Sudah seminggu Dena hilang. Semua jadi panik, banyak dugaan yang bermunculan dari lari sama pacar, korban facebook dan juga kasus pembunuhan..hiii..ngeri...Dena menghilang begitu saja seperti di telan bumi.. Keluarga sudah berusaha mencari dari yang lapor ke polisi sampai datang ke jempat mbah jambrong..dukun di kampung mereka.. tapi yang ada malah tambah pusing karena mbah jambrong cuma bisa komat-kamit tampa bisa ngasih solusi yang pasti.
Rena,Bahar dan Danar tampak duduk termangu di taman sekolah. Biasanya kemana-mana mereka selalu berempat tapi sejak Dena menghilang mereka kini tinggal bertiga...
"Sepi ya...berkurang satu suara sekarang..." Rena memandang ke arah sepatunya yang memang tidak ada nodanya.
"Iya...biasanya kita selalu bercanda ya...kemana-mana bersama ...tapi..." mata bahar menerawang...
"Sudahlah...semoga semuanya baik2 saja...Dena cepat ketemu.." Danar mendesah pelan..dadanya terasa nyeri...gadis yang diam-diam mencuri hatinya kini entah dimana dan bagaiama keadaannya sekarang. Suara bel masuk terdengar berdentang memaksa mereka bertiga meninggalkan bangku taman.
Sejak kasus hilangnya Dena mencuat, keadaan sekolah itu jadi berubah. banyak sekali isu yang berhembus tentang penampakan seorang gadis di kelas belakang. Ruang kelas itu dulunya di gunakan untuk lab tapi sejak sekolah merenovasi gedungnya, ruangan itu jadi terbengkalai dan tidak terjamah.
Bahar berlari kecil menyusuri koridor lorong belakang. Dia sudah tak dapat lagi menahan pingin ke toilet. Satu-satunya kamar mandi yang dekat adalah kamar mandi dekat ruang Lab dulu. Mau tak mau Bahar segera berlari kesana sebelum celananya basah terkena ompol.
Saat melintasi kelas belakang bulu kuduk Bahar berdiri, ada udara dingin yang tiba- tiba menerpanya, tampa sengaja Bahar melihat sosok seorang gadis tengah duduk diatas meja dengan wajah menunduk. Bahar tak begitu memperhatikan bayangan itu karena pikirannya saat ini hanyalah kamar mandi. Saat bahar kembali terdengar ketukan dari dalam kelas. Bahar memperhatikan ruang kelas yang terkunci rapat dari luar. Jadi mustahil ada orang di dalam, pikir Bahar.
Sejenak suasana tempat itu sunyi, suara ketukan sudah tidak terdengar lagi. Bahar memutar badan nya berniat meninggalkan tempat itu tapi belum sempat dia melangkah suara ketukan itu terdengar lagi dan keli ini suaranya terdengar jelas dan makin keras.
Perlahan Bahar merapatkan tubuhnya ke pintu kelas itu, suara ketukan kini juga di barengi dengan suara benda jatuh. Bahar terlonjak karena kaget. Rasa penasaran membuat Bahar nekat mendekati ruangan itu.
"Siapa di dalam...orang apa setan..!" teriak Bahar.
"Setan..." suara dari dalam terdengar parau
"Bohong lo...mana ada setan ngomong...mana buktinya.." Bahar mencibir. Toba-tiba saja sebuah tangan yang mulai mengelupas dan rusak menembus pintu yang tertutup rapat. kontan saja membuat Bahar kaget dan gemetar..
"Iya...lo...lo...setaaannnnn.....!" Bahar lari tunggang langgang menjauhi tempat itu.
Sore yang indah...seorang gadis tampak berjalan menyusuri koridor stasiun kereta. Sejenak dia memandang sekeliling sebelum masuk ke dalam sebuah taksi yang membawanya melaju dan berbaur dengan riuhnya keruwetan kota senja itu.
Bel masuk sekolah mulai berdentang, para siswa pun mulai berlarian menuju kelas masing-masing. Suasana pun mulai hening, halaman yang tadinya ramai di penuhi murid-murid yang asyik bermain kini sudah sepi... hanya beberapa orang saja yang tampak bersliweran di sekitar koridor sekolah. Tak jauh dari tempat itu tampak seorang gadis memperhatikan sekolah itu. wajanya yang cantik tertutup topi merahnya. Sejenak gadis itu terdiam sebelum pergi berlalu.
Hal yang paling ditunggu Rena saat ini adalah jam pulang. Perutnya keroncongan sedari tadi. Bahar dan Danar pun sudah kabur entah kemana. Sejenak gadis itu terpaku ketika dilihatnya sesosok tubuh yang di rindukannya, hampir saja dia berlari ke arah gadis itu...tapi langkahnya terhenti ketika dilihatnya gadis itu tampak aneh..dia terus saja melihat ke lantai 2 sekolahnya tepat di ruang guru dan Rena bisa melihat jelas tampak sesosok tubuh juga terpaku melihat ke bawah...Pak Reno..guru paling cool dan tampan di sekolahnya...benak Rena dipenuhi seribu pertanyaan tentang kejadian ini... bergegas dia berlari mengejar gadis itu ketika dilihatnya gadis itu berlalu pergi.
Rena menjaga jarak dari gadis itu. Dia tidak ingin gadis itu lari darinya dan hilanglah kesempatannya untuk mengungkap ini semua.
Rena menarik lengan gadis itu begitu mereka sampai di tempat yang agak sepi. Rena tampak terkejut ketika dilihatnya topi gadis itu terbuka dan tampak wajah yang tidak asing lagi baginya...mirip...cuma mata mereka yang beda...Dena begitu sendu dan gadis ini..ada keberanian di matanya....
"Deni....."Suara Rena tertahan. Gadis dihadapannya sekarang adalah Deni. Saudara kembar Dena yang tinggal di luar negeri. Tak ada yang banyak tau tentang Deni karena memang Deni dari kecil ikut oma nya dan menetap di luar negeri.
"Rena..." gadis itu juga terkejut ketika tau ternyata kedatangannya di ketahui Rena.
"Sejak kapan kamu disini?" Rena tak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya.
"Ikut aku, Ren. Ada yang mau aku omongin..." Deni menarik tangan Rena berlalu dari tempat itu.
Rena menghabiskan es kelapa mudanya, di pandangnya Deni yang tampak tidak semangat menikmati minumannya.
"Perasaanku tidak enak dari sebulan yang lalu Ren. Setiap malam aku selalu mimpi yang sama tiap malam" Deni mengaduk minumannya.
"Mimpi apa?" Rena memandang Deni.
"Dena tampak sengsara karena perbuatan seseorang...". Rena tercekat mendengar ucapa Deni...mimpi mereka sama.
"Kamu tau siapa laki-laki itu?" Rena mendang Dani. Setau dia selama ini Dena tidak pernah dekat dengan siapapun...dan sekarang...
"Baca saja diary ini...kamu akan tau semuanya.." Deni mengeluarka sebuah buku dari dalam tasnya. Rena mengamati buku itu. Sepertinya dia pernah melihat buku itu di bawa Dena.
Panas matahari begitu menyengat. Rasanya saat ini pingin sekali dia nyebur ke kolam untuk mendinginkan tubuh dan kepalanya .
"Ren...pulang sendirian?" Sebuah suara mengagetkan Rena dan dia lebih terkejut lagi ketika dilihatnya sesosok lelaki yang membuatnya penasaran selama ini...
"Eh...pak...iya...biasanya juga sendiri kok pak" Rena tampak menetralisir keadaan.
"Bapak antar ya...sekalian bapak ada perlu di sekitar daerah kamu" Reno melempar senyum mautnya. Sejenak Rena tampak ragu tapi kemudian diapun menyetujui usulan Reno. Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Rena untuk mendekati Reno.
Seminggu bersama Reno membuat Rena tau tabiat cowok itu dan kadang ada keraguan dihatinya tentang kebenaran buku diary itu. benarkah Reno terlibat atau ini cuma karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Rena menghela nafas, dadanya terasa sesak sekarang tapi dia sadar saat ini Reno adalah target mereka.
Bahar dan Danar tampak asyik menghabiskan makanan yang terhidang di meja.
"Jadi bagaiman...kita jadi melanjutkan ini?" Bahar kembali menguyah makanannya.
"Jelas...sudah kepalang tanggung..kita lanjutkan sekalian...daripada di teror terus.." Kata danar sambil melirik Deni yang sedari tadi cuma diam...
"Betul....sudah basah...mandi sekalian...demi Dena" Rena tersenyum meski sekarang hatinya kecut membayangkan kebenaran yang akan mereka temui nanti...
Malam itu Rena janjian bertemu Reno di cafe. Rena tampak gugup tapi terlintas kembali bayangan Dena yang menangis pilu di dalam mimpinya. Rena semakin bulat untuk mengungkap semua itu. Dari jauh dilihatnya Reno yang sudah duduk manis sambil meneguk minumannya. Jujur saat itu Rena terpesona melihat Reno yang tampak menawan tapi segera di tepisnya semua itu.
"Hai Ren...kamu cantik banget malam ini.." Rena tersipu juga mendengar pujian itu.
"Bapak juga cakep kok..." Kata Rena agak gugup.
Rena mengambil tempat duduk di depan Reno. mereka mulai mengobrol..tiba-tiba saja Reno seperti tersentak kaget..dari tempatnya duduk dia dapat melihat sesosok gadis mirip Dena sedang duduk tak jauh dari tempat duduk mereka..Reno semakin terlonjak kaget ketika gadis itu menatapnya tajam..
"Pak...kenapa? " Tanya Rena ketika dilihatnya Reno tampak bengong seperti terhipnotis sesuatu.
Reno tergagap kaget , "Ndak papa kok..." pandangannya beralih ketempat gadis itu berada tapi gadis itu sudah tidak ada lagi di tempatnya semula. Rena dapat melihatdengan jelas kegugupan yang terpancar di wajah Reno saat ini...dalam hati dia tersenyum senang.
Malam itu Reno mengantar Rena pulang yang di balas anggukan kepala oleh rena. Mobil melaju tidak terlalu kencang. Saat mereka melintasi jalanan setapak tiba-tiba Reno menghentikan mobilnya. Sontak membuat Rena terkejut..
"Kenapa berhenti?" Rena melihat sekelilingnya..
"Itu...tadi...." Reno terdiam sejenak...entah kenapa sepertinya tadi dia melihat sosok Dena sedang berdiri di pinggir jalan.
"Kamu tidak apa-apa?" Rena melihat kegugupan di wajah Reno..
"Iya... " Reno menjalankan kembali mobilnya dan baru beberapa saat berjalan tiba-tiba Reno melihat sesosok tubuh melintas di atasnya..karena terkejut dia menghentikan mobilnya..
"Ada apa lagi,Pak. Bapak baik-baik aja kan..?." Rena melihat wajah Reno yang mendadak jadi pucat. Reno hanya terdiam. Dia tidak mungkin mengataka pada Rena jika dia baru saja melihat bayangan putih melintas di depan mereka...dan itu adalah Dena...
"Tidak apa-apa kok...mungkin aku capek... " Reno berkilah. Matanya masih melihat ke sekeliling mencoba memastika jika penampakan tadi sudah menghilang. Mobil pun melajukembali meninggalkan jalan setapak itu.
Keesokan harinya Rena berusaha bersikap wajar di depan Reno, setelah kejadian semalam Rena merasa yakin Reno tau seuatu tentang Dena.
"Ren...nanti malam kita jalan ya..." bisik Reno saat berpapasan dengan Rena.
"Kemana?"
"Terserah kamu.." Reno melepar senyum kepada seorang guru yang sedang melintas di depan mereka..
"Kita ngobrol dirumahku aja ya...lebih ngirit..." Rena segera berlalu dari tempat itu sebelum Reno sempat membalas ucapannya. Dia tidak ingin Reno mengajukan usulan lain.. bisa ruyam rencana mereka.
Malam itu suasana begitu syahdu, sepoi angin malam yang berhembus menambah teduh suasana. Tempat itu terasa begitu sunyi..hanya ada suara binatang mala yang terus saja bernyanyi dan gesekan daun yang bersentuhan karena tiupan angin.
"Silahkan pak..." Rena melaetakkan secangkir kopi dan juga kue untuk menemani mereka mengobrol malam ini.
Rena terbatuk -batuk.
"Kamu sakit?" Tanya Reno sambil mendekati Rena..
"Alergi dingin mungkin...sebentar ya...aku ambil jaket dulu.." Kata Rena segera bangkit dari tempat duduknya dan masuk kedalam rumahnya.
Reno duduk bersandar di kursi, pandangannya tampa sengaja tertuju pada gumpalan asap yang kini makin terlihat jelas dan saat asap itu berkurang munculah sesosok gadis berambut acak-acakan dan juga tampak lusuh dan kotor. Reno tersentak kaget karenanya. Matanya seakan tak bisa lepas dari penampakan itu. Sayup-sayup tetdengar suara tangisan seorang gadis. Udara yang bertambah dingin membuat bulu kuduknya berdiri. Reno tampak gemetar. Gadis itu memandang tajam kearahnya dan Reno dapat melihat dengan jelas ada cairan hitam yang meleleh di sudut bibir gadis itu. Reno menutup wajahnya.
"Pak...bapak kenapa?" suara Rena mengagetkan Reno. Wajah Reno pucat pasi dan tubuhnya gemetar pikirannya kacau dan tampa menunggu lama dia segera undur diri.
Pagi itu Rena,Bahar dan Danar duduk di taman belakang.
"Gimana....dah siap semua..." Rena melihat kesekelilingnya.
"Dah...beres...tapi keliatannya Pak Reno ndak keliatan hari ini.." Danar mencomot snack Bahar.
"Sepertinya...dugaan kita benar...kita ikuti aja Pak Reno. Lo jangan lupa ngasih tau Deni, kita harus bongkar ini..Aku dah capek di datengi Dena terus..." Bahar masih asyik dengan makanannya.
Rena memperhatikan rumah yang tampak sepi itu, hanya ada mobil Reno yang masih terpakir di halaman depan rumahnya. Wajahnya tampak tegang. Bahar dan Deni sudah menunggu di sekolah. Malam ini suasana begitu sepi. Entah mengapa hatinya jadi tak karuan sekarang.
"Ren....tu...pak Reno keluar..." Danar sudah bersiap menyalakan mesinnya.
"Tunggu dulu...biarin dia lewat dulu..." Rena dan Danar menundukan kepala saat dilihatnya mobil Reno melintas di samping mereka.
Reno memacu mobilnya kencang menuju sekolah. Malam yang semakin larut menambah menembah sunyi. Reno melangkah tergesa menuju kegedung bagian belakang, sejenak dia menlihat ke sekeliking sebelum akhirnya dia membuka gembok ruangan itu dan masuk.
Ruangan itu begitu sunyi dan temaram. Reno membuka almari tua dan mengeluarkan sesosok tubuh yang terbungkus plastik dan masih utuh. Tangannya bergetar. Sejenak dipandangnya sesosok tubuh yang kini sudah beku dengan luka di keningnya.
"Den...maafin aku...semua salahku...aku terlalu serakah ingin memiliki kalian berdua. Aku tidak sengaja melukaimu De....maafin aku..."
"Kenapa sekarang kau baru datang, Ren..?" suara yang begitu sendu mengagetkan Reno, siara itu begitu merana. Seolah jiwanya terikat. Reno melihat sekeliling dan dilihatnya Dena berdiri tak jauh darinya. Gadis itu menundukan kepalanya.
"Maafin aku Den...maafun aku..aku terlalu pengecut untuk berani mengakui semua ini" Reno mulai terisak..batinnya di penuhi sejuta penyesalan.
"Kau membuatku menderita...Kau kejam...inikah arti cintamu padaku....kau ingin memiliki aku dan Rena sekaligus...kau rakus...." Suara Dena berubah penuh dengan kemarahan...tubuhnya merayap ke atas, matanya begitu kelam.
"Aku akan menbusnya De.....hukumlah aku...tapi jangan siksa aku seperti ini..." Reno mulai meratap.
"Kembalikan aku ke keluargaku Ren....jangan menyiksaku lagi.." kata dena pelan.
Reno mengangkat tubuh Dena keluar kelas dan diluar terdengar derap polisi mendekati tempat itu.
Di luar Bahar, Rena dan Danar hanya terpaku melihat tubuh Dena yang terbungkus plastik. Kesedihan danbjugabkelehaan kini menerpa mereka, Rena tak lagi mampu berucap kata seakan hilang semua kekuatannya untuk mengutuk lelaki itu. Sementara Bahar masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi, akalnya masih belum menemukan ilmu apa yang dipakai Deni hingga gadis itu muncul tiba-tiba didalam kelas padahal dia tidak melihat gadis itu masuk dan bagaimana mungkin dia bisa merayap seperti laba-laba seperti itu. memikirkan hal itu membuat bulu kuduknya berdiri. Danar masih mencari sosok Deni yang sedari tadi belum juga menampakan batang hidungnya padahal polisi dan Reno sudah keluar dari kelas terkutuk itu. Tampa sengaja matanya tertuju pada sosok seorang gadis yang berdiri di ujung lorong, gadis itu tersenyum manis sambil menganggukan kepala sebagai tanda terima kasih dan berlalu menghilang di gelapnya lorong sekolah. Malam semakin larut seakan ingin melarutkan jiwa-jiwa yang masih terjaga dalam kesedihan malam itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar