Sabtu, 27 September 2014

Gubuk Tua


Sudah lama Uci tidak main ke tempat ini, kerumah Eyang yang jauh dari keramaian dan tepencil. Karena tugas dari mama untuk menjenguk Eyang dan juga sekalian menyelesaikan tugas dari sekolah. Memaksanya datang kesini.
Kampung ini sungguh sepi, jarang ada anak muda yang seusia denganku, kebanyakan lulus sd sudah kerja jadi buruh di kota atau jadi TKW ke luar negeri. Hanya tersisa anak-anak kecil dan orang tua saja. SMA disini juga sangat jauh harus melewati sebuah bukit dan juga sungai yang lumayan lebarnya itu sebabnya mereka lebih suka menitipkan anak mereka ke saudara di kota atau malah tak jarang juga banyak yang putus sekolah. Setelah setengah hari berjalan akhirnya sampai juga Uci di rumah Eyang, sebuah kampung yang tersembunyi dari riuhnya keramaian kota dengan letak rumah yang masih agak berjauhan dan pohon-pohon berukuran besar yang masih menaungi tempat itu. Udara yang sejuk masih sangat terasa disitu,hembusan angin sepoi-sepoi dan suara burung yang berkicau di dahan pohon masih riuh terdengar, mereka saling bersautan seperti ingin mengabarkan sesuatu. Sejenak aku memandang ke depan, tepat di depanku sebuah rumah kecil berdiri tegak dengan halamannya yang luas dan bersih, dinding rumahnya yang masih terbuat dari anyaman bambu khas rumah di kampung pada umumnya.

Suasana terlihat sepi meski hari sudah siang, kemana penduduk kampung? ,anak-anakpun tak tampak bermain dijalanan. Suasana kali ini memang sedikit berbeda, ada apa ini?. "Maaf Mang...kemana orang-orang ya kok tumben sepi?" Tanya Uci pada seorang pemuda yang kebetulan lewat di depan rumah Eyang. Sesaat pemuda itu memandangnya dengan tatapan aneh dengan penuh selidik, sejenak Uci merasakan kengerian saat beradu pandang dengan pemuda itu. "Orang-orang pergi ke sungai, mereka menemukan mayat disana, sebaiknya kamu tidak keluyuran sendirian." Suara pemuda itu sedikit ketus, kemudian dia berlalu dari tempat itu tampa permisi.

Uci menyusuri jalanan setapak menuju ke sungai. Disana sudah ramai sekali, mereka tampaknya sedang mengerumuni sesuatu. Seorang ibu tampak menangis histeris, dia duduk di atas bebatuan sambil memanggil nama seseorang. Ada beberapa wanita yang mencoba menenangkannya, raut wajah mereka terlihat muram, beberapa orang tampak berbisik di belakang. Uci alihkan pandangan ke arah tepian sungai, sekilas dia melihat sesosok tubuh yang yang tergeletak kaku. Seluruh tubuhnya ditutupi daun pisang, sungai ini tak terlalu dalam malah menyusut dratis airnya saat musim kemarau sehingga tampak batu batuan besar disepanjang hamparan sungai. Uci masih bisa melihat sebuah tangan yang terlihat pucat, ada luka di pergelangan tangannya seperti bekas ikatan. Anehnya Uci tak melihat petugas kepolisian di tempat itu, padahal mungkin saja ini kasus pembunuhan. " Eyang itu siapa?," Uci mendekati Eyang yang sedari tadi berdiri agak jauh dari mayat itu. Dia tampak serius memperhatikan mayat itu hingga tak menyadari kehadirannya di tempat itu. " Oalah, kamu dah sampai to Nduk?, husst...dah...jangan dibahas disini. Pamali." Eyang mengajaku meninggalkan tempat itu.

Sepanjang perjalan Uci masih memikirkan mayat itu, seribu satu macam pertanyaan dan dugaan mulai muncul seperti sebuah rantai yang membangkitkan rasa penasarannya. " Minum dulu, Nduk" Eyang memberinya segelas minuman. "Tadi itu siapa Eyang, apa dia juga penduduk sini?" Uci tak dapat menahan lagi rasa penasarannya "Itu tadi murni, anak Pak Karjo. Rumahnya di ujung sana. Sudah 4 bulan Murni menghilang. Tak ada yang tau kemana perginya, sampai tadi ditemukan Karno yang kebetulan sedang memandikan sapinya di sungai," Eyang kelihatan sedih. Sejenak matanya kosong menatap ke depan, dia seperti teringat sesuatu. "Ada apa Eyang, apa yang Eyang pikirkan?" "Eh...ndak papa Nduk, kamu istirahat saja kamu pasti capek." Eyang mencoba mengalihkan perhatian Uci dari masalah ini.

Sejenak Uci terpaku, di urungkan niatnya untuk kedapur saat dilihatnya sesosok gadis tengah menyiapkan sarapan. Gerakannya begitu luwes seperti seorang penari, dia begitu cekatan melakukan pekerjaan ini. Uci memandangnya dengan penuh rasa kagum, gadis itu sangat manis. " Pagi Mbak Uci, sudah bangun Mbak?" Gadis itu menyapaku dengan senyumnya yang ramah. "Iya Mbak, maaf saya tidak bermaksud mengganggu Mbak. Saya cuma mau numpang lewat, mau kebelakang. Hehehe" Uci cuma bisa cengengesan, kaget juga ternyata gadis itu tau kalau sedang diperhatikan. Hidangan yang lezat terhidang di meja, secangkir kopi panas dan juga teh hangat, tapi kenapa cuma dua apa gadis itu tidak sarapan bersama kami. Apa dia malu , kemana perginya gadis itu. Uci masih diliputi rasa penasaran ketika sebuah tepukan halus dipundak mengejutkanku. "Jangan bengong, pagi-pagi kok sudah ngalamun, mikir apa to Nduk?," Eyang muncul dibelakangnya. "Ndak papa kok Eyang, cuma lagi mikir nanti mau nyari tanaman di mana?," Uci berbohong. Kebun Eyang lumayan luas. Banyak tanaman obat dan umbi-umbian yang ditanam di sini. " Nyari apa Mbak?," sebuah suara mengagetkan membuatnya terlonjak kebelakang. "Oalah...bikin kaget aja,hehehe...ini aku lagi nyari taneman buat tugas di sekolah" Uci melihat gadis itu sedang berdiri dibelakangnya sambil membawa ranting-ranting kayu yang diikatnya dengan pelepah pisang. " Eyang suka cerita soal mbak. Katanya mbak jago masak dan juga berani." Uci jadi tersipu karenanya, mereka berjabat tangan tapi Uci merasakan tangan Asih begitu dingin. "Kamu sudah lama memani Eyang, Sih?" "Iya Mbak. Sudah hampir 5 tahun, Eyang itu yang merawat aku mbak, membiyayai sekolahku dan juga yang mengajari aku." Uci hanya manggut-manggut saja.

Asih banyak membantu Uci, mereka slalu bersama dan bercerita banyak hal termasuk soal cowok. Besok Uci ingin ke hutan. Kata Asih disana ada bunga yang indah yang langka. Pagi yang berkabut membuat Uci enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Berlahan dia bangkit menuju kamar mandi. Air dingin yang membasahi tubuh terasa segar membuat kantuknya hilang. "Mau kemana Nduk pagi-pagi gini udah rapi?," tanya Eyang sambil menikmati singkong rebus di teras depan. "Mau kehutan Yang, Asih mau mengajak aku melihat bunga langka" kata Uci bersemangat. "Bunga langka?, bunga langka apa to nduk?. Trus kamu mau pergi sama siapa?" Tanya Eyang penuh selidik. "Sama Asih. Ayo Sih, keburu siang nanti." Uci menggandeng tangan Asih dan meninggalkan Eyang yang masih bengong diteras depan. Asih berjalan di depan, langkahnya begitu pasti. Tiba-tiba saja Asih berhenti dan bergegas bersembunyi di balik pohon besar dan tampa dikomando Uci mengikuti Asih meski dia tidak tau apa maksudnya. Dari tempatnya bersembunyi dia melihat seorang pemuda keluar dari sebuah gubuk. Aneh, siapa yang tinggal di tempat seperti ini, apa dia tidak takut tinggal sendirian di sini,pikir Uci. Dengan mengendap-endap Uci mendekati gubuk itu, pintunya tidak terkunci. Didalam tampak sebuah ranjang dan meja kecil. Di atas ranjang tampak 4 tali yang terikat di setiap sudut ranjang, ada juga robekan kain yang tergeletak di atas ranjang. Ada juga beberapa kain perempuan yang tergeletak di sudut rumah. Seketika bulu kudunya berdiri, ini lebih mirip rumah penyiksaan daripada tempat tinggal orang. Uci membalikan badan, hendak meninggalkan tempat itu ketika di belakangnya sudah berdiri sesosok lelaki muda. Wajahnya terlihat kaku, sorot matanya begitu dingin. Uci mundur beberapa langkah. "Kenapa kamu berani datang ketempatku, sungguh lancang." tidak ada expresi di wajahnya. Yang ternyata adalah Karno. Ditariknya Uci. Sekuat tenaga Uci melawannya, dia melempari Karno dengan apa saja yang ada di dekatnya. "Toloooong....tolong...!!!!" Uci mulai panik, Asih juga menghilang entah kemana. "Percuma kamu teriak, tak ada yang bakalan mendengar suaramu." Karno tampak begitu beringas, tenaganya begitu kuat. Uci berhasil menendangnya hingga membuatnya tersungkur ke belakang. "Tenagamu boleh juga, kamu pesis seperti Marni." Uci terlonjak kaget, bukankah Marni adalah gadis yang ditemukan meninggal disungai. "Kenapa kaget begitu, sebentar lagi kamu akan menyusulnya. Aku mencintainya tapi dia malah memilih untuk pergi ke kota daripada bersamaku. Aku menyekapnya disini, berkali-kali dia berusaha melarikan diri. Dan kemarin dia hampir berhasil melarikan diri tapi aku berhasil menangkapnya dan membenamkannya ke sungai." "Kamu sadis, tidak punya perasaan. Kamu ninggalin Marni begitu saja sesudah kamu menyiksanya." Hati Uci jadi panas juga. Diraihnya balok kayu yang tergeletak di bawah tempat tidur. Sekuat tenaga di ayunkan ke arah Karno tapi dia bisa menangkisnya dan menghempaskan Uci hingga tak sengaja paha gadis itu terkena sesuatu. Terasa perih dan panas di pahanya Belum sempat dia dapat menguasai keadaan, dirasakannya tarikan di rambutnya. Karno menyeretnya keranjang, Uci terus meronta, dia mencoba menggapai sesuatu akhirnya tangannya meraih sesuatu. Diayunkan benda itu ke kepala Karno saat dia sibuk berusaha mengikat tangannya. Kemarahannya semakin memuncak, darah mengalir di kepalan Karno. Di raihnya rambut Uci dan membenturkannya kelantai hingga membuatnya lemas. Sebelum dia bertindak lagi tubuhnya seperti ada yang menarik ke belakang, kadang keatas dan kesamping. Uci tak melihat siapapun di situ. Seperti dikomando semua benda melayang kearahnya. Hingga akhirnya tubuhnya terkulai dengan serpihan benda-yang menancap ditubuhya. Karno meleparkan sebuah pisau kearah Uci yang sedang pingsan. Pisau itu jatuh tepat dibawah tangan Uci. Dari jauh terdengar sayup-sayup suara penduduk memanggil namanya. Dibagikan dari Google Keep

Gubuk Tua


Sudah lama Uci tidak main ke tempat ini, kerumah Eyang yang jauh dari keramaian dan tepencil. Karena tugas dari mama untuk menjenguk Eyang dan juga sekalian menyelesaikan tugas dari sekolah. Memaksanya datang kesini. Kampung ini sungguh sepi, jarang ada anak muda yang seusia denganku, kebanyakan lulus sd sudah kerja jadi buruh di kota atau jadi TKW ke luar negeri. Hanya tersisa anak-anak kecil dan orang tua saja. SMA disini juga sangat jauh harus melewati sebuah bukit dan juga sungai yang lumayan lebarnya itu sebabnya mereka lebih suka menitipkan anak mereka ke saudara di kota atau malah tak jarang juga banyak yang putus sekolah. Setelah setengah hari berjalan akhirnya sampai juga Uci di rumah Eyang, sebuah kampung yang tersembunyi dari riuhnya keramaian kota dengan letak rumah yang masih agak berjauhan dan pohon-pohon berukuran besar yang masih menaungi tempat itu. Udara yang sejuk masih sangat terasa disitu,hembusan angin sepoi-sepoi dan suara burung yang berkicau di dahan pohon masih riuh terdengar, mereka saling bersautan seperti ingin mengabarkan sesuatu. Sejenak aku memandang ke depan, tepat di depanku sebuah rumah kecil berdiri tegak dengan halamannya yang luas dan bersih, dinding rumahnya yang masih terbuat dari anyaman bambu khas rumah di kampung pada umumnya. Suasana terlihat sepi meski hari sudah siang, kemana penduduk kampung? ,anak-anakpun tak tampak bermain dijalanan. Suasana kali ini memang sedikit berbeda, ada apa ini?. "Maaf Mang...kemana orang-orang ya kok tumben sepi?" Tanya Uci pada seorang pemuda yang kebetulan lewat di depan rumah Eyang. Sesaat pemuda itu memandangnya dengan tatapan aneh dengan penuh selidik, sejenak Uci merasakan kengerian saat beradu pandang dengan pemuda itu. "Orang-orang pergi ke sungai, mereka menemukan mayat disana, sebaiknya kamu tidak keluyuran sendirian." Suara pemuda itu sedikit ketus, kemudian dia berlalu dari tempat itu tampa permisi. Uci menyusuri jalanan setapak menuju ke sungai. Disana sudah ramai sekali, mereka tampaknya sedang mengerumuni sesuatu. Seorang ibu tampak menangis histeris, dia duduk di atas bebatuan sambil memanggil nama seseorang. Ada beberapa wanita yang mencoba menenangkannya, raut wajah mereka terlihat muram, beberapa orang tampak berbisik di belakang. Uci alihkan pandangan ke arah tepian sungai, sekilas dia melihat sesosok tubuh yang yang tergeletak kaku. Seluruh tubuhnya ditutupi daun pisang, sungai ini tak terlalu dalam malah menyusut dratis airnya saat musim kemarau sehingga tampak batu batuan besar disepanjang hamparan sungai. Uci masih bisa melihat sebuah tangan yang terlihat pucat, ada luka di pergelangan tangannya seperti bekas ikatan. Anehnya Uci tak melihat petugas kepolisian di tempat itu, padahal mungkin saja ini kasus pembunuhan. " Eyang itu siapa?," Uci mendekati Eyang yang sedari tadi berdiri agak jauh dari mayat itu. Dia tampak serius memperhatikan mayat itu hingga tak menyadari kehadirannya di tempat itu. " Oalah, kamu dah sampai to Nduk?, husst...dah...jangan dibahas disini. Pamali." Eyang mengajaku meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalan Uci masih memikirkan mayat itu, seribu satu macam pertanyaan dan dugaan mulai muncul seperti sebuah rantai yang membangkitkan rasa penasarannya. " Minum dulu, Nduk" Eyang memberinya segelas minuman. "Tadi itu siapa Eyang, apa dia juga penduduk sini?" Uci tak dapat menahan lagi rasa penasarannya "Itu tadi murni, anak Pak Karjo. Rumahnya di ujung sana. Sudah 4 bulan Murni menghilang. Tak ada yang tau kemana perginya, sampai tadi ditemukan Karno yang kebetulan sedang memandikan sapinya di sungai," Eyang kelihatan sedih. Sejenak matanya kosong menatap ke depan, dia seperti teringat sesuatu. "Ada apa Eyang, apa yang Eyang pikirkan?" "Eh...ndak papa Nduk, kamu istirahat saja kamu pasti capek." Eyang mencoba mengalihkan perhatian Uci dari masalah ini. Sejenak Uci terpaku, di urungkan niatnya untuk kedapur saat dilihatnya sesosok gadis tengah menyiapkan sarapan. Gerakannya begitu luwes seperti seorang penari, dia begitu cekatan melakukan pekerjaan ini. Uci memandangnya dengan penuh rasa kagum, gadis itu sangat manis. " Pagi Mbak Uci, sudah bangun Mbak?" Gadis itu menyapaku dengan senyumnya yang ramah. "Iya Mbak, maaf saya tidak bermaksud mengganggu Mbak. Saya cuma mau numpang lewat, mau kebelakang. Hehehe" Uci cuma bisa cengengesan, kaget juga ternyata gadis itu tau kalau sedang diperhatikan. Hidangan yang lezat terhidang di meja, secangkir kopi panas dan juga teh hangat, tapi kenapa cuma dua apa gadis itu tidak sarapan bersama kami. Apa dia malu , kemana perginya gadis itu. Uci masih diliputi rasa penasaran ketika sebuah tepukan halus dipundak mengejutkanku. "Jangan bengong, pagi-pagi kok sudah ngalamun, mikir apa to Nduk?," Eyang muncul dibelakangnya. "Ndak papa kok Eyang, cuma lagi mikir nanti mau nyari tanaman di mana?," Uci berbohong. Kebun Eyang lumayan luas. Banyak tanaman obat dan umbi-umbian yang ditanam di sini. " Nyari apa Mbak?," sebuah suara mengagetkan membuatnya terlonjak kebelakang. "Oalah...bikin kaget aja,hehehe...ini aku lagi nyari taneman buat tugas di sekolah" Uci melihat gadis itu sedang berdiri dibelakangnya sambil membawa ranting-ranting kayu yang diikatnya dengan pelepah pisang. " Eyang suka cerita soal mbak. Katanya mbak jago masak dan juga berani." Uci jadi tersipu karenanya, mereka berjabat tangan tapi Uci merasakan tangan Asih begitu dingin. "Kamu sudah lama memani Eyang, Sih?" "Iya Mbak. Sudah hampir 5 tahun, Eyang itu yang merawat aku mbak, membiyayai sekolahku dan juga yang mengajari aku." Uci hanya manggut-manggut saja. Asih banyak membantu Uci, mereka slalu bersama dan bercerita banyak hal termasuk soal cowok. Besok Uci ingin ke hutan. Kata Asih disana ada bunga yang indah yang langka. Pagi yang berkabut membuat Uci enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Berlahan dia bangkit menuju kamar mandi. Air dingin yang membasahi tubuh terasa segar membuat kantuknya hilang. "Mau kemana Nduk pagi-pagi gini udah rapi?," tanya Eyang sambil menikmati singkong rebus di teras depan. "Mau kehutan Yang, Asih mau mengajak aku melihat bunga langka" kata Uci bersemangat. "Bunga langka?, bunga langka apa to nduk?. Trus kamu mau pergi sama siapa?" Tanya Eyang penuh selidik. "Sama Asih. Ayo Sih, keburu siang nanti." Uci menggandeng tangan Asih dan meninggalkan Eyang yang masih bengong diteras depan. Asih berjalan di depan, langkahnya begitu pasti. Tiba-tiba saja Asih berhenti dan bergegas bersembunyi di balik pohon besar dan tampa dikomando Uci mengikuti Asih meski dia tidak tau apa maksudnya. Dari tempatnya bersembunyi dia melihat seorang pemuda keluar dari sebuah gubuk. Aneh, siapa yang tinggal di tempat seperti ini, apa dia tidak takut tinggal sendirian di sini,pikir Uci. Dengan mengendap-endap Uci mendekati gubuk itu, pintunya tidak terkunci. Didalam tampak sebuah ranjang dan meja kecil. Di atas ranjang tampak 4 tali yang terikat di setiap sudut ranjang, ada juga robekan kain yang tergeletak di atas ranjang. Ada juga beberapa kain perempuan yang tergeletak di sudut rumah. Seketika bulu kudunya berdiri, ini lebih mirip rumah penyiksaan daripada tempat tinggal orang. Uci membalikan badan, hendak meninggalkan tempat itu ketika di belakangnya sudah berdiri sesosok lelaki muda. Wajahnya terlihat kaku, sorot matanya begitu dingin. Uci mundur beberapa langkah. "Kenapa kamu berani datang ketempatku, sungguh lancang." tidak ada expresi di wajahnya. Yang ternyata adalah Karno. Ditariknya Uci. Sekuat tenaga Uci melawannya, dia melempari Karno dengan apa saja yang ada di dekatnya. "Toloooong....tolong...!!!!" Uci mulai panik, Asih juga menghilang entah kemana. "Percuma kamu teriak, tak ada yang bakalan mendengar suaramu." Karno tampak begitu beringas, tenaganya begitu kuat. Uci berhasil menendangnya hingga membuatnya tersungkur ke belakang. "Tenagamu boleh juga, kamu pesis seperti Marni." Uci terlonjak kaget, bukankah Marni adalah gadis yang ditemukan meninggal disungai. "Kenapa kaget begitu, sebentar lagi kamu akan menyusulnya. Aku mencintainya tapi dia malah memilih untuk pergi ke kota daripada bersamaku. Aku menyekapnya disini, berkali-kali dia berusaha melarikan diri. Dan kemarin dia hampir berhasil melarikan diri tapi aku berhasil menangkapnya dan membenamkannya ke sungai." "Kamu sadis, tidak punya perasaan. Kamu ninggalin Marni begitu saja sesudah kamu menyiksanya." Hati Uci jadi panas juga.
Diraihnya balok kayu yang tergeletak di bawah tempat tidur. Sekuat tenaga di ayunkan ke arah Karno tapi dia bisa menangkisnya dan menghempaskan Uci hingga tak sengaja paha gadis itu terkena sesuatu. Terasa perih dan panas di pahanya Belum sempat dia dapat menguasai keadaan, dirasakannya tarikan di rambutnya. Karno menyeretnya keranjang, Uci terus meronta, dia mencoba menggapai sesuatu akhirnya tangannya meraih sesuatu. Diayunkan benda itu ke kepala Karno saat dia sibuk berusaha mengikat tangannya. Kemarahannya semakin memuncak, darah mengalir di kepalan Karno. Di raihnya rambut Uci dan membenturkannya kelantai hingga membuatnya lemas.
Sebelum dia bertindak lagi tubuhnya seperti ada yang menarik ke belakang, kadang keatas dan kesamping. Uci tak melihat siapapun di situ. Seperti dikomando semua benda melayang kearahnya. Hingga akhirnya tubuhnya terkulai denan serpihan benda-yang menancap ditubuhya. Karno meleparkan sebuah pisau kearah Uci. Pisau itu jatuh tepat dibawah tangan Uci yang sedang pingsan.
Dari jauh terdengar sayup-sayup suara penduduk memanggil namanya. Dibagikan dari Google Keep

Tito Si Pengintai


Pagi yang indah membuat Tito bersemangat untuk menjelajahi hutan dan mengumpulkan makanan sebelum musim kemarau datang.

Tito terkenal baik hati dan ramah, dia suka membantu siapa saja bahkan dia tidak segan membagikan makananan yang didapatkan dengan teman-temannya.

Tito tinggal sendiri, kedua orang tuanya sudah meninggal saat hutan itu diserbu para pemburu. Bukan cuma orang tua Tito yang mati, tapi beberapa hewan juga menjadi korban. Ada yang mati dan ada juga yang tertangkap. Sejak saat itu Tito berjanji akan ikut berperang saat nanti pemburu datang lagi.

Pagi itu Tito mendengar suara menderu dari kejauhan. Sejenak dia menatap langit, langit tampak cerah tidak ada tanda-tanda bakalan hujan.
Pendengarannya yang tajam semakin menangkap suara menderu dan dengan lincah dia melompat dari satu pohon ke pohon yang lain mencoba mencari asal suara tadi, hingga akhirnya dia sampai ditepi hutan. Dari tempatnya dia bisa melihat sebuah benda mendekati hutan, suaranya menderu. Setelah suara menderu hilang munculah manusia dari dalam benda itu, jumlah mereka tidak begitu banyak dan mereka membawa benda panjang. Tito ingat betul benda itu yang membuat orang tuanya mati dan beberapa hewan lainnya mati.

Tito terus mengamati apa yang dilakukan manusia itu, ingin dia segera kembali ke hutan untuk memberi tahu raja hutan tapi niatnya ditahan, dia ingin mengetahui apa yang dilakukan manusia itu. Dengan hati-hati dia turun mendekati mereka dan mendengar semua pembicaraan mereka. Setelah dia mengetahui semua rencana manusia itu segera dia berlari kencang ke hutan mencari raja hutan.
" Raja hutan...Raja hutan...!!!" Tito memanggil raja hutan.
mendengar namanya di panggil raja hutan keluar dari guanya
"Kenapa kau lari seperti itu?" tanya raja hutan. Hewan-hewan lain yang mendengar suara teriakan Tito segera berkumpul di depan gua raja hutan. Mereka ingin tau apa yang sedang terjadi. Tito menceritakan semua yang dilihat dan didengarnya. Raja hutan mangut-mangut dia segera mengatur strategi untuk bisa mengalahkan pemburu-pemburu itu. Tito bertugas untuk mengawasi datangnya para pemburu. Semua anak binatang dikumpulkan di gua dan dijaga oleh beberapa ekor ular.

Semua jebakan sudah disiapkan, para binatang sudah menunggu di pos mereka masing-masing. Tito segera naik ke atas pohon paling tinggi, dari tempatnya bersembunyi dia bisa mengawasi semuanya.

Tak lama kemudian muncul para pemburu. Tito segera memberi tanda, Raja hutan yang mendengar tanda yang dikirim Tito segera memberi aba-aba pada pasukan binatang. Perang pun tak dapat dihindari. Banyak manusia yang terluka, ada yang jatuh dilubang, ketimpa pohon dan juga diserang pasukan lebah. mereka lari pontang-panting menyelamatkan diri.
Auman Raja Hutan membuat hutan itu bergetar. Para pemburu semakin lari menjauhi hutan. Hingga tak tampak lagi jejak mereka. Kemenangan ini disambut gembira oleh seluruh penghuni hutan.

Sejak saat itu hutan kembali damai. Tito diangkat menjadi panglima perang yang bertugas mengintai musuh dan Tito pun tersenyum bahagia mendapat gelar barunya.

Jumat, 26 September 2014

Ayam dan Elang


Pagi itu atahari bersinar terang. Seperti biasa, induk ayam membawa anak-anaknya ke luar mencari makan, mereka berjalan bersama hingga sampailah di suatu tempat yang lapang dan banyak ditumbuhi pohon-pohon besar.

"Nah, anak-anak mulailah mencari makanan dan bermain. Tapi ingat jangan jauh-jauh!" pesan induk ayam. Anak-anak ayam pun mulai berlarian kegirangan memutari tempat itu. Sesekali mereka mengorek tanah untuk mencari biji-biji tumbuhan.

Saat sedang melintasi sebuah pohon besar yang cukup rindang tiba-tiba induk ayam mendengar suara  cit-cit anak burung, karena penasaran induk ayam pun mencari asal suara itu. Hingga akhirnya dia menemukan seekor anak burung yang sedang tergeletak di atas rerumputan di bawah pohon, sayapnya terluka. 

Mungkin dia jatuh dari atas pohon sana saat akan belajar terbang, pikir induk ayam.
Induk ayam pun membawa anak burung itu ke kandangnya, dengan penuh kasih sayang berhari-hari dirawatnya anak burung itu hingga sembuh dan bisa terbang lagi.

"Aku akan membalas semua jasamu induk ayam, terima kasih sudah merawatku selama ini." kata anak burung. Berlahan dikepakan sayapnya dan diapun terbang kembali ke langit. Induk Ayam hanya tersenyum mendengarnya.

"Kembalilah ke tempatmu! Berhati-hatilah!" Induk Ayam melambaikan sayapnya. 

Pagi itu seperti biasa induk ayam membawa anak-anaknya mencari makan di bawah pohon. Anak-anak ayam mulai riuh bersuara. Mereka tampak bergembira. Saling berkejaran dan berlomba mencari makan. sesekali mereka mengepakkan saya mereka yang mungil dan belum sempurna.

Tampa mereka sadari tiba-tiba saja muncul seekor ular yang hendak memangsa anak-anak ayam. Karena panik induk ayam berlari kesana kemari sambil berkotek dengan suara yang nyaring. Anak-anak ayam pun berlarian tak tentu arah menyelamatkan diri. Semua berlari dengan cepat sambil mengepakkan sayap.

Pada saat ular itu hendak menyambar anak ayam, tiba-tiba muncul anak burung dan induknya. Dengan cepat mereka melesat dari udara menerjang ular itu tampa ampun. Mereka mematuk ular itu bergantian. Ular pun tidak tinggal diam, dia melawan sambil sesekali mendesis mengeluarkan racunnya. Pergulatan pun berlangsung segit, induk ayam mulai memanggil anak-anaknya. 

"Hutang budi balas budi!" kata anak burung saat berhasil melumpuhkan ular. Tubuh ular tercabik-cabik terkena paruh dan juga kuku burung yang tajam.

Kemudian dia kembali terbang ke udara bersama induknya sambil mencengkeram bangkai ular tadi. Induk ayam perlahan keluar dari persembunyiannya dan membawa anak-anaknya kembali ke kandang.

Doa Ayam Jantan


Beberapa hari ini ayam jantan tampak murung, dia memikirkan banyak hal. Dalam hatinya dia terus berdoa agar dia bisa berbicara pada langit.
Siang dan malam dia terus berdoa hingga akhirnya, karena ayam jago itu serius berdoa langit pun mendengar doanya.

"Apa yang kau mau Ayam?" Suara langit menggelegar, membuat si Ayam terkejut.

"Aku mau punya kelebihan yang berbeda dengan yang lainnya? Lihatlah gajah tubuhnya besar dan kuat, dia punya belalai yang bisa digunakan untuk mengangkat apa saja dan juga dia pandai bermain sirkus, singa juga punya banyak kelebihan, walaupun dia buas tapi banyak yang menyukainya bahkan dia punya kandang yang bagus, setiap hari dikunjungi orang banyak dan punya banyak makanan dan masih banyak lagi binatang yang punya kelebihan di bandingkan aku, sedangkan aku cuma berakhir di meja makan sebagai ayam bakar atau ayam goreng, " kata ayam jago sedih

"Lalu apa maumu?" tanya langit pada ayam jago."Aku ingin punya kelebihan seperti yang lainnya." pinta ayam jago kepada langit.

"Baiklah, aku memberimu kelebihan bisa melihat tanda munculnya matahari pagi. Tapi ingatlah, kelebihan yang kau miliki tak boleh kamu sombongkan. Pergunakan kelebihanmu untuk hal kebaikan." 

"Benarkah, Terima kasih Langit. Tentu saja aku akan mengingat pesanmu." kata ayam jago gembira hatinya.

Sejak saat itu Ayam jago selalu berkokok saat tanda fajar mulai menampakkan tandanya, ada pula yang mengatakan ayam jago berkokok saat melihat malaikat turun ke bumi. Ayam jago menepati janjinya dia tidak pongah meski punya kelebihan.

Kamis, 25 September 2014

Mona dan Bendon


Hamparan rumput hijau yang membentang seakan seperti surga bagi mona dan Bendon, dengan lahapnya mereka memakan rumput yang tampak segar itu.

Saat senja mulai merambah Marno membawa Mona dan Bendon kembali kekandangnya. Kedua kambing itu pulang dengan perut buncit karena kekenyangan.

Malam itu Marno kedatangan tamu. Mereka tampak asyik berbincang di ruang depan, sayup- sayup suara mereka mulai mendekat ke kandang.
"Wah gemuk-gemuk kambingmu ,Mar. Pas itu kalau buat kurban."  kata sutris sambil melongok ke dalam kandang. Bau asap rokok yang menyebar ke udara tercium hidung Bendon hingga membuat kambing itu terbangun. Bendon yang mendengar ada suara di depan kandang menengadahkan wajahnya, dia bangkit melihat keluar dilihatnya Marno dan Sutris sedang berbincang di luar kandang. Mereka tampak asyik berbincang soal hari qurban nanti. Sejenak dilihatnya mona yang tampak terlelap tidurnya,tampaknya dia tidak terpengaruh oleh suara diluar kandang. Bendon bernafas lega karena mona tidak mendengar pembicaraan diluar kandang.

Sejak malam itu Bendon agak gelisah, hari raya kurban tinggal beberapa hari saja. Dia agak lega ketika dilihatnya mona begitu tenang, tetap semangat menghabiskan rumput yang diberikan Marno. Tak terlihat sedikitpun rasa gelisah dan takut tergambar di wajahnya.
Mona menatap Bendon yang tampak murung, dilihatnya Bendon tak berselera makan hari ini, biasanya mulut kambing itu tak berhenti mengunyah tapi rumput yang disediakan Marno pun juga tak dihabiskannya. Mona sebenarnya juga tau kalau besok Marno akan menyeeahkannya ke masjid untuk dijadikan hewan kurban tapi dia tidak ingin kelihatan gelisah apalagi Bendo sampai tau hal ini, kenapa mesti takut jadi hewan Qurban bukankah balasannya adalah surga,pikir mona.

Pagi itu Marno tampak semangat sekali, dia memasuki kandang dengan senyum sumringah. Dia membawa Mona ke padang rumput seperti biasanya dan meninggalkannya di sana sementara dia akan mengantar bendon ke masjid kampung sebelah karena bendon sudah di pesan Haji Somad,
"Mon...hari ini kamu harus makan yang banyak ya, kamu harus sehat dan segar." Marno membelai Mona dan mengikatnya kuat-kuat.

Setelah  Marno pergi membawa Mona  tinggalah Bendon sendirian di kandangnya. Bendon pun menulis pesan untuk Mona di kandang mereka," Mona sayang...kamu harus sehat, makan yang banyak ya. Kita akan bertemu di surga nanti."  Baru beberapa saat Bendon selesai menuis pesannya Marno masuk ke dalam kandang dan membawanya pergi.

Hari ini hari kurban. Sepanjang jalan Bendon berharap Mona akan membaca pesannya saat dia masuk ke kandang, Bendon tidak tau kalau Mona juga masuk dalam daftar hewan kurban hari ini. Harapannya dia akan bertemu mona si kambing betina di surga nanti.

Janji Kodok Pada Langit


Kemarau panjang tahun ini membuat semua makhuk bersedih dan kesusahan termasuk kodok dan ikan sahabatnya. Air kolam sudah mulai menyusut  dan keruh bahkan di berbagai tempat mulai kekeringan hingga mengakibatkan ikan banyak yang mati karena kekurangan air.

Banyak hewan yang mukai berpindah tempat untuk mencari sumber air baru untuk kelangsungan koloni mereka. Manusiapun juga kekurangan air, sumur-sumur mulai mengering airnya dan sungaipun mulai menyusut. Banyak tanaman yang kering dan mati, hewan ternakpun kekurangan makanan air. Rumput yang hijau kini sudah menjadi kering, hanya tersisa tanah-tanah yang mulai gersang dan pecah.

Kini yang tersisa hanya sebuah kolam kecil yang muai menyusut airnya dan keruh. Kodok yang tak tega melihat sahabatnya bersedih, berdoa kepada langit. Ditatapnya langit yang tampak biru itu. Berhari- hari kodok terus berdoa tampa lelah. Mendengar doa Kodok yang begitu tulus langitpun berkata
"Kodok apa yang kau inginkan dariku?",
"Aku hanya ingin hujan, turunkanlah hujanmu langit, jika tidak semua makhuk hidup disini akan mati" pinta kodok sungguh-sungguh
"Lalu apa yang akan kau berikan padaku sebagai balasan jika aku menurunkan hujan."
Kodok menatap langit,"Apapun yang kau minta akan aku berikan"
"baiklah kalau begitu, Kau harus berjanji akan mengajak seluruh bangsamu untuk bernyanyi setiap kali aku menurunkan hujan." Kodok pun mengangguk tanda setuju.
"Baiklah lagit aku terima syaratmu, turunkanlah airmu agar makhuk di bumi ini bisa hidup dan tanaman tumbuh kembali." kata kodok denga mantab

Tak berapa lama langit berubah menjadi gelap, angin melui menghembuskan hawa dinginnya. Suara petir pun mulai menyambar-nyambar. Kodok memandang ke langit, tak berapa lama turunlah tetesan air hingga makin lama makin lebat. Kodok pun mulai mengabarkan kegembiraan ini dan disambut oleh kodok yang lainnya. Mereka saling bersautan menyebarkan kegembiraan ini pada seluruh bangsa mereka.

Dan sejak saat itu setiap kali hujan turun kodok selalu mengajak bangsanya untuk menari dan bernyanyi sebagai rasa terima kasih kepada langit atas hujan yang diberikan langit pada bumi iniP

Semut dan Rayap

Semut dan Rayab tinggal di tempat di tempat yang sama tetapi berbeda letaknya. Di sebuah pohon yang rindang, semut tinggal di dalam tanah dibawah pohon sedangkan rayap tinggal didalam kulit pohon. Rayap yang tinggal dibawah kulit pohon membuat kulit pohon menjadi kering dan mudah terkelupas.
Tapi semut sangat sombong, mereka selalu berceloteh bahwa mereka lebih hebat daripada rayab yang cuma bisa bersembunyi didalam kulit pohon karena semut punya racun yang bisa membuat orang yang terkena gigitan menjadi bentol dan lecet.
Suatu hari tampak seorang anak sedang bermain dibawah itu, sejenak keasyikannya terhenti ketika dia melihat Rayap yang sedang berbaris keluar masuk lubang melihat bentuk rayap yang mungil dan lucu itu membuat niat usilnya timbul dikupasnya kulit  yang sudah mulai mengering itu hingga terlihat barisan rayap yang semula rapi kini malah jadi kocar kacir. Bocah itu tertawa puas melihat pasukan rayap saling bertabrakan kembali ke lubangnya. Tangannya mengambil ranting yang jatuh dan mulai mengorek-orek batang pohon itu hingga membuat pasukan rayab banyak yang mati.
Melihat kejadian itu semut yang berada dibawahnya tertawa terbahak-bahak hingga muncul niatnya untuk membuat si Rayap berhutang budi padanya maka di kerahkan pasukan semut untuk mendekati kaki bocah itu.
Si bocah yang begitu asyik bermain tak menyadari pasukan semut yang kini merayap mendekati kakinya dan secara serentak pasukan semut menggigit kaki anak tadi kuat-kuat hingga menangis dan meloncat-loncat kesakitan. Mendengar tangisan anaknya si ibu keluar dan diinjaknya semut-semut itu hingga mati tak tersisa sungguh suatu kesombongan yang berbuah malapetaka dan rayap pun hanya berani mengintip dari balik sarang mereka.

Senin, 22 September 2014

Mbah Jum


Harta pasti akan terus diburu dengan cara apapun dan bagaimanapun. Tak peduli halal dan haram.
Ardi masih duduk diteras depan rumahnya, pikirannya masih memikirkan perkataaan ayahnya.
"Sebentar lagi kamu bisa sekolah,Di."
Ada kegalauan dihatinya. Dari mana ayahnya mendapatkan uang untuk biaya sedangkan hasil dari kebun saja tak seberapa. Ardi lebih suka membantu dikebun daripada melihat orang tuanya kalang kabut mencari pinjaman.
Sudah beberapa hari ini Ardi melihat Ayahnya bertingkah aneh sering sembunyi-bunyi menerima telephon.Tak jarang sering keluar hingga larut malam,menjadi lebih tertutup san suka melamun.

Ardi sering melihat Ayahnya mandi kembang pada malam-malam tertentu bahkan kadang sering memakai wewangian yang aneh baunya, sering juga nyepi di kamar kosong.
Ardi mulai jengah, ingin rasanya dia menegur ayahnya tapi ibunya selalu melarangnya. Naluri nya tidak membenarkan apa yang dilihatnya saat ini.

Pagi itu Ayahnya pamitan, dia tampak begitu serius dan tampak terburu-buru. Dia hanya membawa tas kecil. Diam-diam Ardi mengikuti Ayahnya. Perasaannya tidak tenang, apalagi ayahnya pergi sendirian tampa mengatakan kemana tujuannya.

Tempat itu begitu sepi,tidak terlihat orang yang lalu lalang ditempat itu. Ardi merasa heran, kenapa Ayahnya pergi ketempat ini dan juga kenapa Ayahnya begitu tertutup, siapa yang ditemui Ayahnya hari ini? ,begitu pentingkah orang ini, pikir Ardi.
Tak berapa lama muncul seorang lelaki paruh baya memakai pakaian serba hitam dan ikat kepala hitam. Dia membawa tas dari ayaman daun pandan. Wajahnya sedikit tirus dan keriput mulai tampak raut wajahnya tapi badannya masih terlihat kekar meski sedikit kurus.

Dia mbah Jum, penduduk sekitar menyebutnya sebagai dukun pengganda uang. Banyak yang datang kerumah Mbah jum tapi Mereka tak pernah kelihatan lagi. Kata Mbah Jum mereka hanya boleh datang sekali saja karena itu sudah syarat mutlaknya dan kata Mbah Jum dia selalu berhasil membantu mereka tapi tetap ada ritual yang harus mereka jalanin. kalau sampai gagal mereka akan terkena murka penunggu harta mereka. Mbah Jum selalu berhasil menyakinkan semua orang yang datang padanya, raut wajanya yang selalu tampak serius dan tampa senyum membuat orang yang datang ketempatnya yakin dengan kesaktiannya. Apalagi kata penduduk sekitar Mbah Jum senang bertapa berhari-hari di lereng gunung dan juga di hutan yang terkenal angker karena penduduk sering mendengar jeritan orang dari tempat itu.
Kadang ada penduduk yang penasaran dengan suara jeritan itu tapi mereka tidak menemukan apa-apa selain kengerian yang menyelimuti tempat itu, tak jarang juga ada yang kesurupan selepas keluar dari hutan itu.

Ardi terus mengikuti gerak-gerik mereka, perasaanya diliputi rasa kecemasan yang mendalam. Diam -diam dia mengikuti Ayahnya, dia menjaga jarak dari keduanya agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Tak berapa lama mereka sampai di sebuah tempat yang tersembunyi, hanya ada semak belukar dan juga pohon pohon besar disitu. Sinar mataharipun terhalang oleh rimbunnya pepohonan yang menaungi tempat itu. Mbah Jum menyuruh Ayah Ardi untuk duduk bersila kemudian dia memercikan air dalam botol yang dikeluarkannya dari dalam tasnya. Mulutnya tampak komat-membaca sesuatu, matanya terpejam dan raut mukanya tampak begitu serius. Tampa di duga Mbah jum mengayunkan sebuah batu hingga tepat mengenai kepala Ayah Ardi. Ardi terlonjak kaget dia membekap mulutnya agar tak terdengar teriakannya. Mbah jum  menyeret tubuh Ayah Ardi menuju semak-semak. Disana sudah terdapat sebuah cangkul dan juga peti panjang yang terbuat dari kayu ala kadarnya, tak jauh dari tempat itu tampak tanah yang sudah digali. Ardi mulai mengira-ira, mungkin disinilah dia mengexsekusi semua orang yang datang padanya. Itu sebabnya dia selalu bilang mereka hanya datang sekali dan tak pernah kembali lagi. Mungkin benar, mereka tak pernah kembali lagi bahkan kembali pada keluarganya.
Ardi berjalan berlahan mendekati Mbah jum yang sibuk mengurusi peti kayunya dan tampa ampun lagi dia menghatam tubuh Mbah Jum hingga jatuh terjerebak kedalam peti. Bergegas ditutupnya peti itu, tanggannya tampak gemetar, jantungnya terpompa cepat. Keringat dingin mulai membanjiri tububnya, perlahan didorongnya peti itu hingga jatuh ke lobang dan menimbunnya dengan tanah.

Ardi membawa ayahnya meninggalkan hutan itu, tak dihiraukannya tubuhnya yang kotor dan lusuh. Dia bergegas cepat karena senja mulai menampakan sinarnya. Sejak saat itu Mbah Jum tidak terlihat lagi, ada yang bilang dia lagi bersemedi di hutan, ada juga yang bilang dia sedang ke alam lelembut bahkan ada yang bilang mereka melihat Mbah Jum dikota tempat Ardi tinggal. Dan suara jeritanpun masih sering terdengar di hutan itu.

Jumat, 19 September 2014

Ningsih dan Ningsih


 Sudah sebulan Ruri tinggal di rumah kos itu. Rumah kos dengan 21 kamar yang saling membelakangi dan sebuah taman yang memanjang di bagian tengahnya. Banyak sudah teman yang didapat Ruri di situ. semua penghuninya cewek dan kebanyakan  mahasiswa.

Hari ini agenda utama Ruri adalah mencuci. Cucianya dah segunung, sudah tidak muat lagi dikeranjang.

Ruri membawa ember yang penuh dengan cucian ke loteng. loteng itu memang diperuntukan khusus untuk tempat mencuci.
Sesampai diatas Ruri melihat sesosok gadis yang sedang asik menjemur baju.
"Dah selesai mbak Ning?", tanya ruri pada gadis itu, gadis itu hanya diam dan berlalu. Ruri memandang kepergiaan gadis itu dengan tatapan aneh.
sesampai dibawah Ruri meletakkan embernya di pojok kamarnya. Pandangannya beralih pada sesosok gadis yang baru saja memasuki rumah kost itu.
"Dari mana mbak?," tanya Ruri.
"dari pasar mbak, habis diajak ibu belanja", jawab gadis itu yang tak lain adalah Ningsih.
"Bukannya mbak tadi habis nyuci di diatas?", tanya Ruri penuh selidik.
"yo ndak mungkin to mba, aku baru nyampai dari pasar tu?", jawab Ningsih mencoba meyakinkan Ruri.
"lha trus yang tadi diatas sapa nu?", tanya  Ruri yang dibalas gelengan kepala oleh Ningsih.
Ruri beranjak kembali kekamarnya tp langkahnya terhenti ketika dilihatnya sesosok tubuh mirip ningsih yang sedang mengepel lantai di ujung lorong, berbegas Ruri membalikan badannya meninggalkan tempat itu.

Malam minggu terasa sepi, banyak penghuni kost yang memilih untuk pulang. Hanya tinggal Serly, Ningsih dan Ruri yang masih di kost.
"Nasib jomblo nich hehehe",kata serly sambil tergelak.
"Kamu ndak pulang Ser?", tanya Ruri.
"Ndak Ri, banyak tugas. Aku balik kamar dulu ya",pamit Serly.
"Met bertapa Ser, sukses ya", kata Ruri.
Ruri menoleh kearah Ningsih dan gadis itu kini ada dua. Bergegas Ruri meninggalkan tempat itu,diurungkan niatnya untuk belajar malam itu. Dikunci rapat kamarnya dan tak dihiraukannya ketukan di pintunya, diapun bersembunyi di bawah selimut.
ditutupnya rapat-rapat telinganya, teleponnya terus saja berdering meski tanpa batrey. Ingatan Ruri kembali pada ucapan bu kost pagi ini.
"Ningsih itu sebenarnya punya kembaran namanya Ningrum tapi sudah meninggal dan kemanapun mereka pergi, mereka selalu bersama. Ningrum tenggelam sewaktu mereka berenang di danau dan sampai sekarang tak pernah ditemukan jasadnya. Orang tua mereka meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan, itulah sebabnya Ibu membawa Ningsih kemari untuk membantu ibu disini."

Ruri merasa malam ini teramat panjang,baru sejenak dia merasakan keheningan tiba-tiba terdengar suara kardus yang diseret. Ruri menutup telinganya rapat-rapat. Dia semakin merapatkan selimutnya dan Ruri merasakan hentakan keras dari bawah tempat tidurnya,bukan hanya sekali tapi berkali-kali hingga membuatnya hampir terjatuh dari tempat tidur dan tiba-tiba Ruri merasakan seperti ada yang menarik selimutnya dan  menyeretnya menuju sebuah pintu.

 Sekuat tenaga Ruri berteriak dan meronta tapi usahanya sia-sia, seperti ada ribuan tangan yang menariknya menjauh dari tempatnya semula dan dari jauh dilihatnya seorang gadis mirip dirinya tengah duduk bercanda dengan Ningsih. Sekilas kedua gadis itu melihat kearahnya sambil tersenyum pandangan mereka seolah mengejeknya sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan Ruri yang semakin terseret jauh meninggalkan dunianya.

Dyahaprir@gmail.com

Dibagikan dari Google Keep