Ada yang aneh dengan tempat ini atau mungkin akulah yang aneh sekarang. Rumah-rumah disekitarku terbuat dari anyaman bambu dengan atap ilalang.
Tempat itu di tumbuhi dengan banyak tanaman bambu dan tanaman perdu.
Seorang pemuda gembul menghampiriku, langkahnya begitu santai dan matanya terus mengawasiku. Senyumnya terasa menjijikan buatku, ingin rasanya aku meninju giginya yang amburadul letaknya itu. Seringai kerakusan tergambar jelas di matanya.
Gayanya yang sok bikin tanganku gatal ingin menonjoknya.
Pemuda itu tidak sendiri, ada beberapa pemuda yang juga bersamanya. Mereka seperti berbisik sambil melirik kearahku dan memandangku dengan tatapan aneh, ya..buat mereka, aku memang aneh.
Aku pake rok panjang dan juga atasan berlengan panjang dengan wajah bingung menatap sekeliling, di jaman mereka baju seperti ini tidak ada, sama juga saat aku melihat mereka yang menurutku mereka...Kuno.
"Kenapa bingung seperti itu cah ayu..kamu kabur dari rumah to?, kalau begitu..tinggalah di rumahku gratis...asal..." pemuda itu menatap teman-temannya seakan memberi isyarat.
"Apa...?" Aku menatap mereka satu persatu. Kurasa mereka masih berumur belasan, terlihat wajah mereka yang masih kekanak-kanakan.
"Kau harus memuaskan kami..." dia terkekeh.
Teman-temannya mencibir dan tersenyum mengejek, si gembul mendekatiku dan mencoel dagu ku, aseem belum pernah di tabrak gerobak ni orang..benar-benar ndak sopan. Berani sekali dia menyentuh ku. Belum tau apa aku ini barang keramat, tidak ada duanya di jaman mereka. Jalaslah lha yang kesasar cuma aku.
"Apa ?, apa tadi kamu bilang...heloooo..mas-mas yang aneh..sory ya...aku bukan wanita murahan.ngomong saja sama tembok..." Aku pun melangkah pergi, aseeem..enak saja mereka menyamakan aku dengan wanita murahan.
Pemuda itu rupanya tak membiarkan aku pergi dengan mudahnya, mereka mencekalku tapi untungnya aku pernah belajar karate jadi sedikit banyak ini membantu sekarang dan ternyata itu semakin membuat mereka kalap menyerangku dan ingin menangkapku. Eits...jangan harap....
"Curang lo...mainnya keroyokan. Sekarang pake senjata lagi aseem" runtuku.
Malah jadi emosi aku. Tiba -tiba saja muncul seorang lelaki tegap berpakaian seba hitam. Kulitnya bersih dan dia memakai caping yang menutupi sebagian wajahnya. Matanya tanpak mengamati beberapa lelaki yang mengelilingiku.
"Diajeng tidak apa-apa?" Suara itu begitu tenang dan menyejukan, berwibawa dan juga santun.
Sepertinya dia bukan dari kalangan rakyat biasa...Aku tak tau harus menjawab apa, jantungku betdesir karenanya, terlihat sekali sikapnya yang ingin melindungi.
Pemuda itu begitu tangguh gerakannya cepat dan terarah sepertinya kemampuannya jauh diatas para berandal kampung itu hingga tak butuh waktu lama untuk membuat para berandal itu kabur meninggalkan tenpat itu.
"Kamu siapa?" Aku menatapnya sekilas sambil merapikan pakaianku. Sejenak dia memperhatikanku dan kembali menunduk. Pemuda aneh.
"Siapa saya itu ndak penting diajeng yang terpenting adalah sekarang diajeng ikut saya supaya aman, saya rasa diajeng bukan orang sini atau diajeng mau disini sendirian." sekilas pemuda itu tersenyum dan melangkah pelan.
Gaya mengancam yang klasik. Mau tak mau aku mengikuti pemuda ini daripada namaku masuk dalam daftar orang gila pertama di jaman sejarah ini.
Dari langkahnya kelihatan dia orang yang berwibawa, berasa masuk negeri dongeng dan kini aku bertemu dengan pangerannya. Oh tidak...apalagi ini.
****
Tempat penginapan ini begitu sederhana, cahaya temaran dari lampu minyak yang di pasang di sudut ruangan membuat tempat ini terasa suram.hanya suara binatang malam begitu jelas terdengar.Ah...sekarang tahun berapa ya dan ini dimana, duniaku sekarang seperti apa ya? Apa yang terjadi disana?.
"Diajeng, sudah malam kenapa belum tidur...?" suara itu begitu menyejukan, pemuda itu berdiri di belakangku.
Sekilas dia memandangku dan menunduk , senang sekali dia menunduk memandangi ubin seakan ubin itu lebih menarik dari pada aku.
Aku jadi cemburu pada ubin yang sering ditatapnya.
"Maaf...sebenarnya ini ada apa?, kenapa aku tiba-tiba bisa ada disini?, aku rasa aku ada di tempat yang salah." aku tak bisa menahan rasa penasaran ini. Dan aku rasa dia punya jawabannya.
"Maaf sebelumnya diajeng, mungkin ini salah saya juga.." Pemuda itu duduk dihadapan ku bersila dengan tenang , sikapnya begitu teratur.
"Maksudnya..?, dan kamu siapa, saya rasa kamu bukan dari kalangan rakyat biasa, setidaknya pasti anak penjabat." Aku menatap sekilas pemuda dihadapanku, tatapan matanya begitu tajam tapi ada keteduhan di senyumnya.
Senyuman yang mahal tapi memabukan kayak candu yang mulai meracuniku.
"Perkenalkan saya Panji Kusuma putra dari sinuwun Pramban sembada, diajeng sekarang ada di wilayah Menak sembadra...mungkin yang terjadi ini sebagai balasan atas mukti tresna saya beberapa waktu di lembah Taru Mendara..dan mungkin ini yang membawa diajeng masuk kemari..." pandangannya begitu teduh.
Dia menunduk kembali.
"Mukti tresno?, apa itu?"
"Itu seperti ilmu untuk mendapatkan seorang wanita yang diinginkan"katanya sambil tersipu.
"Maaf, boleh aku panggil Raden...?" pemuda itu hanya menggangguk dan tersenyum.
" Lalu bagaimana caranya agar aku bisa kembali kesana Raden, maaf tapi disini bukan duniaku Raden, kalau aku terlalu lama disini aku akan merusak sejarah yang ada, Raden. Setiap apa yang ada di dunia ini memiliki takdir sendiri-sendiri dan aku rasa takdirku bukan disini, saya harap Raden mengerti, saya dan Raden tidak boleh merusak sejarah yang ada, karena apa yang ada saat ini akan menjadi bahan cerita untuk anak cucu kita kelak Raden." Ujarku pelan.
Dia hanya diam saja . Sibuk dengan pikiran dan perasaannya saat ini.
"Jujur..saya menyukai diajeng. Diajeng beda dengan gadis-gadis yang ada di kadipaten ini, suatu saat saya akan mengantar diajeng kembali ke tempat asal diajeng..." kata pemuda itu. Ya iyalah aku beda. Beda jaman..
"Kapan?" Aku rasa sudah tak sabar menanti saat itu.
"Saya belum tahu pasti. Pasti saat itu akan ada tandanya diajeng...sebelum saat itu tiba ijinkan saya untuk menebus kesalahan saya karena sudah menyeret diajeng masuk ke alam saya.." dia menatapku sekilas kemudian menunduk lagi.
Jujur aku suka sekali gayanya yang mirip dengan cerita dongeng pewayangan itu.
"Raden ini lucu..apalagi kalau wajahnya jadi merah seperti itu, tambah ganteng. Jangan menunduk terus, orang tidak akan tau kalau Raden ini cakep." aku tak bisa menahan tawa saat melihat reaksinya.
Sungguh berbeda dengan jamanku..anak mudanya hura-hura semaunya..kadang nenetang orang tua..tanpa ada tatanan nyata dan di sini semua dididik dengan tata krama yang ketat, unggah-ungguhnya sangat tinggi, bahasa mereka halus wah..padahal kemampuanku berbahasa sangat minim. Maklum, beda jaman.
"Diajeng ini.." dia tersenyum sekilas. Sungguh..pribadi yang luar biasa.
Jujur aku jatuh cinta pada pemuda beda dunia ini.dibalik tubuhnya yang kekar tersimpan magnet yang sungguh luar biasa. Dan magnet itu berhasil menariku.
Sikapnya yang begitu tenang dan berwibawa cerminan dari seorang pemimpin.
Malam semakin larut dan kami hanya terdiam di teras depan penginapan tanpa kata meski kadang sering mencuri pandang.
Pagi merebak menebarkan aroma air yang menyelimuti tempat itu membawa dingin yang menusuk kulit.
Suara ayam jago mulai riuh terdengar.
tok...tok..tok..
Suara ketukan pintu mengagetkanku, membuatku terhenyak dati tidurku.
"Diajeng...." Raden Panji membangunkanku. Perlahan aku bangkit dan mencoba menggapai pintu dengan bantuan cahaya yang temaram.
Aku membuka pintu kamarku dan ku dapati sosok itu berdiri di depan pintu kamarku.
"Sudah pagi diajeng..kita harus lanjutkan perjalanan..." dia sekilas menatapku dan menunduk kembali.
Aku mengikuti langkahnya keluar dari penginapan ..jalanan masih sepi. Masih jarang ada orang yang melintas di tempat itu, kabut tipis menyelimuti daerah itu, membuatku merinding.
Sungguh tak ada transportasi di masa ini, heran aku. Mereka tahan berjalan bermil jauhnya tanpa kendaraan.
Oh..kakiku, malangnya nasibmu, siap-siap bengkak nanti malam.
"Diajeng makin cantik kalau seperti ini, alami..." dia menatap sekilas kearahku..bagaimana di bilang cantik, mandi saja belum. Aku hanya mencibir saja.
Dasar..kemajuan ya sekarang..gombalnya keluar..brrr dingin banget ya apa dia tidak kedinginan.sikapnya biasa saja, seakan kulitnya sudah ada mantelnya.
"Udaranya dingin sekali...apa kita masih jauh...?" aku menyilankan tangan ku di dada..dinginnya menusuk ke pori-pori...bbbrrrr...
"sebelum siang kita akan segera sampai diajeng..disana nanti diajeng bisa istirahat lagi.." jawabnya.
"Kita mau kemana?"
"Kerumah saya diajeng..." lanjutnya..
Dia berjalan di depanku meski sesekali ku lihat dia melirik ke arahku..gemes aku pada pemuda satu ini..kalau tiba-tiba ku gandeng tangannya apa reaksinya ya dan tanpa di komando lagi aku mendekat padanya dan menggemgam tangannya.
"Dinginn" kataku perlahan.
Tak kuhiraukan wajahnya yang tanpak terkejut, meski pada akhirnya dia diam saja, salah sendiri mengajaku jalan sepagi ini.
*****
"Aku dengar kangmas membawa wanita asing ke kadipaten?" Seorang perempuan memakai pakean kebangsawanan bewarna hijau keemasan dan tampak begitu anggun, dibelakangnya tampak beberapa perempuan yang mengiringinya mereka memakai kain sebatas dada , kepala mereka selalu menunduk.
"Diajeng Laras..., benar diajeng dia teman Kangmas.." Jawab Raden Panji.
"Teman...? , sejak kapan kangmas mempunyai teman seorang perempuan yang tidak jelas asal-usulnya seperti itu...?" lanjutnya. Nada kecemburuan terdengar jelas. Wajahnya terlihat masam.
"Sekarang dimana dia,saya ingin kenalan Kangmas?" lanjutnya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Sebentar diajeng...duduklah..emban sedang membantunya ganti busana..." jawab Raden panji tenang tanpa beringsut dari tempat duduknya.
"Duduklah dulu ngger, sebentar lagi dayang akan mengantarnya kesini.." Sinuwun Pramban sembada mempersilahkan laras untuk duduk. Tapi gadis itu masih berdiri dengan angkuhnya.
"Nah ...itu mereka datang..." Kanjeng Ibu melihat kearah kami sontak membuat yang lain ikut melihat kearah kami. Raden panji yang semula duduk kini sudah berdiri menyambut kami.
Haaa...kain ini membuatku sulit bergerak...ah...kenapa jadi seribet ini..kepala ku malah jadi pusing gara-gara kondenya terlalu berat dan banyak pernak-perniknya, rasanya pingin lompat gaya fampir aku biar cepat sampai di sana..ya ampun..apa tampangku aneh hingga membuat mereka jadi bengong gitu, hanya ibu ratu yang tampak tersenyum penuh arti.
"Salam sinuwun...sembah pangabekti hamba...." fuih....badanku jadi panas dingin mengucapkan kalimat keramat itu. Tidak sia-sia aku ngapalin semuanya semalaman.
"Duduklah cah Ayu...ayo sini dekat ibu..."kata sinuwun Ratu sambil menunjukan kursi kosong disampingnya.
"Tunggu...Kanjeng Ibu...perempuan ini tidak pantas duduk di dekat Kanjeng Ibu. Kita belum tau siapa dia sebenarnya, siapa tau dia mata-mata." Laras tampak berapi-api.
Ah, ni cewek. Jadi pingin lakban tu mulut. Heran aku, kok bisa orang kayak gitu jadi putri. Pantas Raden Panji sampai Tapa mukti segala. Eror ternyata calon bininya..
Aku hanya tersenyum saja. sementara Kanjeng sinuwun hanya manggut-manggut.
"Laras, tak baik mencurigai orang seperti itu. Ibu yakin gadis ini tak sejahat itu." terang Ibu Ratu tenang, sungguh sikap yang begitu mengayomi. Ibu panutan.
"Maaf Kanjeng sinuwun, perkenankan hamba duduk disini saja..disini masih banyak kursi yang kosong.." Aku berusaha bangkit.
Baju ini bikin aku kesulitan berdiri..sepasang tangan kokoh terulur kearahku..saat aku mendongak ternyata Kangmas Panji , dia meraih tanganku dan membantuku berdiri. Aku menyambut tangannya yang kokoh.
Serasa ada sengatan listrik yang mengalir di tubuhku sekarang ini. Apalagi pandangan matanya yang teduh membuatku mulai merindukannya. Eitss...rindu..wah ikutan soak ni kayaknya aku.
"Lihat...bahkan berdiri saja dia tak bisa..memalukan..." Laras mencibir kearahku.
Mana sendal..mana sendal..huu..untung aku ndak pake sendal kalau pake..pasti dah melayang dari tadi.
"Trimakasih Raden..maaf merepotkan Raden.." kataku pelan sambil bersandar di tubuhnya mencoba untuk menyesuaikan diri dengan pakaian yang aku kenakan ini.
"Tidak apa-apa Diajeng..." Senyumnya bikin aku klepek-klepek kekurangan oksigen, suaranya mendesah.
"Hh manis banget mulutnya..sepertinya kamu pandai merayu..." Laras mencibir lagi.
"Laras jaga sikapmu..tidak baik jika seorang putri bersikap seperti itu..." Hardik kanjeng ibu.
"Laras tidak suka perempuan itu Ibu, Laras akan minta ayahanda untuk mempercepat pernikahan kami." dia bangkit, raut mukanya memerah menahan marah.
Beberapa dayang yang sedari tadi diam pun telah sigap di belakangnya tanpa memberi hormat dia melangkah meningalkan ruangan tapi baru beberapa langkah dia menginjak selendangnya.
Mungkin karena terburu-buru dan emosi hingga membuat nya tak memperhatikan langkahnya dan terjatuh, beberapa dayang bergerak sigap hendak membantunya berdiri tapi dia menepis bantuan mereka dengan kasarnya.
"Kangmas tidak membantuku?" dia memandang Raden Panji yang sedari tadi diam disampingku.
"Maaf diajeng tapi apa boleh buat tanganku di ikat oleh Diajeng Ayu." katanya sambil tersenyum.
Aku baru tersadar jika sedari tadi aku masih mengapit lengan Raden Panji, segera aku melepaskannya dan mengambil jarak agar tidak terlalu dekat dengan Raden panji.
Raden Panji hanya tertawa melihatku jadi salah tingkah. Laras yang melihat itu bergegas bangkit dan meninggalkan kami, tampaknya sekarang aku menghancurkan sejarah cinta Raden Panji kali ini.
***
Udara berhembus sepoy-sepoy begitu segar, membuatku jadi mengantuk. Di hadapanku terbentang hamparan padang rumput yang begitu subur. Beberapa anak gembala tanpak asyik bermain, senyum mereka lepas tanpa beban, harusnya moment ini bisa aku abadikan untuk kenang-kenangan bila kelak aku meninggalkan tempat ini tapi sayang aku tak punya handphone saat ini.
"Jangan melamun seperti itu, Diajeng. Cepet tua lho." Suara yang khas membuyarkan lamumanku. Kutatap sosok tubuh yang sekarang duduk disampingku.
"Sedang apa Raden disini?, nanti dicari Diajeng laras lho." Ujarku sambil menatap lurus kedepan.
"Diajeng cemburu?" Ucapnya langsung mengena di hati. Ya elah....kenapa juga tanya kayak gitu.
"What.. ya tidak lah, pernikahan itu memang seharusnya ada to. Kenapa aku harus cemburu?" Elaku, tapi dia malah tersenyum .
"Jujur saja, Diajeng"
Duh kok jadi aku yang bully sekarang.
"Ndak lah, ada-ada saja" wah rasanya mau kabur aja daripada di tanya kayak gini terus.
"Orang itu harus jujur, Diajeng. Tidak boleh bohong. Dosa" pemuda itu makin tersenyum
"Ndak...!." Aku mendorong tubuhnya begitu kuat hingga membuatnya jatuh bergulingan di padang rumput.
"Ops...sorry, tidak sengaja. " aku membantunya bangkit.
"Apa itu sorry?" Dia memandangku.
"Itu bahasa inggris yang artinya,Maaf" ujarku
"Apa itu bahasa inggris?" Lanjutnya.
Aku menepuk jidatku..ya ampun..primitif, gimana jelasinnya, bisa-bisa jadi panjang kali lebar.
***
Suasana pendopo tampak begitu riuh, suara gamelan yang sering terdengar kini terasa menyiksa di telingaku. Pendopo itu kini mulai di padati oleh penduduk yang ingin menyaksikan tontotan masyarakat itu.
Hari ini acara pertemuan dua keluarga.
Di sana ada Kanjeng sinuwun dan Raden panji, juga keluarga besan serta putri laras yang tampak anggun dengan busana kebangsawanannya wajahnya tampak sumringah, sedangkan Raden Panji terlihat tampan dan berwibawa dengan busana kebangsawan, tapi dia tampak duduk dengan gelisah, sesekali ia tampak mengedarkan pandangan mencari seseorang dan saat mata kami bertemu dia melemparkan senyum padaku.
Aku mengangguk sekilas, tapi senyum itu menghilang saat aku melihat Laras memandang tajam kearahku.
Jujur aku merasa tidak nyaman dan salah satu cara menenangkan diri adalah pergi dari sana dan tempat yang tepat adalah arena ketangkasan, setidaknya di sana aku bisa melampiaskan kekesalan
Toch semua orang sedang menikmati hiburan di pendopo utama termasuk para murid calon prajurit.
"Ndoro putri, sedang apa disini?" Suara Ki Suro mengagetkanku. Selama tinggal disini Ki Suro adalah guruku juga orang tua angkatku.
"Ki,..Aki tidak ke Pendopo?"
"Aki tahu apa yang kamu rasakan ngger, sebaiknya masalah ini. Kamu bicarakan baik-baik dengan Raden Panji. Raden pasti punya solusi yang tepat, Ngger" Ki Suro duduk di sampingku.
"Solusinya cuma satu,Ki. Saya pergi dari sini. Kembali ke asal saya." Ujarku pelan.
Jujur sebenarnya aku tidak iklas kalau harus meninggalkan tempat ini.
Disini aku mendapatkan cinta yang berlebihan dan juga perlindungan tapi ini bukan duniaku dan juga hak ku untuk menikamati semua kenyamanan ini.
"Apa kamu sudah membicarakan dengan Raden Panji?, apa dia setuju?" Lanjut Ki Suro.
"Harus,Ki. Harus.."
"Ya sudah, Ndoro istirahat saja. Saya mau ke pendopo." Ki Suro pamit ke pendopo, aku hanya mengangguk saja dan kembali menatap hampa lapangan kecil yang biasa digunakan untuk olah kanuragan itu.
Ku langkahkan kakiku menuju tengah lapangan. Rasa galau ini begitu menyiksaku, membayangkan Raden Panji menikmati semua tontonan itu dengan hati sumringah bersama calon istrinya.
Harusnya aku tidak marah dan cemburu. Oh tidak... Seharusnya inilah yang terjadi. Pernikahan ini memang harusnya ada.
Aku mengambil sebuah tombak panjang dan mulai menaikannya, Ki Suro pernah mengajariku beberapa gerakan dan saat ini aku ingin mencobanya. Dan ketika aku mulai konsentrasi tiba-tiba saja muncul beberapa orang berpakaian prajurit dengan wajah yang ditutupi kain.
Ah apa lagi ini, apa mereka tidak bisa membiarkan aku tenang sebentar saja.
Tanpa bicara mereka langsung menyerangku. Sebenarnya kemampuan mereka dibawahku, cuma seorang saja yang tampaknya terlatih dalam hal bela diri.
"Aaaa...." sial mereka berhasil melukai bahuku.
Aku harus lebih hati-hati, aku tidak mau mati konyol disini.
Mereka tampaknya tidak main-main begitu melihatku terluka mereka malah semangat menyerangku. Saat aku terdesak tiba-tiba saja Raden Panji sudah ada di sampingku.
"Harusnya aku tidak meninggalka diajeng kalau tahu diajeng bakal mendapatkan kunjungan seperti ini." Ucapnya lirih.
Kehadiran raden panji ternyata berdampak pada mereka, mereka berhenti menyerangku seakan ragu untuk maju.
Sesaat mereka saling pandang sampai akhirnya mereka maju bersamaan menyerang kami.
"Awas, diajeng!!". Sial, apa yang sedang aku pikirkan. Kenapa aku sama sekali tidak foku hingga lenganku terkena lagi. Meski tidak dalam tapi darah yang kekuar lumayan banyak. Membuatku terasa lemas.
Beberapa prajurit pun mulai bermunculan dan mengepung tempat itu.
"Ki..bawa Diajeng keluar, saya akan bereskan mereka" perintah Raden panji yang dijawab dengan anggukan kepala.
Ki Sura juga sudah muncul di arena menariku ke pinggir, karena lemas aku jatuh tersungkur di pinggir.
Ki Sura menopang tubuhku, beberapa dayang datang menghapiriku.
"Panggil Ki Mayura, cepat!" Ki Sura memberi perintah, dan seorang dayang undur diri dan berlari meninggalkan tempat itu. Sementara itu, para penyerang itu berhasil dilumpuhkan.
"Bagaimana Ki, kenapa diajeng semakin pucat?" Raden Panji terlihat panik.
"Maaf,Raden. Sepertinya salah satu senjata mereka di bubuhi racun yang cukup ganas, Saya sudah memanggil Ki Mayura kesini Raden" Lanjut Ki Sura.
Seorang lelaki tua berjenggot panjang datang dengan tergopoh-gopoh, di belakangnya seorang pemuda tampak membawa sebuah kotak dan dengan setia mengkuti aki itu.
"Ki, kenapa ini" Raden panji mulai tegang.
"Bawa kedalam, Ngger." Raden Panji mengangkat tubuhku dan membawa masuk kedalam rumah Ki Sura. Setelah merebahkan tubuhku di ranjang, Raden Panji keluar kamar. Setelah itu aku merasa pandanganku kabur.
Saat ku terbangun aku merasa ada di tempat yang berbeda. Kamar ini lebih luas dan lebih bagus. Luka di lengan dan bahuku masih terasa nyeri. Aku beringsut mundur ketika tanganku menyentuh seseorang.
"Raden..?" Suaraku tercekat ketika menyadari sosok yang tidur di sebelahku adalah Raden Panji. Wajah tampannya terlihat begitu lelah. Dia bertelanjang dada. Sial, apa yang sudah terjadi di sini, kenapa aku tak ingat apa-apa, berapa lama aku tertidur.
"Diajeng....diajeng sudah sadar?" Raden Panji bangkit, dia mengenakan bajunya.