Sudah sebulan Ruri tinggal di rumah kos itu. Rumah kos dengan 21 kamar yang saling membelakangi dan sebuah taman yang memanjang di bagian tengahnya. Banyak sudah teman yang didapat Ruri di situ. semua penghuninya cewek dan kebanyakan mahasiswa.
Hari ini agenda utama Ruri adalah mencuci. Cucianya dah segunung, sudah tidak muat lagi dikeranjang.
Ruri membawa ember yang penuh dengan cucian ke loteng. loteng itu memang diperuntukan khusus untuk tempat mencuci.
Sesampai diatas Ruri melihat sesosok gadis yang sedang asik menjemur baju.
"Dah selesai mbak Ning?", tanya ruri pada gadis itu, gadis itu hanya diam dan berlalu. Ruri memandang kepergiaan gadis itu dengan tatapan aneh.
sesampai dibawah Ruri meletakkan embernya di pojok kamarnya. Pandangannya beralih pada sesosok gadis yang baru saja memasuki rumah kost itu.
"Dari mana mbak?," tanya Ruri.
"dari pasar mbak, habis diajak ibu belanja", jawab gadis itu yang tak lain adalah Ningsih.
"Bukannya mbak tadi habis nyuci di diatas?", tanya Ruri penuh selidik.
"yo ndak mungkin to mba, aku baru nyampai dari pasar tu?", jawab Ningsih mencoba meyakinkan Ruri.
"lha trus yang tadi diatas sapa nu?", tanya Ruri yang dibalas gelengan kepala oleh Ningsih.
Ruri beranjak kembali kekamarnya tp langkahnya terhenti ketika dilihatnya sesosok tubuh mirip ningsih yang sedang mengepel lantai di ujung lorong, berbegas Ruri membalikan badannya meninggalkan tempat itu.
Malam minggu terasa sepi, banyak penghuni kost yang memilih untuk pulang. Hanya tinggal Serly, Ningsih dan Ruri yang masih di kost.
"Nasib jomblo nich hehehe",kata serly sambil tergelak.
"Kamu ndak pulang Ser?", tanya Ruri.
"Ndak Ri, banyak tugas. Aku balik kamar dulu ya",pamit Serly.
"Met bertapa Ser, sukses ya", kata Ruri.
Ruri menoleh kearah Ningsih dan gadis itu kini ada dua. Bergegas Ruri meninggalkan tempat itu,diurungkan niatnya untuk belajar malam itu. Dikunci rapat kamarnya dan tak dihiraukannya ketukan di pintunya, diapun bersembunyi di bawah selimut.
ditutupnya rapat-rapat telinganya, teleponnya terus saja berdering meski tanpa batrey. Ingatan Ruri kembali pada ucapan bu kost pagi ini.
"Ningsih itu sebenarnya punya kembaran namanya Ningrum tapi sudah meninggal dan kemanapun mereka pergi, mereka selalu bersama. Ningrum tenggelam sewaktu mereka berenang di danau dan sampai sekarang tak pernah ditemukan jasadnya. Orang tua mereka meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan, itulah sebabnya Ibu membawa Ningsih kemari untuk membantu ibu disini."
Ruri merasa malam ini teramat panjang,baru sejenak dia merasakan keheningan tiba-tiba terdengar suara kardus yang diseret. Ruri menutup telinganya rapat-rapat. Dia semakin merapatkan selimutnya dan Ruri merasakan hentakan keras dari bawah tempat tidurnya,bukan hanya sekali tapi berkali-kali hingga membuatnya hampir terjatuh dari tempat tidur dan tiba-tiba Ruri merasakan seperti ada yang menarik selimutnya dan menyeretnya menuju sebuah pintu.
Sekuat tenaga Ruri berteriak dan meronta tapi usahanya sia-sia, seperti ada ribuan tangan yang menariknya menjauh dari tempatnya semula dan dari jauh dilihatnya seorang gadis mirip dirinya tengah duduk bercanda dengan Ningsih. Sekilas kedua gadis itu melihat kearahnya sambil tersenyum pandangan mereka seolah mengejeknya sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan Ruri yang semakin terseret jauh meninggalkan dunianya.
Dyahaprir@gmail.com
Dibagikan dari Google Keep
Tidak ada komentar:
Posting Komentar