Di rumah Kak Dodi punya usaha distro. Dia begitu semangat mengurus distronya itu meski Ibu sebenarnya tidak begitu suka. Dia lebih suka bikin warung makan. hehehe...jelaslah ibu kan cewek...lebih suka masak daripada memandang kaos yang menurut ibu aneh.
"Gara-gara kau Dik usaha kakak hampir ilang..." kata kak Dodi sambil menghitung jumlah kaos yang baru datang. Aku menatapnya, memperhatikan keasyikannya mengecek kirimannya. Aku tak tahu meski ngomong apa sekarang.
"Kok bisa kak Dod. Emang kenapa?" Aku melihat kak Dodi yang mondar-mandir terus dari tadi.
"Sejak ada kau...ibu jadi terobsesi mau bikin warung makan. Kenapa sich kau pinter masak?" Kak Dodi meliriku ku sekilas sambil melanjutkan pekerjaannya. Apa salahnya jika aku bisa masak, toch yang ngajari juga Ibu kan kok dia yang sewot.
"Kan yang ngajari ibu, Kak. Jadi bukan aku yang pinter masak" aku tersenyum melihat kak dodi yang tampak gusar...lucu..jadi kayak anak kecil..Wajahnya yang tampan dengan rahang yang kuat dan kulitnya yang putih tampak menawan..apalagi postur tubuhnya yang tinggi besar semakin membuatnya terlihat mempesona. Dan yang membuatku jatuh hati adalah kesederhanaan sikapnya dan juga sikapnya yang bersahabat dengan siapa saja. Termasuk dengan asistan rumah tangganya.
"Ya nanti coba tak bicara sama Ibu," Aku melihat seulas senyum di ujung bibirnya. Senang rasanya bisa melihat yang mahal itu.
"Cakep bener kau dik..bisa ancur Kakak nanti kalau sampai distronya di gusur"
Aku tersenyum melihat rona wajahnya yang kembali, ada kelegaan disana.
*****
Panas banget ya hari ini, rasanya pingin nyemplung di kolam ajalah daripada keluar tapi aku harus selesaikan kerjaaan ku dulu sebelum ketempat ibu untuk mengantar uang kos yang dititipkan ke aku.
Ting...tong...suara bel dari setasiun dekat tempat kos ku sekarang terasa begitu akrab dan tak lama kemudian sudah tampak ramai lalu-lalang orang yang keluar masuk di sana...aku mengunci pagar sebelum keluar. dan berjalan menuju tempat ibu.
"Kenapa kau nunduk terus Dik..cari recehan kau" Kak Dodi sudah ada disampingku, aku hanya tersenyum saja dan memperlambat langkahku agar tidak sejajar dengannya..sempat ku lihat pandangan aneh orang-orang yang berpapasan denganku tapi aku tak peduli. Sebenarnya tujuan kami sama tapi aku lebih suka berjalan di belakangnya daripada di sampingnya. Jantungku belakangan ini berdetak tak normal setiap berdekatan dengannya.
"Ah...keong kau May..." Kak Dodi melangkah cepat meninggalkan aku karena tak sabar menjejeri langkahku yang senagaja ku buat santai.
Dari belakang aku bisa melihat punggungnya yang menjauh, ingin sekali aku memeluknya dan menikmati aroma tubuhnya yang maskulin.
"Kak..jalannya tegap dunk..jangan bungkuk gitu...jelek tau..." tanpa sengaja kalimat itu terlontar begitu saja saat aku melihat jalannya agak membungkuk.
"Minta di tampar kau, Dik" Katanya sambil lalu. Aku hanya tertawa saja..aku yakin dia hanya bercanda saja, tak mungkin kak Dodi akan menamparku...dia sayang sama semua pegawainya. Aku terus memperhatikannya hingga akhirnya dia menghilang di balik pintu.
Ting...tong...suara bel dari setasiun dekat tempat kos ku sekarang terasa begitu akrab dan tak lama kemudian sudah tampak ramai lalu-lalang orang yang keluar masuk di sana...aku mengunci pagar sebelum keluar. dan berjalan menuju tempat ibu.
"Kenapa kau nunduk terus Dik..cari recehan kau" Kak Dodi sudah ada disampingku, aku hanya tersenyum saja dan memperlambat langkahku agar tidak sejajar dengannya..sempat ku lihat pandangan aneh orang-orang yang berpapasan denganku tapi aku tak peduli. Sebenarnya tujuan kami sama tapi aku lebih suka berjalan di belakangnya daripada di sampingnya. Jantungku belakangan ini berdetak tak normal setiap berdekatan dengannya.
"Ah...keong kau May..." Kak Dodi melangkah cepat meninggalkan aku karena tak sabar menjejeri langkahku yang senagaja ku buat santai.
Dari belakang aku bisa melihat punggungnya yang menjauh, ingin sekali aku memeluknya dan menikmati aroma tubuhnya yang maskulin.
"Kak..jalannya tegap dunk..jangan bungkuk gitu...jelek tau..." tanpa sengaja kalimat itu terlontar begitu saja saat aku melihat jalannya agak membungkuk.
"Minta di tampar kau, Dik" Katanya sambil lalu. Aku hanya tertawa saja..aku yakin dia hanya bercanda saja, tak mungkin kak Dodi akan menamparku...dia sayang sama semua pegawainya. Aku terus memperhatikannya hingga akhirnya dia menghilang di balik pintu.
Di rumah tampak sepi, Kak dodi sudah masuk ke dalam kamarnya. Yati lagi asyik di dalam kamar dan Ibu ada di kamarnya.
"May...kalau ada yang cewek yang telepon bilang saja kakak ndak ada ya..mana Yati?" Kak dodi tampak gusar. dengan bertelanjang dada dia keluar dari kamar.
"Di kamarnya Kak..."
Kak dodi melangkah ke belakang dia tampak bicara ma yati. Aku mengetuk kamar ibu, setelah ada jawaban baru aku berani masuk.Ibu sedang duduk di depan mejanya sambil mengamati pembukuan.
"May...kenapa semalam tak ikut makan disini...?" Ibu bangkit perlahan dari kursinya.
"Kosan sepi Bu...banyak yang balik....mau ujian...jadinya banyak yang pulang ke rumah..." Aku menyerahkan uang titipan dari mbak-mbak yang bayar kos.
Saat aku keluar kamar telephon rumah berdering...yati dengan sigap menganggkatnya, setelah dia berbincang sebentar dia langsung berteriak.
"Bang Dodi...ada telepon...!" Yati teriak kenceng, Bataknya keluar kali ini...ya ampun tu anak..suaranya...kenceng abis.. bukannya tadi udah di peseni ya...Kak Dodi terlihat gusar.
"Gimana sich Yat..udah di bilangin juga..." Kak Dodi jadi sewot. Wajar kalau dia marah..lha emang Yati salah....Kak Dodi masih berdiri di depan kamarnya..Dasar Yati antenanya emang lemot, yang lain sudah Fm dia masih aja am. Ada yang salah tu kayaknya ma sarafnya.
"Angkat aja Kak..dah terlanjur juga...kasihan dia dah nunggu tu..." kataku sambil berlalu ke dapur. Dengan gontai kak dodi menuju meja telepon. Mukanya sudah lecek dan bibirnya manyun.
"Halo...maaf ya...aku lagi repot sekarang..." dia segera menutup teleponnya.
Wuih, singkat amat ya ngobrolnya, niat banget ya ndak mau terima telepon...kenapa Kak Dodi nich...dia emang dari dulu ndak mau deket ma cewek ndak tau juga aku seleranya dia seperti apa. Kalau masalah cewek dia tidak mau bilang termasuk pada ibu...dia lebih suka fokus ma distronya.
"May....masih hidup kau!" teriak Kak Dodi dari ruang tengah.
.
"Setengah Kak Dod..." sahutku dari dapur tanpa menampakan wajahku.
"Apa kau senyum-senyum..tak punya kuping kau...sudah Kakak bilang tadi masih juga kau langgar..." Kak Dodi kayaknya marah banget ma Yati. Heheh...batak di lawan.Suaranya bikin telinga jadi panas, bener-bener kenceng suaranya.
Yati masih dengan wajah tak bersalahnya memasang senyum di hadapan kak Dodi. Semenatara itu kak Dodi sudah menghilang di balik pintu kamarnya. Dengan tanpa penyesalan Yati kembali ke kamarnya. Capek dech ngadepin tu anak, udah smp tapi kelakuannya bener-bener parah ngalahin anak sd saja.
Perutku mendadak lapar mendengar pertengkaran mareka, segera kuambil makanan dan duduk di belakang. Aku menyantap makananku perlahan dan mulai menikmati keheningan tempat itu.
"Kenapa makannya disini,May?" suara itu mengejutkanku. Sosoknya sudah berdiri di sampingku tanpa kusadari sambil menenteng ranselnya.
Dengan santainya dia duduk disampingku dan menyuap makanan ku, Aku jadi bengong dan melotot melihatnya.
"Kenapa May, kau dak kena penyakit rabies kan. Kenapa melotot gitu?" dengan santainya dia mengunyah makannya tanpa beban.
"Kakak lapar? kalau lapar aku ambilkan makan."
"Ndak usah,May. Kakak buru-buru. Suapin May, Kakak mo pake sepatu biar cepet."
Hah...hilang dech selera makanku saat ini. Sungguh ini tak pernah ada dalam kamusku selama ini. bagaimana mungkin Kak Dodi bisa seperti ini. Ini tidak benar.... mau tak mau pun aku menyuapinya sambil memperhatikannya memakai sepatu. Jantungku jadi aneh sekarang.
"Selesai...dah kenyang sekarang, kau ambil makan sana gih, jatahmu dah berkurang. Kakak berangkat dulu." Ucapnya santai sambil ngeloyor pergi dan meninggalkan aku yang masih terbengong-bengong karenanya. Kalau sudah begini aku jadi tak nafsu makan sekarang.
*******
"May...kalau ada yang cewek yang telepon bilang saja kakak ndak ada ya..mana Yati?" Kak dodi tampak gusar. dengan bertelanjang dada dia keluar dari kamar.
"Di kamarnya Kak..."
Kak dodi melangkah ke belakang dia tampak bicara ma yati. Aku mengetuk kamar ibu, setelah ada jawaban baru aku berani masuk.Ibu sedang duduk di depan mejanya sambil mengamati pembukuan.
"May...kenapa semalam tak ikut makan disini...?" Ibu bangkit perlahan dari kursinya.
"Kosan sepi Bu...banyak yang balik....mau ujian...jadinya banyak yang pulang ke rumah..." Aku menyerahkan uang titipan dari mbak-mbak yang bayar kos.
Saat aku keluar kamar telephon rumah berdering...yati dengan sigap menganggkatnya, setelah dia berbincang sebentar dia langsung berteriak.
"Bang Dodi...ada telepon...!" Yati teriak kenceng, Bataknya keluar kali ini...ya ampun tu anak..suaranya...kenceng abis.. bukannya tadi udah di peseni ya...Kak Dodi terlihat gusar.
"Gimana sich Yat..udah di bilangin juga..." Kak Dodi jadi sewot. Wajar kalau dia marah..lha emang Yati salah....Kak Dodi masih berdiri di depan kamarnya..Dasar Yati antenanya emang lemot, yang lain sudah Fm dia masih aja am. Ada yang salah tu kayaknya ma sarafnya.
"Angkat aja Kak..dah terlanjur juga...kasihan dia dah nunggu tu..." kataku sambil berlalu ke dapur. Dengan gontai kak dodi menuju meja telepon. Mukanya sudah lecek dan bibirnya manyun.
"Halo...maaf ya...aku lagi repot sekarang..." dia segera menutup teleponnya.
Wuih, singkat amat ya ngobrolnya, niat banget ya ndak mau terima telepon...kenapa Kak Dodi nich...dia emang dari dulu ndak mau deket ma cewek ndak tau juga aku seleranya dia seperti apa. Kalau masalah cewek dia tidak mau bilang termasuk pada ibu...dia lebih suka fokus ma distronya.
"May....masih hidup kau!" teriak Kak Dodi dari ruang tengah.
.
"Setengah Kak Dod..." sahutku dari dapur tanpa menampakan wajahku.
"Apa kau senyum-senyum..tak punya kuping kau...sudah Kakak bilang tadi masih juga kau langgar..." Kak Dodi kayaknya marah banget ma Yati. Heheh...batak di lawan.Suaranya bikin telinga jadi panas, bener-bener kenceng suaranya.
Yati masih dengan wajah tak bersalahnya memasang senyum di hadapan kak Dodi. Semenatara itu kak Dodi sudah menghilang di balik pintu kamarnya. Dengan tanpa penyesalan Yati kembali ke kamarnya. Capek dech ngadepin tu anak, udah smp tapi kelakuannya bener-bener parah ngalahin anak sd saja.
Perutku mendadak lapar mendengar pertengkaran mareka, segera kuambil makanan dan duduk di belakang. Aku menyantap makananku perlahan dan mulai menikmati keheningan tempat itu.
"Kenapa makannya disini,May?" suara itu mengejutkanku. Sosoknya sudah berdiri di sampingku tanpa kusadari sambil menenteng ranselnya.
Dengan santainya dia duduk disampingku dan menyuap makanan ku, Aku jadi bengong dan melotot melihatnya.
"Kenapa May, kau dak kena penyakit rabies kan. Kenapa melotot gitu?" dengan santainya dia mengunyah makannya tanpa beban.
"Kakak lapar? kalau lapar aku ambilkan makan."
"Ndak usah,May. Kakak buru-buru. Suapin May, Kakak mo pake sepatu biar cepet."
Hah...hilang dech selera makanku saat ini. Sungguh ini tak pernah ada dalam kamusku selama ini. bagaimana mungkin Kak Dodi bisa seperti ini. Ini tidak benar.... mau tak mau pun aku menyuapinya sambil memperhatikannya memakai sepatu. Jantungku jadi aneh sekarang.
"Selesai...dah kenyang sekarang, kau ambil makan sana gih, jatahmu dah berkurang. Kakak berangkat dulu." Ucapnya santai sambil ngeloyor pergi dan meninggalkan aku yang masih terbengong-bengong karenanya. Kalau sudah begini aku jadi tak nafsu makan sekarang.
*******
Malam minggu terasa sunyi..sendiri di tempat kos..semua penghuni kosan pada pulang, hanya aku sendiri di sini di diruang tv kosan. Aku masih asyik memandang saluran kesukaan ku..film action...ketika sesosok tubuh muncul di depanku.
"Ndak kerumah, Dik?" kak Dodi muncul sambil membawa bungkusan. Aku mengalihkan pandanganku sejenak. menatap wajahnya yang sedikit berpeluh, Sepertinya malam ini dia habis pergi kesuatu tempat,
"Ndak kak...kos-kosan sepi...heheh...maklum malam minggu..dari mana?" aku meletakan majalah yang ku pinjam dari mbak kos sore tadi dan mengalihkan pandanganku menatap sosok yamg ada di hadapanku sekarang.
"Dari rumah...nich kakak disuruh Mama nganter makanan..."
Kak dodi menyerahkan makanan itu, Expresi wajahnya datar, tumben Ibu nganter makanan kesini, Aku menerima bungkusan itu dan mengamatinya sejenak dan aku yakin ini bukan dari rumah. Sebelum sempat aku bertanya lagi Kak dodi membalikan badan dan berlalu,mau tak mau aku mengikutinya dari belakang, mengantarnya sampai ke pintu depan.
"Makasih Kak, makanannya...ndak apel Kak?" aku memandang dari belakang punggung yang yang kokoh itu. Rasanya ingin memeluknya. Tapi pikiran bodoh itu segera ku tepis. makhuk satu ini tak akan mampu kusentuh. Apalagi menjadikannya sebagai obyek fantasiku, Aku tak sanggup melakukan itu.
"Dah...barusan..." Dia tak menoleh sedikitpun kearah ku. Jawaban yang singkat dan penuh misteri buatku.
Sejak kapan Kak Dodi berani apel ke tempat cewek... kemajuan berarti. Setelah kepergian Kak Dodi aku kembali ke tempat semula dan membuka bungkusan itu..ya ampun..aku yakin ini bukan Ibu yang buat..aku yakin Kak Dodi membeli di luar tadi..ya ampun berhentilah...cukup sampai disini saja. Aku menatap makanan itu. Tanpa ada hasrat untuk menyentuhnya apalagi memakannya.
Tit....tit...tit....handpone ku berbunyi, sebuah sms masuk'
"Makanlah,Dik. Kakak sengaja beliin kamu tadi. Kakak tahu kamu belum makan"
Aku mendesah pelan, ternyata benar, Kak Dodi membelinya untuk ku.
"May berharap ini yang terkhir,Kak. Berhentilah...Jangan buat semuanya menjadi rumit sekarang."
aku menekan tombol send. Mataku melirik makanan itu. Perutku mulai keroncongan karena dari siang belum terisi dan makanan itu begitu menggoda.
"Kakak tak bisa,May. Kau tahu pasti perasaan Kakak,May" balasnya.
"Kalau gitu, May yang akan buat Kakak menghentikan semuanya. Soal makanannya, May akan kasih Yati saja. May udah kenyang ndenger jawaban Kakak.." balasku lagi.
Aku nendesah pelan, apa yang harus aku lakukan sekarang. Ini salah...Kak Dodi tak seharusnya punya perasaan ini. Selama ini aku sudah mati-matian berusaha menghindar darinya. Berharap aku tak bertemu dengannya tapi malah dia yang menghampiriku dengan mudahnya.
"Kak May....." suara cempreng Yati membuatku tersadar dari lamunanku. Setan cilik itu muncul dihadapanku dengan senyumnya yang terasa aneh buatku
"Kak May kenapa tak kerumah, Dicariin Uwak tu.." ucapnya.
"Kosan sepi,Yat. Jaga kosan aku.." jawabku asal sambil membuka kembali wajalahku.
"Apa ini, Kak?' tanya Yati lagi.
"Dari anak kost tadi" jawabku asal.
"Bagi dunk, Kak. Yati juga mau." tanpa permisi dia langsung menyambar makanan itu dan melahapnya tanpa ampun. Aku hanya melongo saja melihat makanan itu kini tinggal kenangan. Aku sungguh menyesal tadi saat bilang aku akan memberikannya pada Yati dan ternyata Tuhan mengabulkannya dengan cepat.
Ah...makananku...itu kan dari Kak Dodi. Pingin rasanya aku menggantung Yati karena sudah menghabiskan makanan itu tanpa rasa bersalah. Ingin rasanya aku nangis sekarang.
"Ah Kak May, kenyang Yati sekarang." ucapnya sambil bangkit dan membuang bungkus makanan itu ketempat sampah, aku hanya bisa meliahatnya dengan ekor mataku saja. Kejam kau Yati.....
"Kak May..Yati balik dulu ya. Makasih makanannya, Yati sebenarnya tadi kesini cuma mau bilang, Kak May besok pagi disuruh Wak kerumah, katanya mau diajak kepasar. Daa Kak May.." ucapnya tanpa rasa bersalah dan pergi berlalu begitu saja, meninggalkan aku yang sudah kehilangan kata sambil melirik bungkus makanan yang kini ada di tong sampah. Bodat kau Yati...tunggu pembalasanku. Ingat...pembalasan itu lebih kejam...teriaku dalam hati.
******
Sebenarnya aku malas bila ke tempat Ibu saat ini apalagi ini hari sabtu, Kak Dodi pasti ada di rumah saat ini. Dengan perlahan aku membuka pintu garasi. Kebiasaanku kalau ketempat Ibu, aku pasti lewat pintu garasi yang langsung mengarah ke dapur.
Ingin rasanya aku berjalan mundur lagi, agar bisa mengulur waktu untuk bisa menghindar dari situasi ini meski pada kenyataannya aku tak akan pernah bisa menghindar dari situasi yang membelitku saat ini. Entah bagaimana semua ini berawal tapi yang pasti aku dan Kak Dodi sama-sama tak bisa berkutik sekarang, sebisa mungkin harus menekan rasa ini meski pada kenyataannya kami sama-sama sakit sekarang.
"May...sini kau. Ayo sarapan dulu..." suara Ibu langsung menggema saat aku mucul di dapur. Aku hanya tersenyum saja, sambutan kekeluargaan yang selalu terdengar indah ditelingaku. Aku berjalan pelan mendekati Ibu yang tampak sibuk dengan kertas dan polpen di tangannya.
Di meja makan aku melihat Kak Dodi sedang melahap sarapannya, disampingnya duduk seorang gadis cantik, gadis yang sama yang ku lihat tadi malam di depan kosan.
gadis itu tanpak berbicara berbisik pada Kak Dodi sambil sesekali tersenyum, tangannya kadang memegang tangan Kak Dodi, bahkan tanpa ragu dia juga sering menyentuh bibir Kak Dodi yang belepotan karena makanannya, mereka tampak asyik hingga tak memperdulikan kehadiran orang lain disana.
Bleeh...mereka ingin pamer kemesraan rupanya. Aku hanya tersenyum miring melihat adegan ini meski hatikku terbakar saat ini.
Aku melangkah meninggalkan mereka dan memilih duduk bersama Ibu yang lagi sibuk mencatat daftar belanjaan.
Hari ini tumben banget Kak Dodi mau diajak Ibu ke pasar mungkin karena gadisnya juga ikut makanya dia semangat, biasanya Mas Ma'i yang bertugas mengantar ke pasar. Hari ini mas Ma'i ada kepentingan jadinya yang nganter Kak Dodi. Sepanjang perjalanan kami mengobrol ringan, dari sana aku tahu nama gadis itu Aning. Aku lebih banyak diem dan memalingkan wajahku menatap keluar jendela. Menatap pada jalanan dan lalu lalang orang. Muak aku melihat gaya bicaranya yang sok manja itu apalgi ditambah hobinya yang suka menggerayangi Kak Dodi.
Hampir beberapa jam muter-muter di pasar akhirnya mendapatkan juga apa yang di ingini.Kini aku mirip kuli panggul, membawa belanjaan yang sudah menebihi tangankku untuk ku gemgam, linu dan perih, Aning dengan santainya berjalan lagaknya bos saja. Belum juga jadi istri bos tapi lagaknya dah kayak bos saja.
"Mbak..bawain ini ya, aku mau kesana dulu. Ribet kalau mesti bawa belanjaan." ucapnya sambil berlalu dan meninggalkan belanjaannya begitu saja.
"Ibu duduk sini aja ya..May mau naruh ini dulu di mobil. Nanti May kesini lagi." Ibu hanya mengangguk saja, sepertinya ibu mulai kecapean. Kasian juga, bisa-bisa asam uratnya kambuh lagi nanti. Aku bergegas ke mobil dengan belanjaan yang menggila,
. Akhirnya tanganku sudah mulai pegel dengan kantong belanjaan yang seabrek itu. Aku memutuskan ke mobil duluan untuk menaruh belanjaan itu. Kak Dodi yang melihatku membawa belanjaan yang seabrek itu, bergegas membuka bagasinya. aku menaruh belanjaan itu dan sesekali mengibaskan tanganku karena capek. Kak dodi menutup bagasinya tanpa berkatanya apa-apa. Wajahnya masih terlihat datar. Ngilu rasanya tanganku. Aku mengibaskan lagi tanganku untuk mengurangi nyerinya. Biasanya Mas Ma'i yang membantu membawakan belanjaanku tapi hari ini aku yang harus melakukannya sendiri.
"Tumben Kak Dodi mau ikut kepasar?" ucapku membuka obrolan.
"Iya...semua karena Ibu, jadi jangan Gr kau.." ucapnya sinis tanpa expresi.
"Sejak kapan aku Gr karena perhatian Kakak, ndak salah tu ngomongnya ?" balasku. Aku beranjak hendak berlalu tapi dia menarik tanganku.
"Kakak tak akan pernah lepasin kamu...inget itu"
Aku menarik tanganku dan bergegas meninggalkannya, pikiranku benar-benar ruwet kali ini. Apa dia masih ingin menyiksaku lagi setelah ini.
Sepanjang perjalanan aku kembali terdiam, menatap jalanan yang lebih menarik daripada menatap kemesraan mereka, mataku terasa panas sekarang. Sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak kalah sekarang.
********
Dari pagi semua sudah sibuk memberesksn rumah, untuk hari ini aku meninggalkan kosan dulu. banyak hal yang harus aku lakukan di rumah Ibu karena bagianku memang lumayan berat, menyiapkan makanan untuk tamu.
Rencananya Kak Dodi akan membawa keluarga gadisnya berkunjung. Meski aku menguasai beberapa resep makanan tapi tetap saja aku butuh ibu sebagai penasihat rasa agar semua terlihat sempurna malam nanti.
Aku sudah memakai apron ku dan mulai berkutat dengan segala macam rempah dan bahan lainnya. Sedari datang aku tak melihat Kak Dodi, mungkin saja dia belum bangun pagi ini,apalagi kata Yati dia pulang larut semalam. Sejak kemarin hpku memang kumatikan. Aku tak ingin ada hal yang akan menggoyahkan usahaku selama ini.
Ibu duduk sambil mengawasi ku yang asyik mengacak-acak dapur. Asam urat yang menyerang lututnya membuat Beliau hanya mampu duduk saja saat ini. bagiku ini sudah lebih dari cukup.
Yati masih sibuk membersihkan ruang tamu sambil bernyanyi lagu batak. Entah apa artinya syairnya itu karena aku memang tak paham bahasa batak selain Bodat.
"Hy Mbak Mey..." tepukan halus di pundak ku membuatku terlonjak kaget. Kak Ri tak kalah terkejutnya melihat ku terlonjat seperti itu.
"Busyet...kenapa Mbak Mey, jangan tegang gitu, tangan ma pikiran kok ndak singkron gitu." ucap kak Ri yang ternyata sudah berdiri di sampingku. kupasang wajah bayi dang mengerjap gaje pada Kak Riri.
Kak Ri hanya mendesah saja, sejenak dia diam..sepertinya saat ini ada yang sedang di pikirkannya.
ada sesuatu yang ingin dikatankannya tapi di tahannya.
"Lanjutkan perjuangan mu, Mbak Mey" kata Kak Ri pelan, Buatku itu bukan sekedar kata guyonan atau pemberi semangat semata. Tapi kata perjuangan itu buat ku lebih dari sekedar itu. Aku hanya tersenyum saja sambil terus melanjutkan pekerjaanku. Menjelang magrib semua pekerjaan selesai, Semua makanan terhidang di meja dengan rapi.
Aku pamit balik ke kosan untuk mandi dan ganti baju. Rasanya kakiku mau putus sekarang, capeknya bukan main apalagi ini baru setengahnya, acara intinya malam ini. Seharian aku tak menghiraukan ocehan Kak Dodi yang panik ini dan itu. bahkan aku sama sekali tak tertarik untuk ikutan ngobrol dengannya.
Jujur saja rasanya aku sudah tak ingin kembali ke sana saat ini, Selain capek hati, badanku juga capek sekali. Tapi tak enak juga membiarkan Yati dan anak baru itu kerepotan mengurus semua. Setidaknya aku harus ada disana sekarang meski nanti akan membuatku lebih hancur lagi.
Halaman rumah kini tampak penuh dengan beberapa kendaraan. Sebenarnya berapa orang sich yang diundang Kak Dodi. Kenapa ramai begini. Suara anak kecilpun mulai riuh terdengar. Saat aku memasuki pintu samping, Tempat itu juga banyak pemuda dan pemudinya. Ada yang memandangku aneh saat aku melintasi mereka..biarin ajalah, terserah mereka mau berpikir apa.
"Kak May....!" suara cempreng itu membuatku tersenyum miring. Dasar toa, teriak mulu kerjaannya. Nggak liat apa banyak tamu.
"Jangan teriak ngapaw, Dik. Malu banyak orang." Yati menariku ke dapur. Saat itu pula Kak Dodi mucul di dapur.
"May..." hanya itu yang terdengar darinya selebihnya dia hanya terpaku saja. Dia terlihat tampan malam ini, Dia memang tampan. Tapi malam ini lebih.
"Kak Dod butuh apa, bilang saja, ntar aku ambilin." ucap ku.
"Say, ngambil apa?, eh mbak itu kuah sotonya habis. Masih ada lagi ndak ya?" gadis itu bergelayut di lengan Kak Dodi, seakan ingin menegaskan kalau Kak Dodi miliknya.
"Sebentar saya panasin dulu, Silahkan duduk aja. Nanti saya antar." aku berlalu dari hadapan Kak Dodi. Ingin rasanya aku mengambil semua kekuatan manusia di dunia ini untuk membuatku berdiri tegag sekarang, I.ngin rasanya aku mengambil semua oksigen di dunia ini agar aku tak sesak nafas seperti sekarang. Tanganku rasanya gemetar saat memutar knop kompor. Rasanya aku benar-benar tak sanggup sekarang. Aku harus secepatnya pergi dari sini atau aku akan mengacaukan semuanya.
"Kak May....pucet banget kayak mayat lo Kak, Kakak sakit?" tanya Yati.
aku hanya menggeleng. Tanganku gemetar lebih parah ternyata..
"Yati aja dech yang lanjutin, Kak May istirahat aja. Pucet gitu." Yati pun segera menggeseran tubuhku, mengambil alih tugasku. Aku memilih menyingkir dari dapur.
"Eh Mbak, itu di ruang depan ada banyak piring kotor, singkirin dulu gih. Banyak anak kecil soale." ujar seorang perempuan paruh baya, entah siapa. kurasa aku baru melihatnya.
Perlahan aku bangkit dari tempat dudukku. berjalan mengikuti wanita itu. Aku melihat Kak Dodi sedang bercanda dengan gadis itu dan beberapa kerabatnya. Entahlah, melihat senyumnya kali imi hatiku terasa sangat sakit.
"Kak May, lagi ngapain...?" suara Ipah mengejutkanku.
"Kau itu bikin kaget aja, Dik. Mau ambil piring kotor di depan." jawabku sambil mengambil mengambil mampan.
"Ayo, Ipah bantu.."
Aku hanya trsenyum saja dan mengangguk, di ruang depan memang banyak sekali berserakan piring kotor dan gelas. Akan sangat berbahaya jika sampai tertabrak anak kecil. Aku mengumpulkan semua gelas yang telah kosong dan Ipah yang menaruhnya di mampan kemudian membawanya ke dapur.
Aku mengangkat tumpukan piring kotor tapi belum sempat melangkah sepasang lengan kokoh sudah mengambil alih tugasku.
"Biar aku bantu, Kau
"May...kau sudah enger may.." ibu langsung bertanya padaku saat aku muncul dari pintu dapur..
"Apa bu?"gibaskan tanganku
" Si Ma'i, minggu depan nikah may. Gila tu anak...baru kena l tu cewek bobrol ringang hari langsung mau nikah..." ibu tampak berapi-api.
"Jodoh kali bu..." Aku melempar senyum..
"Jodoh apanya..itu kenal di pinggir jalan..belum kenal dalamnya baru kenal kulitnya main sosor aja..." Kelihatannya ibu tidak suka dengan kepu
tusan mas ma'i nikah buru-buru
" Ya kita liat saja seberapa lama mas Ma'i bisa bertahan...." Aku buru-buru menutup mulutku dengan tanganku...kacau dech..
"Hancur dech...balas mbak mey..." Kak ri masih asyik menyuap sup krim nya.
" May...bawa kemari cwokmu...suruh dia melamar ke ibu may..." kata ibu tiba-tiba.
Kak dodi masih terlihat tenang menyelesaikan makannya dan akhirnya dia kembali ke kamarnya
Tak terasa waktu cepat berlalu...aku makin tak nyaman dengan semua ini..rasa sakit ini makin tak tertahankan..kadang kak dodi begitu cuek..tapi kadang dia begitu perhatian. Sudah cukup kak dod.....sudah cukup....akhiri semuanya atau kita akan hancur. Aku tau kakak yang sering menelphon ku tampa suara selama ini karna jika kakak bersuara aku akan tau kalau itu kakak. Berhentilah..jangan menyiksa diri lagi...
"Mau kemana dod....?" tanya ibu ketika melihat kak dodi sudah rapi
"Ada perlu ma temen ma..., Dodi berangkat dulu ma..." Kak dodi pamitam ma ibu dan juga kak Riri...setelah itu melangkah keluar melewati meja kami ..
"Abang berangkat dulu ya dik..." kak Dodi tak menoleh kearah kami..langkahnya cepat..sepertinya dia buru-buru...
"May...tolong bukain pintunya dik..." teriaknya dari luar..Aku berlari ke garasi dan membuka pintunya..
" cakep kau dik..." kak dodi segera memacu mobilnya perlahan...
Aku hanya tersenyum samar saja...ah kak...berhentilah...atau aku yang akan menghentikannya untuk selamanya...
Hari ini rumah sibuk..kak dodi mau lamaran...akhirnya dia menemukannya..tapi sama sekali tidak ada senyum di wajahnya...harusnya dia sumringah...kenapa dia diam saja..
"May...bantu sini dulu dik..." Kak dodi memanggilku dari dalam kamar...
" Wah...cakepnya...bantu apa kak.."Spontan aku memujinya..melihat ketmpanan dan kegagahannya saat mengenakan baju batik itu...seperti arjuna...
"Foto in kakak, Dik...?" dia membetulkan bajunya yang sudah rapi itu..kenapa dia jadi gugup gini ya..
"Sejak kapan kakak suka narsis...hehehe...mana kameranya..." aku mencari kamera di mejanya.
"Pake hp mu lah...ngapain punya kakak?" Nah kan...aku jadi tambah bengong...
Aku segera memotretnya beberapa kali... setelah merasabhasilnya bagus aku menunjukannya ke kak dodi..
"Pinter kau dik moto orang..., itu buat kau...simpan ya... " katanya pelan..
"Kak...cukup sampai disini...jangan di teruskan lagi...kita tak akan pernah bisa..cukup kak..mulai detik ini kita kembali ke posisi semula..." aku menatapnya, dia tampak termenung..
"Andai kakak bisa may...." dia tampak tertunduk...
"Kita sama-sama tau kak..keputusan kakak untuk melamar gadis itu adalah keputusan yang paling benar demi keluarga ini dan juga kakak, semua ini harus tetap dilaksanakan..." Aku tak bisa menahan perasaanku..
"Lalu bagaimana dengan kakak may...saat pertama kali kamu datang, kakak hanya melihatmu sebagai gadis manis yang lugu yang belum bisa apa-apa..tapi kemudian kau berubah..dan kau merubah semuanya..Kau merubah ibu, yang dulunya setiap hari sewot gara-gara ulah yati menjadi ibu yang penuh semangat dan meikirkan banyak hal termasuk menggusur distroku untuk di bikin warung..kau bisa melakukan semuanya yang tak bisa dilakukan pegawai yang terdahulu..termasuk ikutan ngecet tempat kos..kau merubahku dengan kepolosanmu, sikapmu yang apa adanya, kelucuanmu dan juga gayamu yang tenang dan kadang diam tampa bisa kumengerti, kau tak pernah membantah..haruskah aku melapaskan semua itu may.?" kak dodi tampak putus asa sekarang..
"karna aku disini cuma pembantu kak dod..sudah sewajarnya kalau aku sendiko dawuh dengan semua yang diperintahkan ibu... itu wajar" kataku tenang...
"Tapi perasaan ini tak bisa kuhindari may..." dia masih tertunduk.
"Kalau begitu aku akan membuat kak dodi merasa yakin bahwa menikahi gadis itu adalah keputusan yang tepat, kita semua harus kembali kepada posisi kita semula kak agar tidak ada lagi yang sakit hati..jadikan aku adikmu..bukan simpananmu..semoga kakak bahagia..." Aku berlaku dari kamarnya...di luar semua tampak sibuk dengan kerjaan masing-masing..semua kerabat sudah berkumpul dan juga sudah siap untuk berangkat..aku membantu memasukan bingkisan ke mobil.
"Mbak may ndak ikut...?" kak ri melihatku sekilas...
" Ndak kak ri...kosan sepi soalnya...suskses aja dech kak ri.." kataku sambil menutup pintu bagasi.
" Ok Mbak May...dunia ini luas Mbak may...suatu saat pasti akan bertemu arjunanya sendiri..." Kak ri tersenyumpenuh arti
"Betul...betul...betul....hahahah...pasti ketemu lah kak Ri..." kataku mantab..
Kak Dodi sudah keluar dari pintu diikuti yang lainnya..tampak jelas kegugupan di wajahnya. Semangatlah sayang...kamu harus kuat...langkahkan kakimu..jangan berhenti disini..karena jodohmu ada disana..bukan disini...pergilah...kutunggu kabar bahagia darimu. Aku beringsut mundur...dia harus tau..aku tak terpengaruh dengan semua ini...meski saat ini batinku lebih remuk.
Malam semakin larut...dari tempatku berada aku dapat mendengar suara pintu gerbang di buka...mereka sudah datang...ku harap mereka membawa berita bagus..
Semalam akubtak bisa memejamkan mataku teringat kembali kegalauan yang melanda kak Dodi sebelum berangkat tadi. Ah..tampaknya aku mesti segera bertindak atau pernikahan itu akan gagal..aku rasa kak ri sudah tau...akan lebih rumit jika sampai yangblain tau juga.
"Ndak kerumah, Dik?" kak Dodi muncul sambil membawa bungkusan. Aku mengalihkan pandanganku sejenak. menatap wajahnya yang sedikit berpeluh, Sepertinya malam ini dia habis pergi kesuatu tempat,
"Ndak kak...kos-kosan sepi...heheh...maklum malam minggu..dari mana?" aku meletakan majalah yang ku pinjam dari mbak kos sore tadi dan mengalihkan pandanganku menatap sosok yamg ada di hadapanku sekarang.
"Dari rumah...nich kakak disuruh Mama nganter makanan..."
Kak dodi menyerahkan makanan itu, Expresi wajahnya datar, tumben Ibu nganter makanan kesini, Aku menerima bungkusan itu dan mengamatinya sejenak dan aku yakin ini bukan dari rumah. Sebelum sempat aku bertanya lagi Kak dodi membalikan badan dan berlalu,mau tak mau aku mengikutinya dari belakang, mengantarnya sampai ke pintu depan.
"Makasih Kak, makanannya...ndak apel Kak?" aku memandang dari belakang punggung yang yang kokoh itu. Rasanya ingin memeluknya. Tapi pikiran bodoh itu segera ku tepis. makhuk satu ini tak akan mampu kusentuh. Apalagi menjadikannya sebagai obyek fantasiku, Aku tak sanggup melakukan itu.
"Dah...barusan..." Dia tak menoleh sedikitpun kearah ku. Jawaban yang singkat dan penuh misteri buatku.
Sejak kapan Kak Dodi berani apel ke tempat cewek... kemajuan berarti. Setelah kepergian Kak Dodi aku kembali ke tempat semula dan membuka bungkusan itu..ya ampun..aku yakin ini bukan Ibu yang buat..aku yakin Kak Dodi membeli di luar tadi..ya ampun berhentilah...cukup sampai disini saja. Aku menatap makanan itu. Tanpa ada hasrat untuk menyentuhnya apalagi memakannya.
Tit....tit...tit....handpone ku berbunyi, sebuah sms masuk'
"Makanlah,Dik. Kakak sengaja beliin kamu tadi. Kakak tahu kamu belum makan"
Aku mendesah pelan, ternyata benar, Kak Dodi membelinya untuk ku.
"May berharap ini yang terkhir,Kak. Berhentilah...Jangan buat semuanya menjadi rumit sekarang."
aku menekan tombol send. Mataku melirik makanan itu. Perutku mulai keroncongan karena dari siang belum terisi dan makanan itu begitu menggoda.
"Kakak tak bisa,May. Kau tahu pasti perasaan Kakak,May" balasnya.
"Kalau gitu, May yang akan buat Kakak menghentikan semuanya. Soal makanannya, May akan kasih Yati saja. May udah kenyang ndenger jawaban Kakak.." balasku lagi.
Aku nendesah pelan, apa yang harus aku lakukan sekarang. Ini salah...Kak Dodi tak seharusnya punya perasaan ini. Selama ini aku sudah mati-matian berusaha menghindar darinya. Berharap aku tak bertemu dengannya tapi malah dia yang menghampiriku dengan mudahnya.
"Kak May....." suara cempreng Yati membuatku tersadar dari lamunanku. Setan cilik itu muncul dihadapanku dengan senyumnya yang terasa aneh buatku
"Kak May kenapa tak kerumah, Dicariin Uwak tu.." ucapnya.
"Kosan sepi,Yat. Jaga kosan aku.." jawabku asal sambil membuka kembali wajalahku.
"Apa ini, Kak?' tanya Yati lagi.
"Dari anak kost tadi" jawabku asal.
"Bagi dunk, Kak. Yati juga mau." tanpa permisi dia langsung menyambar makanan itu dan melahapnya tanpa ampun. Aku hanya melongo saja melihat makanan itu kini tinggal kenangan. Aku sungguh menyesal tadi saat bilang aku akan memberikannya pada Yati dan ternyata Tuhan mengabulkannya dengan cepat.
Ah...makananku...itu kan dari Kak Dodi. Pingin rasanya aku menggantung Yati karena sudah menghabiskan makanan itu tanpa rasa bersalah. Ingin rasanya aku nangis sekarang.
"Ah Kak May, kenyang Yati sekarang." ucapnya sambil bangkit dan membuang bungkus makanan itu ketempat sampah, aku hanya bisa meliahatnya dengan ekor mataku saja. Kejam kau Yati.....
"Kak May..Yati balik dulu ya. Makasih makanannya, Yati sebenarnya tadi kesini cuma mau bilang, Kak May besok pagi disuruh Wak kerumah, katanya mau diajak kepasar. Daa Kak May.." ucapnya tanpa rasa bersalah dan pergi berlalu begitu saja, meninggalkan aku yang sudah kehilangan kata sambil melirik bungkus makanan yang kini ada di tong sampah. Bodat kau Yati...tunggu pembalasanku. Ingat...pembalasan itu lebih kejam...teriaku dalam hati.
******
Sebenarnya aku malas bila ke tempat Ibu saat ini apalagi ini hari sabtu, Kak Dodi pasti ada di rumah saat ini. Dengan perlahan aku membuka pintu garasi. Kebiasaanku kalau ketempat Ibu, aku pasti lewat pintu garasi yang langsung mengarah ke dapur.
Ingin rasanya aku berjalan mundur lagi, agar bisa mengulur waktu untuk bisa menghindar dari situasi ini meski pada kenyataannya aku tak akan pernah bisa menghindar dari situasi yang membelitku saat ini. Entah bagaimana semua ini berawal tapi yang pasti aku dan Kak Dodi sama-sama tak bisa berkutik sekarang, sebisa mungkin harus menekan rasa ini meski pada kenyataannya kami sama-sama sakit sekarang.
"May...sini kau. Ayo sarapan dulu..." suara Ibu langsung menggema saat aku mucul di dapur. Aku hanya tersenyum saja, sambutan kekeluargaan yang selalu terdengar indah ditelingaku. Aku berjalan pelan mendekati Ibu yang tampak sibuk dengan kertas dan polpen di tangannya.
Di meja makan aku melihat Kak Dodi sedang melahap sarapannya, disampingnya duduk seorang gadis cantik, gadis yang sama yang ku lihat tadi malam di depan kosan.
gadis itu tanpak berbicara berbisik pada Kak Dodi sambil sesekali tersenyum, tangannya kadang memegang tangan Kak Dodi, bahkan tanpa ragu dia juga sering menyentuh bibir Kak Dodi yang belepotan karena makanannya, mereka tampak asyik hingga tak memperdulikan kehadiran orang lain disana.
Bleeh...mereka ingin pamer kemesraan rupanya. Aku hanya tersenyum miring melihat adegan ini meski hatikku terbakar saat ini.
Aku melangkah meninggalkan mereka dan memilih duduk bersama Ibu yang lagi sibuk mencatat daftar belanjaan.
Hari ini tumben banget Kak Dodi mau diajak Ibu ke pasar mungkin karena gadisnya juga ikut makanya dia semangat, biasanya Mas Ma'i yang bertugas mengantar ke pasar. Hari ini mas Ma'i ada kepentingan jadinya yang nganter Kak Dodi. Sepanjang perjalanan kami mengobrol ringan, dari sana aku tahu nama gadis itu Aning. Aku lebih banyak diem dan memalingkan wajahku menatap keluar jendela. Menatap pada jalanan dan lalu lalang orang. Muak aku melihat gaya bicaranya yang sok manja itu apalgi ditambah hobinya yang suka menggerayangi Kak Dodi.
Hampir beberapa jam muter-muter di pasar akhirnya mendapatkan juga apa yang di ingini.Kini aku mirip kuli panggul, membawa belanjaan yang sudah menebihi tangankku untuk ku gemgam, linu dan perih, Aning dengan santainya berjalan lagaknya bos saja. Belum juga jadi istri bos tapi lagaknya dah kayak bos saja.
"Mbak..bawain ini ya, aku mau kesana dulu. Ribet kalau mesti bawa belanjaan." ucapnya sambil berlalu dan meninggalkan belanjaannya begitu saja.
"Ibu duduk sini aja ya..May mau naruh ini dulu di mobil. Nanti May kesini lagi." Ibu hanya mengangguk saja, sepertinya ibu mulai kecapean. Kasian juga, bisa-bisa asam uratnya kambuh lagi nanti. Aku bergegas ke mobil dengan belanjaan yang menggila,
. Akhirnya tanganku sudah mulai pegel dengan kantong belanjaan yang seabrek itu. Aku memutuskan ke mobil duluan untuk menaruh belanjaan itu. Kak Dodi yang melihatku membawa belanjaan yang seabrek itu, bergegas membuka bagasinya. aku menaruh belanjaan itu dan sesekali mengibaskan tanganku karena capek. Kak dodi menutup bagasinya tanpa berkatanya apa-apa. Wajahnya masih terlihat datar. Ngilu rasanya tanganku. Aku mengibaskan lagi tanganku untuk mengurangi nyerinya. Biasanya Mas Ma'i yang membantu membawakan belanjaanku tapi hari ini aku yang harus melakukannya sendiri.
"Tumben Kak Dodi mau ikut kepasar?" ucapku membuka obrolan.
"Iya...semua karena Ibu, jadi jangan Gr kau.." ucapnya sinis tanpa expresi.
"Sejak kapan aku Gr karena perhatian Kakak, ndak salah tu ngomongnya ?" balasku. Aku beranjak hendak berlalu tapi dia menarik tanganku.
"Kakak tak akan pernah lepasin kamu...inget itu"
Aku menarik tanganku dan bergegas meninggalkannya, pikiranku benar-benar ruwet kali ini. Apa dia masih ingin menyiksaku lagi setelah ini.
Sepanjang perjalanan aku kembali terdiam, menatap jalanan yang lebih menarik daripada menatap kemesraan mereka, mataku terasa panas sekarang. Sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak kalah sekarang.
********
Dari pagi semua sudah sibuk memberesksn rumah, untuk hari ini aku meninggalkan kosan dulu. banyak hal yang harus aku lakukan di rumah Ibu karena bagianku memang lumayan berat, menyiapkan makanan untuk tamu.
Rencananya Kak Dodi akan membawa keluarga gadisnya berkunjung. Meski aku menguasai beberapa resep makanan tapi tetap saja aku butuh ibu sebagai penasihat rasa agar semua terlihat sempurna malam nanti.
Aku sudah memakai apron ku dan mulai berkutat dengan segala macam rempah dan bahan lainnya. Sedari datang aku tak melihat Kak Dodi, mungkin saja dia belum bangun pagi ini,apalagi kata Yati dia pulang larut semalam. Sejak kemarin hpku memang kumatikan. Aku tak ingin ada hal yang akan menggoyahkan usahaku selama ini.
Ibu duduk sambil mengawasi ku yang asyik mengacak-acak dapur. Asam urat yang menyerang lututnya membuat Beliau hanya mampu duduk saja saat ini. bagiku ini sudah lebih dari cukup.
Yati masih sibuk membersihkan ruang tamu sambil bernyanyi lagu batak. Entah apa artinya syairnya itu karena aku memang tak paham bahasa batak selain Bodat.
"Hy Mbak Mey..." tepukan halus di pundak ku membuatku terlonjak kaget. Kak Ri tak kalah terkejutnya melihat ku terlonjat seperti itu.
"Busyet...kenapa Mbak Mey, jangan tegang gitu, tangan ma pikiran kok ndak singkron gitu." ucap kak Ri yang ternyata sudah berdiri di sampingku. kupasang wajah bayi dang mengerjap gaje pada Kak Riri.
Kak Ri hanya mendesah saja, sejenak dia diam..sepertinya saat ini ada yang sedang di pikirkannya.
ada sesuatu yang ingin dikatankannya tapi di tahannya.
"Lanjutkan perjuangan mu, Mbak Mey" kata Kak Ri pelan, Buatku itu bukan sekedar kata guyonan atau pemberi semangat semata. Tapi kata perjuangan itu buat ku lebih dari sekedar itu. Aku hanya tersenyum saja sambil terus melanjutkan pekerjaanku. Menjelang magrib semua pekerjaan selesai, Semua makanan terhidang di meja dengan rapi.
Aku pamit balik ke kosan untuk mandi dan ganti baju. Rasanya kakiku mau putus sekarang, capeknya bukan main apalagi ini baru setengahnya, acara intinya malam ini. Seharian aku tak menghiraukan ocehan Kak Dodi yang panik ini dan itu. bahkan aku sama sekali tak tertarik untuk ikutan ngobrol dengannya.
Jujur saja rasanya aku sudah tak ingin kembali ke sana saat ini, Selain capek hati, badanku juga capek sekali. Tapi tak enak juga membiarkan Yati dan anak baru itu kerepotan mengurus semua. Setidaknya aku harus ada disana sekarang meski nanti akan membuatku lebih hancur lagi.
Halaman rumah kini tampak penuh dengan beberapa kendaraan. Sebenarnya berapa orang sich yang diundang Kak Dodi. Kenapa ramai begini. Suara anak kecilpun mulai riuh terdengar. Saat aku memasuki pintu samping, Tempat itu juga banyak pemuda dan pemudinya. Ada yang memandangku aneh saat aku melintasi mereka..biarin ajalah, terserah mereka mau berpikir apa.
"Kak May....!" suara cempreng itu membuatku tersenyum miring. Dasar toa, teriak mulu kerjaannya. Nggak liat apa banyak tamu.
"Jangan teriak ngapaw, Dik. Malu banyak orang." Yati menariku ke dapur. Saat itu pula Kak Dodi mucul di dapur.
"May..." hanya itu yang terdengar darinya selebihnya dia hanya terpaku saja. Dia terlihat tampan malam ini, Dia memang tampan. Tapi malam ini lebih.
"Kak Dod butuh apa, bilang saja, ntar aku ambilin." ucap ku.
"Say, ngambil apa?, eh mbak itu kuah sotonya habis. Masih ada lagi ndak ya?" gadis itu bergelayut di lengan Kak Dodi, seakan ingin menegaskan kalau Kak Dodi miliknya.
"Sebentar saya panasin dulu, Silahkan duduk aja. Nanti saya antar." aku berlalu dari hadapan Kak Dodi. Ingin rasanya aku mengambil semua kekuatan manusia di dunia ini untuk membuatku berdiri tegag sekarang, I.ngin rasanya aku mengambil semua oksigen di dunia ini agar aku tak sesak nafas seperti sekarang. Tanganku rasanya gemetar saat memutar knop kompor. Rasanya aku benar-benar tak sanggup sekarang. Aku harus secepatnya pergi dari sini atau aku akan mengacaukan semuanya.
"Kak May....pucet banget kayak mayat lo Kak, Kakak sakit?" tanya Yati.
aku hanya menggeleng. Tanganku gemetar lebih parah ternyata..
"Yati aja dech yang lanjutin, Kak May istirahat aja. Pucet gitu." Yati pun segera menggeseran tubuhku, mengambil alih tugasku. Aku memilih menyingkir dari dapur.
"Eh Mbak, itu di ruang depan ada banyak piring kotor, singkirin dulu gih. Banyak anak kecil soale." ujar seorang perempuan paruh baya, entah siapa. kurasa aku baru melihatnya.
Perlahan aku bangkit dari tempat dudukku. berjalan mengikuti wanita itu. Aku melihat Kak Dodi sedang bercanda dengan gadis itu dan beberapa kerabatnya. Entahlah, melihat senyumnya kali imi hatiku terasa sangat sakit.
"Kak May, lagi ngapain...?" suara Ipah mengejutkanku.
"Kau itu bikin kaget aja, Dik. Mau ambil piring kotor di depan." jawabku sambil mengambil mengambil mampan.
"Ayo, Ipah bantu.."
Aku hanya trsenyum saja dan mengangguk, di ruang depan memang banyak sekali berserakan piring kotor dan gelas. Akan sangat berbahaya jika sampai tertabrak anak kecil. Aku mengumpulkan semua gelas yang telah kosong dan Ipah yang menaruhnya di mampan kemudian membawanya ke dapur.
Aku mengangkat tumpukan piring kotor tapi belum sempat melangkah sepasang lengan kokoh sudah mengambil alih tugasku.
"Biar aku bantu, Kau
"May...kau sudah enger may.." ibu langsung bertanya padaku saat aku muncul dari pintu dapur..
"Apa bu?"gibaskan tanganku
" Si Ma'i, minggu depan nikah may. Gila tu anak...baru kena l tu cewek bobrol ringang hari langsung mau nikah..." ibu tampak berapi-api.
"Jodoh kali bu..." Aku melempar senyum..
"Jodoh apanya..itu kenal di pinggir jalan..belum kenal dalamnya baru kenal kulitnya main sosor aja..." Kelihatannya ibu tidak suka dengan kepu
tusan mas ma'i nikah buru-buru
" Ya kita liat saja seberapa lama mas Ma'i bisa bertahan...." Aku buru-buru menutup mulutku dengan tanganku...kacau dech..
"Hancur dech...balas mbak mey..." Kak ri masih asyik menyuap sup krim nya.
" May...bawa kemari cwokmu...suruh dia melamar ke ibu may..." kata ibu tiba-tiba.
Kak dodi masih terlihat tenang menyelesaikan makannya dan akhirnya dia kembali ke kamarnya
Tak terasa waktu cepat berlalu...aku makin tak nyaman dengan semua ini..rasa sakit ini makin tak tertahankan..kadang kak dodi begitu cuek..tapi kadang dia begitu perhatian. Sudah cukup kak dod.....sudah cukup....akhiri semuanya atau kita akan hancur. Aku tau kakak yang sering menelphon ku tampa suara selama ini karna jika kakak bersuara aku akan tau kalau itu kakak. Berhentilah..jangan menyiksa diri lagi...
"Mau kemana dod....?" tanya ibu ketika melihat kak dodi sudah rapi
"Ada perlu ma temen ma..., Dodi berangkat dulu ma..." Kak dodi pamitam ma ibu dan juga kak Riri...setelah itu melangkah keluar melewati meja kami ..
"Abang berangkat dulu ya dik..." kak Dodi tak menoleh kearah kami..langkahnya cepat..sepertinya dia buru-buru...
"May...tolong bukain pintunya dik..." teriaknya dari luar..Aku berlari ke garasi dan membuka pintunya..
" cakep kau dik..." kak dodi segera memacu mobilnya perlahan...
Aku hanya tersenyum samar saja...ah kak...berhentilah...atau aku yang akan menghentikannya untuk selamanya...
Hari ini rumah sibuk..kak dodi mau lamaran...akhirnya dia menemukannya..tapi sama sekali tidak ada senyum di wajahnya...harusnya dia sumringah...kenapa dia diam saja..
"May...bantu sini dulu dik..." Kak dodi memanggilku dari dalam kamar...
" Wah...cakepnya...bantu apa kak.."Spontan aku memujinya..melihat ketmpanan dan kegagahannya saat mengenakan baju batik itu...seperti arjuna...
"Foto in kakak, Dik...?" dia membetulkan bajunya yang sudah rapi itu..kenapa dia jadi gugup gini ya..
"Sejak kapan kakak suka narsis...hehehe...mana kameranya..." aku mencari kamera di mejanya.
"Pake hp mu lah...ngapain punya kakak?" Nah kan...aku jadi tambah bengong...
Aku segera memotretnya beberapa kali... setelah merasabhasilnya bagus aku menunjukannya ke kak dodi..
"Pinter kau dik moto orang..., itu buat kau...simpan ya... " katanya pelan..
"Kak...cukup sampai disini...jangan di teruskan lagi...kita tak akan pernah bisa..cukup kak..mulai detik ini kita kembali ke posisi semula..." aku menatapnya, dia tampak termenung..
"Andai kakak bisa may...." dia tampak tertunduk...
"Kita sama-sama tau kak..keputusan kakak untuk melamar gadis itu adalah keputusan yang paling benar demi keluarga ini dan juga kakak, semua ini harus tetap dilaksanakan..." Aku tak bisa menahan perasaanku..
"Lalu bagaimana dengan kakak may...saat pertama kali kamu datang, kakak hanya melihatmu sebagai gadis manis yang lugu yang belum bisa apa-apa..tapi kemudian kau berubah..dan kau merubah semuanya..Kau merubah ibu, yang dulunya setiap hari sewot gara-gara ulah yati menjadi ibu yang penuh semangat dan meikirkan banyak hal termasuk menggusur distroku untuk di bikin warung..kau bisa melakukan semuanya yang tak bisa dilakukan pegawai yang terdahulu..termasuk ikutan ngecet tempat kos..kau merubahku dengan kepolosanmu, sikapmu yang apa adanya, kelucuanmu dan juga gayamu yang tenang dan kadang diam tampa bisa kumengerti, kau tak pernah membantah..haruskah aku melapaskan semua itu may.?" kak dodi tampak putus asa sekarang..
"karna aku disini cuma pembantu kak dod..sudah sewajarnya kalau aku sendiko dawuh dengan semua yang diperintahkan ibu... itu wajar" kataku tenang...
"Tapi perasaan ini tak bisa kuhindari may..." dia masih tertunduk.
"Kalau begitu aku akan membuat kak dodi merasa yakin bahwa menikahi gadis itu adalah keputusan yang tepat, kita semua harus kembali kepada posisi kita semula kak agar tidak ada lagi yang sakit hati..jadikan aku adikmu..bukan simpananmu..semoga kakak bahagia..." Aku berlaku dari kamarnya...di luar semua tampak sibuk dengan kerjaan masing-masing..semua kerabat sudah berkumpul dan juga sudah siap untuk berangkat..aku membantu memasukan bingkisan ke mobil.
"Mbak may ndak ikut...?" kak ri melihatku sekilas...
" Ndak kak ri...kosan sepi soalnya...suskses aja dech kak ri.." kataku sambil menutup pintu bagasi.
" Ok Mbak May...dunia ini luas Mbak may...suatu saat pasti akan bertemu arjunanya sendiri..." Kak ri tersenyumpenuh arti
"Betul...betul...betul....hahahah...pasti ketemu lah kak Ri..." kataku mantab..
Kak Dodi sudah keluar dari pintu diikuti yang lainnya..tampak jelas kegugupan di wajahnya. Semangatlah sayang...kamu harus kuat...langkahkan kakimu..jangan berhenti disini..karena jodohmu ada disana..bukan disini...pergilah...kutunggu kabar bahagia darimu. Aku beringsut mundur...dia harus tau..aku tak terpengaruh dengan semua ini...meski saat ini batinku lebih remuk.
Malam semakin larut...dari tempatku berada aku dapat mendengar suara pintu gerbang di buka...mereka sudah datang...ku harap mereka membawa berita bagus..
Semalam akubtak bisa memejamkan mataku teringat kembali kegalauan yang melanda kak Dodi sebelum berangkat tadi. Ah..tampaknya aku mesti segera bertindak atau pernikahan itu akan gagal..aku rasa kak ri sudah tau...akan lebih rumit jika sampai yangblain tau juga.
"Kau yakin may....?" ibu tampak terkejut ketika mendengar keputusanku.
"iya bu...saya mau istirahat dulu..kemarin sudah cek lab..hasilnya positif tipus..jadi saya mau pulang saja siang ini..." kataku mantab...
"Ya sudah lah...apa boleh buat...kamu memang jarus istirahat..apalagi belakangan ini kamu kelihatannya capek banget..apa tidak bisa besok saja may...kamu kelihatane kok pucat banget..." ibu agak cemas.
"Ndak bu..maaf..saya mau pulang sekarang...saya minta maaf sama ibu..selama di sini saya banyak salah." aku mencium tangan ibu karena esok aku tak akan bisa ketemu ibu lagi..ini kesempatanku..mumpung kak dodi dan kak ri ndak ada...
Ibu memeluku, ada rasa haru terselip di matanya. Sudah lama aku disini dan banyak hal yang sudah terjadi disini...termasuk soal kak dodi.
"iya bu...saya mau istirahat dulu..kemarin sudah cek lab..hasilnya positif tipus..jadi saya mau pulang saja siang ini..." kataku mantab...
"Ya sudah lah...apa boleh buat...kamu memang jarus istirahat..apalagi belakangan ini kamu kelihatannya capek banget..apa tidak bisa besok saja may...kamu kelihatane kok pucat banget..." ibu agak cemas.
"Ndak bu..maaf..saya mau pulang sekarang...saya minta maaf sama ibu..selama di sini saya banyak salah." aku mencium tangan ibu karena esok aku tak akan bisa ketemu ibu lagi..ini kesempatanku..mumpung kak dodi dan kak ri ndak ada...
Ibu memeluku, ada rasa haru terselip di matanya. Sudah lama aku disini dan banyak hal yang sudah terjadi disini...termasuk soal kak dodi.
Bis yang kutumpangi mulai menjauh dari jakarta..ini adalah pilihan terakhirku..slamat tinggal kak dod...setelah ini aku yakin kamu akan baik-baik saja..trimakasih untuk cintamu yang begitu indah untuk caramu mencintai yang selalu indah dan juga caramu yang yang unik mencintaiku...tempatmu tak akan pernah digantikan dengan siapapun dan sampai kapanpun...slamat tinggal my love....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar