Minggu, 18 Januari 2015

Sawah Timur

Dunia ini terdiri atas dua alam, nyata dan maya. Jangan pernah kita sombong, merasa punya sedikit kelebihan dan mengganggu mereka hanya demi suatu pembuktian bahwa kita lebih hebat dari mereka. Karena siapapun itu tak akan pernah mau jika hidupnya di usik, begitu juga mereka.
Bahar mengangkat ranselnya, hari ini waktunya pergi dengan genknya ke Sawah timur . Sebenarnya ada ketakutan yang mulai melandanya tapi egonya begitu tinggi, dia menanggapi ajakan temannya sekaligus untuk pamer keberanian di depan Santi, gadis incarannya.
Ada  mitos yang mengatakan bahwa di tempat itu ada harta yang terpendam tapi siapapun yang datang ketempat itu  pasti tak akan pernah kembali dan tak satupun mayat yang ditemukan disana semuanya menghilang secara gaib. Bahar jadi merinding jika mengingat mitos ini. Tapi disingkirkan ketakutan itu saat dilihatnya senyum Santi yang begitu manis.
Malam itu mereka putuskan menginap di sebuah losmen. Losmen pertama yang mereka jumpai setelah mereka melewati hutan yang luas dan gelap.
" Kamu yakin mau tidur disini?" Sekilas Ayu tampak ragu, ditatapnya Dio yang sedari tadi sibuk menurunkan barang bawaan.
"Dari pada tidur di hutan?" jawab Dio santai.
Bahar membantu Santi menurukan barang, sesaat hidungnya mencium bau wangi yang begitu menyengat.
"Kamu wangi banget, San" kata Bahar sambil tersenyum.
Santi mencium bajunya kanan dan kiri, sejak tadi pagi dia belum menyentuh air. Badannya masih bau keringat, gimana dibilang wangi. Ah...pasti Bahar sedang merayunya, pikir Santi.
Losmen itu tidak begitu mewah, malah terkesan sederhana. Semua perabotnya malah terkesan kuno apalagi suasananya begitu redup. Tidak ada barang mewah yang dipajang di tempat itu.Seorang pemuda menyambut mereka dengan senyumnya yang ramah.
"Mari silahkan, mau pesan berapa kamar?"
"2 kamar mas, oya mas...disini memang sepi begini ya?" Dio mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Namanya juga pelosok, jarang ada yang kesini. Kampung terdekat juga jaraknya 3 kilo lebih" pemuda itu menjelaskan.
Dio manggut-manggut. Pelayan kamar mengantar mereka kekamar masing-masing.
Malam semakin larut, Bahar belum juga dapat memejamkan matanya. Ada sesuatu yang mengganggunya, dan hidungnya kembali mencium bau wangi yang begitu menyengat. Matanya mulai menelusuri setiap inci kamar itu. Dio tampak tertidur pulas disampingnya, Rizki juga terrtidur pulas di sofa. suasana kamar yang temaram membuat hati Bahar jadi merinding.
Sekilas terdengar suara berderit, pintu almari perlahan terbuka sedikit. Bahar merapatkan tubuhnya ketempat tidur. Sayup sayup dia mendengar suara seorang perempuan.
"Mas...tolong saya....tolong"
suara gadis itu begitu sendu seolah ada sesuatu yang membelenggunya.
"Siapa itu....!" Bahar mencoba memberanikan diri untuk membuka suaranya.
"Tolong saya.....tolong" suara itu terasa begitu dekat, bau wangi kini semakin tajam tercium. Bahar menarik selimutnya, suara derit pintu kembali terdengar. Dari balik selimutnya Bahar melihat bayangan hitam berambut panjang seolah dia hendak menggapai sesuatu. Belum hilang rasa takut dihatinya, kembali suara berderit itu muncul kembali dan kali ini agak panjang.
Bahar semakin merapatkan selimutnya saat dilihatnya sesosok tubuh perempuan berambut panjang tampak merangkak perlahan mendekati Rizki. Bahar menutup selimutnya rapat-rapat tapi rasa penasarannya medorongnya untuk sejenak megintip apa yang dilakukan makhuk itu dan dilihatnya makhuk itu tampak menggigit kaki Rizki tapi anehnya Rizki seolah tak terpengaruh dengan apa yang dilakukan makhuk itu, ia masih tetap lelap tertidur dan tiba-tiba saja makhuk itu menatap tajam kearahnya, baharpun menutup rapat selimutnya.
Pagi yang berkabut membuat tempat itu agak suram. Bahar masih mengingat jelas kejadian semalam. Teman-temannya sudah pada nongkrong di teras depan. Hari ini mereka sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke sawah timur.
"Kamu yakin mau melanjutkan perjalanan?" wajah Ayu terlihat cemas.
"Emang kenapa?, kamu kok aneh?" Dio memasukan barang-barang ke mobil.
Ayu memandang sekeliling seakan menyelidiki sesuatu, dia merapatkan tubuhnya pada Santi dan Nurul. Ketiga gadis ini saling pandang seakan mencari persetujuan dari mereka bertiga.
"Kenapa sich..kalian ini kok aneh..kayak habis liat hantu saja?" Dio memansang aneh pada Ayu.
"semalam ada yang mengganggu kami." Nurul menunduk ada ketakutan di wajahnya.
Bahar terkejut, dipandangnya tiga gadis yang tampak sedang gelisah itu. Ternyata malam tadi bukan hanya Bahar yang melihat tapi ketiga gadis itu juga mengalaminya.
"Ah...ngaco..kalian mimpi kali sudahlah kita berangkat sekarang keburu siang" Dio memasuki mobilnya dan diikuti yang lainnya. Mobil mereka bergerak berlahan baru beberapa meter mwreka berjalan Nurul tergerak hatinya untuk melihat kebelakang.
"Losmennya hilang!" teriak Nurul panik membuat teman-temannya ikut melihat kebelakang dan ternyata losmen itu sudah berubah menjadi komplek pemakaman tua yang sudah lapuk dan mulai banyak yang hancur. Dio segera mempercepat laju mobilnya.
Siang mulai menampakan cahayanya, jalan yang mereka ternyata sangat menyeramkan. Mereka melalui hutan yang luas dan juga sepi. Saat mereka sedang melaju tiba-tiba saja Dio menginjak rem membuat yang lainnya terbangun karena kaget
"Kenapa Di, kok ngerem mendadak?" Bahar yang sedari terkantuk-kantuk jadi kaget.
"Ada anak kecil melintas tadi" Dio melihat kesekelilingnya.
"Yakin lo...disini kan hutan, mana ada anak kecil keluyuran di sini" Bahar melihat sekeliling.
"Itu dia!" Bahar menunjuk kearah samping mobil mereka, semua meta tertuju ke arah tadi. Tak jauh dari tempat itu diantara rimbunya pohon dan semak belukar tampak seorang gadis kecil sedang berdiri membelakangi mereka sambil memeluk sesuatu dan merasa ada yang memperhatikan gadis itu menoleh kebelakang dan betapa terkejutnya mereka saat di lihatnya gadis itu tak berwajah dan tampa dikomando lagi Dio segera tancap gas meninggalkan hutan itu.
Sepanjang perjalanan mereka terus dicekam rasa takut, seolah-olah ada ribuan mata yang terus mengawasi dan mengintai mereka. Hingga akhirnya mereka sampai juga ketempat yang mereka tuju. Sebuah tempat yang sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tempat itu terlihat berantakan tak terawat karena memang sudah puluhan tahun tempat itu ditinggalkan penghuninya.
"Kita cari tempat yang layak buat tidur" Kata Dio.
"Aku ndak mau turun, kita pulang saja yo. Tempat ini membuatku merinding." Ayu melihat kesekelilingnya.
"Besok pagi kita tinggalkan tempat ini." Dio mencoba menenangkan hati kekasihnya itu. Dalam hati dia mulai menyesalkan keputusannya datang ketempat ini hanya karena tergiur hembusan berita tentang harta terpendam itu.
Perlahan mereka keluar dari mobil dan mulai berjalan menyusuri tempat itu. Mereka bwrjalan berdempetan sambil melihat melihat ke sekeliling. Sinar bulan yang muncul malam itu membantu mereka menyisuri jalanan gelap itu. Mereka mengarahkan lampu senter mereka ke segala penjuru hingga tampa sengaja senter Dio menangkap bayangan putih berambut panjang sedang berdiri di depan mereka. Kontan saja mereka kaget dan lari pontang-panting menyelamatkan diri.
Bahar terengah-engah, disampingnya Santi dan Nurul juga terlihat kecapean.
"Mana yang lainnya?" Bahar baru menyadari kalau ternyata mereka cuma bertiga.
Dio, Ayu dan Rizki entah kemana. Saat mereka sedang mengatur perasaan mereka  tiba-tiba terdengar jeritan seseorang.
"Dio!" serentak mereka mengenali suara itu.
mereka bertiga kembali ketempat semula dan dilihatnya dia terbelit sebuah akar yang menariknya keatas pohon. Tak jauh dari tempat itu mereka melihat beberapa makhuk tampak mengoyak-ngoyak Rizki. Ayu pun tak kalah mengenaskan dia meninggal dengan kepala berputar kebelakang.
Nurul dan Santi menjadi histeris melihat pemandangan itu.
"Kita pergi dari sini, cepat...!!" Bahar menarik Santi dan Nurul.
Belum sempat mereka beranjak pergi, tiba-tiba saja mereka merakan kaki mereka berat melangkah seperti ada yang memegangi kaki mereka. Sekuat tenaga mereka mencoba melepaskan diri tapi tetap saja tak berhasil. Bahar merasakan dadanya basah dan perih saat dilihatnya dadanya tertembus sebuah akar dan kemudian menghempaskanya kesebuah pohon hingga membuatnya jatuh terduduk tak berdaya, pandangannya mulai kabur, sempat dilihatnya Santi yang terlilit akar dan terseret kedalam tanah sedangkan Nurul dibawa makhuk itu entah kemana. Pandangan mata Bahar semakin kabur hingga akhirnya panda akhirnya dunia terasa gelap baginya.
Kabar tentang sawah timur pun terus berhembus tampa ada yang mengetahui asal usul berita itu dan pagi itu tampak serombongan pemuda tampak menuju sawah timur.

Cinta sang Penjaga

Suasana di sekitar tempat itu begitu sepi, rumah itu lebih mirip sebuah gudang yang sudah tak terpakai, dinding rumahnya terbuat dari kayu kini mulai usang, beberapa jendela  yang tidak begitu tinggi kini mulai buram kacanya.

Pintunya pun juga terbuat dari kayu yang kini mulai usang, halaman yang tidak begitu luas kini dipenuhi dengan sampah dan beberapa tong tampak berjajar di sekitar tempat itu.

"Kamu yakin mau masuk kesana,Vel?" ujar Sapto setengah berbisik. Matanya memandang gadis itu.
Jujur saja dia sedikit ngeri membayangkan kenekatan vely masuk ketempat itu apalagi mereka tau itu sangat berbahaya
.
Meski dari luar rumah terlihat tenang tapi siapa tau di dalam tempat itu sudah menunggu malaikat maut yang siap bekerja kapan saja.
Vely menggangguk yakin, tekadnya sudah bulat untuk menyelamatkan Deno, Lelaki yang di cintainya dan juga saaudara angkatnya.
.
"Apa kita tidak tunggu bantuan saja,Vel. Siapa tau sebentar lagi mereka datang?" lanjut Sapto.

"Tidak, Sap. Sudah tidak ada waktu lagi. Kalau kelamaan aku takut dia nanti kenapa-kenapa?" ujar Vely pelan.
Terlihat jelas kecemasan di matanya, wajahnya tanpak serius memandang ke sekelilingnya. Sapto mendesah pelan, ada kecemasan yang mendalam saat dia menatap Vely meski matanya terus mengamati pergerakan di rumah itu.

Mereka menunduk, merapatkan diri pada sebuah pohon yang cukup besar ketika dilihatnya dua orang keluar dari rumah itu sambil berbincang. Mereka menajamkan pendengaran mereka mencoba mendengarkan pembicaraan meeka.
Sejenak Vely mengamati kedua orang itu, badan mereka tidak terlalu besar, matanya yang jely sepertinya sedang memikirkan sesuatu dan dari hasil pengamatannya vely yakin kedua orang itu tidak begitu pandai bela diri,terlihat dari gerakan mereka yang lambat. Mereka sepertinya terlalu fokus dengan obrolan mereka hingga tak meyadari ada bahaya yang mengintai saat ini.

Dengan hati-hati, dia mendekati salah seorang lelaki yang tampak asyik merokok di sudut rumah bagian belakang.
Lelaki itu asyik menikmati rokoknya hingga tak sadar jika saat ini ada yang sedang mengendap-endap mendekatinya. Dan..Buukk...hantaman keras mengenai punggung lelaki itu, hingga membuatnya terjungkal dan jatuh.

Lelaki itu tampak terkejut mendapat serangan tiba-tiba, dia langsung bangkit dan melihat ke sekelilingnya dengan sigap diarahkannya senjatanya pada musuhnya, Matanya menatap tajam ke arah Vely yang sudah bersiap.
Bibirnya menyungging senyuman mengejek kearah Vely.
"Bocah tengik, mau apa lo..?, mau jadi jagoan ya?." diapun maju dan siap melayangkan pukulannya ke arah vely, tapi dengan sigap vely berhasil menghindar dan melayangkan pukulan telak di perut lelaki itu hingga membuatnya terjukal dan menabrak deretan tong yang ada di pojok rumah itu hingga menimbulkan suara gaduh.

"Ton...kenapa lu?!" Teriak sebuah suara muncul dari arah samping, Vely segera salto beberapa kali hingga mendekati tubuh lelaki yang dihajarnya pertama kali.

Lelaki itu tampak terkejut ketika menyadari vely sudah ada dihadapannya dengan mata tajam tanpa expresi,gerakan tubuhnya begitu gesit terlambat baginya untuk menyadari bahwa Vely bukan cewek sembarangan.

Vely memutar tubuhnya dan kini dia sudah ada di belakang lelaki tadi.
Di tariknya lelaki tadi hingga berdiri sejajar dengannya, tangan kirinya sudah mencekal leher lelaki itu dan tangan kanannya sudah menodongkan pistol di kepala lelaki itu, Tubuh lelaki yang bernama tono itu tampak gemetar, tak menyangka jika gadis itu ternyata menjadikannya sandra secepat ini.
Seorang lelaki agak gendut muncul dengan senjata di tangganya wajahya tanpak terkejut ketika melihat tono yang tampak gemetar dengan sudut bibir berdarah dan kepala yang ditodong pistol oleh seorang gadis.
"Lepaskan temanku,!" Bentak laki-laki itu.
Vely menatap lelaki itu sejenak, tak ada waktu untuk melayani kedua orang itu, targetnya adala Deno.
Dia mendorong tono maju, tono yang sudah lepas dari cekalan gadis itu tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, dia berbalik menyerang gadis itu, tangannya mengarah ke perut Vely, Vely pun beringsut mundur dan memutar badannya hingga dan melayankan tendanganya telak ke dada Tono membuat lelaki itu terjungkal mundur kebelakang.
Lelaki yang muncul tadi pun tidak menyikanan kesempatan, dia menghujami Vely dengan tembakan membabi buta.
Vely pun rol kedepan hingga dia berada di dekat tono, peluru yang serampangan datangnya itu sukses mengenai tubuh tono hingga membuat lekaki itu limbung dengan tubuh tertembus peluru, Vely melemparkan sebuah pisau yang dia sembunyikan di balik bajunya dan tepat mengenai dada orang itu.
Suara tembakan itu ternyata memancing reaksi orang di dalam rumah, bergegas dia bersembunyi di balik deretan tong.
Vely mendesah pelan...dia terlatih menghadapi orang..tapi dia belum terlatih untuk menghadapi berondongan peluru seperti tadi.
"Cari sampai ketemu..aku akan bereskan yang dalam. Sebelum bos datang!" seru sebuah suara. Vely mengintip dari balik celah tong.
Dia melihat 3 orang lelaki keluar dari rumah itu, dalam hati dia berdoa semoga cuma tinggal 3 orang ini saja yang tersisa.
Sibos...ternyata masih ada lagi..Siapa dia dan apa maksudnya semua ini. Seribu pertanyaan muncul di benaknya tapi di redamnya saat ini karena target utamanya adalad Deno.
Veli menundukan badannya sambil berlari mendekati rumah, perlahan dia menatap ke jendela, ditengoknya kanan dan kiri..setelah aman dia melongok ke dalam melalui jendela, dari balik jendela dilihatnya Deno terikat di sebuah tiang. tangan dan kakinya di ikat. dari mulut dan lututnya keluar darah.. sepertinya pemuda itu juga mengalami siksaan.
Deno tampak tertunduk, rambut dan bajunya basah entah karena apa.
Darah vely seakan mendidih melihat pemandangan itu, dia medekati pintu dan mendobrak masuk.
" Siapa kau?" Teriak seorang laki-laki.
Vely hanya diam dan melangkah maju. Diambilnya sepotong kayu yang tergeltak di tanah, sepertinya kayu itu tadi yang di gunakan orang-orang itu untuk memukuli Deno.
"Akan kubuat kalian membayar setiap tetes darah yang keluar dari tubuh laki-laki ini" Vely mendekati lelaki itu dengan tatapan penuh amarah, pria itu menghujami nya dengan peluru.
Dengan sigap Vely menghindar dan  melemparkan kayu tersebut tepat mengenai laki-laki tersebut hingga membuat senjatanya terlepas jatuh dan sebelum dia sempat mengabilnya Vely sudah menendangnya hingga membuatnya jatuh tersungkur ke belakang, tak hanya sampai di situ, Vely terus mendesak laki-laki itu dengan pukulan dan hantaman bertubi-tubi hingga membuat laki-laki itu jatuh terkulai lemas dengan tubuh penuh luka dan berdarah.
Vely membalikan badannya, bergegas menghampiri Deno yang tetunduk lemah dalam ikatan.
Badan pemuda itu penuh luka lebam, entah apa kesalahannya kali ini hingga membuatnya mengalami siksaan seperti ini.. Hatinya merasa nyeri seakan ada sembilu yang menggoresnya perlahan.
Tanggannya tampak gemetar ketika melepas kain penutup mulut Deno, kain itu sudah basah oleh darah.
"Deno...." Vely memanggil pemuda itu pelan, Deno masih diam tak bereaksi. mungkin dia pingsan. Vely segera melepas ikatan pemuda itu, begitu terbebas dari ikatan, pemuda itu langsung jatuh limbung, dengan sigap Vely menangkap tubuh pemuda itu dan mereka berdua jatuh terduduk di lantai.
"Deno.., bukalah matamu..."  bisik Vely pelan, dibelainya lembut wajah lelaki di hadapnnya itu, perlahan mata yang sedari tadi tertutup itu mulai terbuka.
"Deno..bangunlah..kita harus keluar dari sini, kamu harus bertahan.." lanjut Vely.
"Kenapa kamu menolongku...?" suara Deno terdengar pelan dan lemah.
"Karena...sudahlah, kita harus cepat. Kita bahas semuanya nanti.." Vely membantu Deno bangkit, tapi bari saja dia dan Deno bangkit, terdengar letusan senjata api, seketika itu juga Vely merasakan sesuatu yang panas menerjang tubuhnya.
"Vely.....!!" suara Sapto masih sempat di dengarnya.
Vely jatuh ketanah, tubuh Deno yang semula disangganya pun ikut jatuh hingga menimpanya, rasa panas itu makin menjalar di dalam tubuhnya seakan ingin membakar tubuh Vely dari dalam dan  meninggalkan rasa nyeri yang tak tertahan.
semua terlihat samar baginya sekarang hanya tatapan Deno yang diingatnya terakhir kali, tatapan penuh kegelisahan dan ketakutan, Vely tersenyum samar sebelum semuanya terasa gelap baginya.
Hembusan angin yang bertiup membawa kesejukan di tubuh Vely. Pandangannya masih kokoh lurus ke depan, mengamati sebuah rumah yang kini mulai roboh di bagian sisi sampingnya.
Bayangan itu kembali melintas di benaknya, masih terekam jelas di ingatannya saat terakhir dia menutup mata.
Pandangan mata Deno, sorot mata yang begitu cemas dan khawatir itu yang masih terekam jelas diingatannya. Ya..Deno selalu mencemaskannya meski itu tidak pernah ia perlihatkan.
Sudah sekian lama peristiwa itu berlalu, peristiwa yang membuatnya terluka parah hingga akhirnya cedera serius di lengan kanannya.
Entahlah saat ini apakah dia harus berterima kasih kepada Paman Jonas atau malah membenci laki-laki itu karena telah merubah hidupnya meski Paman Jo sudah mengorbankan banyak hal demi Vely termasuk memberinya semangat saat tau tangan kanannya cidera serius dan Paman Jo juga yang melatihnya agar bisa menggunakan tangan kirinya dengan maksimal, meski sulit akhirnya Vely berhasil memaksimalkan kerja tangan kirinya.
Paman Jonas menculikya saat ambulans dalam perjalanan membawanya ke rumah sakit. Dia menyembunyikan Vely di sebuah tempat yang terpencil, mengobati lukanya dan juga mendidiknya menjadi seorang mesin pembunuh yang lebih tangguh dari sebelumnya.
Entah apa motifnya, setiap kali dia bertanya, Paman Jo cuma mengatakan dia kasihan pada Vely yang selama ini mengorbankan diri untuk lelaki yang sama sekali tidak pernah melihat kearahnya ataupun berterima kasih padanya dan selama di tempat itu Vely jarang bertemu dengan Paman Jo.
Vely mendesah pelan kini dadanya terasa sesak, setelah sekian lama dia menghilang dan kembali ketempat itu semua masih sama.
Kini tekadnya sudah bulat untuk mencari Deno, karena dia ingin tahu, seperti apa Deno sekarang.
Kabar terakhir yang diterimanya Deno di sembunyikan orang tuanya untuk menyembuhkannya dari trauma yang di derita Deno karena kasus penculikan dan penyiksaan yang dialaminya.
Siapapun orangnya pasti akan mengalami trauma berat jika mengalami hal itu, apalagi Deno, yang melihat seorang gadis mati dihadapannya dan itu karena menyelamatkannya.
Rumah besar itu tetap kokoh berdiri kokoh, tak pernah berubah semenjak dia kecil. Vely merapatkan tubuhnya, bersandar pada sebuah pohon ketika dilihatnya sebuah mobil mendekati pintu pagar.
Tanpa berkedip Vely memperhatikan mobil itu, matanya terbelalak lebar ketika dilihatnya seorang lelaki muda dibawa turun dari mobil itu, badannya kurus, matanya kosong dan wajahnya pucat, dingin tanpa expresi. Dia di dorong dengan kursi roda.
Hampir saja Vely berteriak memanggil pemuda itu, tapi niatnya diurungkan. dengan seksama dia memperhatikan semua yang terjadi di hadapannya, matanya makin terbelalak ketika dilihatnya sosok yang turun terakhir dari dalam mobil..Paman Jonas.
Lelaki itu tampak elegan dan menawan meski kini umurnya sudah menginjak kepala 3, pikirannya kembali dipenuhi sejuta pertanyaan tentang Paman jonas dan Deno.
Dalam hati dia hanya bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi, hubungan kedua orang itu. Dan ternyata berita tentang Deno salah besar, dia masih disini.dan kini makin terpuruk seperti mayat hidup yang tinggal menunggu waktu.
"Aku akan membawamu pergi,Den. Membuatmu kembali menatap dunia, karena kau pantas mendapatkannya." katanya lirih dan berlalu dari tempat itu.
Vely menatap cetakan hitam rumah Deno, dia mendesah pelan. Mengamati setiap sudut rumah itu tanpa terlewati dan kini dia sadar siapa musuh utamanya meski dia belum tau pasti apa motif di balik itu semua.
Vely menatap sebuah ruangan, disalah Deno berada. Barisan peristiwa itu muncul kembali.
Seperti disayat sembilu saat dia tau Deno di perlakukan seperti itu, apa salah pemuda itu. Belum cukupkah penderitaannya akibat penculikan itu dan kini dia harus menderita lagi.
Vely mengambil ranselnya dan berjalan cepat meninggalkan tempat persembunyiannya.
Dari tempatnya berada Vely bisa menatap Deno sepuas hatinya. memperhatikan setiap gerak yang di buat pemuda itu, meski dia tetap menjadi mayat hidup hingga saat ini tapi Vely yakin pemuda itu masih bisa diselamatkan.
"Kau yakin ini kejadian sebenarnya?" tanya Vely.
Sapto mengangguk pelam, selama ini hanya saptolah yang bisa dipercaya.
Bahkan saat dia ada di persembunyian, saptolah yang membantunya keluar dari tempat itu.
Diraihnya minumannya dan ditenggaknya sampai habis. Matanya menerawang, kini benang kusut itu sedikit terurai.
Vely melihat ke sekitar, dengan sigap di panjatnya pohon besar di dekat kamar Deno, dulu dia sering lewat situ jika ingin melihat Deno yang lagi bertapa di kamarnya, sesaat diamatinya kamar itu.
Sepi...jam segini biasanya saat terakhir memberi obat kepada Deno dan setelah itu mereka membiarkan deno sendirian sampai pagi.
Vely membuka kaca jendela kamar Deno. Kamar itu masih seperti dulu yang berbeda adalah penghuninya. Tidak ada lagi tawa di sana, yang ada cuma kesedihan dan penyesalan.
perlahan Vely mendekati sosok yang duduk terdiam di sudut ruangan...saat jarak mereka begitu dekat Vely jatuh terduduk di hadapan pria itu.
" Apa kabar, De. Kita ketemu lagi..."  ucap Vely pelan.
Pemuda itu diam tanpa kata seakan tak mendengar ucapan Vely. Ingin rasanya dia memeluk laki-laki itu tapi serasa ada sebuah tembok yang menghalanginya.
Kini tujuannya yang utama adalah menghilang bersama laki-laki itu hingga tiba saatnya hari pembalasan itu tiba.