Senin, 22 September 2014

Mbah Jum


Harta pasti akan terus diburu dengan cara apapun dan bagaimanapun. Tak peduli halal dan haram.
Ardi masih duduk diteras depan rumahnya, pikirannya masih memikirkan perkataaan ayahnya.
"Sebentar lagi kamu bisa sekolah,Di."
Ada kegalauan dihatinya. Dari mana ayahnya mendapatkan uang untuk biaya sedangkan hasil dari kebun saja tak seberapa. Ardi lebih suka membantu dikebun daripada melihat orang tuanya kalang kabut mencari pinjaman.
Sudah beberapa hari ini Ardi melihat Ayahnya bertingkah aneh sering sembunyi-bunyi menerima telephon.Tak jarang sering keluar hingga larut malam,menjadi lebih tertutup san suka melamun.

Ardi sering melihat Ayahnya mandi kembang pada malam-malam tertentu bahkan kadang sering memakai wewangian yang aneh baunya, sering juga nyepi di kamar kosong.
Ardi mulai jengah, ingin rasanya dia menegur ayahnya tapi ibunya selalu melarangnya. Naluri nya tidak membenarkan apa yang dilihatnya saat ini.

Pagi itu Ayahnya pamitan, dia tampak begitu serius dan tampak terburu-buru. Dia hanya membawa tas kecil. Diam-diam Ardi mengikuti Ayahnya. Perasaannya tidak tenang, apalagi ayahnya pergi sendirian tampa mengatakan kemana tujuannya.

Tempat itu begitu sepi,tidak terlihat orang yang lalu lalang ditempat itu. Ardi merasa heran, kenapa Ayahnya pergi ketempat ini dan juga kenapa Ayahnya begitu tertutup, siapa yang ditemui Ayahnya hari ini? ,begitu pentingkah orang ini, pikir Ardi.
Tak berapa lama muncul seorang lelaki paruh baya memakai pakaian serba hitam dan ikat kepala hitam. Dia membawa tas dari ayaman daun pandan. Wajahnya sedikit tirus dan keriput mulai tampak raut wajahnya tapi badannya masih terlihat kekar meski sedikit kurus.

Dia mbah Jum, penduduk sekitar menyebutnya sebagai dukun pengganda uang. Banyak yang datang kerumah Mbah jum tapi Mereka tak pernah kelihatan lagi. Kata Mbah Jum mereka hanya boleh datang sekali saja karena itu sudah syarat mutlaknya dan kata Mbah Jum dia selalu berhasil membantu mereka tapi tetap ada ritual yang harus mereka jalanin. kalau sampai gagal mereka akan terkena murka penunggu harta mereka. Mbah Jum selalu berhasil menyakinkan semua orang yang datang padanya, raut wajanya yang selalu tampak serius dan tampa senyum membuat orang yang datang ketempatnya yakin dengan kesaktiannya. Apalagi kata penduduk sekitar Mbah Jum senang bertapa berhari-hari di lereng gunung dan juga di hutan yang terkenal angker karena penduduk sering mendengar jeritan orang dari tempat itu.
Kadang ada penduduk yang penasaran dengan suara jeritan itu tapi mereka tidak menemukan apa-apa selain kengerian yang menyelimuti tempat itu, tak jarang juga ada yang kesurupan selepas keluar dari hutan itu.

Ardi terus mengikuti gerak-gerik mereka, perasaanya diliputi rasa kecemasan yang mendalam. Diam -diam dia mengikuti Ayahnya, dia menjaga jarak dari keduanya agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Tak berapa lama mereka sampai di sebuah tempat yang tersembunyi, hanya ada semak belukar dan juga pohon pohon besar disitu. Sinar mataharipun terhalang oleh rimbunnya pepohonan yang menaungi tempat itu. Mbah Jum menyuruh Ayah Ardi untuk duduk bersila kemudian dia memercikan air dalam botol yang dikeluarkannya dari dalam tasnya. Mulutnya tampak komat-membaca sesuatu, matanya terpejam dan raut mukanya tampak begitu serius. Tampa di duga Mbah jum mengayunkan sebuah batu hingga tepat mengenai kepala Ayah Ardi. Ardi terlonjak kaget dia membekap mulutnya agar tak terdengar teriakannya. Mbah jum  menyeret tubuh Ayah Ardi menuju semak-semak. Disana sudah terdapat sebuah cangkul dan juga peti panjang yang terbuat dari kayu ala kadarnya, tak jauh dari tempat itu tampak tanah yang sudah digali. Ardi mulai mengira-ira, mungkin disinilah dia mengexsekusi semua orang yang datang padanya. Itu sebabnya dia selalu bilang mereka hanya datang sekali dan tak pernah kembali lagi. Mungkin benar, mereka tak pernah kembali lagi bahkan kembali pada keluarganya.
Ardi berjalan berlahan mendekati Mbah jum yang sibuk mengurusi peti kayunya dan tampa ampun lagi dia menghatam tubuh Mbah Jum hingga jatuh terjerebak kedalam peti. Bergegas ditutupnya peti itu, tanggannya tampak gemetar, jantungnya terpompa cepat. Keringat dingin mulai membanjiri tububnya, perlahan didorongnya peti itu hingga jatuh ke lobang dan menimbunnya dengan tanah.

Ardi membawa ayahnya meninggalkan hutan itu, tak dihiraukannya tubuhnya yang kotor dan lusuh. Dia bergegas cepat karena senja mulai menampakan sinarnya. Sejak saat itu Mbah Jum tidak terlihat lagi, ada yang bilang dia lagi bersemedi di hutan, ada juga yang bilang dia sedang ke alam lelembut bahkan ada yang bilang mereka melihat Mbah Jum dikota tempat Ardi tinggal. Dan suara jeritanpun masih sering terdengar di hutan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar