirnya kakak ku bisa menemukan pangerannya. Tapi siapa dia...kakaku itu sangat pemilih...jadi penasaran aku....dena bicara sendiri pada hatinya.

Ah...panasnya hari ini..apa musim kemarau sudah benar-benar melanda hingga udaranya begitu panas. Uhf....rasanya pingin cepet nyemplung ke empang...biar seger....runtuk dena
"Wahhh....si blue dah waras lagi ya...?" Dena twrlonjak gembira ketika melihat montor kesanyangannya yang kemarin sempet ngadat gara-gara nyium grobak pak Marto kini sudah terparkir manis di luar rumah.
"Dah waras...sekali-kali kamu itu yang perlu di betulin..dah berapa kali babe mesti jantungan gara-gara kamu sering nabrak orang" Babe sudah duduk di teras.
" Yee..babe..baru juga sekali" Dena jadi sewot.
" Sekali apanya...kemarin kamu nabrak grobak Pak Marto yang lagi mangkal di pasar, trus nabrak becaknya kang Diman yang lagi ngadem di bawah pohon, dulu pas itu motor baru datang juga lo trabakin ke Mbok Darmi yang lagi jualan jamu..untung mereka kagak kenapa-kenapa. Kalau sampai mereka luka dan nuntut macam-macam bisa bangkrut babe. Kayaknya kamu tu belum pantes pake ni motor" Babe tampak serius...
"Jangan donk, Be. please...besok kagak nabrak lagi dech" pinta Dena sambil pasang wajah memelas.
"Kagak nabrak tapi pulang bonyok ya sama aja..."Babe masuk ke dalam.
Ah blue..bantuin bilang ma babe kalau kita ndak bakalan nabrak apa-apa lagi dech besok...tapi kalau senggol-senggol dikit..mungkin kagak apa-apa ya blue..kata dena dalam hati.

"Kamu itu harus hati-hati kalau bawa motor, De. Kamu kan gampang panik" Kak Melina mengingatkan Dena. Bukan salahku kalau aku gampang panik. bawaan orok sich..Dena malah asyik bicara sendiri.
"Iya...lain kali bakalan hati-hati"kata Dena sambil meletakan bukunya di meja.
"Mending naik angkot aja dec. Kakak tidak yakin kamu bakalan aman pake motor itu.." Kak Melani mulai cemas.
" Yee...kakak..masak tiap hari mesti lari ngejar angkot mulu.." Dena jadi sewot.
"Siapa suruh bangun mu siang terus kalau perlu sepatumu di ikat di leher biar tidak ketinggalan lagi" Kata kak Melani tenang.
"Mati dunk aku..." melongo jadi nya, Kak Melani cuma angkat bahu aja.

Hari ini waktunya Dena nyoba si blue ...asyik..Dena melirik jam dinding. Ya ampun telat lagi.Teriak dena. segeradena disambarnya helm yang terletak di atas meja dan si blu.diapun...berlari sebelum telat ke sekolah.
"Kenapa tu anak..makin aneh aja..." Kata enyak sambil memperhatikan Dena
"Kenapa ?" Babe muncul dari kamar dilihatnya si Nyak masih mematung di depan rumah.
"Itu...Dena...Masak motornya di bawa lari kayak gitu bukannya di naikin " kata nyak sambil masuk rumah. Babe tertawa terpingkal-pingkal ketika sempat melihat Dena yang berlari mengenakan helm dan menuntun motornya.
"Buru-buru amat ya..padahal juga baru setengah tujuh" Enyak duduk diruang tengah.
"Kenapa nyak..pagi-pagi kok udah heboh...?"Melina keluar dari kamar sudah berdandan rapi dan bersiap ke kantor.
"Adik mu itu kelakuannya makin aneh..." Babe duduk di ruang tengah sambil menyruput kopinya.
"Bawaan orok, Be" Kata melani sambil pamitan. Dalam hati dia tersenyum karena berhasil mengerjain adiknya hari ini. Jam dinding di kamar Dena ia majukan setengah jam agar dena tidak terlambat. ke sekolah tapi hasilnya malah ajaib...Dena panik berlari sambil menarik si blue..Ah...setidaknya si blue lebih aman di tarik gitu dari pada dinaikin.pikir Melani.

Dena tampak aneh ketika orang-orang memperhatikannya dan saat dia tersadar dengan kejanggalannya dia segera me stater si blu dan memacunya ke sekolah.

"Den...kamu naik apa?" Siska sudah bersiap pulang.
"Aku bawa si blue..." kata Dena mantab...
"Wah....hati-hati kamu, De. Yakin lo mau naik si blue?" Siska tampak makin ragu meski Dena menganggukan kepalanya dengan yakin. Siska mendesah pelan dan berharap kali ini dia tidak nyelonong seperti biasanya dengan si blue.

Dena memacu si blue nelewati jalan tembus ke rumahnya saat tiba di tikungan Dena melihat sebuah mobil belok kwarahnya karena panik dena jadi kehilangan keseimbangan dan membanting setirnya. Sebelum jatuh Dena meloncat dari motornya dan berlari menjauhi motornya yang jatuh dan menabrak pohon pisang di pinggir sawah...ah...si blu nyungsep lagi...
"Kamu tidak apa-apa?" kata seorang cwok keluar dari dalam mobilnya.
Sejenak Dena terpana ketika dilihatnya cowok itu. Cowok yang ada di toko buku itu sekarang ada di sini. dihadapannya dan mencemaskannya.Dalam hati Dena berdoa agar setiap saat dia bisa melihat cwok itu.
" Iya...tidak apa-apa..." kata Dena gugup sambil melangkah menuju motornya. Cowok itu membantunya menstater si blue..untung si blue tidak apa-apa...
"Aku antar ya..."  cowok itu menawarkan diri.
"Ndak usah...aku bisa pulang sendiru...lagi pula ini salahku kok..makasih sudah mau bantu." dena segera berlalu pergi sebelum jatuh pingsan karena gugup di depan cowok itu.

"Ya ampun, De....nyungsep dimana lagi lo..." suara Babe menggelegar membuat seisi rumah keluar,padahal isinya cuma Nyak ma Kak Melani. Kak melani sudah tidak bisa lagi menahan tawanya.
"Di parit be dekat sawah..." kata Dena sambil melepas sepatunya yang terkena lumpur karena masukbparit tadi saking gugupnya.
"Ampun dah...besok kagak usah bawa si blu aja...naik anngkot." Babe masih berkcak pinggang.
"Ya babe....masak naik angkot lagi.." Dena menngerutu
"Pokoknya nurut..." Babe masuk ke dalam kamar.
Dena berjalan gontai diletakknya sepatunya yang basah dan bau itu di belakang dia pun segera mandi sebelum badannya semakin gatal karena tadi nabrak pohon pisang.

Besok hari lamaran Kak Melani semua orang sibuk mempersiapkan jamuan. Ah...bahkan dia belum sempat kenalan dengan calon kakak iparnya. Dena teringat kembali cowok itu, namanya Dani. Kemarin dia muncul tiba-tiba di depan pintu gerbang sekolah. Katanya sengaja menunggu Dena pulang untuk memberikan buku dan kue sebagai permintaan maaf karena membuat dena terkejut hingga menabrak pohon pisang dan nyungsep di parit beberapa waktu lalu. Dena sempat terkejut juga karena tidak mengira cowok itu mencarinya sampai ke sekolah. dalam hati dia hanya mengira-ngira dari mana cowok itu alamat sekolahnya padahal dulu mereka bahkan tidak sempat berkenalan. Dalam hati Dena berdoa agar dia bwrtemu cowok itu setiap harinya.

"Den...gimana...kakak dah cantik kan?" Melani tampak mengagumi kencatikannya yang terpantul dari kaca riasnya.
"Iya cakep kok..." Dena tersenyum samar.
"Mereka sudah datang..." Nyak masuk ke kamar mengabarkan kalau tamunya sudah datang. Semua segera bersiap. Dena keluar belakangan. Dia terkejut ketika melihat mobil yang membuatnya nyungsep itu sekarang di sini. Dalam hati dia hanya menerka-nerka saja. Semua rombongan tampak akrab menyatu, suara gelak tawapun menyatu. Dena meras tubuhnya gemetar.
"Den...ayo keluar..kita kenalan sama kakak iparmu..." Nyak menggadeng Dena memasuki ruangan
"ini Dena...adik Melani" Nyak memperkenalkan Dena. Dena melemparkan senyum padabsemua orang dan senyum itu mendadak hilang ketika dilihatnya Dani juga ada disana. Duduk tenang diantara om-om yang mengantarnya. Dena merasakan saat ini wajahnya memanas, diapun undur diri lagi.
Dena lari kebelakang, ditahannya air matanya yang hendak turun itu. Disambarnya sebuah gelas yang tergeletak di atas meja. Tapi baru sesaat air itu dimuntahkan lag...air itu terasa wangi dan pahit di mulut dena. Diamatinya air itu dan ternyata itu air kembang. sontak saja dimutahkannya lagi air kembang. Dena merasa hari ini hari tersial dalam hidupnya. Orang yang dicintainya diam-diam ternyata calon kakak iparnya. dan sekarang dia tampa sengaja minum air kembang yang rasanya bikin mual..ahhh dena hanya mampu mendesah. Dalam hati dia menyesali doanya yang memimta padabTuhan untuk dipertemukan dengan lelaki itu setiap harinya. Dena hanya berharap dia aka punya seribu kekuatan yang akan membuatnya tegar menghadapi lelaki itu esok hari.

Jumat, 17 Oktober 2014

Lorong Belakang

Sudah seminggu Dena hilang. Semua jadi panik, banyak dugaan yang bermunculan dari lari sama pacar, korban facebook dan juga kasus pembunuhan..hiii..ngeri...Dena menghilang begitu saja seperti di telan bumi.. Keluarga sudah berusaha mencari dari yang lapor ke polisi sampai datang ke jempat mbah jambrong..dukun di kampung mereka.. tapi yang ada malah tambah pusing karena mbah jambrong cuma bisa komat-kamit tampa bisa ngasih solusi yang pasti.

Rena,Bahar dan Danar tampak duduk termangu di taman sekolah. Biasanya kemana-mana mereka selalu berempat tapi sejak Dena menghilang mereka kini tinggal bertiga...
"Sepi ya...berkurang satu suara sekarang..." Rena memandang ke arah sepatunya yang memang tidak ada nodanya.
"Iya...biasanya kita selalu bercanda ya...kemana-mana bersama ...tapi..." mata bahar menerawang...
"Sudahlah...semoga semuanya baik2 saja...Dena cepat ketemu.." Danar mendesah pelan..dadanya terasa nyeri...gadis yang diam-diam mencuri hatinya kini entah dimana dan bagaiama keadaannya sekarang. Suara bel masuk terdengar berdentang memaksa mereka bertiga meninggalkan bangku taman.

Sejak kasus hilangnya Dena mencuat, keadaan sekolah itu jadi berubah. banyak sekali isu yang berhembus tentang penampakan seorang gadis di kelas belakang. Ruang kelas itu dulunya di gunakan untuk lab tapi sejak sekolah merenovasi gedungnya, ruangan itu jadi terbengkalai dan tidak terjamah.

Bahar berlari kecil menyusuri koridor lorong belakang. Dia sudah tak dapat lagi menahan pingin ke toilet. Satu-satunya kamar mandi yang dekat adalah kamar mandi dekat ruang Lab dulu. Mau tak mau Bahar segera berlari kesana sebelum celananya basah terkena ompol.
Saat melintasi kelas belakang bulu kuduk Bahar berdiri, ada udara dingin yang tiba- tiba menerpanya, tampa sengaja Bahar melihat sosok seorang gadis tengah duduk diatas meja dengan wajah menunduk. Bahar tak begitu memperhatikan bayangan itu karena pikirannya saat ini hanyalah kamar mandi. Saat bahar kembali terdengar ketukan dari dalam kelas. Bahar memperhatikan ruang kelas yang terkunci rapat dari luar. Jadi mustahil ada orang di dalam, pikir Bahar.
Sejenak suasana tempat itu sunyi, suara ketukan sudah tidak terdengar lagi. Bahar memutar badan nya berniat meninggalkan tempat itu tapi belum sempat dia melangkah suara ketukan itu terdengar lagi dan keli ini suaranya terdengar jelas dan makin keras.
Perlahan Bahar merapatkan tubuhnya ke pintu kelas itu, suara ketukan kini juga di barengi dengan suara benda jatuh. Bahar terlonjak karena kaget. Rasa penasaran membuat Bahar nekat mendekati ruangan itu.
"Siapa di dalam...orang apa setan..!"  teriak Bahar.
"Setan..." suara dari dalam terdengar parau
"Bohong lo...mana ada setan ngomong...mana buktinya.." Bahar mencibir. Toba-tiba saja sebuah tangan yang mulai mengelupas dan rusak menembus pintu yang tertutup rapat. kontan saja membuat Bahar kaget dan gemetar..
"Iya...lo...lo...setaaannnnn.....!"  Bahar lari tunggang langgang menjauhi tempat itu.

Sore yang indah...seorang gadis tampak berjalan menyusuri koridor stasiun kereta. Sejenak dia memandang sekeliling sebelum masuk ke dalam sebuah taksi yang membawanya melaju dan berbaur dengan riuhnya keruwetan kota senja itu.

Bel masuk sekolah mulai berdentang, para siswa pun mulai berlarian menuju kelas masing-masing. Suasana pun mulai hening, halaman yang tadinya ramai di penuhi  murid-murid yang asyik bermain kini sudah sepi... hanya beberapa orang saja yang tampak bersliweran di sekitar koridor sekolah. Tak jauh dari tempat itu tampak seorang gadis memperhatikan sekolah itu. wajanya yang cantik tertutup topi merahnya. Sejenak gadis itu terdiam sebelum pergi berlalu.

Hal yang paling ditunggu Rena saat ini adalah jam pulang. Perutnya keroncongan sedari tadi. Bahar dan Danar pun sudah kabur entah kemana. Sejenak gadis itu terpaku ketika dilihatnya sesosok tubuh yang di rindukannya, hampir saja dia berlari ke arah gadis itu...tapi langkahnya terhenti ketika dilihatnya gadis itu tampak aneh..dia terus saja melihat ke lantai 2 sekolahnya tepat di ruang guru dan Rena bisa melihat jelas tampak sesosok tubuh juga terpaku melihat ke bawah...Pak Reno..guru paling cool dan tampan di sekolahnya...benak Rena dipenuhi seribu pertanyaan tentang kejadian ini... bergegas dia berlari mengejar gadis itu ketika dilihatnya gadis itu berlalu pergi.

Rena menjaga jarak dari gadis itu. Dia tidak ingin gadis itu lari darinya dan hilanglah kesempatannya untuk mengungkap ini semua.
Rena menarik lengan gadis itu begitu mereka sampai di tempat yang agak sepi. Rena tampak terkejut ketika dilihatnya topi gadis itu terbuka dan tampak wajah yang tidak asing lagi baginya...mirip...cuma mata mereka yang beda...Dena begitu sendu dan gadis ini..ada keberanian di matanya....
"Deni....."Suara Rena tertahan. Gadis dihadapannya sekarang adalah Deni. Saudara kembar Dena yang tinggal di luar negeri. Tak ada yang banyak tau tentang Deni karena memang Deni dari kecil ikut oma nya dan menetap di luar negeri.
"Rena..." gadis itu juga terkejut ketika tau ternyata kedatangannya di ketahui Rena.
"Sejak kapan kamu disini?" Rena tak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya.
"Ikut aku, Ren. Ada yang mau aku omongin..." Deni menarik tangan Rena berlalu dari tempat itu.

Rena menghabiskan es kelapa mudanya, di pandangnya Deni yang tampak tidak semangat menikmati minumannya.
"Perasaanku tidak enak dari sebulan yang lalu Ren. Setiap malam aku selalu mimpi yang sama tiap malam" Deni mengaduk minumannya.
"Mimpi apa?" Rena memandang Deni.
"Dena tampak sengsara karena perbuatan seseorang...". Rena tercekat mendengar ucapa Deni...mimpi mereka sama.
"Kamu tau siapa laki-laki itu?" Rena mendang Dani. Setau dia selama ini Dena tidak pernah dekat dengan siapapun...dan sekarang...
"Baca saja diary ini...kamu akan tau semuanya.." Deni mengeluarka sebuah buku dari dalam tasnya. Rena mengamati  buku itu. Sepertinya dia pernah melihat buku itu di bawa Dena.

Panas matahari begitu menyengat. Rasanya saat ini pingin sekali dia nyebur ke kolam untuk mendinginkan tubuh dan kepalanya .
"Ren...pulang sendirian?" Sebuah suara mengagetkan Rena dan dia lebih terkejut lagi ketika dilihatnya sesosok lelaki yang membuatnya penasaran selama ini...
"Eh...pak...iya...biasanya juga sendiri kok pak" Rena tampak menetralisir keadaan.
"Bapak antar ya...sekalian bapak ada perlu di sekitar daerah kamu" Reno melempar senyum mautnya. Sejenak Rena tampak ragu tapi kemudian diapun menyetujui usulan Reno. Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Rena untuk mendekati Reno.

Seminggu bersama Reno membuat Rena tau tabiat cowok itu dan kadang ada keraguan dihatinya tentang kebenaran buku diary itu. benarkah Reno terlibat atau ini cuma karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Rena menghela nafas, dadanya terasa sesak sekarang tapi dia sadar saat ini Reno adalah target mereka.

Bahar dan Danar tampak asyik menghabiskan makanan yang terhidang di meja.
"Jadi bagaiman...kita jadi melanjutkan ini?" Bahar kembali menguyah makanannya.
"Jelas...sudah kepalang tanggung..kita lanjutkan sekalian...daripada di teror terus.." Kata danar sambil melirik Deni yang sedari tadi cuma diam...
"Betul....sudah basah...mandi sekalian...demi Dena" Rena tersenyum meski sekarang hatinya kecut membayangkan kebenaran yang akan mereka temui nanti...

Malam itu Rena janjian bertemu Reno di cafe. Rena tampak gugup tapi terlintas kembali bayangan Dena yang menangis pilu di dalam mimpinya. Rena semakin bulat untuk mengungkap semua itu. Dari jauh dilihatnya Reno yang sudah duduk manis sambil meneguk minumannya. Jujur saat itu Rena terpesona melihat Reno yang tampak menawan tapi segera di tepisnya semua itu.
"Hai Ren...kamu cantik banget malam ini.." Rena tersipu juga mendengar pujian itu.
"Bapak juga cakep kok..." Kata Rena agak gugup.
Rena mengambil tempat duduk di depan Reno. mereka mulai mengobrol..tiba-tiba saja Reno seperti tersentak kaget..dari tempatnya duduk dia dapat melihat sesosok gadis mirip Dena sedang duduk tak jauh dari tempat duduk mereka..Reno semakin terlonjak kaget ketika gadis itu menatapnya tajam..
"Pak...kenapa? " Tanya Rena ketika dilihatnya Reno tampak bengong seperti terhipnotis sesuatu.
Reno tergagap kaget , "Ndak papa kok..."  pandangannya beralih ketempat gadis itu berada tapi gadis itu sudah tidak ada lagi di tempatnya semula. Rena dapat melihatdengan jelas kegugupan yang terpancar di wajah Reno saat ini...dalam hati dia tersenyum senang.
Malam itu Reno mengantar Rena pulang yang di balas anggukan kepala oleh rena. Mobil melaju tidak terlalu kencang. Saat mereka melintasi jalanan setapak tiba-tiba Reno menghentikan mobilnya. Sontak membuat Rena terkejut..
"Kenapa berhenti?" Rena melihat sekelilingnya..
"Itu...tadi...." Reno terdiam sejenak...entah kenapa sepertinya tadi dia melihat sosok Dena sedang berdiri di pinggir jalan.
"Kamu tidak apa-apa?"  Rena melihat kegugupan di wajah Reno..
"Iya... " Reno menjalankan kembali mobilnya  dan baru beberapa saat berjalan tiba-tiba Reno melihat sesosok tubuh melintas di atasnya..karena terkejut dia menghentikan mobilnya..
"Ada apa lagi,Pak. Bapak baik-baik aja kan..?."  Rena melihat wajah Reno yang mendadak jadi pucat. Reno hanya terdiam. Dia tidak mungkin mengataka pada Rena jika dia baru saja melihat bayangan putih melintas di depan mereka...dan itu adalah Dena...
"Tidak apa-apa kok...mungkin aku capek... " Reno berkilah. Matanya masih melihat ke sekeliling mencoba memastika jika penampakan tadi sudah menghilang. Mobil pun melajukembali meninggalkan jalan setapak itu.

Keesokan harinya Rena berusaha bersikap wajar di depan Reno, setelah kejadian semalam Rena merasa yakin Reno tau seuatu tentang Dena.
"Ren...nanti malam kita jalan ya..." bisik Reno saat berpapasan dengan Rena.
"Kemana?"
"Terserah kamu.." Reno melepar senyum kepada seorang guru yang sedang melintas di depan mereka..
"Kita ngobrol dirumahku aja ya...lebih ngirit..." Rena segera berlalu dari tempat itu sebelum Reno sempat membalas ucapannya. Dia tidak ingin Reno mengajukan usulan lain.. bisa ruyam rencana mereka.

Malam itu suasana begitu syahdu, sepoi angin malam yang berhembus menambah teduh suasana. Tempat itu terasa begitu sunyi..hanya ada suara binatang mala yang terus saja bernyanyi dan gesekan daun yang bersentuhan karena tiupan angin.
"Silahkan pak..." Rena melaetakkan secangkir kopi dan juga kue untuk menemani mereka mengobrol malam ini.
Rena terbatuk -batuk.
"Kamu sakit?" Tanya Reno sambil mendekati Rena..
"Alergi dingin mungkin...sebentar ya...aku ambil jaket dulu.." Kata Rena segera bangkit dari tempat duduknya dan masuk kedalam rumahnya.
Reno duduk bersandar di kursi, pandangannya tampa sengaja tertuju pada gumpalan asap yang kini makin terlihat jelas dan saat asap itu berkurang munculah sesosok gadis berambut acak-acakan dan juga tampak lusuh dan kotor. Reno tersentak kaget karenanya. Matanya seakan tak bisa lepas dari penampakan itu. Sayup-sayup tetdengar suara tangisan seorang gadis. Udara yang bertambah dingin membuat bulu kuduknya berdiri. Reno tampak gemetar. Gadis itu memandang tajam kearahnya dan Reno dapat melihat dengan jelas ada cairan hitam yang meleleh di sudut bibir gadis itu. Reno menutup wajahnya.
"Pak...bapak kenapa?" suara Rena mengagetkan Reno. Wajah Reno pucat pasi dan tubuhnya gemetar pikirannya kacau dan tampa menunggu lama dia segera undur diri.

Pagi itu Rena,Bahar dan Danar duduk di taman belakang.
"Gimana....dah siap semua..." Rena melihat kesekelilingnya.
"Dah...beres...tapi keliatannya Pak Reno ndak keliatan hari ini.." Danar mencomot snack Bahar.
"Sepertinya...dugaan kita benar...kita ikuti aja Pak Reno. Lo jangan lupa ngasih tau Deni, kita harus bongkar ini..Aku dah capek di datengi Dena terus..." Bahar masih asyik dengan makanannya.

Rena memperhatikan rumah yang tampak sepi itu, hanya ada mobil Reno yang masih terpakir di halaman depan rumahnya. Wajahnya tampak tegang. Bahar dan Deni sudah menunggu di sekolah. Malam ini suasana begitu sepi. Entah mengapa hatinya jadi tak karuan sekarang.
"Ren....tu...pak Reno keluar..."  Danar sudah bersiap menyalakan mesinnya.
"Tunggu dulu...biarin dia lewat dulu..." Rena dan Danar menundukan kepala saat dilihatnya mobil Reno melintas di samping mereka.

Reno memacu mobilnya kencang menuju sekolah. Malam yang semakin larut menambah menembah  sunyi. Reno melangkah tergesa menuju kegedung bagian belakang, sejenak dia menlihat ke sekeliking sebelum akhirnya dia membuka gembok ruangan itu dan masuk.
Ruangan itu begitu sunyi dan temaram. Reno membuka almari tua dan mengeluarkan sesosok tubuh yang terbungkus plastik dan masih utuh. Tangannya bergetar. Sejenak dipandangnya sesosok tubuh yang kini sudah beku dengan luka di keningnya.
"Den...maafin aku...semua salahku...aku terlalu serakah ingin memiliki kalian berdua. Aku tidak sengaja melukaimu De....maafin aku..."
"Kenapa sekarang kau baru datang, Ren..?" suara yang begitu sendu mengagetkan Reno, siara itu begitu merana. Seolah jiwanya terikat. Reno melihat sekeliling dan dilihatnya Dena berdiri tak jauh darinya. Gadis itu menundukan kepalanya.
"Maafin aku Den...maafun aku..aku terlalu pengecut untuk berani mengakui semua ini" Reno mulai terisak..batinnya di penuhi sejuta penyesalan.
"Kau membuatku menderita...Kau kejam...inikah arti cintamu padaku....kau ingin memiliki aku dan Rena sekaligus...kau rakus...." Suara Dena berubah penuh dengan kemarahan...tubuhnya merayap ke atas, matanya begitu kelam.
"Aku akan menbusnya De.....hukumlah aku...tapi jangan siksa aku seperti ini..." Reno mulai meratap.
"Kembalikan aku ke keluargaku Ren....jangan menyiksaku lagi.." kata dena pelan.
Reno mengangkat tubuh Dena keluar kelas dan diluar terdengar derap polisi mendekati tempat itu.

Di luar Bahar, Rena dan Danar hanya terpaku melihat tubuh Dena yang terbungkus plastik. Kesedihan danbjugabkelehaan kini menerpa mereka, Rena tak lagi mampu berucap kata seakan hilang semua kekuatannya untuk mengutuk lelaki itu. Sementara Bahar masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi, akalnya masih belum menemukan ilmu apa yang dipakai Deni hingga gadis itu muncul tiba-tiba didalam kelas padahal dia tidak melihat gadis itu masuk dan bagaimana mungkin dia bisa merayap seperti laba-laba seperti itu. memikirkan hal itu membuat bulu kuduknya berdiri. Danar masih mencari sosok Deni yang sedari tadi belum juga menampakan batang hidungnya padahal polisi dan Reno sudah keluar dari kelas terkutuk itu. Tampa sengaja matanya tertuju pada sosok seorang gadis yang berdiri di ujung lorong, gadis itu tersenyum manis sambil menganggukan kepala sebagai tanda terima kasih dan berlalu menghilang di gelapnya lorong sekolah. Malam semakin larut seakan ingin melarutkan jiwa-jiwa yang masih terjaga dalam kesedihan malam itu.

Minggu, 12 Oktober 2014

Kastil tua

Aku sampai di halaman sebuah rumah yang menurutku lebih mirip seperti kasti. Halaman yang luas dan ditumbuhi rumput yang hijau dan tersusun rapi, beberapa pohon besar tampak mengelilingi rumah itu. Rumah itu berdiri dengan kokoh meski gaya bangunan yang sudah kuno tapi tetap terlihat menarik. Pintu yang besar dan jendela yang tinggi serta selalu tertutup rapat semakin menambah kesan seram pada tempat itu.Saat aku memasuki rumah itu hawa dingin segera menyergapku, membuat bulu kuduku berdiri. Perasaan aneh mulai menjalari hatiku serasa setiap sudut rumah ini punya seribu mata yang selalu mengawasi setiap gerak-gerik ku disini.
"Rum..nenek antar kamu ke kamarmu..." Suara nenek membuyarkan lamunanku
"Ya, Nek" aku mengikuti nenek menuju kesebuah lorong yang tidak begitu panjang, ada beberapa kamar disana dan tampa sengaja aku melihat sebuah ruangan yang di penuhi dengan buku-buku yang tertata rapi. Apa itu perpustakaannya ya?, asyik...aku senang kalau bisa menghabiskan waktu membaca diruangan itu.
"Nah...ini kamarmu.." Kami berhenti di depan sebuah kamar yang tidak terlalu besar tapi terlihat nyaman dan tertata rapi...
"Kamu istirahat dulu...Nenek ada urusan sebentar..ingat jangan kemana-mana." pesan nenek sebelum melangkah pergi. Aku meletakan koperku di depan almari..kamar ini tampak indah ..aku membuka jendelaku...angin menyeruak masuk saat aku membuka jendelaku...segar banget...dari kamarku aku bisa melihat hamparan kebun buah yang tak jauh dari rumah ini..aku merebahkan tubuhku di ranjang...empuk dan dingin...mungkin sudah lama kamar ini tidak di pakai. Sesaat aku memejamkan mataku... lelah ini menyerangku..mungkin karena perjalanan yang melelahkan. Hembusan angin lembut menerpa wajahku tapi anehnya aku merasa hembusan angin itu berbeda...begitu dekat..dan aku seperti mencium aroma yang berbeda... aku membuka mataku dan kulihat kamarku sepi..ah...mungkin hanya perasaanku saja. aku memejamkan lagi mataku...

Sore mulai menjelang, aku menemui nenek di ruang depan.. sepi...kemana semua orang..apa selalu seperti ini rumah ini...sepi..tidak ada manusianya ya...
"Rum...." sebuah suara mengagetkanku. Seorang pemuda tampak berdiri di dekat pintu. wajahnya tampak dingin dan pucat..apa dia sakit.. dia tersenyum samar padaku..
"Nenek belum pulang...mungkin besok baru pulang..ia meningalkan ini untukmu" katanya sambil memberikan sebuah catatan padaku dan berlalu pergi tampa menoleh padaku

Pagi yang indah dan sedikit berkabut  karena hujan yangbturun semalam cukup deras segera aku mandi dan berganti baju...jangan sampai kesiangan.. hari ini aku harus bantu kerja membersihkan ruang tengah..segera aku mencari alat-alat yang kubuhku..setelah semua siap aku menutup mataku sesaat, aku mulai konsentrasi dan tak lama kemudian alat-alat itu bergerak sendiri. aku membuka mataku perlahan dan tersenyum ketika semua alat bergerak melakukan tugasnya. Aku mengambil lap, aku melihat lampu gantung di atasku tampak mulai berdebu. Aku menutup mataku dan perlahan tubuhku terasa ringan hingga aku bisa menyentuh lampu. debu yang menempel membuatku batuk.
"Rum..lagi ngapain?" sebuah suara mengagetkanku..membuat kosentrasiku buyar dan jatuh ke bawah..tapi sebelum menyentuh ke lantai aku merasa ada yang menahanku. Pemuda itu menangkap tubuhku sesaat aku memandang wajahnya, matanya begitu teduh dan senyumnya manis, aku jadi gugup karenanya..buru-buru aku turun dari gendongannya.
"Maaf..." gugup juga jadinya...moga dia tidak melihat wajahku yang sudah berubah kini..

Dapur hari ini tampak ramai...sepertinya akan ada acara..
"Non Arum dikamar saja...kami akan mengantar makanan non ke kamar" kata seorang pelayan saat aku memasuki dapur.
"Tapi aku ingin membantu.."
"Maaf non...ini perintah den Ardi..kami bisa kena marah kalau non masih disini.." kata pelayan itu tampak ketakutan. Aku segera berlalu dari tempat itu ...ah...bete...kenapa aku tidak boleh ngapa-ngapain...beteee....
Aku melangkah kembali kekamarku tapi langkahku terhenti di depan ruang perpustakaan. Barisan buku yang berjajar rapi seakan mengundangku untuk menjelajahinya..berlahan aku mulai menjelahinya...banyak buku yang tidak ku ketahui judul nya karena divtulis dalam bahasa yang berbeda dengan simbol-simbol yang aneh buatku. Pandanganku tertuju bapabsebuah buku besar bersampul merah  ku pejamkan mataku sesaat dan aku berhasil meraihnya..
"itu silsilah keluarga ini" suara seorang laki-laki mengagetkanku membuatku terkejut dan melunjur turun..
"Kamu senang sekali jatuh..." Senyumnya twrlihat mencibir...
"Kenapa selalu muncul mendadak...bikin terkejut.." kataku sambil turun dari dekapannya. Aku beranjak berlalu dari depannya tapi dia menariku kepelukannya
"Kenapa kamu tidak mengindahkan laranganku...aku menyuuhmu untuk  tetap dikamarkan?.."  suaranya mendesah di telingaku.. jantungku berdegup kencang karenanya. dia memandangku sendu..
"Pergilah ke kamarmu..jangan pernah keluar kamar kecuali aku yang mengijinkanmu"
Tampa disuruh dua kali aku segera berlalu dari ruang perpustakaan dan berlaribke kamarku. Dia sesalu berhasil membuatku mati kutu..

Sebegitu pentingkah pertemuan ini hingga aku tidak diperbolehkan keluar... suara musik mulai mengalun..musik klasik yang sering ku dengar di film-film saat vampir mengadakan pertemuannya. Apakah mereka vampir?...Aku teringat Ardi begitu dingin, pucat..gerakannya cepat dan juga kuat..apakah dia juga termasuk vampir?...aku semakin penasaran...dan tak bisa kutahan lagi..aku akan mengintip mereka dari pohon saja.... aku menuju ke jendela dan begitu terkejutnya aku ketika seorang gadis muncul di jendela..gadis itu berwajah cantik, berkulit putih dan berwrna hitam...ada dua taring kecil yang menyembul di barisan giginya.
"Benar kata Ardi...kamu memang tidak bisa diam ya" dia tersenyum padaku.
"Kamu siapa?" aku menatap gadis itu...gerakannya lincah. dia sudah berada dikamarku...
"Aku Eve...adik Ardi..."
Sekilas aku meluhatnya..tidak mirip...hanya warna rambut mereka yang sama..
"Kenapa...kau takut padaku?." dia begitu tenang..perlahan mendekatiku...aku beringsut mundur.
"Eve...orang-orang mencarimu...turunlah.." Sebuah suara mengagetkanku..aku hapal banget itu suara siapa..
"Jaga kelincimu, Di...atau yang lain akan terpancing untuk kesini..."katanya sambil melesat keluar kamarku.
Ardi memandangku, ada sedikit kemarahan di sana...aku beringsut mundur.. tapi secepat kilat dia sudah ada di dekatku..
"Tutup jendela mu...malam ini aku tak bisa menjagamu disini" suara desahanya begitu terasa di telingaku...apabmaksudnya menjagaku disini..apa setiap malam dia disini..apa dia tidur disini bersamaku...oh...ya Tuhan..pantas aku measa ada yang memperhatikanku aku segera menutup jendelaku rapatrapat. dibawah suara musik masih mengalun dan suasana makin riuh...

Pagi menjelang...badanku tiba-tiba terasa panas bukan main...apa yangbterjadi...panas ini seakan membakar tubuh...aku berlari kekamar mandi dan membenamkan tubuhku dalam-dalam untuk menghilangkan panas ini...tapi panas ini seakan tak mau reda tapi malah menjadi membuatku semakin panik...disaat ritulah aku merasa ada yang menarik tubuhku dari dalam air...
"Lakukan sekarang, Di..racunnya akan segwra menyebar" itu suara Eve...apa yang terjadi padaku...apa maksudnya..kenapa tubuhku terasa terbakar..
"Cari nenek dan beritahu apa yang terjadi...aku akan urus dia..."  suara Ardi terdengar berbeda kali ini...Panas ini tak tertahan lagi.. aku menghempaskan tubuh Ardi begitu keras..hingga tubuhnya jaruh menghatam almari...secepat kilat aku keluar menerobos jendela...aneh sekali...kurasakan tubuhku sangat ringan...aku bahkan bisa mendengar desiran angin dan deburan ombak...bahkan aku juga bisa mendengar riuhnya suara..bahkan kini aku bisa melihat Ardi yang mengikuti dari belakang. Aku masih bertengger diatas pohon kerika ku dengar suara yang membuatku begitu tertarik ingin tahu..
"Jadi kau berhasil mendapatkannya...." Seorang pemuda tampak sedang duduk bersama seorang pemuda yang sedang bersandar pada sebuah pohon...
"Benar Evan..kau tau...darahnya begitu menggoda.."  pemuda itu tampak begitu puas..
"Akhirnya kelinci itu lepas dari pengawasan Ardi...hahahah...pasti sekarang dia kalang kabut mengurusi kelincinya...hahahah" Suara tawa pemuda itu begitu menyiksaku...aku tak bisa mengendalikan diri lagi...aku menghamtam pemuda itu...dia terjungkal.

Dia tampak terkejut ketika melihatku..Ardi pun muncul di belakangku...aku menghampiri pemuda itu dengan segenap kemarahan yang aku aku punya.. aku mencekik pemuda itu...sekuat tenaga di berusaha melepaskan diri...tapi aku bisa membaca semua gerakannya dan juga  pikirannya..saat ini yang ingin aku lakukan adalah melampiaskan segala kemarahanku yang tak terbendung lagi...aku membenturkan pemuda itu pada sebuah pohon yang cukup besar... dia hendak mengelak tapi terlambat...kemampuanku mengunci kekuatan membuat dia tak mampu bergerak lagi...membuat dia kaku..aku mencekiknya hingga tubuhnya mentok bersandar pada sebuah pohon..
"Aku ingin..kamu terbakar...seperti aku saat ini..hangus....tampa sisa...."Aku tak bisa menahan lagi..seperti ada aliran panas di telapak tangnku...aku menekan tubuhnya di pohon...dia tidak bisa lagi bergerak dan api pun mulai menjalar di sekujur tubuhnya..api yang berwana biru ke merahan itu membungkus tubuhnya  hingga tubuhnya tak terlihat lagi..

Ardi dan pemuda itu terkejut..mereka tidak menyangka akan melihat pemandangan sepwrti ini..
"Sekarang giliranmu..." pandanganku beralih pada pemuda itu. Dia nampak ketakutan.
"Rum...sudah...hentikan.." Ardi menahan tubuhku..
"Pergilah..dan jangan pernah menampakan wajahmu lagi disini.." hardik Ardi pada pemuda itu...dan secepat pemuda itu pergi..
"Sudah..hentikan rum...!"" Dia berusah menahanku tapi rasa kesalku tak jua hilang..
Aku mendorong tubuhnya hingga jatuh..aku sudah meloncat mengejar pemuda itu ketika Ardi menangkap tubuhku..kami bergulingan ditanah...nafasku masih memburu..rasa marah ini tak bisa kutahan..Ardi mencekal tanganku..
"Maaf...tak ada jalan lain..." katanya sesaat sebelum dia menghisap lukaku..saat itu juga aku merasa panas di tubuhku berkurang...dan membuatku jadi lemas..

Saat terbangun aku sudah ada dikamarku..apa yang sudah kulakukan tadi...aku tak bisa mengerti kenapa kemaranaku begitu sulit aku kendalikan...
"Sudah bangun,Rum" Ardi sudah ada di sebelahku berbalut selimut..aku masih belum ngeh dengan apa yang terjadi sekarang..
"Semalam...tubuhmu mulai memanas lagi..jadi terpaksa aku mendinginkanmu..kau hampir membakarku.."Katanya tenang sambil mengenakan piyama nya.. ya ampun...aku menutupi wajahku..tak sanggup menahan malu...
"Semalam kau luar biasa..." desahannya terdengar jelas di telingaku...
"Aaa......" aku membuka selimutku mencari sosoknya..tapi dia sudah tidak ada ...dasar...vampir jelek..

Semua anggota keluarga sudah berkumpul..Nenek,Eve, Ardi..Dan juga seorang pria yang umurnya tak jauh beda dengan Ardi..
"Rum...nenek sangat menyesal dengan apa yang terjadi...sebenarnya bukan ini yang nenek inginkan..tapi bagaimanapun juga kami harus memberitahukan ini padamu.." Nenek mendesah pelan..
"Sudah waktunya kamu mengenal siapa dirimu sebenarnya..kamu anak Alfa..paman Ardi..memang benar ibumu adalah manusia...ibumu meninggal saat melahirkanmu dan untuk menjagamu kami menitipkanmu di panti...itu untuk melindungimu dari vampir hitam..kami memang vampir..tapi kami tidak membunuh manusia, Rum. Dari dulu ayahmu ingin sekali mengambilmu dari panti..karena nenek tidak mau hal itu malah akan membahayakanmi..maka nenek menyuruh Ardi untuk mengawasimu sejak kamu masih kecil dan memberitahu kepada kami perkembanganmu setiap waktu..." nenek menatap Ardi pelan..dan dibalas anggukan kepala oleh Ardi..nenek hanya menbalas dwngan helaan nafas..
"Sekarang...semua sudah terjadi..tampaknya kalian berdua memang tidak bisa dipisahkan..sekarang terserah ayahmu..."
Lelaki yang dari tadi diam perlahan mengampiriku...
"Ayah tidak bisa berbuat apa-apa lagi..selama ini Ardi adalah guru dan juga pelindungmu..jadi ayah akan serahkan akamu padanya..seridaknya kamu akan aman bersamanya.." kata lelaki itu sambil membelai rambutku..aku menatapnya...Dia masih tampan..dan benarkah dia ayahku...entahlah..kami begitu mirip...
"Oya...aku harus mengajari dia mengendaliakan amarahnya..dan juga kendalikan juga hobinya yang suka melayang di rumah ini...atau dia akan membuat para pelayan semakin panik..." Kata Eve sambil menyruput minumannya...Ardi haya tersenyum saja..
Aku menatap Ardi sekilas... ku lihat senyum tersungging di bibirnya... perlahan dia menghampiriku..mengandeng tanganku keluar dari kastil...
"Aku sudah menunggu ini sangat lama...menunggumu tumbuh...dan kau..lambat sekali menjadi seperti ini..." Senyumnya begitu menggoda. Aku merapatkan tubuhku..aku tidak mau dia melihatku menahan malu seperti ini...aku merasakan desahannya di telingaku..
Hidupku tak akan pernah sama lagi... sekarang aku bagian dari mereka...meski belum sepenuhnya...entah mesti sedih atau gembira tapi setidaknya saat ini aku merasa bahagia karena bersama seseorang yang slalu melindungiku dan hadir dalam mimpiku dan kini hadir dalam hidupku..mungkin esok akan sulit buatku...tapi mungkin juga akan mudah selama ada Ardi disampingku....I love you...

Sabtu, 11 Oktober 2014

Aku dan Si Jahil


Sumpek...dirumah sendiri, ndak ada teman semua pada pergi kondangan. kerjaan numpuk belum juga kelar ditambah perut yang lagi keroncongan dan hawa yang dingin karena hujan belum juga kelar. laperr....kenapa ya mesti laper malam-malam gini, mau tak mau ya harus gerakin badan buat bikin makanan. Males sebenarnya tapi cacing di perut tak mau kompromi. Ku buka lemari dapur mencari bahan makan yang bisa ku masak malam ini...kosong...kulkas juga limit isinya...terpaksa dech bikin mie juga akhirnya..bisa-bisa tambah kriting ni aku kalau kebanyakan mie...ya ampun..tuhan jangan bikin aku tambah keriting ya...bisa-bisa aku makin jauh dari cowok..please ya Tuhan...
Saat aku sedang memasak di dapur aku merasa ada yang memperhatikanku, ketika aku menoleh kebelakang ...sepi...tidak ada siapa-siapa, aku segera memasukan bumbu ke dalam panci mie karena airnya sudah mulai mendidih. Saat itu aku merasa ada yang mengintip lagi...saat aku menoleh kebelakang...ternyata sepi..bener-bener dech jahil ni makhuk...aku memasukan mie kedalam panci sebelum airnya tambah surut, saat itu aku melihat sesosok bayangan melintasvdi jendela dapur..aseeemm..bener-bener dech ini makhuk...aku berjalan kearah pintu dan saat kubuka ternyata sepi..hanya ada rintik hujan yang masih enggan untuk berhenti.
"Siapa disana..usil amat ganggu orang aja...apa tidak ada kerjaan...ngintip melulu..kalau berani muncul...jangan ngumpet aja!!" teriaku seenaknya aja...apa tidak tau kalau aku sedang kelaparan sekarang...
Aku kembali ke panciku, saat aku mau menuang mie ku kedalam mangkok tiba-tiba muncul sesosok makhuk yang sedang merambat di lantai..karna terkejut aku lempar mie ku yang masih mendidih ke arah makhuk itu..sambil ku pukuli kepalanya beberapa kali..pasti ini makhuk jadi-jadian seperti yang ada di tv...pikirku.
"Dasar...lo ya...muncul tidak diundang...usil lo ya...ku bacain yasin ma ayat kursi mati dua kali lo nanti..!" aku masih memukuli makhuk itu hingga akhirnya sosoknya hilang...yang ada hanya tinggal mie yang berserakan di lantai...ya ampun...tu kan malam-malam gini malah dapat kerjaan ganda...oalah..mana perut makin laper...aku lemparkan pancinya ke tempat cuci piring begituitu saja dan pergi kembali kekamarku...besok aja di bersihin dah capek banget aku gara-gara si usil tadi.
Suara kokok ayam jago membangunkan aku...segera kuambil wudhu dan sholat subuh...ibu dan kakak belum juga pulang dari rumah paman. apa karena hujan semalam makanya mereka memutuskan untuk menginap dirumah paman tapi apa mereka tak ingat aku ya..tega sekali mereka...
Aku menuju ke dapur..betapa terkejutnya aku ketika ku tahu dapur sudah rapi..tidak ada sisa keributan semalam..apa semalam aku mimpi ya... apa mungkin ibu sama kakak sudah pulang dan membereskan ini semua...apa makhuk itu yang beresin..entahlah..pagi ini aku laper sekali..males mikir apakah semalam cuma mimpi atau nyata adanya..aku lalu mulai mengolah apa yang ada aja dari pada aku semakin kelaparan.
"Gila lo, Jeng" Kata kakak ku saat aku menceritakan apa yang aku alami semalam
sejenak kakak melihat sekeliling ruangan sambil tangan kanannya mengusap lengan kirinya.
"Nyari apa?, makhuk itu tak akan muncul siang hari...kakak mau kenalan...?" kataku seenaknya.
"Kalau kakak jadi kamu...kaka pasti sudah pingsan...kamu ndak takut..?" kakaku seakan tak percaya dengan apa yang aku katakan...
"Kakak kan tau kalau aku takut..kadang aku malah lepas kendali kan, lha tiba-tiba muncul kayak gitu...aku jadi kaget...ya reflek aku pukul.." aku meletakan buku ku diatas meja...
"Ya ampun Jeng..jelas aja mereka muncul semaunya sendiri..emang orang apa kalau datang mesti permisi dulu" kakak tampak mulai dongkol.
"Hala paling itu juga orang usil aja yang mau nyuri di rumah ini makanya mereka bikin ulah kayak gitu...nyamar jadi setan" aku mamandang kakak yang sedang menggaruk kepalanya, mungkin ketombenya banyak...
"Kamu itu...lain kali hati-hati sama begituan...serem tau..."kakak ngeloyor begitu aja. Aku hanya angkat bahu dan melanjutkan lagi aksiku membaca....
Sudah beberapa hari rumah tenang tidak ada lagi usilan dari makhuk yang ndak jelas asalnya itu. Alhamdullilah dech...aman dunia ku dari gangguan syaiton ni rojim....heheheh...perlu dirayakan nich...aku pun melenggang dengan tenang kembali ke rumah.
Apa....rumah sepi lagi....ya ampun...heran dech mereka ...seneng banget ninggalin aku sendirian dirumah...tapi kali ini ada makanan sich...heheheh...lumayan buat semalam nanti sambil lemburan ngerjain tugas.
Sore mulai menjelang matahari sudah kembali ke peraduannya. Aku segera mengunci pintu dan menyalakan lampu. Asyiknya kalau tenang begini, aku bisa mengerjakan tugas dari sekolah dengan tenang...
Saat sedang asyik mengerjakan tugas tiba-tiba aku mendengar suara pintu dibanting begitu keras.
"Astagfirullah aladzim...!!"  aku hampir terlonjak daribkursi tempatku duduk...ya ampun...siapa sich yang mulai jahil kayak gini...bikin kaget aja...
Aku bangkit mencari sumber suara ternyata pintu dapur terbuka. Ah...mungkin tadi aku lupa menguncinya dan mungkin angin yang membuat pintu ini bersuara keras...pikirku. aku segera mengunci pintu dapur dan kembali ke kamarku. Baru saja aku hendak duduk tiba-tiba terdengar kembali suara pintu di banting...ya ampun...kenapa sich...bisa-bisa nanti pintuku rusak...aku bisa dimarahi ibu...kacau dach...bikin emosi aja ni orang. Aku segera keluar kamar mencari asal suara dan ternyata pintu dapur terbuka kembali...mungkin tadi aku kurang pas nguncinya.
Saat aku selesai membalikan badan kulihat sesosok makhuk berwarna hitam besar dengan mata merah melotot ke arahku.
"Apa lo liat-liat...melotot lagi..lo pikir cuma lo yang bisa melotot.."kataku sambil melotot kearahnya.
"Jadi lo yang mbanting pintu..apa lo kagak tau ulah lo bikin pintuku rusak..kenapa banting-mbanting pintuku..aku capek bolak-balik dari tadi. Tugasku banyak..dan sekarang lo masuk kerumahku tampa alas kaki dan bikin kotor..aku capek ngepel tau. Lihat dandanmu aneh...apa kagak gatal tu tubuhmu di cat hitam kayak gitu..pake tanduk lagi...tidak usah melotot..benci aku lihat matamu...sekarang pergi kalau tidak kubacain ayat kursi tambah gosong ntar tubuhmu...pergi..!!" teriaku dan wusss...makhuk itu hilang..tiba-tiba saja badanku berasa meleleh..aku terduduk..dalam hati aku terus membaca ayat kursi dan surat al fatihah.
Ya ampun...mungkin hantu kemarin pada ngadu sama bos nya kali ya jadi yang datang sekarang lebih gede daripada kemarin..jangan-jangan besok yang datang lebih aneh lagi dan jangan-jangan lebih gede daripada ini..nah...kalau gedenya sebesar dinosaurus bagaiman...pusing...Aku tak mau cerita sama kakak lagi..pasti kakak juga ndak bisa kasih solusi.. ah Ya Tuhan...bantu aku ya...aku tak mau kalah dari mereka..karena sebenarnya mereka tidak lebih baik dari aku..mereka cuma ingin menyesatkan aku dengan wujud mereka yang aneh..mereka ingin menakutiku tapi mereka tidak tau kalau saat akubtakut...aku bisa maki-maki orang semauku dan bahkan mukul orang semauku seperti kemarin. Beruntung hari ini aku tidak memukulnya, kalau sampai aku memukulnya dan dia terluka parah..bisa-bisa nanti aku dilaporkan ke kantor polisi..ya kalau dia benar-benar hantu tapi kalau dia orang kan pasti aku dapat masalah...dan berakhir di penjara. oh...tidak...
Aku berjalan lunglai kembali ke kamarku, aku berharap besok aku tidak akan bertemu makhuk aneh lagi agar tidak bertambah dosaku karena memaki dan mumukul orang....atau entah apalah tadi...aamiin