Hari yang sibuk, apalagi ini hari senin pasti banyak yang terburu-buru tak terkecuali Dena
"Nyak....berangkat...!!" kata Dena sambil lari ke luar rumah...mesti cepet kalau kagak bisa-bisa nanti jadi jemuran di lapangan sekolah.
" De.....sepatu nya...." Kata nyak sambil nenteng sepatu sekolah Dena
"Ya ampun...." Dena menepuk jidatnya...kenapa ampe lupa pake...Dena segera menyambar sepatu dan lari lagi...pake diangkot atau halte aja dech..biar cepet..masa bodo orang mau liatin gimana atau koment apa..yang penting jangan sampai telat.
"De....!" suara gadis cempreng itu mengagetkan Dena. Siska melambaikan tangannya dari dalam mobil.
"Cepetan naik..." Dia menggeser duduknya. Dena segera berlari menghampirinya.
"Makasih ya Sis sudah mau ngasih tumpangan" Dena menutup pintu mobil dan segera memakai sepatunya
"Ya ampun , De. Belum juga pake sepatu?" Siska menggelengkan kepalanya
"heheheh" Dena hanya senyum saja sambil terus membetulkan sepatunya
Upacaranya lama banget ya...ya ampun..kenapa ya mesti ada acara pidato segala. Gerutu Dena,perutnya sudah keroncongan banget. "Apa aku pura-pura pingsan aja ya biar bisa keluar duluan dari lapangan. Tapi kan malu ntar malah jadi tontonan apalagi pas jatuh tau-tau dah selesai upacaranya trus pada buyar, lha aku sapa yang nolongin. Aduh..cepetan dech kelarnya..." Dera pun ngedumel dalam hati.
Ting-tong....Bel pun berbunyi...asyik....kelar dech...aku segera lari secepat mungkin ke kelas...mau nyomot kue dulu dikit sebelum gurunya datang..udah ndak bisa nahan...
Mata dena tertuju pada sebuah toko buku yang tampak ramai meskitoko buku itu kecil. Tampa terasa kakinya melangkah menuju ke arah toko buku itu. Diedarkannya pandangan ke sekeliling toko buku itu.Tak ada yang special disini,pikirnya. Dena malah melihat gadis-gadis yang tengah berbisik sambil memegang sebuah buku, bahkan mereka tidak sadar juka buku yang mereka pegang terbalik. Dena mengedaran pandangan mencari sosok yang membuat tempat ini hidup dan pandangannya tertuju pada seorang cwok yang berdiri di meja kasir, cowok tampan berkulit bersih,berpenampilan maskulin dan juga tampak seulas senyum di bibirnya. Dena jadi salah tingkah ketika pandangan mereka beradu.Sekilas Dena melempar senyum ke pemuda itu sebelum dia semakin salah tingkah dibuatnya.
"Ya tuhan...aku rela kok menderita asal tiap saat bisa melihatnya." Doa Dena dalam hati.
"De...kakak mau kenalin kamu ke cowok kakak...." Senyum melina, kakak Dena mengembang.
"Orang mana kak?" Dena mengambil duduk du depan kakaknya
"Jawa...satu kerjaan juga sama kakak...tapi dia juga punya usaha sendiri kok " Senyum kak Melani terlihat sumringah...ah.kakak ini sedang kasmaran ternyata..pikir Dena.
"Trus..kapan kemari?" Dena mengalihkan pandangannya pada hamparan rumput hijau di taman belakang rumahnya. Dia jadi teringat kembali pada cwok cakep yang di temuinya di toko buku kemarin,.Ah...andai saja cwok itu jadi miliknya dia pasti juga akan sangat bahagia, pikir Dena.
"Minggu depan,De. sekarang dia lagi ada kerjaan" katanya pelan.
"ooo" Dena cuma mengangguk pelan.
Ah...akhirnya kakak ku bisa menemukan pangerannya. Tapi siapa dia...kakaku itu sangat pemilih...jadi penasaran aku....dena bicara sendiri pada hatinya.
Ah...panasnya hari ini..apa musim kemarau sudah benar-benar melanda hingga udaranya begitu panas. Uhf....rasanya pingin cepet nyemplung ke empang...biar seger....runtuk dena
"Wahhh....si blue dah waras lagi ya...?" Dena twrlonjak gembira ketika melihat montor kesanyangannya yang kemarin sempet ngadat gara-gara nyium grobak pak Marto kini sudah terparkir manis di luar rumah.
"Dah waras...sekali-kali kamu itu yang perlu di betulin..dah berapa kali babe mesti jantungan gara-gara kamu sering nabrak orang" Babe sudah duduk di teras.
" Yee..babe..baru juga sekali" Dena jadi sewot.
" Sekali apanya...kemarin kamu nabrak grobak Pak Marto yang lagi mangkal di pasar, trus nabrak becaknya kang Diman yang lagi ngadem di bawah pohon, dulu pas itu motor baru datang juga lo trabakin ke Mbok Darmi yang lagi jualan jamu..untung mereka kagak kenapa-kenapa. Kalau sampai mereka luka dan nuntut macam-macam bisa bangkrut babe. Kayaknya kamu tu belum pantes pake ni motor" Babe tampak serius...
"Jangan donk, Be. please...besok kagak nabrak lagi dech" pinta Dena sambil pasang wajah memelas.
"Kagak nabrak tapi pulang bonyok ya sama aja..."Babe masuk ke dalam.
Ah blue..bantuin bilang ma babe kalau kita ndak bakalan nabrak apa-apa lagi dech besok...tapi kalau senggol-senggol dikit..mungkin kagak apa-apa ya blue..kata dena dalam hati.
"Kamu itu harus hati-hati kalau bawa motor, De. Kamu kan gampang panik" Kak Melina mengingatkan Dena. Bukan salahku kalau aku gampang panik. bawaan orok sich..Dena malah asyik bicara sendiri.
"Iya...lain kali bakalan hati-hati"kata Dena sambil meletakan bukunya di meja.
"Mending naik angkot aja dec. Kakak tidak yakin kamu bakalan aman pake motor itu.." Kak Melani mulai cemas.
" Yee...kakak..masak tiap hari mesti lari ngejar angkot mulu.." Dena jadi sewot.
"Siapa suruh bangun mu siang terus kalau perlu sepatumu di ikat di leher biar tidak ketinggalan lagi" Kata kak Melani tenang.
"Mati dunk aku..." melongo jadi nya, Kak Melani cuma angkat bahu aja.
Hari ini waktunya Dena nyoba si blue ...asyik..Dena melirik jam dinding. Ya ampun telat lagi.Teriak dena. segeradena disambarnya helm yang terletak di atas meja dan si blu.diapun...berlari sebelum telat ke sekolah.
"Kenapa tu anak..makin aneh aja..." Kata enyak sambil memperhatikan Dena
"Kenapa ?" Babe muncul dari kamar dilihatnya si Nyak masih mematung di depan rumah.
"Itu...Dena...Masak motornya di bawa lari kayak gitu bukannya di naikin " kata nyak sambil masuk rumah. Babe tertawa terpingkal-pingkal ketika sempat melihat Dena yang berlari mengenakan helm dan menuntun motornya.
"Buru-buru amat ya..padahal juga baru setengah tujuh" Enyak duduk diruang tengah.
"Kenapa nyak..pagi-pagi kok udah heboh...?"Melina keluar dari kamar sudah berdandan rapi dan bersiap ke kantor.
"Adik mu itu kelakuannya makin aneh..." Babe duduk di ruang tengah sambil menyruput kopinya.
"Bawaan orok, Be" Kata melani sambil pamitan. Dalam hati dia tersenyum karena berhasil mengerjain adiknya hari ini. Jam dinding di kamar Dena ia majukan setengah jam agar dena tidak terlambat. ke sekolah tapi hasilnya malah ajaib...Dena panik berlari sambil menarik si blue..Ah...setidaknya si blue lebih aman di tarik gitu dari pada dinaikin.pikir Melani.
Dena tampak aneh ketika orang-orang memperhatikannya dan saat dia tersadar dengan kejanggalannya dia segera me stater si blu dan memacunya ke sekolah.
"Den...kamu naik apa?" Siska sudah bersiap pulang.
"Aku bawa si blue..." kata Dena mantab...
"Wah....hati-hati kamu, De. Yakin lo mau naik si blue?" Siska tampak makin ragu meski Dena menganggukan kepalanya dengan yakin. Siska mendesah pelan dan berharap kali ini dia tidak nyelonong seperti biasanya dengan si blue.
Dena memacu si blue nelewati jalan tembus ke rumahnya saat tiba di tikungan Dena melihat sebuah mobil belok kwarahnya karena panik dena jadi kehilangan keseimbangan dan membanting setirnya. Sebelum jatuh Dena meloncat dari motornya dan berlari menjauhi motornya yang jatuh dan menabrak pohon pisang di pinggir sawah...ah...si blu nyungsep lagi...
"Kamu tidak apa-apa?" kata seorang cwok keluar dari dalam mobilnya.
Sejenak Dena terpana ketika dilihatnya cowok itu. Cowok yang ada di toko buku itu sekarang ada di sini. dihadapannya dan mencemaskannya.Dalam hati Dena berdoa agar setiap saat dia bisa melihat cwok itu.
" Iya...tidak apa-apa..." kata Dena gugup sambil melangkah menuju motornya. Cowok itu membantunya menstater si blue..untung si blue tidak apa-apa...
"Aku antar ya..." cowok itu menawarkan diri.
"Ndak usah...aku bisa pulang sendiru...lagi pula ini salahku kok..makasih sudah mau bantu." dena segera berlalu pergi sebelum jatuh pingsan karena gugup di depan cowok itu.
"Ya ampun, De....nyungsep dimana lagi lo..." suara Babe menggelegar membuat seisi rumah keluar,padahal isinya cuma Nyak ma Kak Melani. Kak melani sudah tidak bisa lagi menahan tawanya.
"Di parit be dekat sawah..." kata Dena sambil melepas sepatunya yang terkena lumpur karena masukbparit tadi saking gugupnya.
"Ampun dah...besok kagak usah bawa si blu aja...naik anngkot." Babe masih berkcak pinggang.
"Ya babe....masak naik angkot lagi.." Dena menngerutu
"Pokoknya nurut..." Babe masuk ke dalam kamar.
Dena berjalan gontai diletakknya sepatunya yang basah dan bau itu di belakang dia pun segera mandi sebelum badannya semakin gatal karena tadi nabrak pohon pisang.
Besok hari lamaran Kak Melani semua orang sibuk mempersiapkan jamuan. Ah...bahkan dia belum sempat kenalan dengan calon kakak iparnya. Dena teringat kembali cowok itu, namanya Dani. Kemarin dia muncul tiba-tiba di depan pintu gerbang sekolah. Katanya sengaja menunggu Dena pulang untuk memberikan buku dan kue sebagai permintaan maaf karena membuat dena terkejut hingga menabrak pohon pisang dan nyungsep di parit beberapa waktu lalu. Dena sempat terkejut juga karena tidak mengira cowok itu mencarinya sampai ke sekolah. dalam hati dia hanya mengira-ngira dari mana cowok itu alamat sekolahnya padahal dulu mereka bahkan tidak sempat berkenalan. Dalam hati Dena berdoa agar dia bwrtemu cowok itu setiap harinya.
"Den...gimana...kakak dah cantik kan?" Melani tampak mengagumi kencatikannya yang terpantul dari kaca riasnya.
"Iya cakep kok..." Dena tersenyum samar.
"Mereka sudah datang..." Nyak masuk ke kamar mengabarkan kalau tamunya sudah datang. Semua segera bersiap. Dena keluar belakangan. Dia terkejut ketika melihat mobil yang membuatnya nyungsep itu sekarang di sini. Dalam hati dia hanya menerka-nerka saja. Semua rombongan tampak akrab menyatu, suara gelak tawapun menyatu. Dena meras tubuhnya gemetar.
"Den...ayo keluar..kita kenalan sama kakak iparmu..." Nyak menggadeng Dena memasuki ruangan
"ini Dena...adik Melani" Nyak memperkenalkan Dena. Dena melemparkan senyum padabsemua orang dan senyum itu mendadak hilang ketika dilihatnya Dani juga ada disana. Duduk tenang diantara om-om yang mengantarnya. Dena merasakan saat ini wajahnya memanas, diapun undur diri lagi.
Dena lari kebelakang, ditahannya air matanya yang hendak turun itu. Disambarnya sebuah gelas yang tergeletak di atas meja. Tapi baru sesaat air itu dimuntahkan lag...air itu terasa wangi dan pahit di mulut dena. Diamatinya air itu dan ternyata itu air kembang. sontak saja dimutahkannya lagi air kembang. Dena merasa hari ini hari tersial dalam hidupnya. Orang yang dicintainya diam-diam ternyata calon kakak iparnya. dan sekarang dia tampa sengaja minum air kembang yang rasanya bikin mual..ahhh dena hanya mampu mendesah. Dalam hati dia menyesali doanya yang memimta padabTuhan untuk dipertemukan dengan lelaki itu setiap harinya. Dena hanya berharap dia aka punya seribu kekuatan yang akan membuatnya tegar menghadapi lelaki itu esok hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar