Sabtu, 27 September 2014

Gubuk Tua


Sudah lama Uci tidak main ke tempat ini, kerumah Eyang yang jauh dari keramaian dan tepencil. Karena tugas dari mama untuk menjenguk Eyang dan juga sekalian menyelesaikan tugas dari sekolah. Memaksanya datang kesini. Kampung ini sungguh sepi, jarang ada anak muda yang seusia denganku, kebanyakan lulus sd sudah kerja jadi buruh di kota atau jadi TKW ke luar negeri. Hanya tersisa anak-anak kecil dan orang tua saja. SMA disini juga sangat jauh harus melewati sebuah bukit dan juga sungai yang lumayan lebarnya itu sebabnya mereka lebih suka menitipkan anak mereka ke saudara di kota atau malah tak jarang juga banyak yang putus sekolah. Setelah setengah hari berjalan akhirnya sampai juga Uci di rumah Eyang, sebuah kampung yang tersembunyi dari riuhnya keramaian kota dengan letak rumah yang masih agak berjauhan dan pohon-pohon berukuran besar yang masih menaungi tempat itu. Udara yang sejuk masih sangat terasa disitu,hembusan angin sepoi-sepoi dan suara burung yang berkicau di dahan pohon masih riuh terdengar, mereka saling bersautan seperti ingin mengabarkan sesuatu. Sejenak aku memandang ke depan, tepat di depanku sebuah rumah kecil berdiri tegak dengan halamannya yang luas dan bersih, dinding rumahnya yang masih terbuat dari anyaman bambu khas rumah di kampung pada umumnya. Suasana terlihat sepi meski hari sudah siang, kemana penduduk kampung? ,anak-anakpun tak tampak bermain dijalanan. Suasana kali ini memang sedikit berbeda, ada apa ini?. "Maaf Mang...kemana orang-orang ya kok tumben sepi?" Tanya Uci pada seorang pemuda yang kebetulan lewat di depan rumah Eyang. Sesaat pemuda itu memandangnya dengan tatapan aneh dengan penuh selidik, sejenak Uci merasakan kengerian saat beradu pandang dengan pemuda itu. "Orang-orang pergi ke sungai, mereka menemukan mayat disana, sebaiknya kamu tidak keluyuran sendirian." Suara pemuda itu sedikit ketus, kemudian dia berlalu dari tempat itu tampa permisi. Uci menyusuri jalanan setapak menuju ke sungai. Disana sudah ramai sekali, mereka tampaknya sedang mengerumuni sesuatu. Seorang ibu tampak menangis histeris, dia duduk di atas bebatuan sambil memanggil nama seseorang. Ada beberapa wanita yang mencoba menenangkannya, raut wajah mereka terlihat muram, beberapa orang tampak berbisik di belakang. Uci alihkan pandangan ke arah tepian sungai, sekilas dia melihat sesosok tubuh yang yang tergeletak kaku. Seluruh tubuhnya ditutupi daun pisang, sungai ini tak terlalu dalam malah menyusut dratis airnya saat musim kemarau sehingga tampak batu batuan besar disepanjang hamparan sungai. Uci masih bisa melihat sebuah tangan yang terlihat pucat, ada luka di pergelangan tangannya seperti bekas ikatan. Anehnya Uci tak melihat petugas kepolisian di tempat itu, padahal mungkin saja ini kasus pembunuhan. " Eyang itu siapa?," Uci mendekati Eyang yang sedari tadi berdiri agak jauh dari mayat itu. Dia tampak serius memperhatikan mayat itu hingga tak menyadari kehadirannya di tempat itu. " Oalah, kamu dah sampai to Nduk?, husst...dah...jangan dibahas disini. Pamali." Eyang mengajaku meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalan Uci masih memikirkan mayat itu, seribu satu macam pertanyaan dan dugaan mulai muncul seperti sebuah rantai yang membangkitkan rasa penasarannya. " Minum dulu, Nduk" Eyang memberinya segelas minuman. "Tadi itu siapa Eyang, apa dia juga penduduk sini?" Uci tak dapat menahan lagi rasa penasarannya "Itu tadi murni, anak Pak Karjo. Rumahnya di ujung sana. Sudah 4 bulan Murni menghilang. Tak ada yang tau kemana perginya, sampai tadi ditemukan Karno yang kebetulan sedang memandikan sapinya di sungai," Eyang kelihatan sedih. Sejenak matanya kosong menatap ke depan, dia seperti teringat sesuatu. "Ada apa Eyang, apa yang Eyang pikirkan?" "Eh...ndak papa Nduk, kamu istirahat saja kamu pasti capek." Eyang mencoba mengalihkan perhatian Uci dari masalah ini. Sejenak Uci terpaku, di urungkan niatnya untuk kedapur saat dilihatnya sesosok gadis tengah menyiapkan sarapan. Gerakannya begitu luwes seperti seorang penari, dia begitu cekatan melakukan pekerjaan ini. Uci memandangnya dengan penuh rasa kagum, gadis itu sangat manis. " Pagi Mbak Uci, sudah bangun Mbak?" Gadis itu menyapaku dengan senyumnya yang ramah. "Iya Mbak, maaf saya tidak bermaksud mengganggu Mbak. Saya cuma mau numpang lewat, mau kebelakang. Hehehe" Uci cuma bisa cengengesan, kaget juga ternyata gadis itu tau kalau sedang diperhatikan. Hidangan yang lezat terhidang di meja, secangkir kopi panas dan juga teh hangat, tapi kenapa cuma dua apa gadis itu tidak sarapan bersama kami. Apa dia malu , kemana perginya gadis itu. Uci masih diliputi rasa penasaran ketika sebuah tepukan halus dipundak mengejutkanku. "Jangan bengong, pagi-pagi kok sudah ngalamun, mikir apa to Nduk?," Eyang muncul dibelakangnya. "Ndak papa kok Eyang, cuma lagi mikir nanti mau nyari tanaman di mana?," Uci berbohong. Kebun Eyang lumayan luas. Banyak tanaman obat dan umbi-umbian yang ditanam di sini. " Nyari apa Mbak?," sebuah suara mengagetkan membuatnya terlonjak kebelakang. "Oalah...bikin kaget aja,hehehe...ini aku lagi nyari taneman buat tugas di sekolah" Uci melihat gadis itu sedang berdiri dibelakangnya sambil membawa ranting-ranting kayu yang diikatnya dengan pelepah pisang. " Eyang suka cerita soal mbak. Katanya mbak jago masak dan juga berani." Uci jadi tersipu karenanya, mereka berjabat tangan tapi Uci merasakan tangan Asih begitu dingin. "Kamu sudah lama memani Eyang, Sih?" "Iya Mbak. Sudah hampir 5 tahun, Eyang itu yang merawat aku mbak, membiyayai sekolahku dan juga yang mengajari aku." Uci hanya manggut-manggut saja. Asih banyak membantu Uci, mereka slalu bersama dan bercerita banyak hal termasuk soal cowok. Besok Uci ingin ke hutan. Kata Asih disana ada bunga yang indah yang langka. Pagi yang berkabut membuat Uci enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Berlahan dia bangkit menuju kamar mandi. Air dingin yang membasahi tubuh terasa segar membuat kantuknya hilang. "Mau kemana Nduk pagi-pagi gini udah rapi?," tanya Eyang sambil menikmati singkong rebus di teras depan. "Mau kehutan Yang, Asih mau mengajak aku melihat bunga langka" kata Uci bersemangat. "Bunga langka?, bunga langka apa to nduk?. Trus kamu mau pergi sama siapa?" Tanya Eyang penuh selidik. "Sama Asih. Ayo Sih, keburu siang nanti." Uci menggandeng tangan Asih dan meninggalkan Eyang yang masih bengong diteras depan. Asih berjalan di depan, langkahnya begitu pasti. Tiba-tiba saja Asih berhenti dan bergegas bersembunyi di balik pohon besar dan tampa dikomando Uci mengikuti Asih meski dia tidak tau apa maksudnya. Dari tempatnya bersembunyi dia melihat seorang pemuda keluar dari sebuah gubuk. Aneh, siapa yang tinggal di tempat seperti ini, apa dia tidak takut tinggal sendirian di sini,pikir Uci. Dengan mengendap-endap Uci mendekati gubuk itu, pintunya tidak terkunci. Didalam tampak sebuah ranjang dan meja kecil. Di atas ranjang tampak 4 tali yang terikat di setiap sudut ranjang, ada juga robekan kain yang tergeletak di atas ranjang. Ada juga beberapa kain perempuan yang tergeletak di sudut rumah. Seketika bulu kudunya berdiri, ini lebih mirip rumah penyiksaan daripada tempat tinggal orang. Uci membalikan badan, hendak meninggalkan tempat itu ketika di belakangnya sudah berdiri sesosok lelaki muda. Wajahnya terlihat kaku, sorot matanya begitu dingin. Uci mundur beberapa langkah. "Kenapa kamu berani datang ketempatku, sungguh lancang." tidak ada expresi di wajahnya. Yang ternyata adalah Karno. Ditariknya Uci. Sekuat tenaga Uci melawannya, dia melempari Karno dengan apa saja yang ada di dekatnya. "Toloooong....tolong...!!!!" Uci mulai panik, Asih juga menghilang entah kemana. "Percuma kamu teriak, tak ada yang bakalan mendengar suaramu." Karno tampak begitu beringas, tenaganya begitu kuat. Uci berhasil menendangnya hingga membuatnya tersungkur ke belakang. "Tenagamu boleh juga, kamu pesis seperti Marni." Uci terlonjak kaget, bukankah Marni adalah gadis yang ditemukan meninggal disungai. "Kenapa kaget begitu, sebentar lagi kamu akan menyusulnya. Aku mencintainya tapi dia malah memilih untuk pergi ke kota daripada bersamaku. Aku menyekapnya disini, berkali-kali dia berusaha melarikan diri. Dan kemarin dia hampir berhasil melarikan diri tapi aku berhasil menangkapnya dan membenamkannya ke sungai." "Kamu sadis, tidak punya perasaan. Kamu ninggalin Marni begitu saja sesudah kamu menyiksanya." Hati Uci jadi panas juga.
Diraihnya balok kayu yang tergeletak di bawah tempat tidur. Sekuat tenaga di ayunkan ke arah Karno tapi dia bisa menangkisnya dan menghempaskan Uci hingga tak sengaja paha gadis itu terkena sesuatu. Terasa perih dan panas di pahanya Belum sempat dia dapat menguasai keadaan, dirasakannya tarikan di rambutnya. Karno menyeretnya keranjang, Uci terus meronta, dia mencoba menggapai sesuatu akhirnya tangannya meraih sesuatu. Diayunkan benda itu ke kepala Karno saat dia sibuk berusaha mengikat tangannya. Kemarahannya semakin memuncak, darah mengalir di kepalan Karno. Di raihnya rambut Uci dan membenturkannya kelantai hingga membuatnya lemas.
Sebelum dia bertindak lagi tubuhnya seperti ada yang menarik ke belakang, kadang keatas dan kesamping. Uci tak melihat siapapun di situ. Seperti dikomando semua benda melayang kearahnya. Hingga akhirnya tubuhnya terkulai denan serpihan benda-yang menancap ditubuhya. Karno meleparkan sebuah pisau kearah Uci. Pisau itu jatuh tepat dibawah tangan Uci yang sedang pingsan.
Dari jauh terdengar sayup-sayup suara penduduk memanggil namanya. Dibagikan dari Google Keep

Tidak ada komentar:

Posting Komentar