Matahari mulai menampakan sinarnya , ayam jago pun mulai berkokok bersautan. Pagi itu Budi berniat untuk pergi ke ladangnya ketika dilihatnya seekor burung yang tampak lunglai di halaman depan, sesekali dia berusaha mengepakan sayapnya dan berusaha bangkit tapi dia selalu gagal. Budi memperhatikan burung kecil itu, tangan dan kakinya terluka, mungkin terkena peluru pemburu atau digigit binatang lain, pikir budi. Dengan hati-hati dia mengangkat burung itu dan kembali masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian dia sudah keluar sambil membawa sebuah sangkar kecil.
"Nah...burung kecil...kau tinggal disini saja...aku akan merawatmu." kata Budi dengan riang. setelah meletakan burung kecil itu di dalam sangkar Budi segera menggantungnya di halaman depan dan bergegas ke ladang sebelum matahari bertambah tinggi.
Berhari-hari Budi merawat burung kecil itu hingga akhirnya burung kecil itu sembuh dan bisa mengepakan sayapnya.
"Wah...kau sudah terbang kembali burung kecil...lihatlah kau riang sekali" kata Budi sambil memperhatikan burung itu.
"Makan dulu,Le....sudah siang" sesosok tubuh keluar dari balik pintu sambil membawa mampan makanan.
"Mbok...burung kecilku sudah sembuh...lihat...dia senang sekali...lincah to Mbok" kata Budi dengan riang.
"Apa kamu akan melepaskannya nanti, Le?" kata simbok .
"Ndak tahu Mbok...burung ini lucu meski belum bersuara sama sekali tapi dia lucu.."
"Tapi kalau dikurung terus...kasihan juga Le" simbok menatap Budi.
"Ya nanti akan aku pikirkan, Mbok" Budi tampak lesu, dalam hati dia membenarkan apa kata simboknya tapi dia juga sayang pada burung itu.
Langitbtampak mendung, burung kecil itu berkicau terus dari pagi...suaranya nyaring dan merdu.
"Tumben burung kecilmu itu berkicau terus ,Le?" kata simbok sambil memandang keluar.
"Iya mbok...ada apa ya?, semoga ada kabar baik hari ini..." Kata Budi pelan.
Tak lama kemudian....
"Pemisi....mbak yu.....!"Suara lelaki terdengar dari teras depan.
"Oh....dik Marto....mari masuk...diluar gerimis....ayo duduk dulu, sebentar ya..." Simbok masuk kedalam rumah dan tak lama kemudian dia sudah keluar bersama Budi. Seorang lelaki separuh baya melangkah perlahan memasuki rumah disusul seorang gadis muda yang tampak menunduk.
"Oh...ada Pak Lik Marto..." Budi menyalami tamunya...Sejenak dia memandang kearah seorang gadis yang tampak menunduk.
"Oh...iya...kenalkan...ini Marni...anak sepupu saya" pak lik Marto memperkenalkan gadis itu. Gadis itu masih menunduk malu.. dia menyalami simbok dan Budi...
"Dari mana ini,Pak Lik?" tanya Budi.
"Dari kampung sebelah,Le..ada acara syukuran bersih desa di sana. Pak lik kebetulan di undang. Eh..ternyata disana ketemu Marni juga..jadi ya Pak lik ajak pulang sekalian " Pak lik menjelaskan.
"Lha dik Marni kesana sama siapa?" tanya Budi pada Marni.
"Sebenarnya sama teman-teman, saya pingin liat Reog kang, tapi teman-teman pulang duluan jadinya saya di tinggal sendiri...untung ketemu Pak Lik disana" kata marni masih menunduk.
"Ya sudah kalian istirahat disini saja, di luar hujan deras..besok kalian baru bisa melanjutkan perjalan lagi, simbok mau menyiapkan makan dulu" kata simbok ya dijawab dengan anggukan kepala oleh Pak Lik.
"Boleh saya bantu,Mbok?" kata murni sambil beranjak dari tempatnya duduk , simbok menganggukan kepala tanda setuju.
Malam semakin larut. Pak lik dan Budi masih duduk di ruang tengah sambil menikmati kopi manis dan ubi rebus. Simbok dan Marni sudah masuk ke dalam kamar, di luar hujan semakin deras. Burung kecil pun mulai merapatkan sayapnya.
Pagi yang berkabut, udara masih terasa dingin. Jalanan masih becek akibat hujan semalam. Burung-buung mulai berkicau di dahan pohon. Paklik dan Murni pamitan pada Simbok dan Budi, mereka harus berangkat pagi agar tidak kemalaman di jalan karena perjalanan mereka masih jauh. Budi mengantar mereka sampai kebatas desa.
Sejak kedatangan Pak lik kemarin Budi menjadi resah, dia diam-diam menyukai Murni tapi malu untuk mengutarakan pada simboknya, dia hanya mampu menyimpan perasaannya. Diam-diam Simbok mulai merasakan perubahan sikap yang ditunjukan Budi, dia sering melihat Budi melamun dan kadang seperti mendesah tampa sebab.
"Kenapa melamun, Le?" kata simbok.
"Eh..tidak apa-apa Mbok" Budi tampak terkejut mendengar suara simbok.
"Jangan bohong,Le...Simbok ini ibumu..Simbok tau apa yang kamu pikirkan" simbok duduk didekat Budi. Budi masih menunduk diam, dia masih enggan untuk mengutarakan isi hatinya...
"Simbok tau kamu suka ma Marni. Kalau kamu mau Simbok pasti akan melamarkan Marni." kata-kata simbok membuat Budi terkejut. Dia tidak menyangka Simbok tau apa yang dipikirkannya selama ini.
"Apa benar,Mbok. Simbok akan melamar Marni?" kata Budi penuh sumringah yang di balas anggukan kepala oleh Simbok.
"Tapi bagaimana kita akan memberitahukan keluarga Marni, tempat mereka jauh. Butuh waktu lama untuk bisa sampai ke sana" Kata Budi
"Serahkan semua padaku" kata sebuah suara. Serentak Budi dan Simbok menoleh ke arah suara itu. Mereka terkejut ketika suara itu berasal dari seekor burung yang selama ini mereka pelihara.
"Kamu....bisa bicara?" Budi seakan tak percaya pada apa yang dilihat dan di dengarnya.
"Bisa....Tapi hanya orang yang berhati baik saja yang bisa mendengar suaraku" kata burung kecil itu.
"Benarkah kamu bisa membantuku?" Kata Budi berusah meyakinkan dirinya.
"Tentu saja...aku akan terbang kerumah Marni untuk mengabarkan ini..." Kata burung itu penuh kenyakinan
"Trimakasih burung kecil..jasamu tak terkira. Trimakasih banyak selama ini kamu sering membantu Simbok. Simbok tau diam-diam selama ini kamu sering membantu Simbok mengurus rumah selama Simbok dan Budi ke ladang." kata Simbok sambil tersenyum. Burung kecil itupun hanya mengangguk .
Budi melepaskan burung itu. Dengan lincah burung itu terbang kesana-kemari mengepakan sayapnya dan diapun terbang melintasi langit sambil berkicau dan disambut dengan kicauan burung-burung yang lainnya hingga sampaibke rumah Marni. Keluarga Marni tampak gembira.Mereka tau datangnya burung itu sebagai pertanda akan ada kabar baik yang aka datang pada mereka dan sampai sekarang hal itu masih berlangsung. Burung kecil itu akan berkicau nyaring disekitar rumah orang sebagai pertanda mereka akan kedatangan kerabat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar