Minggu, 18 Januari 2015

Sawah Timur

Dunia ini terdiri atas dua alam, nyata dan maya. Jangan pernah kita sombong, merasa punya sedikit kelebihan dan mengganggu mereka hanya demi suatu pembuktian bahwa kita lebih hebat dari mereka. Karena siapapun itu tak akan pernah mau jika hidupnya di usik, begitu juga mereka.
Bahar mengangkat ranselnya, hari ini waktunya pergi dengan genknya ke Sawah timur . Sebenarnya ada ketakutan yang mulai melandanya tapi egonya begitu tinggi, dia menanggapi ajakan temannya sekaligus untuk pamer keberanian di depan Santi, gadis incarannya.
Ada  mitos yang mengatakan bahwa di tempat itu ada harta yang terpendam tapi siapapun yang datang ketempat itu  pasti tak akan pernah kembali dan tak satupun mayat yang ditemukan disana semuanya menghilang secara gaib. Bahar jadi merinding jika mengingat mitos ini. Tapi disingkirkan ketakutan itu saat dilihatnya senyum Santi yang begitu manis.
Malam itu mereka putuskan menginap di sebuah losmen. Losmen pertama yang mereka jumpai setelah mereka melewati hutan yang luas dan gelap.
" Kamu yakin mau tidur disini?" Sekilas Ayu tampak ragu, ditatapnya Dio yang sedari tadi sibuk menurunkan barang bawaan.
"Dari pada tidur di hutan?" jawab Dio santai.
Bahar membantu Santi menurukan barang, sesaat hidungnya mencium bau wangi yang begitu menyengat.
"Kamu wangi banget, San" kata Bahar sambil tersenyum.
Santi mencium bajunya kanan dan kiri, sejak tadi pagi dia belum menyentuh air. Badannya masih bau keringat, gimana dibilang wangi. Ah...pasti Bahar sedang merayunya, pikir Santi.
Losmen itu tidak begitu mewah, malah terkesan sederhana. Semua perabotnya malah terkesan kuno apalagi suasananya begitu redup. Tidak ada barang mewah yang dipajang di tempat itu.Seorang pemuda menyambut mereka dengan senyumnya yang ramah.
"Mari silahkan, mau pesan berapa kamar?"
"2 kamar mas, oya mas...disini memang sepi begini ya?" Dio mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Namanya juga pelosok, jarang ada yang kesini. Kampung terdekat juga jaraknya 3 kilo lebih" pemuda itu menjelaskan.
Dio manggut-manggut. Pelayan kamar mengantar mereka kekamar masing-masing.
Malam semakin larut, Bahar belum juga dapat memejamkan matanya. Ada sesuatu yang mengganggunya, dan hidungnya kembali mencium bau wangi yang begitu menyengat. Matanya mulai menelusuri setiap inci kamar itu. Dio tampak tertidur pulas disampingnya, Rizki juga terrtidur pulas di sofa. suasana kamar yang temaram membuat hati Bahar jadi merinding.
Sekilas terdengar suara berderit, pintu almari perlahan terbuka sedikit. Bahar merapatkan tubuhnya ketempat tidur. Sayup sayup dia mendengar suara seorang perempuan.
"Mas...tolong saya....tolong"
suara gadis itu begitu sendu seolah ada sesuatu yang membelenggunya.
"Siapa itu....!" Bahar mencoba memberanikan diri untuk membuka suaranya.
"Tolong saya.....tolong" suara itu terasa begitu dekat, bau wangi kini semakin tajam tercium. Bahar menarik selimutnya, suara derit pintu kembali terdengar. Dari balik selimutnya Bahar melihat bayangan hitam berambut panjang seolah dia hendak menggapai sesuatu. Belum hilang rasa takut dihatinya, kembali suara berderit itu muncul kembali dan kali ini agak panjang.
Bahar semakin merapatkan selimutnya saat dilihatnya sesosok tubuh perempuan berambut panjang tampak merangkak perlahan mendekati Rizki. Bahar menutup selimutnya rapat-rapat tapi rasa penasarannya medorongnya untuk sejenak megintip apa yang dilakukan makhuk itu dan dilihatnya makhuk itu tampak menggigit kaki Rizki tapi anehnya Rizki seolah tak terpengaruh dengan apa yang dilakukan makhuk itu, ia masih tetap lelap tertidur dan tiba-tiba saja makhuk itu menatap tajam kearahnya, baharpun menutup rapat selimutnya.
Pagi yang berkabut membuat tempat itu agak suram. Bahar masih mengingat jelas kejadian semalam. Teman-temannya sudah pada nongkrong di teras depan. Hari ini mereka sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke sawah timur.
"Kamu yakin mau melanjutkan perjalanan?" wajah Ayu terlihat cemas.
"Emang kenapa?, kamu kok aneh?" Dio memasukan barang-barang ke mobil.
Ayu memandang sekeliling seakan menyelidiki sesuatu, dia merapatkan tubuhnya pada Santi dan Nurul. Ketiga gadis ini saling pandang seakan mencari persetujuan dari mereka bertiga.
"Kenapa sich..kalian ini kok aneh..kayak habis liat hantu saja?" Dio memansang aneh pada Ayu.
"semalam ada yang mengganggu kami." Nurul menunduk ada ketakutan di wajahnya.
Bahar terkejut, dipandangnya tiga gadis yang tampak sedang gelisah itu. Ternyata malam tadi bukan hanya Bahar yang melihat tapi ketiga gadis itu juga mengalaminya.
"Ah...ngaco..kalian mimpi kali sudahlah kita berangkat sekarang keburu siang" Dio memasuki mobilnya dan diikuti yang lainnya. Mobil mereka bergerak berlahan baru beberapa meter mwreka berjalan Nurul tergerak hatinya untuk melihat kebelakang.
"Losmennya hilang!" teriak Nurul panik membuat teman-temannya ikut melihat kebelakang dan ternyata losmen itu sudah berubah menjadi komplek pemakaman tua yang sudah lapuk dan mulai banyak yang hancur. Dio segera mempercepat laju mobilnya.
Siang mulai menampakan cahayanya, jalan yang mereka ternyata sangat menyeramkan. Mereka melalui hutan yang luas dan juga sepi. Saat mereka sedang melaju tiba-tiba saja Dio menginjak rem membuat yang lainnya terbangun karena kaget
"Kenapa Di, kok ngerem mendadak?" Bahar yang sedari terkantuk-kantuk jadi kaget.
"Ada anak kecil melintas tadi" Dio melihat kesekelilingnya.
"Yakin lo...disini kan hutan, mana ada anak kecil keluyuran di sini" Bahar melihat sekeliling.
"Itu dia!" Bahar menunjuk kearah samping mobil mereka, semua meta tertuju ke arah tadi. Tak jauh dari tempat itu diantara rimbunya pohon dan semak belukar tampak seorang gadis kecil sedang berdiri membelakangi mereka sambil memeluk sesuatu dan merasa ada yang memperhatikan gadis itu menoleh kebelakang dan betapa terkejutnya mereka saat di lihatnya gadis itu tak berwajah dan tampa dikomando lagi Dio segera tancap gas meninggalkan hutan itu.
Sepanjang perjalanan mereka terus dicekam rasa takut, seolah-olah ada ribuan mata yang terus mengawasi dan mengintai mereka. Hingga akhirnya mereka sampai juga ketempat yang mereka tuju. Sebuah tempat yang sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tempat itu terlihat berantakan tak terawat karena memang sudah puluhan tahun tempat itu ditinggalkan penghuninya.
"Kita cari tempat yang layak buat tidur" Kata Dio.
"Aku ndak mau turun, kita pulang saja yo. Tempat ini membuatku merinding." Ayu melihat kesekelilingnya.
"Besok pagi kita tinggalkan tempat ini." Dio mencoba menenangkan hati kekasihnya itu. Dalam hati dia mulai menyesalkan keputusannya datang ketempat ini hanya karena tergiur hembusan berita tentang harta terpendam itu.
Perlahan mereka keluar dari mobil dan mulai berjalan menyusuri tempat itu. Mereka bwrjalan berdempetan sambil melihat melihat ke sekeliling. Sinar bulan yang muncul malam itu membantu mereka menyisuri jalanan gelap itu. Mereka mengarahkan lampu senter mereka ke segala penjuru hingga tampa sengaja senter Dio menangkap bayangan putih berambut panjang sedang berdiri di depan mereka. Kontan saja mereka kaget dan lari pontang-panting menyelamatkan diri.
Bahar terengah-engah, disampingnya Santi dan Nurul juga terlihat kecapean.
"Mana yang lainnya?" Bahar baru menyadari kalau ternyata mereka cuma bertiga.
Dio, Ayu dan Rizki entah kemana. Saat mereka sedang mengatur perasaan mereka  tiba-tiba terdengar jeritan seseorang.
"Dio!" serentak mereka mengenali suara itu.
mereka bertiga kembali ketempat semula dan dilihatnya dia terbelit sebuah akar yang menariknya keatas pohon. Tak jauh dari tempat itu mereka melihat beberapa makhuk tampak mengoyak-ngoyak Rizki. Ayu pun tak kalah mengenaskan dia meninggal dengan kepala berputar kebelakang.
Nurul dan Santi menjadi histeris melihat pemandangan itu.
"Kita pergi dari sini, cepat...!!" Bahar menarik Santi dan Nurul.
Belum sempat mereka beranjak pergi, tiba-tiba saja mereka merakan kaki mereka berat melangkah seperti ada yang memegangi kaki mereka. Sekuat tenaga mereka mencoba melepaskan diri tapi tetap saja tak berhasil. Bahar merasakan dadanya basah dan perih saat dilihatnya dadanya tertembus sebuah akar dan kemudian menghempaskanya kesebuah pohon hingga membuatnya jatuh terduduk tak berdaya, pandangannya mulai kabur, sempat dilihatnya Santi yang terlilit akar dan terseret kedalam tanah sedangkan Nurul dibawa makhuk itu entah kemana. Pandangan mata Bahar semakin kabur hingga akhirnya panda akhirnya dunia terasa gelap baginya.
Kabar tentang sawah timur pun terus berhembus tampa ada yang mengetahui asal usul berita itu dan pagi itu tampak serombongan pemuda tampak menuju sawah timur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar