Suasana di sekitar tempat itu begitu sepi, rumah itu lebih mirip sebuah gudang yang sudah tak terpakai, dinding rumahnya terbuat dari kayu kini mulai usang, beberapa jendela yang tidak begitu tinggi kini mulai buram kacanya.
Pintunya pun juga terbuat dari kayu yang kini mulai usang, halaman yang tidak begitu luas kini dipenuhi dengan sampah dan beberapa tong tampak berjajar di sekitar tempat itu.
"Kamu yakin mau masuk kesana,Vel?" ujar Sapto setengah berbisik. Matanya memandang gadis itu.
Jujur saja dia sedikit ngeri membayangkan kenekatan vely masuk ketempat itu apalagi mereka tau itu sangat berbahaya
.
Meski dari luar rumah terlihat tenang tapi siapa tau di dalam tempat itu sudah menunggu malaikat maut yang siap bekerja kapan saja.
.
Meski dari luar rumah terlihat tenang tapi siapa tau di dalam tempat itu sudah menunggu malaikat maut yang siap bekerja kapan saja.
Vely menggangguk yakin, tekadnya sudah bulat untuk menyelamatkan Deno, Lelaki yang di cintainya dan juga saaudara angkatnya.
.
.
"Apa kita tidak tunggu bantuan saja,Vel. Siapa tau sebentar lagi mereka datang?" lanjut Sapto.
"Tidak, Sap. Sudah tidak ada waktu lagi. Kalau kelamaan aku takut dia nanti kenapa-kenapa?" ujar Vely pelan.
Terlihat jelas kecemasan di matanya, wajahnya tanpak serius memandang ke sekelilingnya. Sapto mendesah pelan, ada kecemasan yang mendalam saat dia menatap Vely meski matanya terus mengamati pergerakan di rumah itu.
"Tidak, Sap. Sudah tidak ada waktu lagi. Kalau kelamaan aku takut dia nanti kenapa-kenapa?" ujar Vely pelan.
Terlihat jelas kecemasan di matanya, wajahnya tanpak serius memandang ke sekelilingnya. Sapto mendesah pelan, ada kecemasan yang mendalam saat dia menatap Vely meski matanya terus mengamati pergerakan di rumah itu.
Mereka menunduk, merapatkan diri pada sebuah pohon yang cukup besar ketika dilihatnya dua orang keluar dari rumah itu sambil berbincang. Mereka menajamkan pendengaran mereka mencoba mendengarkan pembicaraan meeka.
Sejenak Vely mengamati kedua orang itu, badan mereka tidak terlalu besar, matanya yang jely sepertinya sedang memikirkan sesuatu dan dari hasil pengamatannya vely yakin kedua orang itu tidak begitu pandai bela diri,terlihat dari gerakan mereka yang lambat. Mereka sepertinya terlalu fokus dengan obrolan mereka hingga tak meyadari ada bahaya yang mengintai saat ini.
Dengan hati-hati, dia mendekati salah seorang lelaki yang tampak asyik merokok di sudut rumah bagian belakang.
Lelaki itu asyik menikmati rokoknya hingga tak sadar jika saat ini ada yang sedang mengendap-endap mendekatinya. Dan..Buukk...hantaman keras mengenai punggung lelaki itu, hingga membuatnya terjungkal dan jatuh.
Lelaki itu tampak terkejut mendapat serangan tiba-tiba, dia langsung bangkit dan melihat ke sekelilingnya dengan sigap diarahkannya senjatanya pada musuhnya, Matanya menatap tajam ke arah Vely yang sudah bersiap.
Bibirnya menyungging senyuman mengejek kearah Vely.
Lelaki itu asyik menikmati rokoknya hingga tak sadar jika saat ini ada yang sedang mengendap-endap mendekatinya. Dan..Buukk...hantaman keras mengenai punggung lelaki itu, hingga membuatnya terjungkal dan jatuh.
Lelaki itu tampak terkejut mendapat serangan tiba-tiba, dia langsung bangkit dan melihat ke sekelilingnya dengan sigap diarahkannya senjatanya pada musuhnya, Matanya menatap tajam ke arah Vely yang sudah bersiap.
Bibirnya menyungging senyuman mengejek kearah Vely.
"Bocah tengik, mau apa lo..?, mau jadi jagoan ya?." diapun maju dan siap melayangkan pukulannya ke arah vely, tapi dengan sigap vely berhasil menghindar dan melayangkan pukulan telak di perut lelaki itu hingga membuatnya terjukal dan menabrak deretan tong yang ada di pojok rumah itu hingga menimbulkan suara gaduh.
"Ton...kenapa lu?!" Teriak sebuah suara muncul dari arah samping, Vely segera salto beberapa kali hingga mendekati tubuh lelaki yang dihajarnya pertama kali.
Lelaki itu tampak terkejut ketika menyadari vely sudah ada dihadapannya dengan mata tajam tanpa expresi,gerakan tubuhnya begitu gesit terlambat baginya untuk menyadari bahwa Vely bukan cewek sembarangan.
Vely memutar tubuhnya dan kini dia sudah ada di belakang lelaki tadi.
Di tariknya lelaki tadi hingga berdiri sejajar dengannya, tangan kirinya sudah mencekal leher lelaki itu dan tangan kanannya sudah menodongkan pistol di kepala lelaki itu, Tubuh lelaki yang bernama tono itu tampak gemetar, tak menyangka jika gadis itu ternyata menjadikannya sandra secepat ini.
Vely memutar tubuhnya dan kini dia sudah ada di belakang lelaki tadi.
Di tariknya lelaki tadi hingga berdiri sejajar dengannya, tangan kirinya sudah mencekal leher lelaki itu dan tangan kanannya sudah menodongkan pistol di kepala lelaki itu, Tubuh lelaki yang bernama tono itu tampak gemetar, tak menyangka jika gadis itu ternyata menjadikannya sandra secepat ini.
Seorang lelaki agak gendut muncul dengan senjata di tangganya wajahya tanpak terkejut ketika melihat tono yang tampak gemetar dengan sudut bibir berdarah dan kepala yang ditodong pistol oleh seorang gadis.
"Lepaskan temanku,!" Bentak laki-laki itu.
Vely menatap lelaki itu sejenak, tak ada waktu untuk melayani kedua orang itu, targetnya adala Deno.
Dia mendorong tono maju, tono yang sudah lepas dari cekalan gadis itu tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, dia berbalik menyerang gadis itu, tangannya mengarah ke perut Vely, Vely pun beringsut mundur dan memutar badannya hingga dan melayankan tendanganya telak ke dada Tono membuat lelaki itu terjungkal mundur kebelakang.
Vely menatap lelaki itu sejenak, tak ada waktu untuk melayani kedua orang itu, targetnya adala Deno.
Dia mendorong tono maju, tono yang sudah lepas dari cekalan gadis itu tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, dia berbalik menyerang gadis itu, tangannya mengarah ke perut Vely, Vely pun beringsut mundur dan memutar badannya hingga dan melayankan tendanganya telak ke dada Tono membuat lelaki itu terjungkal mundur kebelakang.
Lelaki yang muncul tadi pun tidak menyikanan kesempatan, dia menghujami Vely dengan tembakan membabi buta.
Vely pun rol kedepan hingga dia berada di dekat tono, peluru yang serampangan datangnya itu sukses mengenai tubuh tono hingga membuat lekaki itu limbung dengan tubuh tertembus peluru, Vely melemparkan sebuah pisau yang dia sembunyikan di balik bajunya dan tepat mengenai dada orang itu.
Suara tembakan itu ternyata memancing reaksi orang di dalam rumah, bergegas dia bersembunyi di balik deretan tong.
Vely mendesah pelan...dia terlatih menghadapi orang..tapi dia belum terlatih untuk menghadapi berondongan peluru seperti tadi.
"Cari sampai ketemu..aku akan bereskan yang dalam. Sebelum bos datang!" seru sebuah suara. Vely mengintip dari balik celah tong.
"Cari sampai ketemu..aku akan bereskan yang dalam. Sebelum bos datang!" seru sebuah suara. Vely mengintip dari balik celah tong.
Dia melihat 3 orang lelaki keluar dari rumah itu, dalam hati dia berdoa semoga cuma tinggal 3 orang ini saja yang tersisa.
Sibos...ternyata masih ada lagi..Siapa dia dan apa maksudnya semua ini. Seribu pertanyaan muncul di benaknya tapi di redamnya saat ini karena target utamanya adalad Deno.
Veli menundukan badannya sambil berlari mendekati rumah, perlahan dia menatap ke jendela, ditengoknya kanan dan kiri..setelah aman dia melongok ke dalam melalui jendela, dari balik jendela dilihatnya Deno terikat di sebuah tiang. tangan dan kakinya di ikat. dari mulut dan lututnya keluar darah.. sepertinya pemuda itu juga mengalami siksaan.
Deno tampak tertunduk, rambut dan bajunya basah entah karena apa.
Deno tampak tertunduk, rambut dan bajunya basah entah karena apa.
Darah vely seakan mendidih melihat pemandangan itu, dia medekati pintu dan mendobrak masuk.
" Siapa kau?" Teriak seorang laki-laki.
Vely hanya diam dan melangkah maju. Diambilnya sepotong kayu yang tergeltak di tanah, sepertinya kayu itu tadi yang di gunakan orang-orang itu untuk memukuli Deno.
Vely hanya diam dan melangkah maju. Diambilnya sepotong kayu yang tergeltak di tanah, sepertinya kayu itu tadi yang di gunakan orang-orang itu untuk memukuli Deno.
"Akan kubuat kalian membayar setiap tetes darah yang keluar dari tubuh laki-laki ini" Vely mendekati lelaki itu dengan tatapan penuh amarah, pria itu menghujami nya dengan peluru.
Dengan sigap Vely menghindar dan melemparkan kayu tersebut tepat mengenai laki-laki tersebut hingga membuat senjatanya terlepas jatuh dan sebelum dia sempat mengabilnya Vely sudah menendangnya hingga membuatnya jatuh tersungkur ke belakang, tak hanya sampai di situ, Vely terus mendesak laki-laki itu dengan pukulan dan hantaman bertubi-tubi hingga membuat laki-laki itu jatuh terkulai lemas dengan tubuh penuh luka dan berdarah.
Dengan sigap Vely menghindar dan melemparkan kayu tersebut tepat mengenai laki-laki tersebut hingga membuat senjatanya terlepas jatuh dan sebelum dia sempat mengabilnya Vely sudah menendangnya hingga membuatnya jatuh tersungkur ke belakang, tak hanya sampai di situ, Vely terus mendesak laki-laki itu dengan pukulan dan hantaman bertubi-tubi hingga membuat laki-laki itu jatuh terkulai lemas dengan tubuh penuh luka dan berdarah.
Vely membalikan badannya, bergegas menghampiri Deno yang tetunduk lemah dalam ikatan.
Badan pemuda itu penuh luka lebam, entah apa kesalahannya kali ini hingga membuatnya mengalami siksaan seperti ini.. Hatinya merasa nyeri seakan ada sembilu yang menggoresnya perlahan.
Tanggannya tampak gemetar ketika melepas kain penutup mulut Deno, kain itu sudah basah oleh darah.
Tanggannya tampak gemetar ketika melepas kain penutup mulut Deno, kain itu sudah basah oleh darah.
"Deno...." Vely memanggil pemuda itu pelan, Deno masih diam tak bereaksi. mungkin dia pingsan. Vely segera melepas ikatan pemuda itu, begitu terbebas dari ikatan, pemuda itu langsung jatuh limbung, dengan sigap Vely menangkap tubuh pemuda itu dan mereka berdua jatuh terduduk di lantai.
"Deno.., bukalah matamu..." bisik Vely pelan, dibelainya lembut wajah lelaki di hadapnnya itu, perlahan mata yang sedari tadi tertutup itu mulai terbuka.
"Deno..bangunlah..kita harus keluar dari sini, kamu harus bertahan.." lanjut Vely.
"Kenapa kamu menolongku...?" suara Deno terdengar pelan dan lemah.
"Karena...sudahlah, kita harus cepat. Kita bahas semuanya nanti.." Vely membantu Deno bangkit, tapi bari saja dia dan Deno bangkit, terdengar letusan senjata api, seketika itu juga Vely merasakan sesuatu yang panas menerjang tubuhnya.
"Kenapa kamu menolongku...?" suara Deno terdengar pelan dan lemah.
"Karena...sudahlah, kita harus cepat. Kita bahas semuanya nanti.." Vely membantu Deno bangkit, tapi bari saja dia dan Deno bangkit, terdengar letusan senjata api, seketika itu juga Vely merasakan sesuatu yang panas menerjang tubuhnya.
"Vely.....!!" suara Sapto masih sempat di dengarnya.
Vely jatuh ketanah, tubuh Deno yang semula disangganya pun ikut jatuh hingga menimpanya, rasa panas itu makin menjalar di dalam tubuhnya seakan ingin membakar tubuh Vely dari dalam dan meninggalkan rasa nyeri yang tak tertahan.
Vely jatuh ketanah, tubuh Deno yang semula disangganya pun ikut jatuh hingga menimpanya, rasa panas itu makin menjalar di dalam tubuhnya seakan ingin membakar tubuh Vely dari dalam dan meninggalkan rasa nyeri yang tak tertahan.
semua terlihat samar baginya sekarang hanya tatapan Deno yang diingatnya terakhir kali, tatapan penuh kegelisahan dan ketakutan, Vely tersenyum samar sebelum semuanya terasa gelap baginya.
Hembusan angin yang bertiup membawa kesejukan di tubuh Vely. Pandangannya masih kokoh lurus ke depan, mengamati sebuah rumah yang kini mulai roboh di bagian sisi sampingnya.
Bayangan itu kembali melintas di benaknya, masih terekam jelas di ingatannya saat terakhir dia menutup mata.
Pandangan mata Deno, sorot mata yang begitu cemas dan khawatir itu yang masih terekam jelas diingatannya. Ya..Deno selalu mencemaskannya meski itu tidak pernah ia perlihatkan.
Pandangan mata Deno, sorot mata yang begitu cemas dan khawatir itu yang masih terekam jelas diingatannya. Ya..Deno selalu mencemaskannya meski itu tidak pernah ia perlihatkan.
Sudah sekian lama peristiwa itu berlalu, peristiwa yang membuatnya terluka parah hingga akhirnya cedera serius di lengan kanannya.
Entahlah saat ini apakah dia harus berterima kasih kepada Paman Jonas atau malah membenci laki-laki itu karena telah merubah hidupnya meski Paman Jo sudah mengorbankan banyak hal demi Vely termasuk memberinya semangat saat tau tangan kanannya cidera serius dan Paman Jo juga yang melatihnya agar bisa menggunakan tangan kirinya dengan maksimal, meski sulit akhirnya Vely berhasil memaksimalkan kerja tangan kirinya.
Paman Jonas menculikya saat ambulans dalam perjalanan membawanya ke rumah sakit. Dia menyembunyikan Vely di sebuah tempat yang terpencil, mengobati lukanya dan juga mendidiknya menjadi seorang mesin pembunuh yang lebih tangguh dari sebelumnya.
Entah apa motifnya, setiap kali dia bertanya, Paman Jo cuma mengatakan dia kasihan pada Vely yang selama ini mengorbankan diri untuk lelaki yang sama sekali tidak pernah melihat kearahnya ataupun berterima kasih padanya dan selama di tempat itu Vely jarang bertemu dengan Paman Jo.
Vely mendesah pelan kini dadanya terasa sesak, setelah sekian lama dia menghilang dan kembali ketempat itu semua masih sama.
Kini tekadnya sudah bulat untuk mencari Deno, karena dia ingin tahu, seperti apa Deno sekarang.
Kabar terakhir yang diterimanya Deno di sembunyikan orang tuanya untuk menyembuhkannya dari trauma yang di derita Deno karena kasus penculikan dan penyiksaan yang dialaminya.
Kabar terakhir yang diterimanya Deno di sembunyikan orang tuanya untuk menyembuhkannya dari trauma yang di derita Deno karena kasus penculikan dan penyiksaan yang dialaminya.
Siapapun orangnya pasti akan mengalami trauma berat jika mengalami hal itu, apalagi Deno, yang melihat seorang gadis mati dihadapannya dan itu karena menyelamatkannya.
Rumah besar itu tetap kokoh berdiri kokoh, tak pernah berubah semenjak dia kecil. Vely merapatkan tubuhnya, bersandar pada sebuah pohon ketika dilihatnya sebuah mobil mendekati pintu pagar.
Tanpa berkedip Vely memperhatikan mobil itu, matanya terbelalak lebar ketika dilihatnya seorang lelaki muda dibawa turun dari mobil itu, badannya kurus, matanya kosong dan wajahnya pucat, dingin tanpa expresi. Dia di dorong dengan kursi roda.
Hampir saja Vely berteriak memanggil pemuda itu, tapi niatnya diurungkan. dengan seksama dia memperhatikan semua yang terjadi di hadapannya, matanya makin terbelalak ketika dilihatnya sosok yang turun terakhir dari dalam mobil..Paman Jonas.
Lelaki itu tampak elegan dan menawan meski kini umurnya sudah menginjak kepala 3, pikirannya kembali dipenuhi sejuta pertanyaan tentang Paman jonas dan Deno.
Lelaki itu tampak elegan dan menawan meski kini umurnya sudah menginjak kepala 3, pikirannya kembali dipenuhi sejuta pertanyaan tentang Paman jonas dan Deno.
Dalam hati dia hanya bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi, hubungan kedua orang itu. Dan ternyata berita tentang Deno salah besar, dia masih disini.dan kini makin terpuruk seperti mayat hidup yang tinggal menunggu waktu.
"Aku akan membawamu pergi,Den. Membuatmu kembali menatap dunia, karena kau pantas mendapatkannya." katanya lirih dan berlalu dari tempat itu.
Vely menatap cetakan hitam rumah Deno, dia mendesah pelan. Mengamati setiap sudut rumah itu tanpa terlewati dan kini dia sadar siapa musuh utamanya meski dia belum tau pasti apa motif di balik itu semua.
Vely menatap sebuah ruangan, disalah Deno berada. Barisan peristiwa itu muncul kembali.
Seperti disayat sembilu saat dia tau Deno di perlakukan seperti itu, apa salah pemuda itu. Belum cukupkah penderitaannya akibat penculikan itu dan kini dia harus menderita lagi.
Vely mengambil ranselnya dan berjalan cepat meninggalkan tempat persembunyiannya.
Vely mengambil ranselnya dan berjalan cepat meninggalkan tempat persembunyiannya.
Dari tempatnya berada Vely bisa menatap Deno sepuas hatinya. memperhatikan setiap gerak yang di buat pemuda itu, meski dia tetap menjadi mayat hidup hingga saat ini tapi Vely yakin pemuda itu masih bisa diselamatkan.
"Kau yakin ini kejadian sebenarnya?" tanya Vely.
Sapto mengangguk pelam, selama ini hanya saptolah yang bisa dipercaya.
Bahkan saat dia ada di persembunyian, saptolah yang membantunya keluar dari tempat itu.
Diraihnya minumannya dan ditenggaknya sampai habis. Matanya menerawang, kini benang kusut itu sedikit terurai.
Sapto mengangguk pelam, selama ini hanya saptolah yang bisa dipercaya.
Bahkan saat dia ada di persembunyian, saptolah yang membantunya keluar dari tempat itu.
Diraihnya minumannya dan ditenggaknya sampai habis. Matanya menerawang, kini benang kusut itu sedikit terurai.
Vely melihat ke sekitar, dengan sigap di panjatnya pohon besar di dekat kamar Deno, dulu dia sering lewat situ jika ingin melihat Deno yang lagi bertapa di kamarnya, sesaat diamatinya kamar itu.
Sepi...jam segini biasanya saat terakhir memberi obat kepada Deno dan setelah itu mereka membiarkan deno sendirian sampai pagi.
Vely membuka kaca jendela kamar Deno. Kamar itu masih seperti dulu yang berbeda adalah penghuninya. Tidak ada lagi tawa di sana, yang ada cuma kesedihan dan penyesalan.
perlahan Vely mendekati sosok yang duduk terdiam di sudut ruangan...saat jarak mereka begitu dekat Vely jatuh terduduk di hadapan pria itu.
perlahan Vely mendekati sosok yang duduk terdiam di sudut ruangan...saat jarak mereka begitu dekat Vely jatuh terduduk di hadapan pria itu.
" Apa kabar, De. Kita ketemu lagi..." ucap Vely pelan.
Pemuda itu diam tanpa kata seakan tak mendengar ucapan Vely. Ingin rasanya dia memeluk laki-laki itu tapi serasa ada sebuah tembok yang menghalanginya.
Pemuda itu diam tanpa kata seakan tak mendengar ucapan Vely. Ingin rasanya dia memeluk laki-laki itu tapi serasa ada sebuah tembok yang menghalanginya.
Kini tujuannya yang utama adalah menghilang bersama laki-laki itu hingga tiba saatnya hari pembalasan itu tiba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar