Aku sampai di halaman sebuah rumah yang menurutku lebih mirip seperti kasti. Halaman yang luas dan ditumbuhi rumput yang hijau dan tersusun rapi, beberapa pohon besar tampak mengelilingi rumah itu. Rumah itu berdiri dengan kokoh meski gaya bangunan yang sudah kuno tapi tetap terlihat menarik. Pintu yang besar dan jendela yang tinggi serta selalu tertutup rapat semakin menambah kesan seram pada tempat itu.Saat aku memasuki rumah itu hawa dingin segera menyergapku, membuat bulu kuduku berdiri. Perasaan aneh mulai menjalari hatiku serasa setiap sudut rumah ini punya seribu mata yang selalu mengawasi setiap gerak-gerik ku disini.
"Rum..nenek antar kamu ke kamarmu..." Suara nenek membuyarkan lamunanku
"Ya, Nek" aku mengikuti nenek menuju kesebuah lorong yang tidak begitu panjang, ada beberapa kamar disana dan tampa sengaja aku melihat sebuah ruangan yang di penuhi dengan buku-buku yang tertata rapi. Apa itu perpustakaannya ya?, asyik...aku senang kalau bisa menghabiskan waktu membaca diruangan itu.
"Nah...ini kamarmu.." Kami berhenti di depan sebuah kamar yang tidak terlalu besar tapi terlihat nyaman dan tertata rapi...
"Kamu istirahat dulu...Nenek ada urusan sebentar..ingat jangan kemana-mana." pesan nenek sebelum melangkah pergi. Aku meletakan koperku di depan almari..kamar ini tampak indah ..aku membuka jendelaku...angin menyeruak masuk saat aku membuka jendelaku...segar banget...dari kamarku aku bisa melihat hamparan kebun buah yang tak jauh dari rumah ini..aku merebahkan tubuhku di ranjang...empuk dan dingin...mungkin sudah lama kamar ini tidak di pakai. Sesaat aku memejamkan mataku... lelah ini menyerangku..mungkin karena perjalanan yang melelahkan. Hembusan angin lembut menerpa wajahku tapi anehnya aku merasa hembusan angin itu berbeda...begitu dekat..dan aku seperti mencium aroma yang berbeda... aku membuka mataku dan kulihat kamarku sepi..ah...mungkin hanya perasaanku saja. aku memejamkan lagi mataku...
Sore mulai menjelang, aku menemui nenek di ruang depan.. sepi...kemana semua orang..apa selalu seperti ini rumah ini...sepi..tidak ada manusianya ya...
"Rum...." sebuah suara mengagetkanku. Seorang pemuda tampak berdiri di dekat pintu. wajahnya tampak dingin dan pucat..apa dia sakit.. dia tersenyum samar padaku..
"Nenek belum pulang...mungkin besok baru pulang..ia meningalkan ini untukmu" katanya sambil memberikan sebuah catatan padaku dan berlalu pergi tampa menoleh padaku
Pagi yang indah dan sedikit berkabut karena hujan yangbturun semalam cukup deras segera aku mandi dan berganti baju...jangan sampai kesiangan.. hari ini aku harus bantu kerja membersihkan ruang tengah..segera aku mencari alat-alat yang kubuhku..setelah semua siap aku menutup mataku sesaat, aku mulai konsentrasi dan tak lama kemudian alat-alat itu bergerak sendiri. aku membuka mataku perlahan dan tersenyum ketika semua alat bergerak melakukan tugasnya. Aku mengambil lap, aku melihat lampu gantung di atasku tampak mulai berdebu. Aku menutup mataku dan perlahan tubuhku terasa ringan hingga aku bisa menyentuh lampu. debu yang menempel membuatku batuk.
"Rum..lagi ngapain?" sebuah suara mengagetkanku..membuat kosentrasiku buyar dan jatuh ke bawah..tapi sebelum menyentuh ke lantai aku merasa ada yang menahanku. Pemuda itu menangkap tubuhku sesaat aku memandang wajahnya, matanya begitu teduh dan senyumnya manis, aku jadi gugup karenanya..buru-buru aku turun dari gendongannya.
"Maaf..." gugup juga jadinya...moga dia tidak melihat wajahku yang sudah berubah kini..
Dapur hari ini tampak ramai...sepertinya akan ada acara..
"Non Arum dikamar saja...kami akan mengantar makanan non ke kamar" kata seorang pelayan saat aku memasuki dapur.
"Tapi aku ingin membantu.."
"Maaf non...ini perintah den Ardi..kami bisa kena marah kalau non masih disini.." kata pelayan itu tampak ketakutan. Aku segera berlalu dari tempat itu ...ah...bete...kenapa aku tidak boleh ngapa-ngapain...beteee....
Aku melangkah kembali kekamarku tapi langkahku terhenti di depan ruang perpustakaan. Barisan buku yang berjajar rapi seakan mengundangku untuk menjelajahinya..berlahan aku mulai menjelahinya...banyak buku yang tidak ku ketahui judul nya karena divtulis dalam bahasa yang berbeda dengan simbol-simbol yang aneh buatku. Pandanganku tertuju bapabsebuah buku besar bersampul merah ku pejamkan mataku sesaat dan aku berhasil meraihnya..
"itu silsilah keluarga ini" suara seorang laki-laki mengagetkanku membuatku terkejut dan melunjur turun..
"Kamu senang sekali jatuh..." Senyumnya twrlihat mencibir...
"Kenapa selalu muncul mendadak...bikin terkejut.." kataku sambil turun dari dekapannya. Aku beranjak berlalu dari depannya tapi dia menariku kepelukannya
"Kenapa kamu tidak mengindahkan laranganku...aku menyuuhmu untuk tetap dikamarkan?.." suaranya mendesah di telingaku.. jantungku berdegup kencang karenanya. dia memandangku sendu..
"Pergilah ke kamarmu..jangan pernah keluar kamar kecuali aku yang mengijinkanmu"
Tampa disuruh dua kali aku segera berlalu dari ruang perpustakaan dan berlaribke kamarku. Dia sesalu berhasil membuatku mati kutu..
Sebegitu pentingkah pertemuan ini hingga aku tidak diperbolehkan keluar... suara musik mulai mengalun..musik klasik yang sering ku dengar di film-film saat vampir mengadakan pertemuannya. Apakah mereka vampir?...Aku teringat Ardi begitu dingin, pucat..gerakannya cepat dan juga kuat..apakah dia juga termasuk vampir?...aku semakin penasaran...dan tak bisa kutahan lagi..aku akan mengintip mereka dari pohon saja.... aku menuju ke jendela dan begitu terkejutnya aku ketika seorang gadis muncul di jendela..gadis itu berwajah cantik, berkulit putih dan berwrna hitam...ada dua taring kecil yang menyembul di barisan giginya.
"Benar kata Ardi...kamu memang tidak bisa diam ya" dia tersenyum padaku.
"Kamu siapa?" aku menatap gadis itu...gerakannya lincah. dia sudah berada dikamarku...
"Aku Eve...adik Ardi..."
Sekilas aku meluhatnya..tidak mirip...hanya warna rambut mereka yang sama..
"Kenapa...kau takut padaku?." dia begitu tenang..perlahan mendekatiku...aku beringsut mundur.
"Eve...orang-orang mencarimu...turunlah.." Sebuah suara mengagetkanku..aku hapal banget itu suara siapa..
"Jaga kelincimu, Di...atau yang lain akan terpancing untuk kesini..."katanya sambil melesat keluar kamarku.
Ardi memandangku, ada sedikit kemarahan di sana...aku beringsut mundur.. tapi secepat kilat dia sudah ada di dekatku..
"Tutup jendela mu...malam ini aku tak bisa menjagamu disini" suara desahanya begitu terasa di telingaku...apabmaksudnya menjagaku disini..apa setiap malam dia disini..apa dia tidur disini bersamaku...oh...ya Tuhan..pantas aku measa ada yang memperhatikanku aku segera menutup jendelaku rapatrapat. dibawah suara musik masih mengalun dan suasana makin riuh...
Pagi menjelang...badanku tiba-tiba terasa panas bukan main...apa yangbterjadi...panas ini seakan membakar tubuh...aku berlari kekamar mandi dan membenamkan tubuhku dalam-dalam untuk menghilangkan panas ini...tapi panas ini seakan tak mau reda tapi malah menjadi membuatku semakin panik...disaat ritulah aku merasa ada yang menarik tubuhku dari dalam air...
"Lakukan sekarang, Di..racunnya akan segwra menyebar" itu suara Eve...apa yang terjadi padaku...apa maksudnya..kenapa tubuhku terasa terbakar..
"Cari nenek dan beritahu apa yang terjadi...aku akan urus dia..." suara Ardi terdengar berbeda kali ini...Panas ini tak tertahan lagi.. aku menghempaskan tubuh Ardi begitu keras..hingga tubuhnya jaruh menghatam almari...secepat kilat aku keluar menerobos jendela...aneh sekali...kurasakan tubuhku sangat ringan...aku bahkan bisa mendengar desiran angin dan deburan ombak...bahkan aku juga bisa mendengar riuhnya suara..bahkan kini aku bisa melihat Ardi yang mengikuti dari belakang. Aku masih bertengger diatas pohon kerika ku dengar suara yang membuatku begitu tertarik ingin tahu..
"Jadi kau berhasil mendapatkannya...." Seorang pemuda tampak sedang duduk bersama seorang pemuda yang sedang bersandar pada sebuah pohon...
"Benar Evan..kau tau...darahnya begitu menggoda.." pemuda itu tampak begitu puas..
"Akhirnya kelinci itu lepas dari pengawasan Ardi...hahahah...pasti sekarang dia kalang kabut mengurusi kelincinya...hahahah" Suara tawa pemuda itu begitu menyiksaku...aku tak bisa mengendalikan diri lagi...aku menghamtam pemuda itu...dia terjungkal.
Dia tampak terkejut ketika melihatku..Ardi pun muncul di belakangku...aku menghampiri pemuda itu dengan segenap kemarahan yang aku aku punya.. aku mencekik pemuda itu...sekuat tenaga di berusaha melepaskan diri...tapi aku bisa membaca semua gerakannya dan juga pikirannya..saat ini yang ingin aku lakukan adalah melampiaskan segala kemarahanku yang tak terbendung lagi...aku membenturkan pemuda itu pada sebuah pohon yang cukup besar... dia hendak mengelak tapi terlambat...kemampuanku mengunci kekuatan membuat dia tak mampu bergerak lagi...membuat dia kaku..aku mencekiknya hingga tubuhnya mentok bersandar pada sebuah pohon..
"Aku ingin..kamu terbakar...seperti aku saat ini..hangus....tampa sisa...."Aku tak bisa menahan lagi..seperti ada aliran panas di telapak tangnku...aku menekan tubuhnya di pohon...dia tidak bisa lagi bergerak dan api pun mulai menjalar di sekujur tubuhnya..api yang berwana biru ke merahan itu membungkus tubuhnya hingga tubuhnya tak terlihat lagi..
Ardi dan pemuda itu terkejut..mereka tidak menyangka akan melihat pemandangan sepwrti ini..
"Sekarang giliranmu..." pandanganku beralih pada pemuda itu. Dia nampak ketakutan.
"Rum...sudah...hentikan.." Ardi menahan tubuhku..
"Pergilah..dan jangan pernah menampakan wajahmu lagi disini.." hardik Ardi pada pemuda itu...dan secepat pemuda itu pergi..
"Sudah..hentikan rum...!"" Dia berusah menahanku tapi rasa kesalku tak jua hilang..
Aku mendorong tubuhnya hingga jatuh..aku sudah meloncat mengejar pemuda itu ketika Ardi menangkap tubuhku..kami bergulingan ditanah...nafasku masih memburu..rasa marah ini tak bisa kutahan..Ardi mencekal tanganku..
"Maaf...tak ada jalan lain..." katanya sesaat sebelum dia menghisap lukaku..saat itu juga aku merasa panas di tubuhku berkurang...dan membuatku jadi lemas..
Saat terbangun aku sudah ada dikamarku..apa yang sudah kulakukan tadi...aku tak bisa mengerti kenapa kemaranaku begitu sulit aku kendalikan...
"Sudah bangun,Rum" Ardi sudah ada di sebelahku berbalut selimut..aku masih belum ngeh dengan apa yang terjadi sekarang..
"Semalam...tubuhmu mulai memanas lagi..jadi terpaksa aku mendinginkanmu..kau hampir membakarku.."Katanya tenang sambil mengenakan piyama nya.. ya ampun...aku menutupi wajahku..tak sanggup menahan malu...
"Semalam kau luar biasa..." desahannya terdengar jelas di telingaku...
"Aaa......" aku membuka selimutku mencari sosoknya..tapi dia sudah tidak ada ...dasar...vampir jelek..
Semua anggota keluarga sudah berkumpul..Nenek,Eve, Ardi..Dan juga seorang pria yang umurnya tak jauh beda dengan Ardi..
"Rum...nenek sangat menyesal dengan apa yang terjadi...sebenarnya bukan ini yang nenek inginkan..tapi bagaimanapun juga kami harus memberitahukan ini padamu.." Nenek mendesah pelan..
"Sudah waktunya kamu mengenal siapa dirimu sebenarnya..kamu anak Alfa..paman Ardi..memang benar ibumu adalah manusia...ibumu meninggal saat melahirkanmu dan untuk menjagamu kami menitipkanmu di panti...itu untuk melindungimu dari vampir hitam..kami memang vampir..tapi kami tidak membunuh manusia, Rum. Dari dulu ayahmu ingin sekali mengambilmu dari panti..karena nenek tidak mau hal itu malah akan membahayakanmi..maka nenek menyuruh Ardi untuk mengawasimu sejak kamu masih kecil dan memberitahu kepada kami perkembanganmu setiap waktu..." nenek menatap Ardi pelan..dan dibalas anggukan kepala oleh Ardi..nenek hanya menbalas dwngan helaan nafas..
"Sekarang...semua sudah terjadi..tampaknya kalian berdua memang tidak bisa dipisahkan..sekarang terserah ayahmu..."
Lelaki yang dari tadi diam perlahan mengampiriku...
"Ayah tidak bisa berbuat apa-apa lagi..selama ini Ardi adalah guru dan juga pelindungmu..jadi ayah akan serahkan akamu padanya..seridaknya kamu akan aman bersamanya.." kata lelaki itu sambil membelai rambutku..aku menatapnya...Dia masih tampan..dan benarkah dia ayahku...entahlah..kami begitu mirip...
"Oya...aku harus mengajari dia mengendaliakan amarahnya..dan juga kendalikan juga hobinya yang suka melayang di rumah ini...atau dia akan membuat para pelayan semakin panik..." Kata Eve sambil menyruput minumannya...Ardi haya tersenyum saja..
Aku menatap Ardi sekilas... ku lihat senyum tersungging di bibirnya... perlahan dia menghampiriku..mengandeng tanganku keluar dari kastil...
"Aku sudah menunggu ini sangat lama...menunggumu tumbuh...dan kau..lambat sekali menjadi seperti ini..." Senyumnya begitu menggoda. Aku merapatkan tubuhku..aku tidak mau dia melihatku menahan malu seperti ini...aku merasakan desahannya di telingaku..
Hidupku tak akan pernah sama lagi... sekarang aku bagian dari mereka...meski belum sepenuhnya...entah mesti sedih atau gembira tapi setidaknya saat ini aku merasa bahagia karena bersama seseorang yang slalu melindungiku dan hadir dalam mimpiku dan kini hadir dalam hidupku..mungkin esok akan sulit buatku...tapi mungkin juga akan mudah selama ada Ardi disampingku....I love you...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar